Haul Tahun ke-2 K.H. Ahmad Syahiduddin, Dr. K.H. Ilyas Marwal: Almarhum Adalah Ulama Rabbani
Poster advertising the second Haul memorial event for a late religious leader (name shown on the poster), featuring a smiling man in a suit and black cap holding a microphone against a faded crowd background, a large purple "HAUL" title, event dates and venue (Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3), a green panel listing activities, sponsor logos across the top and contact details with a QR code at the bottom-right.


Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza saat Haul Tahun ke-2 Almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin dirangkai dengan Istigasah Kubra dan peringatan Isra Mikraj. Kegiatan ini menjadi ruang doa sekaligus refleksi atas jejak keilmuan dan keteladanan almarhum yang terus hidup dalam denyut pendidikan pesantren. Hadir dalam kesempatan tersebut Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. bersama Ibu Nyai Hj. Lilis Hafidzoh, S.K.M., Umi Hj. Ade Zamzami, dan pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam Umi Hj. Enah Huwainah, beserta para guru, seluruh santri dan tamu undangan.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Dr. K.H. Ilyas Marwal, D.E.S.A., Ketua PK-TREN Indonesia (Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren Indonesia) yang menyampaikan tausiyah penuh makna di hadapan para hadirin.

Dalam pengantar tausiyahnya, Kiai Ilyas terlebih dahulu menyampaikan rasa hormat dan takzim kepada Mudir al-Ma’had, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., yang secara langsung datang ke Cianjur untuk mengundangnya, bahkan sejak pagi hari. Sikap tersebut, menurut beliau, mencerminkan akhlak luhur yang patut diteladani.
“Saya sangat terhormat bisa diundang oleh Kiai Zahid ke Daar el-Qolam,” ungkap beliau dengan takzim.

Poster with three stacked photos of an Islamic memorial at Daar El-Qolam 3 — top: male speakers with one holding a microphone; middle: a packed hall of male attendees in white caps facing a stage; bottom: women in white hijabs seated in the front — with text commemorating the 2nd haul and Isra Mi'raj for the late K.H. Ahmad Syahiduddin bin H. Qasad Mansur.

Rasa hormat itu semakin mendalam ketika Kiai Ilyas menyinggung hubungan keilmuan antara dirinya dan almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin, yang beliau tempatkan sebagai guru, sekaligus pendidik bagi putranya saat mondok di Pesantren Laa Tansa. Hubungan itu, menurut beliau, terasa berlanjut melalui silaturahmi dengan putra almarhum.

“Saya sudah menempatkan bahwa almarhum (K.H. Ahmad Syahiduddin) adalah guru saya dan guru dari anak saya waktu mondok di Pondok Pesantren Laa Tansa. Alhamdulillah. Inilah kebaikan almarhum, ternyata putranya nyambung dengan saya. Dan undangan hari ini kehormatan bisa hadir,” sambungnya.

Memasuki inti tausiyah, Kiai Ilyas menyoroti kondisi zaman yang ditandai kemajuan teknologi, yang melahirkan generasi dengan kecakapan intelektual tinggi. Di tengah situasi itu, pesantren memiliki keistimewaan karena tidak hanya menumbuhkan kecerdasan, tetapi juga menanamkan akhlakul karimah.

“Saat ini, anak anakku, kita masuk di zaman kecanggihan teknologi, zaman serba intens, zaman postmodern yang melahirkan generasi unggul, generasi yang pintar intelektualitasnya,” papar beliau.

Namun, kebanggaan beliau tumbuh ketika melihat realitas pendidikan di Daar el-Qolam yang mampu melahirkan santri dengan keseimbangan ilmu dan adab.
“Namun kita bangga bahwa pondok ini telah mendidik santri pintar, santri benar, plus generasi yang saleh dan beradab, telah lahir di Daar el-Qalam. Alhamdulillah,” lanjut beliau dengan antusias dan kebanggaan.

Ungkapan tersebut disampaikan Kiai Ilyas dengan latar keprihatinan atas kondisi akhlak sebagian generasi muda, khususnya di lingkungan pendidikan formal.
“Kita miris melihat kejadian di Jambi, ada guru dikeroyok oleh murid-muridnya. Di tempat lain ada guru dihukum penjara oleh wali murid nya. Inilah wahai anak anakku, kondisi dunia pendidikan di Indonesia. Kita miris jika melihat kejadian tersebut,” terangnya dengan penuh keprihatinan.

Di tengah kegelisahan itu, Kiai Ilyas menegaskan rasa syukur karena hal-hal tersebut tidak ditemukan di Daar el-Qolam. “Tapi kita bersyukur di Daar el-Qalam itu tidak ada, yang ada disini adalah ketinggian ilmu dan kemuliaan adab,” ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Kiai Ilyas kemudian berbagi pengalaman internasionalnya saat diundang mengisi Halaqah di Timur Tengah. Dalam berbagai forum tersebut, ia kerap menyampaikan potret pendidikan pesantren Indonesia yang justru menuai kekaguman dunia.
“Saya sering sampaikan terkait bagaimana pendidikan pondok pesantren di Indonesia, ternyata dunia sangat kagum pada pendidikan pondok pesantren Indonesia,” jelasnya.

Poster with three stacked photographs of a Muslim memorial gathering showing men and women in white religious dress and caps seated and standing, accompanied by the event title 'Haul', the deceased's name and the Daar El-Qolam logo.

Beliau pun mengingatkan pentingnya menjaga tradisi dan keberlanjutan pesantren dari berbagai hal yang dapat merugikan, termasuk mempertahankan warisan pemikiran tokoh-tokoh besar pesantren.

“Disaat pesantren disalahkan dan diserang, saya katakan, dunia ingin belajar terkait pendidikan pondok pesantren, malahan saat ini di Indonesia sendiri banyak yang salah paham terkait pondok pesantren,” katanya menyayangkan.

Sebagai bukti, Kiai Ilyas menunjuk keberadaan santri Indonesia di berbagai belahan dunia. “Coba kita perhatikan dari mulai Maroko hingga ke Yaman yang eksis belajar di sana adalah santri-santri Indonesia, demikian pula di negara negara Eropa adalah santri pula,” tutur Kiai Ilyas.

Menurut beliau, kekaguman para akademisi Timur Tengah terhadap pelajar Indonesia berakar pada keluhuran budi pekerti. “Hingga ada salah seorang syeikh berkata, jika engkau ingin melihat wajah penghuni surga maka lihatlah wajah pelajar Indonesia,” ujarnya.

Kiai Ilyas pun menaruh keyakinan besar pada pola pendidikan Daar el-Qolam yang tetap berpijak pada nilai lokal, sekaligus membuka diri pada kualitas global. “Saya percaya pada Daar el-Qalam, pendidikan lokal tidak ditinggalkan tapi tetap fokus mensejajarkan kualitas internasionalnya,” ucapnya.

Kiai Ilyas juga menyinggung capaian para alumni yang berkiprah di luar negeri. “Saya tahu banyak alumni Daar el-Qalam banyak berprestasi di luar negeri. Ini suatu kebanggan, kita tinggal terus upgrade kualitas pendidikan ini,” katanya.

Ke depan, beliau menyampaikan harapan agar akses pendidikan internasional bagi alumni terus diperluas, seiring peningkatan kapasitas santri. “Saya dan Kiai Zahid insyaallah akan senantiasa terus berinovasi untuk terus-menerus mengusahakan acces ke berbagai negara untuk alumni alumni nya. Insyaallah sebagaimana harapannya usaha-usaha ini diimbangi oleh kemampuan santri,” harapnya.

Menjelang akhir tausiyah, Kiai Ilyas menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bagian kecil dari doa agar semua yang hadir mampu meneladani jejak almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin.

“Akhirnya kehadiran saya kesini, hanyalah bagian kecil dari doa dan harapan semoga kita bisa mengikuti jejak langkah almarhum yang kita haulkan saat ini, ternyata almarhum sangat taat pada kedua orang tuanya mencari keberkahan. Subhanallah, beliau sudah mendapatkan keberkahan tersebut,” ungkapnya.

Kiai Ilyas menutup dengan penghormatan atas warisan keteladanan almarhum sebagai pendidik hati dan pembina generasi. “Bahwa sesungguhnya almarhum ini telah meninggalkan karya-karya sebagai ulama Rabbani, berhasil mendidik putranya dan santri-santri nya. Sekalipun tidak banyak menulis kitab kitab namun beliau banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik hati murid-muridnya,” ucapnya.

“Maka kita saksikan bahwasanya almarhum ini adalah min ahlil khair, min ahlil jannah. Amin ya rabbal alamin,” doanya dengan penuh harap.