Mengimani Imunomodulator dalam Madu

Dalam Bahasa Arab, madu dinamakan (عَسَلٌ). Lafaz tersebut terdapat dalam al-Qur’an, surat Muhammad ayat 15. Sebagaimana Allah swt berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗ فِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍ ۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ە ۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ

مُّصَفًّى ۗ وَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (adalah bahwa) di dalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, sungai-sungai air susu yang rasanya tidak berubah, sungai-sungai khamar yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah dan ampunan dari Tuhan mereka. (Apakah orang yang memperoleh kenikmatan surga) sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga usus mereka terpotong-potong? (Muhammad : 15)

Tapi bukan ayat di atas yang menunjukkan tentang peran penting madu dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ayat yang menggambarkan madu sebagai penyembuh justru terdapat dalam ayat yang sedang membicarakan kehidupan lebah dalam surat yang dinamakan Tuhan dengan nama lebah, an-Nahl.

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Kemudian, makanlah (wahai lebah) dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perutnya itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (an-Nahl : 69)

Pada ayat tersebut, Allah swt memberikan klaim bahwa minuman yang keluar dari perut lebah merupakan penyembuh bagi manusia. Minuman penyembuh itu tidak lain adalah madu. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh at-Tabari, Ibnu Katsir dan juga al-Qurtubi. Bahkan, Allah swt juga menyebutkan macam-macam jenis madu yang nampak dari warna yang berbeda.

Tidak cukup diresep Tuhan dalam al-Quran, madu juga dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya kala tubuhnya menderita sakit. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri ra.

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ، فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلًا، ثُمَّ أَتَى الثَّانِيَةَ فَقَالَ: اسْقِهِ عَسَلًا، ثُمَّ أَتَاهُ، فَقَالَ: فَعَلْتُ، فَقَالَ: صَدَقَ اللهُ،

وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ، اسْقِهِ عَسَلًا، فَسَقَاهُ فَبَرَأَ

Suatu hari, datang seorang sahabat kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata: ‘Saudaraku mengeluhkan sakit perutnya.’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Berikanlah ia madu.’ Kemudian, orang itu datang lagi kedua kalinya mengeluhkan hal yang sama. Rasulullah ﷺ pun memberikannya resep yang sama. Hingga ia datang lagi dan berkata: ‘Aku sudah memberinya madu.’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sungguh Maha Benar Allah, dan perut saudaramu yang berdusta. Berikan lagi madu.’ Setelah itu, saudaranya sembuh.

Bahkan, madu mendapatkan perhatian dari ulama hadits seperti Imam al-Bukhari yang menjadikan salah satu bab dalam kitab sahihnya khusus membahas tafsir ayat 69 dari surat an-Nahl yang berbicara tentang khasiat madu yang disebut sebagai asy-Syifa, obat. Dalam bab tersebut, al-Bukhari meriwayatkan hadits-hadits sahih yang menguatkan betapa istimewanya kandungan obat yang ada di dalam madu berdasarkan nas-nas wahyu, seperti salah satunya adalah hadits di atas. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh imam hadits lainnya seperti Muslim dan at-Tirmidzi.

Dalam Fathu al-Bari syarah Sahih al-Bukhari, al-Hafiz Ibnu Hajar menerangkan makna hadits yang menyebutkan keutamaan madu sebagai penyembuh serta alasan mengapa sahabat yang mengkonsumsi madu tidak langsung pulih saat meminumnya pertama kali hingga membuatnya kembali menghadap Rasulullah ﷺ sebanyak 4 kali. Apakah berarti madu tidak manjur menyembuhkan penyakit? Pastinya, bukan karena Allah swt atau Rasulullah ﷺ berdusta tentang keutamaan madu.

وَإِنَّمَا لَمْ يُفِدْهُ فِي أَوَّلِ مَرَّةٍ؛ لِأَنَّ الدَّوَاءَ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ لَهُ مِقْدَارٌ وَكَمِّيَّةٌ بِحَسَبِ الدَّاءِ، إِنْ قَصُرَ عَنْهُ لَمْ يَدْفَعْهُ بِالْكُلِّيَّةِ، وَإِنْ جَاوَزَهُ أَوْهَى الْقُوَّةَ

وَأَحْدَثَ ضَرَرًا آخَرَ، فَكَأَنَّهُ شَرِبَ مِنْهُ أَوَّلًا مِقْدَارًا لَا يَفِي بِمُقَاوَمَةِ الدَّاءِ، فَأَمَرَهُ بِمُعَاوَدَةِ سَقْيِهِ، فَلَمَّا تَكَرَّرَتِ الشَّرَبَاتُ بِحَسَبِ مَادَّةِ الدَّاءِ بَرَأَ

بِإِذْنِ اللَّهِ – تَعَالَى -. وَفِي قَوْلِهِ ﷺ: وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ هَذَا الدَّوَاءَ نَافِعٌ، وَأَنَّ بَقَاءَ الدَّاءِ لَيْسَ لِقُصُورِ الدَّوَاءِ فِي نَفْسِهِ، وَلَكِنْ

لِكَثْرَةِ الْمَادَّةِ الْفَاسِدَةِ، فَمِنْ ثَمَّ أَمَرَهُ بِمُعَاوَدَةِ شُرْبِ الْعَسَلِ لِاسْتِفْرَاغِهَا، فَكَانَ كَذَلِكَ، وَبَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ

Sesungguhnya, penyakit tersebut tidak langsung hilang pada saat minum madu pertama kali adalah karena obat harus sesuai kadar dosisnya sesuai kadar penyakit. Apabila dosisnya kurang, maka ia tidak mampu memulihkan penyakit secara keseluruhan. Sebaliknya, apabila dosisnya berlebihan, maka akan memunculkan penyakit lainnya. Maka dalam hadits tersebut, sepertinya orang yang bersangkutan, pada kali pertama ia meminum madu, kadar dosisnya belum cukup untuk melawan penyakitnya. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk mengkonsumsi ulang madu. Ketika dosisnya sudah cukup sesuai kadar penyakitnya, maka sembuh akhirnya dengan izin Allah swt. Dalam ucapan Rasulullah ﷺ yang mengatakan bahwa perut orang yang masih merasakan sakit setelah minum madu sebagai sebuah bentuk kedustaan adalah penekanan bahwa obat ini (madu) benar-benar memiliki manfaat yang luar biasa. Ada pun keberadaan penyakit setelah meminum obat, bukanlah karena obatnya tidak mempan. Akan tetapi karena banyaknya bakteri jahat yang merusak dalam tubuh. Karena itulah, Rasulullah ﷺ memintanya untuk meminum madu berkali-kali untuk menetralisir dan memang seperti itulah kenyataannya hingga akhirnya ia sembuh dengan izin Allah swt.

Bukan itu saja, Imam Ibnu Hajar juga membagi tahu tentang bagaimana cara penyajian madu saat dikonsumsi agar lebih berkhasiat pada tubuh yang berpenyakit.

وَظَاهِرُهُ الْأَمْرُ بِسَقْيِهِ صِرْفَا، وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ مَمْزُوجًا … لَا سِيَّمَا إِنْ مُزِجَ بِالْمَاءِ الْحَارِّ

Secara zahir, hadits di atas menerangkan bahwa madu yang dikonsumsi adalah madu murni. Namun, mungkin juga bermakna madu yang dicampur (dengan bahan lain sesuai kebutuhan). Lebih baik lagi jika dikonsumsi dengan cara diseduh dengan air panas.

Paparan di atas seharusnya sudah sangat cukup menjadi rujukan bagi orang beriman tentang khasiat madu yang dapat menyembuhkan penyakit. Bagaimana tidak? Allah swt langsung yang mengklaim khasiat madu, minuman yang keluar dari perut lebah. Mudah saja, saya kira kita semua akan langsung percaya saat diracikkan obat dari dokter spesialis yang harganya pasti lebih mahal dari obat kebanyakan. Lalu, bagaimana bisa kita meragukan Tuhan yang memberikan kesembuhan?

Tulisan ini sekaligus menjadi refleksi bagi kita yang sudah lama mengaku beriman dengan al-Quran, tapi jauh dari membenarkan dan mengamalkan berita-berita yang ia kabarkan. Belakangan ini, di Dza Izza cukup banyak santri yang harus dipulangkan karena kondisi tubuhnya yang sakit dan memerlukan perawatan intensif. Tidak sedikit juga para guru yang ikut terjangkit penyakit hingga harus berobat dan meninggalkan kewajiban mengajarnya sementara waktu untuk memulihkan tubuh. Maka, beragam upaya dilakukan untuk mencegah dan mengobati. Salah satunya kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang sudah berjalan kurang lebih dua kali dalam dua pekan ini.

Selain itu, kiranya tidak salah juga jika para santri dianjurkan untuk memiliki madu di lemarinya masing-masing sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh mereka di tengah penyakit yang sedang melanda teman dan gurunya. Begitu pun para guru. Jika meninjau ayat, hadits dan ucapan para ulama di atas tentang khasiat madu yang luar biasa, menjadi aneh saja, kok bisa di rumah seorang yang beriman tidak terdapat madu? Memang tidak murah, tapi seharusnya warga Dza Izza masih mampu untuk memilikinya. Tiada lain adalah sebagai upaya menjaga kesehatan yang Tuhan anugerahkan dan bentuk kepercayaan kita sebagai hamba kepada Tuhan yang meletakkan kesembuhan pada madu. Semoga Allah jaga kita semua dari segala macam penyakit dan bahaya, serta menyembuhkan saudara kita yang saat ini menderita. Amin.