
Ketika Hidup Tidak Selalu Berpihak
Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang menawarkan banyak hal sekaligus, peluang, informasi, kebebasan, tetapi juga kebingungan. Mereka dapat mengetahui banyak hal dalam hitungan detik, tetapi belum tentu tahu ke mana harus melangkah.
Di tengah situasi tersebut, sebuah buku yang lahir lebih dari satu abad lalu justru terasa menemukan relevansinya kembali. ‘Iẓatun-Nāsyi’īn karya Muṣṭafā al-Ghalayain bukan buku motivasi yang menawarkan resep instan menuju kesuksesan. Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa hidup memang tidak selalu mudah, tetapi manusia dapat belajar menghadapinya dengan karakter, keberanian, agama, dan kepedulian terhadap sesama.
Kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya mengajak generasi muda bukan untuk menghindari persoalan, melainkan membangun diri agar tidak mudah runtuh ketika persoalan datang.
Dari Nasihat di Surat Kabar Menjadi Buku
Muṣṭafā al-Ghalayain merupakan ulama, sastrawan, dan ahli bahasa Arab asal Lebanon. Ia lahir pada 1885 dan wafat pada 1944. Pemikirannya berada dalam atmosfer pembaruan intelektual Islam yang antara lain dipengaruhi gagasan Muḥammad ‘Abduh.
Dalam pengantarnya, al-Ghalayain menjelaskan bahwa ‘Iẓatun–Nāsyi’īn berawal dari rangkaian nasihat yang diterbitkan di surat kabar al-Mufīd dengan nama pena Abū Fayyāḍ. Tulisan-tulisan tersebut mendapat sambutan positif dari pembaca sehingga kemudian dihimpun menjadi buku.
Latar tersebut membantu memahami karakter buku ini. ‘Iẓatun–Nāsyi’īn bukan karya akademik yang dibangun dengan teori dan metodologi ilmiah yang rumit. Ia lebih dekat dengan tradisi nasehat dan pendidikan karakter. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan mengubah gagasan moral menjadi nasihat yang konkret, komunikatif, dan mudah direnungkan.
Al-Ghalayain berbicara kepada kaum muda tentang keberanian, kejujuran, kesederhanaan, kegigihan, agama, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap masa depan.
Akhlak sebagai Modal Menghadapi Zaman
Gagasan utama buku ini dapat diringkas dalam satu pemahaman, perbaikan kehidupan tidak dapat dipisahkan dari perbaikan manusia yang menjalaninya. Al-Ghalayain tidak melihat persoalan generasi muda semata-mata sebagai persoalan pengetahuan. Kecerdasan tanpa kejujuran dapat disalahgunakan. Keberanian tanpa pertimbangan moral dapat berubah menjadi kecerobohan. Ambisi tanpa kepedulian sosial dapat menjadikan seseorang hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
Karena itu, nasihat dalam buku ini mencakup keberanian menghadapi tantangan, ketekunan, kesederhanaan, kejujuran, solidaritas, kepedulian kepada sesama, keteguhan beragama, serta penghormatan terhadap perempuan.
Dua ungkapan yang populer dari buku ini antara lain:
Al-‘ilmu jismun, rūḥuhu al-ikhlāṣ.
“Ilmu adalah jasad, sedangkan rohnya adalah keikhlasan.”
Dan:
Inna fī aydīkum amral-ummah, wa fī aqdāmikum ḥayātahā.
“Di tangan kalian terdapat urusan umat, dan di kaki kalian terdapat kehidupannya.”
Kedua ungkapan tersebut memperlihatkan hubungan erat antara ilmu, moral, dan tanggung jawab sosial. Generasi muda bukan sekadar penerima masa depan, tetapi turut menentukan arah masa depan itu sendiri.
Buku yang Berbicara kepada Generasi Muda
Zaman berubah, tetapi sejumlah persoalan manusia tetap berulang, kejujuran, tanggung jawab, keberanian, solidaritas, pencarian jati diri, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Karena itu, nasihat al-Ghalayain masih dapat dibaca dalam konteks kehidupan hari ini. Keberanian, misalnya, tidak harus dipahami sebagai keberanian menghadapi musuh, tetapi juga keberanian mengambil keputusan yang benar, mengakui kesalahan, menolak tekanan lingkungan, dan mempertahankan prinsip ketika pilihan yang benar tidak selalu populer.
Begitu pula dengan kegigihan. Di tengah budaya serba cepat, generasi muda mudah tergoda menginginkan hasil tanpa proses panjang. Buku ini mengingatkan bahwa pembentukan manusia membutuhkan ketekunan.
Dalam pembacaan kontemporer, sejumlah nilai tersebut dapat didekatkan dengan konsep hardiness, yaitu kecenderungan yang membantu seseorang menghadapi tekanan dan kesulitan secara lebih tangguh. Namun, istilah tersebut merupakan pembacaan psikologis modern, bukan konsep yang digunakan al-Ghalayain.
Dari Pesantren dan Perjuangan Kebangsaan
‘Iẓatun-Nāsyi’īn juga memiliki tempat menarik dalam sejarah intelektual pesantren Indonesia. Berdasarkan riwayat KH. Masruri Abdul Mughni yang dikutip dalam edisi terjemahan ini, karya al-Ghalayain disebut sebagai salah satu sumber inspirasi yang berkaitan dengan semangat perjuangan dan lahirnya gagasan Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari pada 1945.
Menurut kesaksian KH. Mustofa Bisri yang dikutip (https://www.youtube.com/watch?v=rFN1kIMyyhU&list=PLraSTVIsk-ywuLXHQfbC_FUrhDWvvSOO2&index=1, diakses 30 september 2026) dalam bahan resensi ini, buku tersebut juga pernah dilarang dikaji pada masa kolonial dan dipelajari secara sembunyi-sembunyi oleh sebagian kiai karena kandungannya dinilai dapat membangkitkan keberanian dan patriotisme.
Klaim historis tersebut menarik dan layak ditelusuri lebih lanjut melalui sumber primer dan penelitian sejarah. Namun, narasi tersebut setidaknya menunjukkan bagaimana teks keagamaan dalam tradisi pesantren dapat berfungsi bukan hanya sebagai sumber pengetahuan agama, tetapi juga sebagai pembentuk karakter dan kesadaran sosial. Di sinilah ‘Iẓatun-Nāsyi’īn menjadi lebih dari sekadar kitab nasihat.
Kekuatan Buku, Nasihat yang Praktis dan Menggerakkan
Salah satu kelebihan utama buku ini adalah sifat nasihatnya yang praktis. Al-Ghalayain tidak berhenti pada seruan bahwa manusia harus menjadi baik, tetapi membawa pembaca pada persoalan konkret mengenai bagaimana nilai-nilai tersebut dijalankan.
Buku ini juga tidak menuntut pembacanya memiliki latar belakang akademik tertentu. Pesan moralnya dapat dipahami oleh pembaca umum, terutama generasi muda yang sedang berada dalam proses mencari arah dan membangun karakter.
Kekuatan lainnya terletak pada bahasa. Sebagai sastrawan dan ahli bahasa Arab, al-Ghalayain menggunakan ungkapan, metafora, perbandingan, dan gaya retoris yang membuat sejumlah nasihat mudah diingat.
Dalam edisi terjemahan ini, 43 judul memberikan keleluasaan bagi pembaca untuk membaca buku secara bertahap. Setiap bagian dapat menjadi bahan renungan tersendiri, sekaligus bahan diskusi dalam pendidikan karakter.
Catatan Kritis, Nasihat Lama Membutuhkan Pembacaan Baru
Meski kaya nilai, ‘Iẓatun-Nāsyi’īn tidak harus diterima seluruhnya secara literal tanpa dialog dengan konteks zaman.
Sebagian nasihat lahir dari situasi sosial dan kebudayaan yang berbeda dengan dunia pembaca Indonesia hari ini. Karena itu, pembaca perlu membedakan antara nilai yang bersifat universal dan bentuk ekspresi yang terikat konteks historis penulisnya.
Gagasan tentang kejujuran, keberanian, tanggung jawab, solidaritas, dan keteguhan moral memiliki relevansi luas. Namun, bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam masyarakat modern membutuhkan pembacaan dan penerjemahan ulang.
Keterbatasan lain terletak pada bentuk argumentasinya. Buku ini lebih kuat sebagai sumber dorongan moral daripada sebagai panduan teknis untuk menyelesaikan persoalan sosial yang kompleks. Ia bukan buku psikologi remaja, metodologi pendidikan, ataupun kebijakan sosial. Namun, keterbatasan tersebut merupakan konsekuensi dari genre buku ini. ‘Iẓatun-Nāsyi’īn adalah kitab nasihat. Karena itu, ia lebih tepat ditempatkan sebagai teman dialog, dibaca, dipahami konteksnya, diambil nilai dasarnya, lalu didialogkan dengan persoalan zaman.
Ketika Membaca Bukan Sekadar Mengetahui
Ada satu pertanyaan penting yang muncul setelah membaca buku ini, apakah nasihat yang baik otomatis melahirkan manusia yang baik? Tentu tidak. Membaca tentang kejujuran tidak otomatis membuat seseorang jujur. Membaca tentang keberanian tidak otomatis membuat seseorang berani. Membaca tentang kepedulian sosial tidak otomatis menjadikan seseorang peduli.
Nasihat harus bergerak dari kepala menuju hati, kemudian dari hati menuju tindakan. Dalam konteks pendidikan, inilah tantangan terbesar ‘Iẓatun-Nāsyi’īn. Buku tidak semestinya berhenti sebagai bahan bacaan atau kumpulan kutipan. Nilai-nilai yang dikandungnya perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan dan keteladanan.
Terutama dalam pendidikan pesantren, buku ini dapat menjadi bahan yang menarik untuk mendampingi pembentukan karakter santri. Kejujuran, keberanian, kesederhanaan, kegigihan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial bukan hanya untuk dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup, Nasihat yang Menolak Pesimisme
‘Iẓatun-Nāsyi’īn adalah buku lama dengan pertanyaan yang tetap actual, bagaimana manusia muda menemukan arah hidup, menghadapi kesulitan, menjaga prinsip, dan memberikan manfaat bagi masyarakat?
Buku ini tidak menjanjikan bahwa hidup akan selalu mudah. Sebaliknya, ia mengajarkan kesiapan menghadapi kesulitan, kegagalan, godaan, dan ketidakpastian. Karena itu, judul terjemahannya, Hidup Sering Kali Tidak Baik-Baik Saja, tapi Kita Bisa Menghadapinya, terasa menjadi pintu masuk yang tepat untuk memahami semangat buku ini.
Ia layak dibaca oleh generasi muda, pendidik, orang tua, dan siapa pun yang terlibat dalam pendidikan karakter. Bukan karena semua persoalan masa kini dapat dijawab oleh nasihat dari masa lalu, tetapi karena sejumlah pertanyaan mendasar tentang manusia ternyata tidak lekang oleh zaman.
Pada akhirnya, warisan ‘Iẓatun-Nāsyi’īn bukan sekadar kumpulan nasihat. Ia menawarkan cara pandang bahwa manusia tidak harus menunggu dunia menjadi baik-baik saja untuk berusaha menjadi manusia yang baik.