Keluh Kuli kepada Kuil


Sudah hampir lima windu, aku kerap menyaksikan tengadah tangannya yang lirih berbisik mengadukan beras yang selalu habis sebelum habis bulan. Sungguh iba sekali mendengarnya. Dingin fajar yang menusuk tidak lantas membuat langkah laparnya lunglai. Ia datang ke kuil bahkan sebelum penyeru membunyikan panggilan ritual. Terik matahari ketika bayangan tepat berada di bawah kakinya, juga tidak mampu membuatnya urung untuk sekali saja tidak ke kuil. Padahal, saat itu, lelahnya sedang menjadi-jadi. Biasanya, pada saat itu orang lain lebih memilih untuk mengisi lambung atau memanjakan punggung di atas tilam. Tapi tidak dengannya. Alih-alih menggunakan waktu istirahatnya yang singkat di tengah pekerjaannya mengaduk pasir, menyusun batu, dan membengkokkan tulangan besi, ia justru membasahi kepalanya untuk kemudian merunduk, merengkuh tiang-tiang kuil yang kokoh. Iya, dia adalah kuli bangunan yang hidup di sebuah desa bernama Adi Jaya. Di sana ia tinggal bersama berbagai macam masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. Tentu, keadaan hidup mereka lebih layak dibandingkan kuli yang biasa dipanggil warga sekitar dengan sebutan Kang Turmus.

Barangkali kalian mengira bahwa ia hanya sambang ke kuil pada dua waktu itu saja. Awalnya, aku pun berpikir demikian. Namun, ternyata sandal jepitnya terlalu sering nampak di pelataran kuil. Bahkan, tidak jarang hilang dicuri oleh anak-anak orang besar yang katanya sedang sibuk menuntut ilmu agama di sekolah samping kuil. Kebetulan sekali, beberapa bulan terakhir ini Kang Turmus mendapat pekerjaan untuk membangun gedung baru di sekolah bernama Pelita Bangsa itu. Kesibukannya bekerja kasar, tidak pernah menghalangi keinginan kuatnya untuk simpuh di kuil. Setidaknya, Kang Turmus tidak pernah kurang dari lima kali dalam sehari sambang ke kuil. Tidak lain adalah untuk menyembah Tuhan yang ia yakini kebaikan-Nya. Lalu kemudian, mengeluhkan keadaan hidupnya yang serba kekurangan di dalam munajatnya yang panjang.

Hari ini, aku mendengar kabar kematiannya. Samar-samar angin membawa cerita duka yang meninggalkan lara. Aku mulai menduganya setelah lima hari tak kutemukan tali sandal sebelah kanannya yang hampir putus di pelataran kuil. Beritanya, kelaparan memaksanya memakan makanan yang sudah tidak layak konsumsi. Karena beras di rumah sudah habis, sementara gaji hariannya sebagai kuli bangunan tertunda tiga hari. Nahas, ia tewas keracunan bersamaan dengan keluarga kecilnya yang bernaung di dalam gubuk reyotnya.

Beberapa hari sebelum kematiannya, Kang Turmus sempat bertanya tentang kegundahan yang selama ini mengusik pikirannya. ‘Mengapa kuil sepi? Aku hanya melihat sekelompok anak-anak sekolah yang terpaksa melaksanakan sembahyang karena diperintah gurunya yang tidak hadir bersama mereka. Aku merasa asing di tengah keramaian itu. Di tengah riuh lantunan doa yang menggema, aku hanya sedang seperti mengaminkan rapalan mantra yang kering dari harapan. Aku juga jarang sekali melihat kepala desa menyembah Tuhan di dalam kuil ini. Begitu pun para pemuka agama. Bukankah seharusnya mereka yang lebih paham akan urusan agama yang lebih giat memakmurkan kuil? Aku hanya orang bodoh yang tidak berpendidikan. Suatu waktu aku sempat berpikir: apa cuma aku saja yang memiliki banyak hajat sehingga membuatku terus sibuk bermunajat? Bagaimana menurutmu?’, Tanya Kang Turmus kepadaku.

Sambil berusaha untuk tetap dingin, aku berupaya mengurai jawaban dari rentetan pertanyaan Kang Turmus yang agak kritis. Tanpa merendahkan siapa pun yang masuk ke dalam pertanyaan Kang Turmus, aku mencoba untuk memberikannya sudut pandang lain agar ia mampu sedikit mengerti tentang keadaan orang lain yang jarang menyembah Tuhan di kuil. ‘Kang Turmus mengaku bodoh, tapi pertanyaannya lumayan tajam nih! Saya jadi bingung jawabnya. Kalau bertanya kepada makhluk lain yang tidak tepat, njenengan bisa dituduh menyinggung itu. Hati-hati, Kang. Wong cilik tak usah banyak tanya.’ Candaku padanya, berupaya mencairkan susana. Walau ia menanggapinya dengan serius dan bahkan hampir menarik pertanyaannya.

Sambil melempar tawa kecil, aku urai satu-satu keheranannya. ‘Kang, anak-anak memang perlu dibiasakan untuk sembahyang di kuil. Meski barangkali saat ini mereka terlihat seperti terpaksa tanpa menghadirkan jiwa spiritual sepenuhnya. Harapannya, saat dewasa nanti, mereka akan terbiasa.’ Belum selesai menjabarkan semua jawaban, Kang Turmus menyelaku: ‘Alah, tapi kemarin aku lihat anak tetanggaku ketika sedang libur sekolah, malah tidak datang ke kuil. Padahal, tahun ini adalah tahun kelulusannya.’ Kali ini, aku tidak dapat menepis fakta menohok yang disampaikan Kang Turmus. Akhirnya hanya anggukan kepala yang kuberikan. Lalu, aku melanjutkan jawaban lain tanpa menghiraukan selaannya barusan. ‘Kalau guru, mereka sudah lelah seharian mengajar di kelas. Suaranya lantang memberantas kebodohan. Sehingga mereka tidak sempat datang ke kuil setelah malamnya menyiapkan bahan ajar dan pagi hari mengajar, mencerdaskan anak bangsa. Mereka sudah mendapatkan cukup banyak pahala dari mengajarnya, Kang.’ Karena responnya tadi tidak aku tanggapi, Kang Turmus kali ini hanya mengernyitkan dahi dan melengkungkan bibirnya ke bawah.

‘Kalau Kades?’, tanyanya penasaran. ‘Kang Turmus harusnya lebih paham, kalau sekelas guru saja sibuknya setengah mati, apalagi kades. Beliau lebih kompleks lagi mengurus rakyat. Tanggung jawabnya lebih besar dari kita semua. Saya hanya menduga, beliau pasti sudah lelah memikirkan banyak pekerjaan dan tanggungan. Lagi pula, Kang Turmus juga bisa jadi warga desa Adi Jaya kan karena berkat bantuan beliau juga yang mengurus admistrasinya. Ya, toh?’ ‘Begitu, ya. Lalu para Bhante? Apakah mereka juga sibuk bertapa di kuil lain?’ Lanjut Kang Turmus. ‘Nah, kalau Bhante, betul seperti kata Kang Turmus barusan. Mereka kan lebih paham soal urusan agama, justru karena itulah mereka terlihat jarang ke kuil. Bukan karena mereka sibuk bertapa di kuil lain. Mereka hanya lebih tahu, bahwa datang ke kuil itu hukumnya tidak wajib. Jadi, sesempatnya saja.’ Jawabku singkat. ‘Oalah, begitu toh?’ Aku hanya menanggapinya dengan senyuman dan kedua alis yang kunaikkan bersamaan.

Satu lagi yang belum terjawab. Pertanyaannya tentang apakah kuil sepi karena tidak ada lagi manusia yang punya hajat untuk dimohonkan kepada Tuhan di rumah-Nya. ‘Terakhir Kang. Selain alasan tadi yang saya sebutkan, Kang Turmus harus tahu bahwa setiap kita pasti punya hajat. Baik besar mau pun kecil. Hanya saja kita tidak saling tahu. Ya, barangkali kehidupan Kang Turmus tidak seenak kehidupan mereka. Jadi, wajar sekali jika Kang Turmus melihat mereka yang kelimpahan harta dan bernaung di rumah serta kendaraan mewah, seperti orang yang tidak punya hajat lagi. Ditambah mereka memang jarang terlihat sembahyang di kuil. Tapi itu sama sekali bukan karena mereka tidak punya hajat, Kang. Cuma mungkin hajatnya sudah dapat terpenuhi tanpa harus datang ke kuil. Mereka kan juga bisa berdoa di rumahnya masing-masing.’

Harusnya pembicaraan kita usai setelah jawaban itu. Namun, ada satu hal lain yang membuatku penasaran dan ingin bertanya balik kepada Kang Turmus. ‘Kang Turmus sendiri, apa ada motivasi lain selain karena banyak hajat yang harus diajukan dalam munajat, sampai njenengan bisa konsisten datang pergi ke kuil?’ Sebelum beranjak menjawab pertanyaanku, ada kemurungan yang tampak pada raut wajahnya, bercampur kesedihan yang kemudian membuatnya menjawab pasrah pertanyaanku. ‘Yah, mau gimana lagi. Saya cuma punya Tuhan kuil ini sebagai tempat mengadu. Mengadukan uang lembur yang tak kunjung cair kepada atasan, saya hanya disuruh sabar, ikhlas dan bekerja lebih giat untuknya. Yaa.. meski rajin ke kuil juga tidak lantas membuat saya ketimpahan uang semilyar, sih.’ Di tengah keluhannya, Kang Turmus masih sempat berjenaka. Aku ragu untuk tertawa. Takut ia mengira aku adalah makhluk tak berempati. Kemudian, beliau melanjutkan. ‘Tapi paling tidak, di kuil, saya menemukan ketenangan batin yang tidak saya dapatkan di tempat lain. Entah, apa sebabnya. Apa mungkin karena udaranya yang sepoi-sepoi, atau mungkin karena kamu. Pada Tuhan, saya tidak mendapatkan penolakan. Apa yang saya adukan dalam keluhan, hanya meluap dan saya berusaha meyakini bahwa Dia mendengar. Ya, balik lagi, walaupun saya juga tidak langsung mendapatkan jawaban atau solusi dari setiap masalah. Tapi paling tidak, ke kuil menjadi salah satu cara saya meluapkan apa yang memenuhi isi kepala dan menyesakkan dada. Berusaha tetap menjaga kewarasan saja. Buktinya, duit saya tetap segini-gini saja. Beras di rumah juga tidak pernah awet sampai akhir bulan. Tapi saya masih bisa tertawa. Bahkan membuat orang lain tertawa.’ Lagi-lagi Kang Turmus melawak gelap. Ingin sekali rasanya aku menimpali jenakanya itu dengan gelak tawa. Tapi aku tahu, bukan itu yang seharusnya kulakukan.

Jawaban yang seharusnya memotivasi, justru malah menjadi bahan perenungan mendalam tentang kenyataan pahit yang harus dihadapi hamba Tuhan yang rajin sembahyang di kuil. Aku mulai mempertanyakan letak keadilan Tuhan. Namun, kuurungkan. Karena bagaimana pun, makhluk hanya menilai dari apa yang dapat dijangkau oleh indranya. Sementara Tuhan tak terbatas dan hikmah-Nya meliputi segala hal bahkan pada hal-hal yang sering kali dianggap sebagai sebuah kesialan. Ironi sekali melihat nasib kuli yang kerap mengadu di kuil harus menjalani hidup keras dalam kemiskinan dan berakhir tewas mengenaskan. Sementara yang lain hidup dalam keluasan, melebihi batas kecukupan, bahkan sampai pada batas menyia-nyiakan harta kepemilikan karena sering menimbun benda yang bukan kebutuhannya. Akhirnya, rusak bukan karena digunakan. Tapi, justru karena tidak pernah dipakai.

Kematian Kang Turmus menyisakan duka mendalam padaku. Tidak terdengar lagi suara langkahnya menyeret sandal jepit yang kian menipis. Di sisi lain aku sedikit senang. Keluhan Kang Turmus sekarang sudah habis. Tidak ada lagi aduan beras habis, tagihan yang belum dilunaskan, tebusan obat yang dibutuhkan dan segerbong keluhan lainnya yang saban hari aku tadahi. Kehadiran kuli di kuil selama empat puluh tahun lamanya, benar-benar memberikanku pelajaran berharga. Tentang bagaimana seharusnya hidup sebagai hamba yang tidak pernah berhenti berusaha, tentang sembahyang yang tak pernah ditinggalkan, tentang rumah Tuhan yang menjadi tempat ratapan paling meneduhkan, tentang Tuhan yang aku yakin kebaikannya bukan hanya sebatas pada bentuk pemberian. Aku tidak tahu apa yang sedang Tuhan siapkan kepada Kang Turmus di kehidupan lain. Semoga hanya kebahagiaan. Sungguh, aku adalah saksi bahwa ia telah menghabiskan kesukarannya dalam kehidupan ini. Seharusnya pada kehidupan selanjutnya, yang tersisa hanyalah suka cita. Tuhan, hiburlah dukanya. Demi aku abdi-Mu, ubin kuil, tempat dimana ia menundukkan kepalanya.