Parenting Seminar: Menguatkan Peran Orang Tua di Era Digital

Seminar Parenting yang diadakan dalam rangka Silaturahmi Wali Santri pada Sabtu (4/10/2025) berlangsung hangat dan inspiratif. Acara yang bertajuk “Membantu Anak Hidup di Era Digital Native” ini dipandu oleh Dr. Abdul Latief, Majelis Khidmah yang juga akademisi di London School of Public Relations serta profesional di Astra International. Hadir sebagai pembicara utama, Drs. M. Wahyuni Nafis, M.A., Majelis Khidmah yang dikenal sebagai pakar parenting.

Kegiatan yang digelar di Aula Tasabuq tersebut turut dihadiri oleh Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., Majelis Khidmah, guru, alumni, serta wali santri kelas 1 dan 2 SMP.

Dalam pengantarnya, sesuai dengan tujuan acara silaturahmi tersebut, Dr. Latief menyebutkan hadis:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)

Beliau juga mengutip hadis:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, acara tersebut diharapkan menjadi ajang silaturahmi dan menuntut ilmu yang berkahnya diluaskan rezeki, dipanjangkan umur, dan dimudahkan jalan ke surga. Demikian menurut Dr. Latief.

Tantangan Mendidik Anak di Zaman Digital

Dr. Latief berbagi cerita tentang pengalamannya mendidik anak-anaknya. “Salah satu tantangan orang tua di zaman modern adalah waktu kita untuk anak itu banyak tersita. Di satu sisi kita dihadapkan pada dunia digital yang dia bisa masuk ke kamar anak kita tanpa kita bisa bendung. Siapa yantg bisa membendung anak kita mendapatkan materi-materi yang tidak layak kalau kita memberikan handphone untuk mereka dan mereka memegang handphone di kamar mereka masing-masing. Ini sebuah tantangan buat kita,” ujar Dr. Latief, yang telah menulis buku Tak Selamanya Ayah Menuntunmu Nak dan telah di-launching di empat negara: Indonesia, Qatar, Belanda, dan Jerman.

Beliau pun mengungkapkan bahwa di pesantren diberikan satu tanggung jawab: selama di pesantren, santri tidak bisa mengakses gawai dengan sembarangan karena ada waktu tertentu dalam penggunaannya.

“Pertanyaanya, kapan kita siap melepas anak kita untuk bisa menjadi pribadi yang matang dan mandiri?” tanya Dr. Latief.

Anak-Anak Digital Native dan Tantangan Baru

Ustaz Wahyuni Nafis mengawali pembahasannya tentang anak-anak saat ini sebagai digital native dan bagaimana membantu mereka sukses di era digital ini. Yang cirinya, kata beliau, mampu melakukan berbagai pekerjaan dalam waktu yang bersamaan dengan cepat dan efektif. Mereka terfasilitasi oleh teknologi mutakhir. “Itu sisi positifnya,”ujar Ustaz Nafis.

Namun, sisi negatifnya, kata beliau, mereka juga rentan terpapar oleh berbagai konten seperti gim atau situs-situs negatif yang mendistraksi proses pendidikan sehingga menyebabkan kegagalan belajar.

Terhadap generasi Z, yaitu para pelajar saat ini, kata Ustaz Nafis, kita harus mulai memahami perasaan, keinginan, dan cita-cita mereka, karena tidak mudah bagi mereka untuk mengikuti kebiasaan atau aturan yang ada.

Berikutnya, Ustaz Nafis menjelaskan tiga pilar pendidikan, yaitu rumah, sekolah, dan masyarakat. “Rumah itu yang paling penting untuk menanamkan pendidikan,” ujar beliau.

Hal ini sebagaimana beliau mengutip kitab Tarbiyah wa Ta’lim, sebuah adagium al-Umm madrasatul ula, di mana al-Umm secara literal berarti ibu, namun bisa berarti orang-orang pertama dan utama yang menanamkan pendidikan kepada seorang anak. “Maka ayah ibu adalah madrasah pertama dan utama,” ujar Ustaz Nafis.

Memahami Anak, Bukan Menghakimi

Ustaz Nafis juga menyinggung pengaruh media sosial terhadap perkembangan anak saat ini, yang disinyalir oleh para peneliti dan ahli pendidikan memiliki pengaruh paling tinggi terhadap kehidupan anak-anak digital native.

Sebagai orang tua, kata beliau, kita harus memahami fenomena gunung es ini—di mana yang terlihat hanya sedikit dari permukaan saja (fenomena), sementara di bawahnya yang tak tampak (noumena) sering kali tidak diketahui.

Hal ini penting agar orang tua mampu memahami anak secara lebih mendalam, termasuk saat anak melakukan kesalahan. Jangan langsung menyalahkan, tetapi pahami akar permasalahannya dan cari penyebabnya.

Orang tua dan pendidik, lanjutnya, juga berperan dalam memahami gejala stres pada anak. Mereka akan mengalami stres jika tidak ada cukup motivasi dan nasihat. Orang tua dan pendidik juga perlu memahami masa transisi. “Hargai perasaan dan pikiran anak-anak,” ujar Ustaz Nafis.

Beliau bercerita bagaimana sikap merendahkan dan tidak menghargai yang dialami oleh anak bisa berujung pada kekerasan. Ia mencontohkan peristiwa 22 November 1963—penembakan terhadap John F. Kennedy oleh Lee Harvey Oswald—yang sejak kecil selalu dihina dan direndahkan.

Hari ini, kata Ustaz Nafis, kita banyak mendengar cerita seorang anak membunuh ibu atau bapaknya. “Karena apa, karena orangtua biasanya tidak mau mendengar perasaan, tidak mau menghargai pikiran anaknya,” tegas beliau.

“Jangan menghakimi. Mereka sedang terpapar, mengalami pubertas, pergaulan bebas, internet. Tapi kita diskusi dengan mereka tentang manfaat, cita-cita, dan hal penting, yang terdukung perilaku mereka. Jadi, internet, media sosial, teknologi, itu berguna bagi anak yang sudah memiliki cita-cita. Yang belum, dia akan dibuat oleh teknologi itu cita-citanya, sehingga menjadi zombie-zombie teknologi,” ungkap Ustaz Nafis.

Pendidikan dan Transformasi Karakter

Berikutnya Ustaz Nafis menjelaskan pentingnya memahami emosi dan perasaan anak. Jangan disalahkan, tapi “diikuti” terlebih dahulu, untuk dipahami. Beliau menyebutkan bahwa dalam The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey, prinsip keenam berbunyi: “Seek first to understand, then to be understood.” Artinya, pahami dahulu baru kita akan dipahami.

Sejumlah kasus pembangkangan seperti tawuran, pergaulan bebas, dan minuman keras, kata beliau, dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan mereka menghadapi gejolak dan tekanan emosi. Karena itu, orang tua dan pendidik perlu menyampaikan pengetahuan kepada mereka tentang dampak negatif dari hal-hal tersebut, menyadarkan mereka, serta membuat aturan untuk mendukung kehidupan dan cita-cita mereka.

Selanjutnya, Ustaz Nafis menjelaskan tentang transformasi karakter, yang menurutnya ada lima langkah:

  1. Knowing the good — memberi tahu tentang apa yang baik dan manfaatnya;
  2. Understanding the good — memahami apa kebaikan itu;
  3. Loving the good — mengarahkan anak untuk mencintai kebaikan;
  4. Doing the good — melakukan kebaikan dengan sadar;
  5. Being the good — menjadi orang baik.

Lebih dari itu semua, Ustaz Nafis juga menekankan pentingnya doa. “Doa harus sungguh-sungguh. Kata para sufi, orang-orang saleh, mendoakan anak dengan sungguh-sungguh itu membacakan al-Fatihah pada putra-putri kita,” ungkap Ustaz Nafis. Maka, Insya Allah anak yang sering didoakan hidupnya tidak akan sengsara.

Pendidikan Holistik dan Tantangan Abad ke-21

Ustaz Nafis juga menyebutkan tantangan pendidikan saat ini dan perlunya penekanan pada empat hal: collaboration (kerja sama), problem solving (kemampuan memecahkan masalah), creativity (kreativitas), dan critical thinking (berpikir kritis). “Di era abad 21, ini menjadi tolak ukur seorang anak mau hebat atau tidak,” kata Ustaz Nafis.

Selanjutnya, Ustaz Nafis mengungkapkan tentang holistic education sebagaimana yang diimplementasikan dalam pendidikan pesantren. Sebelumnya, pendidikan terlalu menitikberatkan pada aspek akademis saja karena pengaruh paradigma Cartesian-Newtonian (rasionalisme), namun sekarang mulai menemukan momentum pendidikan holistik. “Holistic education di pesantren sudah diterapkan,” ujar beliau.

Beliau menjelaskan bahwa di Daar el-Qolam 3, pendidikan holistik dimaksimalkan dari berbagai aspek: fisik, mental (at-tarbiyah al-wijdaniyah), intelektual (at-tarbiyah al-‘aqliyyah), sosial (at-tarbiyah al-ijtima‘iyyah), ekologi, seni dan estetika, akhlak, serta spiritualitas.

Setelah pemaparan tersebut, acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab yang menarik dan inspiratif. Setelah itu, diadakan talkshow bersama para alumni, kemudian tausiyah dan penutup dari Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. Seluruh acara berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.