Ketika Santri Menangis, Apa yang Perlu Dilakukan Bapak/Ibu Asuh?

Ada tangisan yang terdengar keras, tetapi ada pula yang jatuh diam-diam di balik selimut. Di asrama, keduanya sama-sama membawa pesan, ada sesuatu di dalam diri seorang santri yang sedang membutuhkan perhatian.

Karena itu, tangisan santri tidak semestinya buru-buru dipandang sebagai kelemahan. Tidak semua anak memiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Ada perasaan yang terlalu rumit untuk dirangkai menjadi kalimat. Ada rindu yang sulit diucapkan, kecewa yang belum dipahami, takut yang belum menemukan nama, atau lelah yang akhirnya hanya mampu diterjemahkan oleh air mata.

Seorang santri mungkin menangis karena teringat rumah. Bisa karena ditegur Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh, berselisih dengan teman, kesulitan mengikuti pelajaran, kehilangan barang, merasa gagal memenuhi tuntutan pesantren, atau sekadar menjalani malam dengan perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang memahami dirinya. Di sinilah sesungguhnya peran Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh menemukan maknanya.

Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh bukan sekadar penjaga ketertiban asrama. Ia adalah salah satu sosok dewasa yang hadir paling dekat dengan kehidupan santri. Ia melihat mereka ketika bersemangat, ketika lelah, ketika berhasil, bahkan ketika diam-diam sedang berjuang. Maka, ketika seorang santri menangis, yang diuji bukan sekadar kemampuan Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh untuk menghentikan tangisan, melainkan kedewasaan untuk membaca apa yang sedang disampaikan oleh air mata itu.

Jangan Membungkam Air Mata
Ada respons yang tampak sederhana, tetapi tanpa disadari justru membuat seorang santri semakin jauh dari orang yang seharusnya menjadi tempat berlindung.
“Sudah, jangan cengeng…”
“Laki-laki kok menangis?”
“Malu sama teman-teman…”
“Kalau tidak betah, pulang saja…”
“Masa masalah begitu saja sampai menangis?”

Mungkin setelah mendengar kalimat tersebut, tangisan berhenti. Tetapi berhentinya air mata tidak selalu berarti selesainya masalah. Bisa jadi, yang berhenti hanyalah keberanian untuk bercerita.

Santri kemudian belajar bahwa menangis adalah sesuatu yang memalukan, bahwa kesedihan harus disembunyikan, dan bahwa mengungkapkan perasaan akan membuat dirinya dianggap lemah. Akibatnya, ia bukan belajar mengelola emosi, melainkan belajar menutupinya. Dalam pendidikan, ini adalah persoalan penting. Anak tidak cukup hanya diajarkan bagaimana menaati aturan, mereka juga perlu dibimbing agar mampu mengenali, menerima, dan mengelola apa yang mereka rasakan.

Maka, tugas pertama Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh bukan membuat santri segera berhenti menangis. Tugas pertamanya adalah menciptakan rasa aman.

Hadir Sebelum Menasihati
Ketika emosi sedang memuncak, nasihat yang paling baik sekalipun belum tentu dapat diterima. Karena itu, berikan ruang terlebih dahulu agar hati menjadi lebih tenang. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan ceramah panjang. Kadang-kadang, yang dibutuhkan seorang santri hanyalah seseorang yang bersedia duduk di sampingnya dan berkata, “Tidak apa-apa, ceritakan pelan-pelan. Ustaz dengarkan.”

Pesan pentingnya bagi dunia pengasuhan sangat jelas, orang yang sedang terluka membutuhkan rasa aman sebelum siap menerima arahan. Dengarkan Ceritanya, bukan hanya tangisannya setelah santri mulai tenang, jangan buru-buru menyimpulkan penyebabnya. Tanyakan dengan lembut:
“Apa yang terjadi?”
“Apa yang paling membuat antum sedih?”
“Sejak kapan antum merasa seperti ini?”
“Apakah ada sesuatu yang ingin antum ceritakan?”

Lalu dengarkan.
Jangan sibuk menyiapkan jawaban ketika ia belum selesai berbicara. Jangan pula buru-buru membandingkan masalahnya dengan masalah santri lain. Bagi orang dewasa, persoalan itu mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi seorang anak yang sedang mengalaminya, persoalan tersebut bisa terasa sangat besar.

Sering kali, setelah seorang santri berhasil mengeluarkan seluruh isi hatinya, beban yang semula terasa berat menjadi sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya langsung selesai, melainkan karena ia tidak lagi merasa menanggungnya seorang diri. Dalam tradisi pendidikan Islam, mendengarkan bukan sekadar aktivitas komunikasi. Ia merupakan bentuk penghormatan terhadap manusia yang sedang berada di hadapan kita.

Jangan Berhenti pada Gejala
Tangisan hanyalah gejala. Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh perlu mencari apa yang berada di baliknya. Jangan setiap tangisan langsung diberi label homesick. Bisa saja seorang santri sedang menghadapi persoalan pertemanan, perundungan, konflik dengan teman sekamar, tekanan akademik, rasa tidak mampu mengikuti aturan, kehilangan kepercayaan diri, atau persoalan keluarga yang baru saja ia ketahui.

Bahkan ada kalanya seorang santri menangis bukan karena satu masalah besar, melainkan karena banyak persoalan kecil yang menumpuk tanpa pernah memiliki ruang untu diceritakan. Karena itu, Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh perlu memiliki kepekaan. Perubahan perilaku yang tampak sederhana-lebih banyak diam, menjauh dari teman, kehilangan semangat, mudah tersinggung, atau tiba-tiba tidak mengikuti kegiatan, bisa menjadi pintu masuk untuk memahami kondisi santri secara lebih utuh. Pengasuhan yang baik tidak hanya bertanya, “Mengapa ia menangis?” tetapi juga, “Apa yang sedang terjadi dalam kehidupannya?”

Setelah Tangisan Reda, Tumbuhkan Harapan
Ketika keadaan sudah lebih tenang, barulah nasihat memiliki tempat. Namun nasihat tidak harus selalu berbentuk petuah yang panjang. Satu kalimat yang tepat terkadang jauh lebih kuat: “Perasaan antum wajar. Banyak orang pernah berada di posisi seperti ini. Kita cari jalan keluarnya bersama.”

Kalimat sederhana semacam itu memberikan pesan besar, “kamu tidak sendirian”. Inilah salah satu kekuatan pengasuhan. Seorang santri mungkin belum mampu menyelesaikan persoalannya sendiri, tetapi ia dapat belajar bahwa setiap persoalan memiliki jalan keluar dan bahwa ada orang dewasa yang bersedia berjalan bersamanya.

Dalam Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam, Abdullah Nashih Ulwan menempatkan pendampingan dan perhatian terhadap anak sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Anak tidak cukup hanya diberi perintah dan larangan, ia membutuhkan perhatian yang melahirkan kedekatan, kepercayaan, dan keteladanan.

Dengan demikian, membangun harapan bukan berarti memberikan janji bahwa semuanya akan mudah. Justru kita sedang mengajarkan kepada santri bahwa kesulitan dapat dihadapi dengan sabar, ikhtiar, doa, dan dukungan orang-orang yang peduli.

Pendampingan Tidak Selesai Setelah Air Mata Kering
Salah satu kekeliruan dalam pengasuhan adalah menganggap persoalan selesai ketika santri sudah berhenti menangis. Padahal bisa jadi, ia hanya sudah tidak memiliki tenaga untuk menangis. Karena itu, setelah percakapan selesai, Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh perlu tetap memperhatikan beberapa hari berikutnya. Apakah ia kembali bergaul? Apakah makannya normal? Apakah ia kembali mengikuti kegiatan? Apakah semangat belajarnya pulih? Apakah ibadahnya tetap terjaga?

Pendampingan yang baik berlangsung setelah percakapan, bukan berhenti pada percakapan. Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh juga perlu memahami batas perannya. Tidak semua persoalan harus diselesaikan sendiri. Jika seorang santri menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan, menangis hampir setiap hari, terus-menerus menarik diri, kehilangan nafsu makan, mengalami gangguan tidur, menolak mengikuti aktivitas pesantren, berkali-kali meminta pulang, atau mengalami penurunan drastis dalam belajar dan ibadah, maka diperlukan perhatian yang lebih serius.

Dalam kondisi seperti itu, Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh perlu berkoordinasi dengan bagian disiplin, bagian pengasuhan, guru BK, pimpinan terkait, serta membangun komunikasi yang bijaksana dengan orang tua. Pengasuhan adalah kerja Bersama, kepedulian akan menjadi lebih kuat ketika tidak berjalan sendirian.

Barangkali, Tangisan Itu Adalah Awal dari Sebuah Perubahan
Ada malam-malam tertentu ketika seorang Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh mungkin merasa lelah. Ia ingin segera beristirahat, sementara seorang santri justru datang dengan mata sembab dan hati yang sedang penuh. Pada saat seperti itu, mudah sekali melihat tangisan sebagai gangguan terhadap rutinitas. Tetapi cobalah melihatnya dari sudut yang berbeda. Mungkin malam itu adalah kesempatan yang Allah berikan kepada seorang Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh untuk menyentuh hati seorang anak yang sedang kehilangan arah. Mungkin percakapan sederhana di sudut asrama itu kelak menjadi salah satu kenangan yang paling membekas dalam hidupnya.

Santri mungkin lupa berapa kali ia diberi hukuman. Ia mungkin tidak mengingat semua nasihat yang pernah disampaikan kepadanya. Tetapi besar kemungkinan ia akan mengingat seseorang yang pernah duduk di sampingnya ketika ia menangis dan tidak menertawakan air matanya. Seseorang yang berkata, “Tenang, kita hadapi bersama.”

Pada akhirnya, menjadi Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh bukan hanya tentang memastikan santri bangun tepat waktu, hadir dalam kegiatan, menjaga kebersihan, dan menaati aturan. Lebih dari itu, Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh sedang belajar menjadi manusia dewasa yang mampu hadir di tengah gejolak dunia anak-anak yang dipercayakan kepadanya.

Sebab dalam tarbiyah, air mata bukan selalu sesuatu yang harus dihentikan. Kadang ia adalah pintu yang harus kita masuki dengan kelembutan. Dan boleh jadi, ketika seorang Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh memilih untuk tidak menghakimi, tetapi mendengarkan, tidak mempermalukan, tetapi menenangkan, tidak meninggalkan, tetapi mendampingi, di situlah pendidikan yang sesungguhnya sedang berlangsung.

Barangkali seorang santri tidak akan mengingat seluruh kata-kata kita. Namun ia akan mengingat bagaimana perasaannya ketika berada di dekat kita. Maka, ketika santri menangis, jangan hanya bertanya, “Bagaimana membuatnya berhenti menangis?” Tanyakan pula dengan hati yang lebih dalam: “Apa yang sedang ingin disampaikan oleh air matanya, dan bagaimana aku bisa menjadi bagian dari jalan pulangnya menuju ketenangan?”

Sumber Bacaan

Al-Faruq, Abu Abdurrahman. 2020. Cara Nabi SAW Mendidik Anak Laki-Laki. Yogyakarta: Pro U-Media.
Al-Ghazali. 2011. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim Ba’adillah. Jakarta: Republika.
al-Nawawī, Abū Zakariyyā Yaḥyā bin Syaraf. 1431 H. Al-Arba’īn al-Nawawiyyah. Suriah: Dār al-Ghautsānī.
Az-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. 2009. Ta’lim al-Muta’allim. Diterjemahkan oleh Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Covey, Stephen R. 2013. 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif: 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Edisi Revisi. Tangerang Selatan: Penerbit Binarupa Aksara.
Huda, N., dan M. Hamim. 2018. Mondok sebagai Potret Cinta Tanah Air. Kediri: Santri Salaf Press.
Kasturi, Taufik, dan Faza Izzudin Nuha. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2024. Tujuh Karakter Pengasuh Pesantren. Solo: Penerbit DEA.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2025. Musyrif Teladan. Solo: Penerbit DEA.
Nawawi, Imam. 2018. Adabul ‘alim wal muta’allim. Diterjemahkan oleh Hijrian A. Prihantoro. Yogyakarta: Diva Press.
Rajasam, Wahab. 2023. Enam Bekal bagi Pendidik dan Pengasuh. Bekasi: Khazanah Fawaid.
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2020. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim. Sukoharjo: Insan Kamil.
Yoga, Miarti. 2018. Adversity Quotient: Agar Anak Tak Gampang Menyerah. Solo: Tiga Serangkai.
Zakaria, M. 2023. Kitab Pengasuhan: Pesantren Cahaya, Tanpa Marah, Tanpa Hukuman, Tanpa Bullying, Pesantrenku Surgaku. Belitung: Maktabah Fajrul Islam.