Memuliakan Sesama: Pesantren dan Nilai Universal

Pesantren tidak semata-mata berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Ia adalah cerminan sebuah miniatur peradaban, sebuah ekosistem pembelajaran yang menyatu antara ilmu, adab, dan nilai-nilai kemanusiaan, berjalan tanpa jeda selama dua puluh empat jam sehari secara tersistem. Di dalamnya, para santri tidak hanya dididik secara intelektual, tetapi juga dibentuk secara spiritual dan sosial dalam atmosfer pembelajaran yang kontinu.

Dari sekian banyak nilai luhur yang diwariskan dalam tradisi pesantren, terdapat satu prinsip universal yang menjadi ruh seluruh aktivitas keseharian santri sekaligus kompas pola asuh para pendidiknya: perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Prinsip ini tidak sekadar menjadi ajaran etika atau sopan santun, melainkan fondasi kokoh bagi terbentuknya ukhuwah dalam tiga dimensi: ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia sebagai makhluk Tuhan), dan ukhuwah islamiyah (persaudaraan seiman dalam Islam).

Nilai Universal dalam Perspektif Islam
Prinsip timbal balik dalam memperlakukan sesama memiliki akar kokoh dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar norma sosial, tetapi bagian integral dari kesempurnaan iman. Hal ini tampak jelas dalam hadits ke-13 dari kitab Arba’in Nawawi karya Imam an-Nawawi rahimahullah. Dalam hadits tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” ]رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ[

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Ra, pembantu Rasulullah saw, dari Nabi saw bersabda: “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Pesan yang disampaikan begitu terang dan gamblang: iman tidak cukup diukur dari ibadah ritual semata, tetapi harus diwujudkan nyata dalam sikap dan interaksi sosial. Apa yang kita dambakan dari orang lain—dihormati, dimengerti, dimaafkan, disayangi, ditolong—itulah pula yang seharusnya kita usahakan berikan kepada sesama. Hubungan yang dilandasi saling pengertian dan kebaikan inilah yang disebut hubungan resiprokal, dan di sanalah letak ihsan—derajat tertinggi dalam spiritualitas Islam.

Sejalan dengan pesan tersebut, Imam an-Nawawi juga mencantumkan hadits bernada serupa dalam kitab Riyadhus Shalihin, pada Bab tentang kewajiban menaati pemimpin dalam hal yang bukan maksiat, hadits nomor 668. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Ra, Rasulullah saw bersabda:


فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ].رَوَاهُ مُسْلِمٌ[

“Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk surga, hendaknya ketika mati ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, serta memperlakukan sesama manusia sebagaimana ia senang diperlakukan.” [HR. Muslim].
Hadits ini memperkuat bahwa kebaikan interpersonal adalah jalan keselamatan. Iman sejati harus melahirkan akhlak yang adil dan penuh kasih. Dalam relasi sosial, seorang mukmin dituntut menjadi pribadi adil, peka, dan empatik, serta menjadikan sikapnya terhadap orang lain sebagai cermin keimanannya sendiri. Prinsip “perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan” bukan hanya anjuran moral, tetapi jalan menuju surga.

Dalam terjemah Syarah Riyadhus Shalihin, Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa seseorang yang benar-benar menghayati iman akan memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Ia menjalin hubungan sosial dengan cara yang ia harapkan orang lain lakukan terhadap dirinya. Jika memberi nasihat, nasihatnya tulus seperti untuk dirinya sendiri. Ia pun tidak menginginkan keburukan untuk orang lain, sebagaimana ia tidak menginginkannya bagi diri sendiri.

Ia menunaikan kewajiban kepada Allah, beriman kepada-Nya, dan meyakini hari akhir. Dalam berinteraksi dengan sesama, ia memuliakan hak-hak orang lain dan menjalin hubungan sosial hanya dengan cara yang disenangi lawan bergaul. Ia tidak berdusta, tidak menipu, tidak menyakiti, dan tidak menyimpan niat buruk terhadap mereka. Prinsipnya sederhana namun dalam: perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan.

Jika ada yang bertanya, “Apakah hal ini halal atau haram?”, jawabannya dapat dikembalikan pada standar etik ini: “Apakah engkau senang jika orang lain bersikap demikian terhadapmu?” Jika jawabannya tidak, tinggalkanlah perbuatan itu, terlepas dari hukum formalnya.

Seseorang hendaknya menjadikan prinsip ini tolok ukur dalam setiap relasi sosial. Jangan memperlakukan orang lain dengan cara yang tidak engkau sukai jika ditujukan kepadamu. Dalam tutur kata, bersikaplah lembut; dalam ekspresi, gunakan ungkapan halus dan santun. Perlakukan orang lain dengan sikap menyenangkan, sebagaimana engkau ingin diperlakukan penuh penghormatan dan kebaikan. Prinsip inilah yang akan menyelamatkan seseorang dari siksa neraka dan menghantarkannya ke surga.

Nilai-nilai Ini Ditanamkan di Pesantren
Di lingkungan pesantren, prinsip luhur ini tidak sekadar diajarkan secara tekstual melalui kitab-kitab akhlak seperti: Ta’lim al-Muta’allim, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Minhaj al-Muta’allim, Bidayah al-Hidayah, Akhlaq lil Banin, dan sejenisnya, melainkan juga ditanamkan melalui praktik nyata dalam keseharian. Santri dilatih memiliki kepekaan sosial—melayani teman, berbagi makanan dengan ikhlas, menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda. Nilai-nilai keutamaan tidak hanya dihafal, tetapi dihidupkan dalam perilaku.

Syaikh az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim, pada bab membahas kasih sayang dan nasihat, menekankan bahwa sesama penuntut ilmu hendaknya bersikap penuh welas asih, saling memberi nasihat, dan memiliki niat baik. Hasad atau iri hati harus dijauhi, karena hanya membawa kerusakan tanpa mendatangkan kebaikan.

Nilai-nilai luhur ini terlihat nyata dalam aktivitas sederhana: santri tertib mengantri makanan tanpa saling serobot, menjaga hak dan ketertiban bersama, saling membantu membersihkan kamar, hingga menjaga rahasia serta martabat teman. Di dalam kebiasaan harian yang terkesan sepele itulah, prinsip “perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan” tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjelma menjadi budaya hidup yang mengakar.

Merajut Ukhuwah Insaniyah, Basyariyah, dan Islamiyah
Nilai ini secara mendalam membentuk tiga jalinan ukhuwah:
Ukhuwah Insaniyah: Persaudaraan atas dasar kemanusiaan. Di sini, semua manusia—tanpa melihat agama, ras, atau suku—dipandang sebagai ciptaan Allah yang wajib dihormati. Dalam QS. Al-Isra’: 70 Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ …
“Dan sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam…”
Di pesantren, para santri diajarkan menghormati orang tua, menyayangi yang muda, serta menghormati siapa saja seperti: petugas kebersihan, tukang kebun, petugas dapur, bahkan tamu lintas agama. Sebab memuliakan manusia adalah bagian dari memuliakan Sang Khaliq.

Ukhuwah Basyariyah: Persaudaraan atas dasar kesamaan hakikat kemanusiaan. Dalam konteks ini, pesantren mendidik agar perbedaan pendapat tidak menimbulkan kebencian, karena perbedaan merupakan keniscayaan.

Ukhuwah Islamiyah: Persaudaraan yang terikat iman dan kesamaan keyakinan agama. Di lingkungan pesantren, nilai ini tidak hanya diajarkan lisan, melainkan dihidupkan dalam praktik keseharian: melalui shalat berjamaah yang menumbuhkan kebersamaan, kajian kitab yang mempererat kebersatuan, serta budaya saling menasihati dalam kebaikan dan ketakwaan.

Namun, persaudaraan Islami yang kuat dan berakar tak mungkin tegak tanpa fondasi ukhuwah insaniyah dan ukhuwah basyariyah—yakni penghargaan terhadap sesama manusia sebagai makhluk Allah dan pengakuan nilai-nilai kemanusiaan universal. Apabila seorang muslim gagal memperlakukan saudaranya dengan penuh kasih, hormat, dan adab, sejatinya ia melukai ruh ajaran Islam yang menjunjung tinggi kasih sayang dan keadilan. Ukhuwah Islamiyah sejati hanya tumbuh jika dibarengi kematangan akhlak dan ketulusan memperlakukan sesama dengan hati lapang.

Pesantren: Model Ideal Peradaban yang Beradab
Tidak berlebihan menyebut pesantren sebagai arena paling konsisten menghidupkan nilai-nilai universal Islam. Di dalamnya, santri dilatih hidup dalam kebersamaan autentik: berbagi ruang tidur dalam satu asrama, belajar bersama di kelas sama, makan dari dapur sama, shalat di masjid sama, bahkan menggunakan fasilitas mandi dan cuci bersama. Dalam ruang kebersamaan rapat inilah tumbuh benih empati dan solidaritas mendalam: ketika ada yang sakit, dirawat bersama; saat lapar, makanan dibagi; dalam kesulitan, saling menguatkan tanpa pamrih.

Proses ini tidak hanya membentuk pribadi kuat dan tangguh secara mental, tetapi juga halus dalam tutur dan perilaku. Santri dididik berpikir kritis namun santun, hidup disiplin namun tak kehilangan empati. Maka tak mengherankan bila banyak alumni pesantren tampil sebagai tokoh panutan di masyarakat, bukan semata karena kedalaman ilmu, tetapi karena kematangan adab yang melekat.

Menapak Kembali Jejak Peradaban
Di tengah dunia modern yang kian dilanda individualisme dan fragmentasi sosial, pesantren tampil sebagai oase yang menghadirkan kesegaran nilai: ketersalingan dan kepekaan sosial. Pesantren mengajarkan bahwa hidup bermasyarakat menuntut kesadaran etik timbal balik; jika ingin dihargai, kita pun harus menghargai; jika ingin dimuliakan, kita mesti memuliakan. Inilah kesadaran adab yang menjadi jantung peradaban Islam.

Penutup: Dari Pesantren untuk Dunia
Kini saatnya nilai-nilai luhur yang tumbuh di pesantren diperkenalkan kembali ke ranah publik lebih luas. Prinsip perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan bukan sekadar ajaran agama, melainkan kebutuhan dasar bagi tegaknya martabat kemanusiaan. Inilah simpul yang merajut persaudaraan insani (ukhuwah insaniyah), persaudaraan kemanusiaan umum (ukhuwah basyariyah), dan persaudaraan seiman dalam Islam (ukhuwah islamiyah).

Apabila nilai ini mampu mengakar dalam hati setiap manusia, niscaya dunia akan menjadi tempat lebih damai. Pesantren pun akan diakui bukan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi sebagai pusat peradaban yang membentuk insan berakhlak sekaligus santri, menjadi pelopor peradaban yang benar-benar beradab.