
Keindahan al-Qur’an hadir melalui kedalaman bahasa dan keluasan makna yang dikandungnya. Namun, keindahan itu tidak serta-merta tersingkap bagi setiap orang. Dibutuhkan kepekaan bahasa, perenungan, penghayatan dan pengamalan agar pesan-pesannya benar-benar hidup dalam kesadaran pembacanya.
“Keindahan bahasa al-Qur’an baru bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki sense of Arabic language. Mereka punya ‘rasa’ ketika mendengar atau membaca al-Qur’an. Karena bahasa al-Qur’an itu bukan bahasa yang biasa, dari segi keindahan bahasanya,” ujar Dr. Saepul Anwar, dosen MADRIS Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, saat diwawancarai pada Senin (12/1/2026).
Untuk menggambarkan pengaruh keindahan bahasa al-Qur’an, Dr. Saepul mencontohkan kisah al-Walid ibn al-Mughirah, salah satu tokoh Quraisy yang dikenal memusuhi dakwah Nabi Muhammad saw. Namun, permusuhan itu tidak menghalanginya untuk mengakui keagungan bahasa al-Qur’an ketika mendengarnya secara langsung. Begitu takjubnya al-Walid ibn al-Mughirah terhadap al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad saw. di hadapannya, hingga ia mengungkapkan pernyataan yang masyhur:
وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته
“Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidahnya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (al-Qur’an) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya.”
Al-Walid sampai bersumpah, jelas Dr. Saepul, bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. memiliki kemanisan dan keindahan tersendiri, memberi manfaat yang sangat besar, baik pada bagian atasnya, bawahnya, maupun ujungnya—semuanya sarat faedah.
“Ketika itu orang Arab sangat berbangga dengan syairnya, dan dalam konteks prosa mereka berbangga dengan khithabah-nya. Al-Mughirah mengatakan wa innahu la ya‘luhu wa la yu‘lahu. Ini yang diucapkan Nabi Muhammad akan mengungguli segala yang ada dan akan menghancurkan ungkapan-ungkapan yang dibuat oleh mereka yang mencoba menandingi al-Qur’an, dan akan dikalahkan dengan sangat mudah oleh al-Qur’an,” terangnya.
Beranjak dari kisah tersebut, Dr. Saepul menjelaskan bahwa dalam konteks masa kini, terdapat dua aspek utama agar seseorang dapat merasakan keindahan al-Qur’an. Pertama, dari segi kebahasaan, dengan syarat utama mempelajari bahasa Arab. Bahasa Arab perlu dipelajari terlebih dahulu agar seseorang mampu merasakan keindahan bahasa al-Qur’an, mengingat al-Qur’an diturunkan dalam bahasa tersebut.
Kedua, dari segi isi. Selain mempelajari bahasa Arab, seseorang juga perlu meresapi pesan-pesan yang disampaikan al-Qur’an, baik yang disampaikan secara langsung melalui ayat-ayat berupa perintah, larangan, dan anjuran, maupun pesan-pesan yang disampaikan melalui kisah-kisah di dalamnya. Dari sanalah makna dan keindahan itu dapat dirasakan secara lebih mendalam.
Sebagai contoh, Dr. Saepul menyebut kisah Nabi Sulaiman as. Meski memiliki kekuasaan yang besar, Nabi Sulaiman as. tetap berdiskusi dalam mengambil keputusan, termasuk saat menentukan siapa yang mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis. Hingga akhirnya, ditunjuk seorang yang diberi kelebihan oleh Allah Swt. untuk memindahkannya hanya dalam sekejap mata. Dari kisah ini tampak bahwa Nabi Sulaiman as., sebagai seorang pemimpin, menyadari adanya kompetensi yang berbeda-beda pada setiap individu.
“Itu sebagai contoh saja, dan masih banyak kisah-kisah dalam al-Qur’an dari segi isi. Kita bisa merasakan pesan keindahan al-Qur’an kalau kita bisa memahaminya. Jadi syarat utamanya tetap mempelajari bahasa Arab dengan segala macam bidang keilmuannya,” ujarnya.
Dr. Saepul menambahkan bahwa jika seseorang hanya berhenti pada tataran membaca, pengaruhnya mungkin ada, tetapi tidak akan sedalam ketika ia telah memasuki fase tadabbur. Allah Swt. berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Memang prosesnya itu bertahap. Bagaimana orang mau sampai kepada tingkatan tadabbur kalau dia membacanya saja jarang,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa keindahan bahasa al-Qur’an sangat mungkin mengubah sikap dan kepribadian seseorang ke arah yang lebih baik. Namun, perubahan itu menuntut peningkatan kualitas interaksi.
“Apakah dengan al-Qur’an ini bisa mengubah sikap seseorang dalam hidup, misalnya menjadi pribadi yang lebih baik? Itu sangat bisa, tetapi dia harus naik tingkat. Kalau dulu misalnya hanya sekadar tilawah, sekarang perlahan naik ke tingkatan tadabbur,” sambungnya.
Dalam kaitannya dengan tafsir ilmi, Dr. Saepul menjelaskan bahwa al-Qur’an merupakan pesan Allah Swt. yang bersifat universal. Al-Qur’an tidak membahas segala sesuatu secara detail, tetapi memberikan isyarat-isyarat yang dapat dikembangkan oleh manusia melalui akal-budi yang dianugerahkan Allah Swt. Kepada mereka yang mentadabburi al-Qur’an, pesan-pesan ini akan terbuka dan mengajak manusia untuk berpikir lebih dalam.
“Bahkan, dalam konteks ilmu pengetahuan, sebenarnya tidak ada dualisme antara ilmu agama dan non-agama. Bukan seperti itu arahan al-Qur’an. Kita mempelajari semua hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt., yang bisa menumbuhkan kesadaran bahwa ada Zat Yang Mahakuasa yang seharusnya kita jadikan prioritas utama. Itulah ilmu yang diperintahkan Allah Swt. untuk dipelajari,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa dalam konteks kekinian, pembagian peran menjadi penting. Sebagian diarahkan untuk tafaqquh fid-din, sementara sebagian lain mendalami bidang sains dan perkembangan ilmu pengetahuan, dengan tujuan yang sama, yaitu menyadarkan umat bahwa berbagai temuan tersebut justru semakin menegaskan adanya Allah Swt. sebagai Pencipta alam semesta dengan segala kompleksitasnya.
Dalam sejarah, jelas Dr. Saepul, para ulama terdahulu memiliki kecerdasan luar biasa. Mereka mampu mempelajari ilmu kedokteran, fikih, menghafal al-Qur’an, bahkan mendalami bidang-bidang lain seperti antropologi secara bersamaan. Hal itu merupakan anugerah kecerdasan dari Allah Swt. Adapun pada masa kini, jika ada yang dianugerahi kemampuan seperti itu, tentu tidak menjadi persoalan. Namun, jika menyadari keterbatasan waktu dan kemampuan, pembagian peran menjadi solusi, selama semuanya bekerja sama untuk tujuan yang sama: mengarahkan kehidupan sesuai aturan Allah Swt. sebagai Tuhan yang membimbing manusia menuju kebaikan.
Sebagai penutup, Dr. Saepul menyampaikan pesan agar umat Islam bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Arab dan memperbanyak interaksi dengan al-Qur’an. “Pesan saya, kita harus mempelajari bahasa Arab dengan baik, kemudian sering berinteraksi dengan al-Qur’an. Karena orang yang banyak berinteraksi dengan al-Qur’an, ketika dia mempelajari bahasa Arab, akan lebih mudah memahaminya. Apalagi munculnya ilmu-ilmu seperti nahwu, sharaf, dan balaghah itu pada awalnya bertujuan menjaga al-Qur’an dari kesalahpahaman dan kesalahan membaca orang-orang non-Arab yang ketika itu masuk Islam,” pungkasnya.