Ketika Jempol Tak Pernah Lelah, Tetapi Mata Enggan Membaca Buku


Ada sebuah paradoks yang menarik untuk kita renungkan. Hari ini, banyak orang mampu menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar. Jempol begitu lincah berpindah dari satu video ke video berikutnya, dari satu unggahan ke unggahan lainnya. Kita sanggup mengikuti percakapan di media sosial, membaca komentar yang panjang, menonton konten berpuluh-puluh menit, bahkan larut dalam berbagai informasi yang datang silih berganti.

Namun, ketika berhadapan dengan sebuah buku, beberapa halaman saja kadang terasa begitu berat. Mata mudah lelah. Pikiran cepat bosan. Tangan segera meraih telepon genggam. Ada semacam ketidaksabaran terhadap bacaan yang menuntut konsentrasi, penalaran, dan ketekunan.

Di sinilah persoalan literasi menjadi lebih dalam daripada sekadar pertanyaan, berapa banyak buku yang kita baca? Sebab, membaca sesungguhnya bukan hanya aktivitas memindahkan tulisan dari halaman ke dalam pikiran. Membaca adalah kemampuan untuk memahami, menafsirkan, mempertanyakan, menghubungkan informasi, membedakan fakta dan opini, lalu menggunakan pengetahuan itu untuk mengambil sikap.

Ketika angka berbicara
Fenomena ini menjadi semakin menarik jika kita letakkan berdampingan dengan perkembangan literasi pendidikan di Indonesia. Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam siaran pers “PISA 2025: Nilai Literasi dan Sains Naik, Akses Pendidikan Melonjak 90 Persen”, skor membaca Indonesia pada PISA 2025 meningkat 6 poin, dari 359 pada PISA 2022 menjadi 365. Pada saat yang sama, akses pendidikan juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Coverage Index, yang menggambarkan proporsi anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal, meningkat dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025. Data ini menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan Indonesia tidak stagnan, ada kemajuan dalam kemampuan membaca sekaligus perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. (https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/16148-pisa-2025-nilai-literasi-dan-sains-naik-akses-pendidikan-melonjak-90-persen, akses 30 September 2026)
Namun, kemajuan tersebut tidak serta-merta berarti persoalan literasi telah selesai. Justru di sinilah kita perlu melihat persoalan secara lebih mendalam. Di satu sisi, akses terhadap pendidikan dan informasi semakin terbuka, di sisi lain, kehidupan sehari-hari semakin dikelilingi oleh layar, notifikasi, media sosial, dan arus informasi yang bergerak sangat cepat. Kemendikdasmen melalui siaran pers yang sama menunjukkan adanya peningkatan capaian literasi, tetapi tantangan literasi pada era digital tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Persoalannya adalah bagaimana seseorang mampu memahami, menilai, menghubungkan, dan merefleksikan informasi yang dikonsumsinya.

Dengan demikian, tantangan literasi hari ini bukan semata-mata membuat anak lebih sering membuka buku, melainkan menumbuhkan kembali kemampuan untuk membaca secara mendalam di tengah budaya scrolling yang serba cepat. Pada titik inilah pertanyaan tentang mengapa kita semakin mudah mengakses informasi, tetapi belum tentu semakin mencintai membaca dan mendalami ilmu menjadi penting untuk direnungkan.

Karena itu, persoalannya tidak cukup diselesaikan dengan kampanye “ayo membaca”. Kita perlu bertanya lebih jauh, Mengapa membaca terasa berat? Mengapa informasi yang cepat justru lebih menarik daripada pengetahuan yang mendalam? Dan yang lebih mendasar, kapan membaca berubah dari sebuah kewajiban menjadi kebutuhan? Iqra’ yang jauh lebih luas daripada sekadar membaca.

Menariknya, jauh sebelum istilah literasi menjadi kosakata populer dunia pendidikan modern, Al-Qur’an telah membuka risalahnya dengan sebuah perintah yang sangat kuat,
اِقْرَأْ, iqra‘. Bacalah. Dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata iqra‘ berasal dari akar kata qara’a yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Ketika huruf-huruf dihimpun menjadi kata dan kata-kata dihimpun menjadi kalimat, kita membaca. Karena itu, makna iqra‘ tidak terbatas pada membaca tulisan. Ia dapat bermakna membaca, menelaah, mendalami, meneliti, menyampaikan, bahkan mengenali dan memahami sesuatu. Yang menarik, objek dari perintah iqra‘ pada ayat pertama itu tidak disebutkan secara spesifik. Di sinilah keluasan pesan tersebut terasa.

Perintah membaca tidak harus berhenti pada buku. Kita dapat membaca wahyu, membaca alam, membaca masyarakat, membaca sejarah, membaca diri sendiri, membaca perubahan zaman, dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di semesta.

Dengan kata lain, Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk membaca teks, tetapi juga mengajarkan manusia untuk membaca realitas. Maka seseorang yang rajin membaca tetapi tidak mampu memahami kehidupan masih perlu belajar membaca dalam pengertian yang lebih luas. Sebaliknya, seseorang yang belajar memahami kehidupan tetapi tidak pernah mau membaca sumber pengetahuan juga akan mudah terjebak pada kesimpulan yang dangkal. Iqra‘ mempertemukan keduanya, teks dan konteks, wahyu dan realitas, pengetahuan dan perenungan. Ketika membaca kehilangan kenikmatannya.

Ada persoalan lain yang lebih sunyi. Sebagian orang merasa telah selesai belajar ketika memperoleh ijazah. Setelah gelar akademik diraih, buku-buku mulai ditinggalkan. Setelah menduduki jabatan, kebiasaan menelaah semakin berkurang. Setelah dianggap “orang berilmu”, seseorang justru merasa tidak perlu lagi belajar. Padahal ilmu tidak pernah mengenal kata selesai. Gelar adalah pengakuan administratif. Ilmu adalah perjalanan yang tidak mengenal garis akhir.

Karena itu, menjadi berbahaya ketika seseorang merasa cukup dengan apa yang telah diketahuinya. Ia mulai kehilangan rasa ingin tahu. Ia berhenti bertanya. Ia enggan membuka buku yang mungkin membantah pandangannya. Dalam tradisi keilmuan Islam, keadaan seperti ini justru dipandang sebagai awal kemunduran.

Al-Mawardi dalam Adab ad-Dunya wa ad-Din mengingatkan agar seseorang tidak merasa puas dengan ilmu yang telah dimilikinya. Rasa puas semacam itu dapat membuat perhatian terhadap ilmu berkurang, ketika perhatian terhadap ilmu hilang, seseorang perlahan meninggalkan ilmu dan akhirnya jatuh dalam kebodohan.

Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khāthir juga mengingatkan pentingnya terus menambah ilmu. Menurutnya, orang yang membatasi diri pada pengetahuan yang sudah dimilikinya mudah terjebak dalam sikap keras kepala dan merasa paling benar. Belajar justru memberi kesempatan kepada seseorang untuk menemukan kesalahan dirinya. Di sinilah membaca mempunyai fungsi yang sangat penting. Buku bukan hanya tempat mencari pengetahuan. Buku juga tempat kita menemukan bahwa pengetahuan kita ternyata belum seberapa.

Ali bin Muhammad Al-‘Imran, dalam Al-Musyawwiq ila al-Qira’ah wa Thalab al-‘Ilm, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Gila Baca Ala Ulama: Potret Keteladanan Ulama dalam Menuntut Ilmu, menghimpun begitu banyak kisah tentang kegigihan ulama dalam membaca dan mencari ilmu. Kisah-kisah itu mungkin terasa asing bagi generasi yang hidup dalam budaya serba cepat. Tetapi justru karena itulah ia penting untuk dibaca.

Abdullah bin Mas’ud, misalnya, begitu bersungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an. Ia pernah mengatakan bahwa jika mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui Al-Qur’an darinya dan orang tersebut dapat dijangkau dengan untanya, maka ia akan mendatanginya. Bayangkan semangat itu.

Bagi kita, jarak sering kali menjadi alasan untuk tidak belajar. Bagi mereka, jarak justru menjadi bagian dari harga yang harus dibayar untuk memperoleh ilmu. Jabir bin Abdullah al-Anshari juga pernah melakukan perjalanan dari Madinah menuju Mesir selama sekitar sebulan hanya untuk mendengarkan satu hadis. Ia khawatir meninggal sebelum mendengar hadis tersebut.

Dalam ukuran zaman sekarang, perjalanan seperti itu mungkin tampak tidak efisien. Tetapi ada satu hal yang sulit dibantah, mereka memiliki penghargaan yang sangat tinggi terhadap ilmu. Ilmu bukan informasi tambahan. Ilmu adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.

Bahkan menjelang kematian pun mereka masih belajar
Barangkali bagian paling menggetarkan dari tradisi keilmuan para ulama adalah kisah mereka ketika berada di penghujung kehidupan. Abu Zur’ah ar-Razi, sebagaimana dinukil dalam Taqdimah al-Jarh wa at-Ta’dil, berada dalam keadaan sakit keras dan menjelang wafat. Ketika orang-orang di sekelilingnya sedang membicarakan hadis tentang orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh sebagai ucapan terakhirnya, Abu Zur’ah justru segera menyambung sanad hadis tersebut dari ingatannya. Di saat tubuhnya sedang melemah, ingatannya masih bekerja untuk ilmu.

Ada pula kisah Ibnu Jarir ath-Thabari. Dalam Al-Jalis ash-Shalih diceritakan bahwa menjelang wafat, ketika sebuah doa dibacakan kepadanya, ia meminta tinta dan kertas kemudian menuliskan doa tersebut. Ketika ditanya mengapa masih menulis dalam keadaan seperti itu, ia menjawab dengan makna yang sangat dalam, “Hendaknya seseorang tetap belajar sampai ia meninggal dunia.”

Ibnu Malik, pengarang Alfiyah, juga disebutkan tetap sibuk dengan ilmu hingga menjelang akhir hayatnya. Ibnul Jauzi, pada usia sekitar 80 tahun, masih mempelajari Qira’at ‘Asyr. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita heroik tentang ulama masa lalu.

Ia menyampaikan sebuah pandangan hidup, belajar bukan aktivitas yang dilakukan karena kita masih muda, belajar adalah aktivitas yang dilakukan karena kita masih hidup. Selama seseorang masih hidup, selalu ada sesuatu yang belum diketahuinya.

Ketika Buku Menjadi Sahabat
Bagi para ulama, buku tidak sekadar kumpulan lembaran yang menyimpan tulisan. Ia merupakan salah satu jalan utama untuk menjaga ilmu, memperluas wawasan, dan memperpanjang usia pemikiran. Karena itu, dalam berbagai karya turats, kita kerap menemukan pembahasan mengenai kemuliaan buku, manfaatnya bagi penuntut ilmu, serta kedudukannya dalam perjalanan intelektual seseorang. Para ulama bahkan meninggalkan begitu banyak ungkapan dalam bentuk prosa maupun syair yang menggambarkan betapa dekatnya hubungan mereka dengan buku dan betapa tinggi penghargaan mereka terhadap ilmu yang tersimpan di dalamnya.
Salah satu ungkapan yang masyhur datang dari Al-Jahiz, seorang cendekiawan dan polimat yang dikenal luas dalam tradisi keilmuan Islam. Ia menggambarkan kecintaan terhadap buku dengan ukuran yang sangat menarik, seseorang belum benar-benar mencintai ilmu apabila membeli buku belum memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada membelanjakan hartanya untuk orang yang dicintai atau untuk membangun sesuatu yang ia banggakan. Bagi Al-Jahiz, harta baru menemukan nilai yang sesungguhnya ketika seseorang rela menggunakannya untuk mendapatkan ilmu. Ia mengibaratkan kecintaan tersebut seperti seorang Arab Badui yang begitu mengutamakan susu untuk kudanya daripada untuk keluarganya, karena begitu besarnya perhatian dan harapannya terhadap kudanya. Demikian pula seorang pencinta ilmu: semakin besar kerinduannya terhadap pengetahuan, semakin besar pula kenikmatan yang ia rasakan ketika memperoleh sebuah buku.

Selain itu terdapat ungkapan dari al-Jahiz yang masyhur yang tertera dalam Mukaddimah kitab Hayawan yang menjelaskan tentang kitab atau buku. Berikut ungkapan al-Jahiz :

Buku adalah sahabat yang takkan pernah memujimu
Juga adalah teman yang tak pernah merayu-rayumu
Juga adalah sahabat yang tak akan menyusahkanmu
Juga adalah sahabat yang tak akan memperdayakanmu
Dan tak akan mempermainkanmu dengan kemunafikan
Dan tak akan menipumu dengan suatu kebohongan
 

Buku adalah penghibur terbaik dalam satu jam penuh bersamanya
Dan wawasan terlengkap tentang negeri-negeri asing
Dan penolong terhebat juga penghilang duka
Dan bejana yang dipenuhi berbagai keindahan
Dan tempat yang dipenuhi lelucon dan kebenaran

 
Kapankah kau memandangi indahnya taman bunga hanya dari kepalan tangan
Dan kebun yang mengecil dalam pangkuan
Juga membicarakan orang-orang yang telah meninggal
Dan menceritakan kisah-kisah tentang seseorang?

 
Siapa lagi yang kau punya sebagai penghibur yang tak akan
pernah tidur kecuali dengan terpejamnya matamu
dan tidak berbicara melainkan sesuai kehendakmu
yang paling percaya sedunia
dan yang paling bisa menjaga rahasia diantara semua penjaga rahasia

Ibnul Jauzi dan 20.000 Jilid Buku
Dalam Shaid al-Khāthir, Ibnul Jauzi menggambarkan kecintaannya terhadap buku. Ia menyebut telah membaca lebih dari 20.000 jilid buku dan tetap merasa perlu mencari ilmu. Yang mengagumkan bukan semata-mata jumlahnya. Yang lebih penting adalah sikap batinnya.

Bagi sebagian orang, membaca satu buku sudah dianggap pencapaian besar yang kemudian dipamerkan. Bagi para ulama, membaca justru menjadi pintu untuk menyadari betapa luasnya pengetahuan yang belum disentuh.

Ibnul Jauzi bahkan menganjurkan seseorang memiliki ruang khusus di rumah untuk menyendiri, membaca lembaran-lembaran buku, dan menikmati perjalanan pikirannya. Sebuah nasihat yang terasa sederhana, tetapi sangat mahal pada zaman ketika kesunyian hampir selalu segera diisi oleh notifikasi.

Mereka Membawa Buku Kemana-mana
Thahir bin Abish Shaqr disebut pernah mengatakan bahwa buku-bukunya lebih ia cintai daripada sebongkah emas. Ibnu Thahir al-Maqdisi menempuh perjalanan panjang mencari hadis, bahkan membawa buku-bukunya di punggung.

Al-Jahiz dikisahkan begitu mencintai buku sehingga pernah menyewa toko buku dan kertas untuk dapat membaca.

Ada kisah tentang Abdullah bin Abdul Aziz yang memilih singgah di pemakaman sambil membaca. Baginya, tempat sunyi memberikan ruang untuk berpikir, sedangkan buku membantu menjaga manusia dari kesia-siaan.

Bahkan ada kisah Hasan Lu’lu’i yang selama puluhan tahun tidak tidur atau beristirahat kecuali buku berada di atas dadanya. Kisah-kisah itu tentu tidak perlu ditiru secara harfiah. Kita tidak sedang diminta membaca sampai lupa tidur.

Yang perlu kita warisi adalah etosnya, penghargaan terhadap waktu, kecintaan terhadap ilmu, kedisiplinan membaca, dan kesediaan menunda kesenangan sesaat demi mendapatkan pemahaman yang lebih dalam. Membaca ulang adalah cara lain mencintai ilmu

Hari ini kita hidup dalam budaya scroll. Satu informasi datang, lalu hilang. Kita membaca judul, melihat gambar, berpindah halaman, kemudian melupakan semuanya beberapa menit kemudian.

Tradisi ulama menunjukkan kebiasaan yang berbeda yakni membaca ulang. Al-Muzani, murid Imam Syafi’i, disebut telah mempelajari Ar–Risalah selama puluhan tahun. Setiap kali kembali membacanya, ia menemukan sesuatu yang sebelumnya belum ia pahami. Ada pula riwayat tentang seorang ulama yang membaca Shahih al-Bukhari berulang kali, puluhan kali bahkan sampai ratusan kali. Pesannya jelas, membaca bukan perlombaan menyelesaikan buku sebanyak-banyaknya. Kadang satu buku yang dibaca berkali-kali jauh lebih membentuk pikiran daripada puluhan buku yang hanya disentuh permukaannya.

Buku yang baik tidak habis dibaca dalam satu kali duduk. Ia justru tumbuh bersama kedewasaan pembacanya. Ketika kita kembali membaca buku yang sama lima tahun kemudian, yang berubah bukan hanya bukunya. Kitalah yang berubah.

Dari Budaya Membaca Menuju Budaya Berpikir
Karena itu, persoalan literasi di Indonesia seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa menit anak membaca setiap hari. Kita perlu membangun budaya yang lebih luas, budaya bertanya, berdiskusi, menelaah, membandingkan sumber, memeriksa informasi, menulis, dan berani mengatakan, “Saya belum tahu.”

Sebab membaca yang sehat akan melahirkan pertanyaan. Pertanyaan yang baik melahirkan pencarian. Pencarian melahirkan pengetahuan. Dan pengetahuan yang diolah dengan baik dapat melahirkan kebijaksanaan. Inilah yang membuat persoalan literasi tidak sesederhana membandingkan buku dengan gawai. Gawai sendiri bukan musuh.

Teknologi dapat menjadi perpustakaan yang sangat luas. Masalahnya adalah ketika teknologi hanya digunakan untuk konsumsi informasi yang cepat, dangkal, dan terus berganti tanpa proses pengolahan. PISA sendiri menempatkan literasi membaca dalam konteks yang lebih luas. Pembaca abad ke-21 bukan sekadar orang yang mampu memahami teks cetak, tetapi juga harus mampu menavigasi dunia digital, mengevaluasi berbagai sumber, membedakan fakta dan opini, serta membangun pengetahuan dari informasi yang beragam.

Maka tantangannya bukan, “Bagaimana membuat anak meninggalkan gadget?”, melainkan, “Bagaimana membuat anak menggunakan gadget untuk menjadi pembelajar?”

Pesantren dan pekerjaan besar menumbuhkan cinta membaca
Di sinilah pesantren memiliki ruang pengabdian yang sangat besar. Pesantren jangan hanya menjadi tempat santri membaca karena ada tugas. Pesantren perlu menjadi lingkungan yang membuat membaca terasa sebagai bagian alami dari kehidupan. Perpustakaan tidak cukup hanya memiliki banyak buku. Ia harus hidup. Guru perlu terlihat membaca. Bapak dan Ibu asuh perlu membawa buku. Musyrif/musyrifah perlu memiliki bahan bacaan.

Kamar santri dapat memiliki sudut baca sederhana. Waktu tertentu dapat disediakan untuk membaca tanpa tugas, tanpa ujian, tanpa kewajiban membuat rangkuman. Santri boleh membaca sejarah, biografi, sastra, sains, teknologi, psikologi, keislaman, maupun buku-buku yang memperluas cakrawala. Sebab cinta membaca tidak lahir dari perintah, “Bacalah!” Cinta membaca lebih sering tumbuh dari pengalaman, “Ternyata membaca itu menyenangkan.” Anak yang melihat gurunya menikmati buku akan menangkap pesan yang lebih kuat daripada seribu slogan literasi.

Anak yang melihat Bapak/Ibu asuh membawa buku ketika waktu luang akan belajar bahwa waktu kosong tidak selalu harus diisi dengan gawai. Anak yang menemukan bahwa buku mampu menjawab rasa ingin tahunya akan perlahan mengalami apa yang dahulu dirasakan para ulama, ilmu bukan beban, tetapi kenikmatan.

Dari “Harus Membaca” Menjadi “Ingin Membaca”
Mungkin inilah perubahan paling penting yang perlu kita perjuangkan. Kita tidak cukup membuat anak mau membaca. Kita perlu membantu mereka sampai pada tahap ingin membaca. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Yang pertama lahir dari kewajiban. Yang kedua lahir dari kesadaran. Yang pertama membutuhkan pengawasan. Yang kedua melahirkan kemandirian. Dan tujuan akhir pendidikan bukanlah membuat seseorang terus-menerus diawasi agar belajar. Tujuannya adalah melahirkan manusia yang tetap belajar meskipun tidak ada yang mengawasi.

Para ulama terdahulu memberi kita gambaran tentang manusia seperti itu. Mereka membaca ketika ada kesempatan. Mereka membawa buku dalam perjalanan. Mereka mengulang bacaan. Mereka mencari guru, mereka menempuh jarak, mereka menulis, mereka berdiskusi. Dan sebagian dari mereka tetap memikirkan ilmu bahkan ketika kehidupan hampir selesai. Mereka memahami bahwa umur manusia terbatas, sedangkan ilmu jauh lebih luas daripada usia manusia.

Menyalakan Kembali Kerinduan Itu
Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan sekadar program literasi baru. Kita membutuhkan kerinduan baru terhadap ilmu. Sebab jika ilmu sudah dicintai, membaca akan menemukan jalannya sendiri. Seorang anak yang penasaran akan mencari buku. Seorang guru yang merasa belum tahu akan membuka referensi. Seorang santri yang memiliki pertanyaan akan mencari jawaban. Seorang pemimpin yang sadar keterbatasan dirinya akan terus belajar. Dan seorang manusia yang menyadari luasnya ciptaan Allah akan selalu memiliki alasan untuk membaca.

Bukankah wahyu pertama tidak dimulai dengan perintah membangun kekuasaan, mengumpulkan harta, atau mengejar kedudukan?
Ia dimulai dengan:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (Q.S. Al-‘Alaq: 1)

Ada sesuatu yang sangat indah dalam susunan ini. Membaca tidak dibiarkan menjadi aktivitas intelektual yang kehilangan arah. Ia diikat dengan kesadaran ketuhanan. Membaca bukan sekadar menambah informasi. Membaca adalah upaya memahami kehidupan dengan kesadaran bahwa di balik kehidupan ada Sang Pencipta. Maka barangkali sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri, Kita sedang membesarkan generasi yang pandai menggunakan informasi, atau generasi yang mampu memahami informasi?, Kita sedang membentuk anak-anak yang cepat mengetahui, atau anak-anak yang tekun memahami?

Dan yang paling penting, Apakah kita sedang mengajarkan mereka membaca karena kewajiban, atau sedang menumbuhkan kerinduan mereka terhadap ilmu? Sebab suatu hari nanti, ketika tidak ada lagi guru yang mengingatkan, tidak ada lagi orang tua yang menyuruh, dan tidak ada lagi aturan yang memaksa, yang akan menjaga seseorang tetap belajar hanyalah satu hal, cinta kepada ilmu.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari tradisi iqra’ menemukan kembali rumahnya. Bukan sekadar pada mata yang terbuka membaca halaman demi halaman.
Tetapi pada hati yang tidak pernah berhenti berkata:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (Q.S. Thaha: 114)

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Daftar Bacaan
Al-Jāḥiẓ, Abū ‘Utsmān ‘Amr ibn Baḥr. Kitāb al-Ḥayawān, Jilid I. PDF.
Al-‘Imrān, ‘Alī bin Muḥammad. 2022. Gila Baca Ala Ulama: Potret Keteladanan Ulama dalam Menuntut Ilmu. Terjemahan dari Al-Musyawwiq ilā al-Qirā’ah wa Ṭalab al-‘Ilm. Yogyakarta: Pustaka Arafah.
Al-Māwardī, Imām. 2022. Adabud Dunyā wad-Dīn: Adab Menuntut Ilmu, Beragama, dan Membangun Hidup yang Baik. Jakarta: Pustaka Azzam.
Romadhon, Nur Fajri. Pemetaan Al-Qur’an: Menyelami Kandungan, Sifat, dan Karakteristik Surat-Surat dalam Al-Qur’an. Solo: Aqwam.
Shihab, M. Quraish. 2012. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Volume 15. Jakarta: Lentera Hati.
https://www.kemendikdasmen.go.id/siaran-pers/16148-pisa-2025-nilai-literasi-dan-sains-naik-akses-pendidikan-melonjak-90-persen, diakses 30 September 2026.