Terbakar Cemburu hingga Menjadi Abu



Ada banyak kisah menegangkan lainnya yang dialami Rasulullah ๏ทบ sebagai suami Aโ€™isyah. Seperti yang tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari. Di sana, Imam al-Bukhari membuat anak judul khusus membahas tentang kecemburuan perempuan yang terhimpun dalam bab induknya, bab nikah. Sebelum itu, penulis ingin sekali menggarisbawahi maklumat penting yang perlu diketahui oleh setiap pembaca, bahwa kualitas kebenaran hadits itu memiliki tingkatan. Dari semua klasifikasi keabsahan penisbatan suatu hadits, hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari adalah yang paling tinggi. Bahkan, ulama ahli hadits memberikan kesaksian bahwa kitab hadits milik Imam al-Bukhari adalah kitab yang paling otentik dan absolut setelah kitab suci al-Qurโ€™an. Seperti kesaksian Imam Tajuddin as-Subki dalam kitabnya, Thabaqat asy-Syafiโ€™iyyah al-Kubra, beliau berkata:

ูˆูŽุฃู…ุง ูƒูุชูŽุงุจู‡ ุงู„ู’ุฌูŽุงู…ูุน ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญ ูุฃุฌู„ ูƒุชุจ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู… ูˆุฃูุถู„ู‡ุง ุจุนุฏ ูƒุชุงุจ ุงู„ู„ู‡

Dan ada pun kitab Shahih al-Bukhari adalah kitab yang paling agung dan paling utama di antara kitab-kitab Islam lainnya setelah kitab Allah (al-Qurโ€™an).

Abu Amr Ibnu ash-Shalah, dalam kitabnya Maโ€™rifat anwaโ€™ Ulum al-Hadits, berkata:

ูˆูŽูƒูุชูŽุงุจูŽุงู‡ูู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุญูู‘ ุงู„ู’ูƒูุชูุจู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ูƒูุชูŽุงุจู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒู… ุซูู…ูŽู‘ ุฅูู†ูŽู‘ ูƒูุชูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ุจูุฎูŽุงุฑููŠูู‘ ุฃูŽุตูŽุญูู‘ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽูŠู’ู†ู ุตูŽุญููŠุญู‹ุงุŒ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ูŽุง ููŽูˆูŽุงุฆูุฏูŽ

Kitab hadits milik Imam al-Bukhari dan Imam Muslim adalah kitab yang paling sahih setelah kitab Allah swt (al-Qurโ€™an). Kemudian, di antara kedua kitab itu (Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim), kitab Shahih al-Bukhari adalah kitab yang lebih sahih dan lebih banyak faidahnya.

Imam an-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim-nya, juga menambahkan keterangan serupa. Beliau berkata:

ุงุชูู‚ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ุฃู† ุฃุตุญ ุงู„ูƒุชุจ ุจุนุฏ ุงู„ูƒุชุงุจ ุงู„ุนุฒูŠุฒ ุงู„ุตุญูŠุญุงู† ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู… ูˆุชู„ู‚ุชู‡ู…ุง ุงู„ุฃู…ุฉ ุจุงู„ู‚ุจูˆู„ ูˆูƒุชุงุจ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ
ุฃุตุญู‡ู…ุง ูˆุฃูƒุซุฑู‡ู…ุง ููˆุงุฆุฏ

Para ulama sepakat -semoga Allah merahmati mereka- bahwa kitab yang paling sahih setelah al-Qurโ€™an adalah dua kitab sahih: Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim. Seluruh umat muslim menerima keduanya (sebagai salah satu kitab hadits rujukan). Kitab Shahih al-Bukhari adalah kitab yang paling sahih dan lebih banyak faidahnya.

Kesemuanya itu adalah agar kita mengerti bahwa kisah-kisah Aโ€™isyah yang ada pada tulisan ini dimuat dalam referensi yang kuat. Bukan lagi sekadar cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut. Akan tetapi menjadi jejak hidup yang sarat akan hikmah dan teladan di dalamnya. Karenanya, apa yang dikisahkan di dalamnya wajib diyakini sebagaimana adanya. Sehingga, turunan hukum dan nilai-nilai luhur yang lahir darinya, dapat berdiri dengan kuat dan dijadikan sandaran bagi siapa saja yang mencari kebenaran.

Lalu, kisah seperti apa yang hendak al-Bukhari suguhkan kepada kita di dalam anak bab yang ia beri tajuk โ€˜Kecemburuanโ€™? Mari kita simak haditsnya.

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ๏ทบ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุจูŽุนู’ุถู ู†ูุณูŽุงุฆูู‡ูุŒ ููŽุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ูŽุชู’ ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ุฃูู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุชู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุจูุตูŽุญู’ููŽุฉู ูููŠู‡ูŽุง ุทูŽุนูŽุงู…ูŒ ููŽุถูŽุฑูŽุจูŽุชู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ๏ทบ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุง ูŠูŽุฏูŽ
ุงู„ู’ุฎูŽุงุฏูู…ูุŒ ููŽุณูŽู‚ูŽุทูŽุชู ุงู„ุตูŽู‘ุญู’ููŽุฉูุŒ ููŽุงู†ู’ููŽู„ูŽู‚ูŽุชู’ุŒ ููŽุฌูŽู…ูŽุนูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ๏ทบ ููู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุญู’ููŽุฉูุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูŠูŽุฌู’ู…ูŽุนู ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ุทูŽู‘ุนูŽุงู…ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงู„ุตูŽู‘ุญู’ููŽุฉูุŒ ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ู: ุบูŽุงุฑูŽุชู’ ุฃูู…ูู‘ูƒูู…ู’ุŒ ุซูู…ูŽู‘
ุญูŽุจูŽุณูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุงุฏูู…ูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฃูุชููŠูŽ ุจูุตูŽุญู’ููŽุฉู ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู‡ููˆูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุงุŒ ููŽุฏูŽููŽุนูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุญู’ููŽุฉูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญูŽุฉูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ูƒูุณูุฑูŽุชู’ ุตูŽุญู’ููŽุชูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู’ุณูŽูƒูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุณููˆุฑูŽุฉูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชู
ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ูƒูุณูุฑูŽุชู’

Dari sahabat Anas bin Malik ra., beliau bercerita bahwa suatu hari, Rasulullah ๏ทบ berada di salah satu rumah istrinya (Aโ€™isyah). Tak lama kemudian, salah seorang dari istrinya yang lain, mengirim utusan ke rumah Aโ€™isyah untuk mengantarkan sepiring makanan untuk Rasulullah ๏ทบ. Mengetahui hal itu, Aโ€™isyah menepak tangan pembantu yang diutus untuk mengirim makanan itu, lantas membuat piring terjatuh dan pecah. Kemudian Rasulullah ๏ทบ memungut pecahan piringnya dan mengumpulkan makanan yang terserak. Lalu, beliau bersabda kepada sahabat yang pada saat itu sedang bertamu: โ€œIbu kalian sedang cemburu.โ€ Rasulullah ๏ทบ menahan pembantu itu di rumah Aโ€™isyah dan mengganti piring yang pecah dengan piring lainnya serta menyimpan pecahan piring itu di rumah Aโ€™isyah.

Barang kali peristiwa ini lebih dahsyat dari pada sekadar enggan berterima kasih kepada Rasulullah ๏ทบ seperti pada kisah sebelumnya. Bagaimana tidak, Rasulullah ๏ทบ sedang menerima tamu yang seharusnya dihormati dengan suguhan makanan dan tata krama, justru malah harus menyaksikan keadaan yang sangat menegangkan. Bisakah kita membayangkan, bagaimana jika kita berada di posisi Rasulullah ๏ทบ. Dipermalukan di hadapan teman-teman, membuat gaduh dan keributan saat harus menerima tamu dengan sopan. Peristiwa ini benar-benar membuat kita sebagai suami kebingungan: apakah marah pada saat seperti itu tidak diperbolehkan atau memang Rasulullah ๏ทบ saja yang terlampau sabar menghadapi kecemburuan istrinya, Aโ€™isyah? Mengingat pada saat itu, Rasulullah ๏ทบ sedikit pun tidak menampakkan kemarahan atau pun kekecewaan. Beliau hanya mengucapkan tiga kata yang menggambarkan sikap pemaklumannya terhadap apa yang telah dilakukan istrinya:

ุบูŽุงุฑูŽุชู’ ุฃูู…ูู‘ูƒูู…ู’

โ€œIbu kalian sedang cemburu.โ€

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam kitab Fathu al-Bari menjelaskan makna terkandung dalam hadits di atas.

ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุญูุณู’ู†ู ุฎูู„ูู‚ูู‡ู ๏ทบ ูˆูŽุฅูู†ู’ุตูŽุงููู‡ู ูˆูŽุญูู„ู’ู…ูู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุงู„ู’ุนูŽุฑูŽุจููŠูู‘: ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุคูŽุฏูู‘ุจู ุงู„ู’ูƒูŽุงุณูุฑูŽุฉูŽ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุจูุงู„ู’ูƒูŽู„ูŽุงู…ู ู„ูู…ูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุนูŽุฏูู‘ูŠ ู„ูู…ูŽุง ููŽู‡ูู…ูŽ ู…ูู†ู’
ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุฃูŽู‡ู’ุฏูŽุชู’ ุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽุชู’ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุฐูŽู‰ ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ู‡ููˆูŽ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชูู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุธูŽุงู‡ูŽุฑูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุงุŒ ููŽุงู‚ู’ุชูŽุตูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุชูŽุบู’ุฑููŠู…ูู‡ูŽุง ู„ูู„ู’ู‚ูŽุตู’ุนูŽุฉู

Dalam hadits di atas, terdapat makna yang menunjukkan tentang terpujinya akhlak Rasulullah ๏ทบ yang tetap bijak dan sabar. Ibnu al-Arabi berkata: โ€œSeakan Rasulullah ๏ทบ tidak menegur Aโ€™isyah yang memecahkan piring walau hanya dengan sepatah kata atas kejadian yang telah melampaui batas, atau tentang apa yang beliau pahami bahwa istri lain yang memberikannya hadiah berupa makanan memiliki niat lain yang membuat Aโ€™isyah merasa terganggu dan ingin terlihat lebih unggul darinya. Rasulullah ๏ทบ hanya mempersingkat penyelasaian perkara tersebut dengan mengganti piringnya.

Para pembaca yang budiman. Tulisan ini, nampaknya tidak dapat dibuat lebih ringkas. Nyatanya, memang besar dan lebar sekali para ulama ahli hadits membedah dan menguliti hadits tentang kewanitaan Aโ€™isyah. Hadits serupa, juga diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam bab terpisah yang diberi judul โ€˜Piring Pecahโ€™. Penulis tidak habis pikir bahwa seorang Imam al-Bukhari akan menyediakan satu lembar khusus yang membahas perkara remeh sekali seperti piring pecah. Mengingat beliau adalah seorang ulama yang kredibilitasnya tidak diragukan lagi. Apakah beliau kehabisan bahan untuk menebalkan buku haditsnya hingga harus repot-repot memasukkan tema semacam ini? Tentu tidak. Beliau justru memandang setiap hadits memiliki kedudukan khusus dalam pensyariatan. Simaklah bagaimana bunyi haditsnya.

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ๏ทบ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุจูŽุนู’ุถู ู†ูุณูŽุงุฆูู‡ูุŒ ููŽุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ูŽุชู’ ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ุฃูู…ูŽู‘ู‡ูŽุงุชู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุฎูŽุงุฏูู…ู ุจูู‚ูŽุตู’ุนูŽุฉู ูููŠู‡ูŽุง ุทูŽุนูŽุงู…ูŒุŒ ููŽุถูŽุฑูŽุจูŽุชู’ ุจููŠูŽุฏูู‡ูŽุง ููŽูƒูŽุณูŽุฑูŽุชู ุงู„ู’ู‚ูŽุตู’ุนูŽุฉูŽุŒ ููŽุถูŽู…ูŽู‘ู‡ูŽุง
ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูููŠู‡ูŽุง ุงู„ุทูŽู‘ุนูŽุงู…ูŽุŒ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ูƒูู„ููˆุงุŒ ูˆูŽุญูŽุจูŽุณูŽ ุงู„ุฑูŽู‘ุณููˆู„ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู‚ูŽุตู’ุนูŽุฉูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ููŽุฑูŽุบููˆุงุŒ ููŽุฏูŽููŽุนูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽุตู’ุนูŽุฉูŽ ุงู„ุตูŽู‘ุญููŠุญูŽุฉูŽ ูˆูŽุญูŽุจูŽุณูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุณููˆุฑูŽุฉูŽ

Suatu hari, Rasulullah ๏ทบ sedang berada di salah satu rumah istrinya (Aโ€™isyah). Kemudian, salah seorang istrinya yang lain mengutus pembantu untuk memberikan makanan kepada Rasulullah ๏ทบ. Mengetahui hal itu, Aโ€™isyah menepak tangan utusan itu dan membuat piring pecah. Kemudian Rasulullah ๏ทบ mengumpulkan pecahan piringnya dan meletakkan kembali makanan yang berserakan di dalamnya. Lalu, beliau bersabda kepada sahabat yang pada saat itu menyaksikan: โ€œMakanlah!โ€. Beliau menahan pembantu itu hingga para tamu menyelesaikan makannya dan menggantinya piring yang utuh serta menyimpan pecahannya.โ€

Imam al-Bukhari yang meriwayatkan kedua hadits di atas dalam kitab shahih-nya sebenarnya sudah sangat cukup menjadikan kisah ini memiliki perhatian khusus dalam syariat Islam. Namun, nyatanya al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani datang membawa riwayat hadits serupa yang lebih banyak dan membahasnya panjang lebar dalam kitabnya, Fathu al-Bari. Beliau mengatakan bahwa dua hadits di atas nampak menceritakan satu kejadian yang sama dengan redaksi yang berbeda. Padahal, beliau melihat bahwa banyaknya riwayat hadits senada menunjukkan adanya perbedaan waktu yang artinya terjadi bukan hanya sekali. Luar biasa. Berat sekali.

Jika kita perhatikan dengan seksama kedua lafaz hadits di atas, maka kita tidak akan menemukan nama Aโ€™isyah disebut secara literal dalam riwayat al-Bukhari. Di sana hanya disebutkan bahwa Rasulullah ๏ทบ sedang berada di rumah salah satu istrinya. Lalu, bagaimana kita mengetahui bahwa istri yang dimaksud itu adalah Aโ€™isyah? Di sanalah peran Ibnu Hajar, mengumpulkan riwayat yang ada untuk menarik benang merahnya. Hingga akhirnya kita dapat mengetahui rumah siapa yang sedang dihuni Rasulullah ๏ทบ untuk menerima tamunya, dan siapakah istri lainnya yang mengutus pembantu menghadiahkan makanan untuk beliau. Ibnu Hajar mengatakan bahwa yang mengirim makanan adalah Zainab binti Jahsyi ra.

Dalam riwayat an-Nasaโ€™i dikatakan bahwa di waktu yang lain, Ummu Salamah ra. juga pernah mengalami hal serupa yang dialami Zainab binti Jahsyi.

ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ุฃูŽุชูŽุชู’ ุจูุทูŽุนูŽุงู…ู ูููŠ ุตูŽุญู’ููŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ๏ทบ ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ูุŒ ููŽุฌูŽุงุกูŽุชู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉู ู…ูุชูŽู‘ุฒูุฑูŽุฉู‹ ุจููƒูุณูŽุงุกู ูˆูŽู…ูŽุนูŽู‡ูŽุง ููู‡ู’ุฑูŒุŒ ููŽููŽู„ูŽู‚ูŽุชู’ ุจูู‡ู ุงู„ุตูŽู‘ุญู’ููŽุฉูŽ

Bahwa suatu hari, Ummu Salamah datang menemui Rasulullah ๏ทบ yang sedang bersama para sahabatnya dengan membawa sepiring makanan. Lalu kemudian, datanglah Aโ€™isyah yang sedang mengenakan sarung dari kain dan ia menggenggam sebuah batu. Sontak saja, Aโ€™isyah memecahkan piring itu dengan batu.

Hadits ini dilengkapi oleh riwayat lain dari ath-Thabrani dalam Muโ€™jam al-Awsath dan ad-Daruquthni. Bahwa saat itu, Rasulullah ๏ทบ dan beberapa sahabat yang sedang bersamanya berada di rumah Aโ€™isyah. Tatkala mereka sedang menunggu Aโ€™isyah membuatkan makanan cepat saji untuk disuguhi, ternyata ia didahului oleh Ummu Salamah yang mengantarkan makanan berupa roti gandum dan daging untuk jamuan. Akhirnya, mereka pun menyantapnya. Setelah habis melahapnya, Aโ€™isyah tiba membawa masakannya. Ia murka dan mengangkat piring Ummu Salamah, lalu membantingnya hingga pecah.

Sementara Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits yang sama, kali ini dialami oleh istri Rasulullah ๏ทบ yang lain, Hafshah binti Umar. Kisahnya, diceritakan langsung oleh Aโ€™isyah.

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ๏ทบ ู…ูŽุนูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ูุŒ ููŽุตูŽู†ูŽุนู’ุชู ู„ูŽู‡ู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุงุŒ ูˆูŽุตูŽู†ูŽุนูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู ุญูŽูู’ุตูŽุฉู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ููŽุณูŽุจูŽู‚ูŽุชู’ู†ููŠุŒ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ูู„ู’ุฌูŽุงุฑููŠูŽุฉู: ุงู†ู’ุทูŽู„ูู‚ููŠ ููŽุฃูŽูƒู’ููุฆููŠ ู‚ูŽุตู’ุนูŽุชูŽู‡ูŽุง. ููŽุฃูŽูƒู’ููŽุฃูŽุชู’ู‡ูŽุง
ููŽุงู†ู’ูƒูŽุณูŽุฑูŽุชู’ ูˆูŽุงู†ู’ุชูŽุดูŽุฑูŽ ุงู„ุทูŽู‘ุนูŽุงู…ูุŒ ููŽุฌูŽู…ูŽุนูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูู‘ุทูŽุนู ููŽุฃูŽูƒูŽู„ููˆุงุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุจูŽุนูŽุซูŽ ุจูู‚ูŽุตู’ุนูŽุชููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุญูŽูู’ุตูŽุฉูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฎูุฐููˆุง ุธูŽุฑู’ูู‹ุง ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุธูŽุฑู’ูููƒูู…ู’

Suatu hari, Rasulullah ๏ทบ sedang bersama para sahabatnya. Lantas, aku membuatkannya makanan. Ternyata, Hafshah telah lebih dulu membuatkannya makanan dan mengutus budaknya untuk memberikan itu kepada Rasulullah ๏ทบ. Ketika aku mendapatkan budaknya, aku berkata kepadanya: โ€œPergilah dan tumpahkanlah piring Hafshah!โ€ Maka budak itu pun tidak punya pilihan selain menuruti perintah Aโ€™isyah untuk menumpahkan piring itu hingga pecah dan makanannya berserakan. Kemudian Rasulullah ๏ทบ mengumpulkan makanan berhamburan itu ke wadah yang terbuat dari kulit hingga para sahabat tetap dapat memakannya. Setelah itu, Rasulullah ๏ทบ mengganti piring Hafshah dengan piringku, seraya berkata: โ€œAmbillah wadah ini sebagai ganti wadah kalian.โ€

Sekali lagi, penulis mengajak pembaca sekalian untuk merenungi kondisi yang memalukan ini. Mari sama-sama menjadikannya sebagai refleksi ke dalam: pernahkah kita berada pada keadaan yang serupa? Perbuatan istri seperti apa yang terakhir kali membuat kita marah? Apakah sampai mempermalukan kita di hadapan orang lain? Lalu, jika benar kita pernah ada pada situasi seperti itu, bagaimana sikap kita terhadap istri? Masih mampukah kita untuk tidak menghardiknya? Seberapa bengkok perempuan yang saat ini menjadi ibu dari anak-anak kita? Sebesar apa juga ambisi kita untuk meluruskannya? Apakah Aโ€™isyah terlalu bengkok? Apakah sikap Rasulullah ๏ทบ yang hanya diam adalah tanda ketidakmampuannya meluruskan Aโ€™isyah?

Sungguh, kejadian piring pecah yang tidak sekali, semuanya didasarkan oleh kecemburuan Aโ€™isyah terhadap istri Rasulullah ๏ทบ yang lainnya. Kecemburuan itulah bagian yang paling menonjol dari seorang wanita. Padahal, jika dipikir-pikir, Rasulullah ๏ทบ hanya menerima makanan yang akan disantap bersama para sahabatnya. Barang kali, ia juga akan menyisihkannya untuk Aโ€™isyah jika berkenan. Rasulullah ๏ทบ tidak bercumbu, tidak dengan kata-kata atau pun hanya sekadar isyarat. Beliau hanya menerima hadiah dari istri sahnya. Bagaimana istri-istri kita di rumah? Adakah cemburunya sampai pada level Aโ€™isyah? Jika demikian, bersabarlah seperti Rasulullah ๏ทบ.

Dalam hal ini, nampaknya penting bagi kita para suami untuk mendengar nasihat al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani di tengah penjelasannya mengenai hadits tentang kecemburuan Aโ€™isyah, dan dengan kalam hikmah beliau, tulisan ini diakhiri. Simaklah bagaimana beliau mengungkap rahasia wanita melalui penjelasannya tentang makna dari ucapan Rasulullah ๏ทบ kepada para sahabatnya ketika Aโ€™isyah memecahkan piring di hadapan mereka.

ูˆูŽูƒูŽุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูŽู„ูŽุงู…ู ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู: ู„ูŽุง ุชูŽุชูŽุนูŽุฌูŽู‘ุจููˆุง ู…ูู…ูŽู‘ุง ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุฑูŽุฉู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุบูŽุงุฑูŽุชู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูู…ูู‘ูƒูู…ู’ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ู ูˆูŽู„ูŽุฏูŽู‡ู ุฅูุณู’ู…ูŽุงุนููŠู„ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุทููู’ู„ูŒ ู…ูŽุนูŽ
ุฃูู…ูู‘ู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ูˆูŽุงุฏู ุบูŽูŠู’ุฑู ุฐููŠ ุฒูŽุฑู’ุนู

Seakan makna ucapan Rasulullah ๏ทบ kepada para sahabatnya yang memberitahukan mereka tentang cemburunya Aโ€™isyah adalah bentuk pemakluman agar mereka tidak terkejut karena kejadian tersebut yang disebabkan oleh kecemburuan. Sungguh dahulu, Sarah telah memaksa Ibrahim untuk menempatkan anaknya yang masih kecil, Ismail bersama ibunya di tengah lembah gersang.

ูˆูŽู‚ูŽุงู„ููˆุง: ูููŠู‡ู ุฅูุดูŽุงุฑูŽุฉูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูŽุฏูŽู…ู ู…ูุคูŽุงุฎูŽุฐูŽุฉู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุฑูŽุงุกูŽ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽุตู’ุฏูุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ูŽุง ูููŠ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงู„ูŽุฉู ูŠูŽูƒููˆู†ู ุนูŽู‚ู’ู„ูู‡ูŽุง ู…ูŽุญู’ุฌููˆุจู‹ุง ุจูุดูุฏูŽู‘ุฉู ุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ุฃูŽุซูŽุงุฑูŽุชู’ู‡ู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุฑูŽุฉู

Para ulama berkata bahwa di dalam hadits tersebut terdapat sebuah isyarat untuk tidak menghakimi perempuan yang sedang cemburu atas apa yang ia lakukan. Karena sesungguhnya dalam keadaan seperti itu, akalnya terhalang oleh gejolak amarah yang lahir dari kecemburuan.

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽ ุฃูŽุจููˆ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู‰ ุจูุณูŽู†ูŽุฏู ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูŽ ู…ูŽุฑู’ูููˆุนู‹ุง: ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุฑูŽุงุกูŽ ู„ูŽุง ุชูุจู’ุตูุฑู ุฃูŽุณู’ููŽู„ูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุงุฏููŠ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽุงู‡ู

Abu Yaโ€™la telah meriwayatkan sebuah hadits dari Aโ€™isyah ra., beliau berkata: โ€œSesungguhnya orang yang sedang cemburu tidak dapat melihat dasar lembah dari atasnya.โ€ (menggambarkan kurangnya kesadaran)

Sebagai penutup, izinkan penulis menyampaikan sedikit pesan kepada kaum hawa yang diciptakan dengan kecemburuan. Sekali-kali, tulisan semacam ini bukan untuk dijadikan pembenaran terhadap kebengkokan yang dengannya kalian diciptakan. Bukan pula bentuk sikap diskriminasi kepada makhluk yang darinya kami dilahirkan. Justru, ini adalah upaya yang dirasa mesti dilakukan demi memetik teladan dan berjalan di atasnya supaya hal yang semula dianggap masalah, perlahan dapat dimengerti dan disikapi dengan lapang dada. Hal itu adalah kecemburuan perempuan yang lebih sering buta tanpa arah. Terlebih di zaman fitnah ini, masa pengkhianatan di antara pasangan sudah menjadi gaya hidup. Akibatnya, istri-istri semakin kehilangan kepercayaan kepada suami. Sementara hubungan yang sehat mensyaratkan adanya kepercayaan dari dua arah. Cobalah baca hadits di bawah ini setiap kali kecemburuan tiba-tiba datang menggerogoti pikiran kalian. Semoga kecemburuan hanya sebatas menjadi tanda cinta, tidak sampai menjelma menjadi tuduhan tak bermakna.

ูˆูŽุนูŽู† ุงุจู’ู†ู ู…ูŽุณู’ุนููˆุฏู ุฑูŽููŽุนูŽู‡ู: ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูƒูŽุชูŽุจูŽ ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูู‘ุณูŽุงุกูุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ุตูŽุจูŽุฑูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู†ูŽู‘ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุฌู’ุฑู ุดูŽู‡ููŠุฏู ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ู ุงู„ู’ุจูŽุฒูŽู‘ุงุฑู ูˆูŽุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุตูุญูŽู‘ุชูู‡ู ูˆูŽุฑูุฌูŽุงู„ูู‡ู
ุซูู‚ูŽุงุชูŒ

Dari Ibnu Masโ€™ud ra., sesungguhnya Allah swt menetapkan kecemburuan pada setiap perempuan. Barang siapa di antara perempuan itu yang bersabar menghadapi kecemburuannya, niscaya ia akan mendapatkan pahala orang yang mati syahid. Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Beliau mensahihkan hadits ini dan para perawinya kredibel.