Ketika Pelanggaran Adalah Bahasa yang Belum Kita Pahami


Di balik kehidupan asrama yang tampak tertib, selalu ada cerita yang tidak langsung terlihat. Ada santri yang mudah diatur, ada yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi, dan ada pula yang perilakunya perlahan berubah tanpa kita segera memahami sebabnya.

Seorang santri yang berulang kali melanggar aturan belum tentu sedang memilih untuk menjadi “santri bermasalah”. Bisa jadi ia sedang mencari perhatian. Bisa jadi ada tekanan yang tidak sanggup ia ungkapkan. Bahkan, perilaku mengganggu teman kadang menjadi satu-satunya cara yang ia kenal untuk mengatakan, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Di sinilah pengasuhan membutuhkan lebih dari sekadar ketegasan. Pengasuhan membutuhkan kepekaan untuk membaca pesan yang tersembunyi di balik perilaku. Hukuman mungkin menghentikan sebuah pelanggaran. Namun, jika akar persoalannya tidak disentuh, masalah hanya berpindah tempat dan menunggu waktu untuk muncul kembali.

Dalam kehidupan pesantren, seorang musyrif/musyrifah/bapak asuh/ibu asuh tidak cukup hanya menjadi penjaga aturan. Ia juga perlu menjadi pembaca perubahan, perubahan kebiasaan, ekspresi, semangat, pergaulan, bahkan perubahan kecil yang mungkin bagi orang lain terlihat sepele.

Lantas, kapan seorang santri perlu mendapatkan perhatian dan pendampingan yang lebih intensif?

Ketika santri yang biasanya tertib tiba-tiba berubah
Perubahan perilaku adalah salah satu sinyal yang penting untuk diperhatikan. Santri yang sebelumnya rajin ke masjid mulai sering terlambat. Yang biasanya bertanggung jawab terhadap piket mulai menghindar. Ia semakin sering membantah, membuat keributan, atau sengaja menguji batas aturan. Pada titik ini, pertanyaan seorang Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh jangan berhenti pada, “Mengapa kamu melanggar?”. Pertanyaan yang lebih dalam adalah: “Apa yang sedang terjadi dalam hidupmu hingga perilakumu berubah?”

Sebab, perubahan perilaku sering kali merupakan permukaan dari persoalan yang lebih dalam, konflik dengan teman sekamar, tekanan akademik, persoalan keluarga, kesulitan beradaptasi, atau pergulatan pribadi yang belum mampu ia ceritakan. Membaca perubahan berarti memberi kesempatan kepada santri untuk dipahami sebelum ia buru-buru diberi label/laqob.

Ketika keinginan pulang tidak lagi sekadar rindu rumah
Rindu rumah adalah bagian dari proses menjadi dewasa. Terutama bagi santri baru, keinginan untuk pulang merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun, perhatian perlu ditingkatkan ketika kerinduan itu berubah menjadi penolakan terhadap kehidupan pesantren. Ia menangis hampir setiap pekan, enggan mengikuti kegiatan, kehilangan selera makan, atau bahkan mengajak teman-temannya untuk ikut meninggalkan pondok.

Dalam kondisi seperti ini, yang perlu dicari bukan sekadar cara agar ia berhenti mengatakan, “Saya ingin pulang.” Yang lebih penting adalah menemukan jawaban atas pertanyaan: “Apa yang membuatmu merasa tidak sanggup bertahan di sini?”

Sebab, keinginan pulang kadang bukan tentang jarak rumah dan pesantren. Ia bisa menjadi ungkapan dari rasa takut, kesepian, tidak diterima, atau merasa tidak memiliki tempat untuk bersandar.

Ketika ia mulai kehilangan tempat di antara teman-temannya
Ada santri yang selalu menjadi bahan candaan. Ada yang jarang diajak bermain. Ada yang terbiasa makan sendirian. Ada pula yang mengalami perundungan dalam bentuk yang sangat halus sehingga dianggap sekadar gurauan. Yang lebih menyedihkan, sebagian korban memilih diam karena takut dianggap lemah.

Karena itu, Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh tidak boleh hanya menunggu seorang santri datang mengadu. Dinamika pertemanan harus dibaca, bukan sekadar dilaporkan. Siapa yang mulai menjauh? Siapa yang selalu sendirian? Siapa yang tiba-tiba tidak lagi menjadi bagian dari kelompoknya? Kadang, sebuah meja makan yang selalu ditempati sendirian dapat menceritakan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sebuah laporan pelanggaran.

Ketika keluhan fisik datang berulang kali
“Ustadz, kepala saya pusing.”
“Perut saya sakit.”
“Saya mual.”
Keluhan semacam ini tentu harus diperhatikan secara medis. Namun, ketika pemeriksaan tidak menunjukkan persoalan kesehatan yang jelas sementara keluhan terus berulang, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa santri sedang berpura-pura. Tekanan emosional dapat hadir melalui tubuh. Terlebih pada santri baru, kecemasan, kesepian, dan kesulitan beradaptasi kadang tidak mampu diungkapkan melalui kata-kata. Tubuh akhirnya berbicara melalui rasa sakit. Karena itu, ketika obat tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan, mungkin yang dibutuhkan bukan hanya pemeriksaan kesehatan, tetapi juga percakapan yang membuatnya merasa aman untuk bercerita.

Ketika pertengkaran menjadi pola
Perselisihan di asrama hampir selalu berawal dari hal-hal sederhana, tempat tidur, barang yang dipinjam tanpa izin, candaan yang dianggap berlebihan, atau perasaan tidak dihargai. Namun, ketika seorang santri terus-menerus terlibat konflik dengan banyak orang, masalahnya mungkin tidak lagi terletak pada orang-orang di sekitarnya.

Bisa jadi ia belum mampu mengenali emosinya sendiri. Bisa jadi ia mudah tersinggung karena menyimpan tekanan. Atau mungkin ia belum memiliki keterampilan menyelesaikan konflik secara sehat. Maka, tugas pengasuhan bukan hanya memisahkan dua santri yang bertengkar, tetapi juga membantu mereka belajar mengelola emosi, berkomunikasi, meminta maaf, memaafkan, dan menyelesaikan masalah tanpa saling melukai.

Ketika prestasi dan semangatnya merosot
Santri yang sebelumnya aktif tiba-tiba kehilangan gairah belajar. Konsentrasinya menurun. Ia sering melamun, nilai akademiknya merosot, dan kegiatan yang dahulu disukai tidak lagi menarik baginya. Respons paling mudah adalah mengatakan, “Kamu malas.”
Padahal, tidak semua kemunduran adalah kemalasan. Kadang seseorang berhenti berusaha bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena terlalu lama memikul beban tanpa tahu kepada siapa harus bercerita. Karena itu, sebelum menuntut prestasi kembali seperti semula, mungkin kita perlu memastikan terlebih dahulu bahwa hati dan pikirannya sedang cukup tenang untuk belajar.

Ketika santri yang biasanya ceria menjadi terlalu pendiam
Ada perubahan yang sering luput dari perhatian justru karena tidak menimbulkan masalah. Santri yang biasanya banyak bicara tiba-tiba lebih sering diam. Ia tidak lagi ikut bercanda, memilih menyendiri, dan menjawab pertanyaan seperlunya. Karena tidak membuat keributan, ia mungkin dianggap sebagai santri yang baik-baik saja. Padahal, diam tidak selalu berarti tenang. Ada diam yang lahir dari kedewasaan, tetapi ada pula diam yang muncul karena seseorang tidak tahu kepada siapa ia harus mempercayakan ceritanya.

Di sinilah kehadiran Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh menjadi penting. Bukan untuk memaksa santri berbicara, melainkan menyediakan ruang yang membuatnya tahu bahwa ketika suatu saat ia ingin bercerita, ada seseorang yang bersedia mendengarkan.

Melihat Lebih Jauh dari Sekadar Pelanggaran
Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh berada pada posisi yang sangat strategis. Ia menyaksikan kehidupan santri bukan hanya ketika mereka berada di kelas, tetapi juga saat bangun tidur, menuju masjid, makan, belajar, beristirahat, bercanda, dan berinteraksi dengan teman. Artinya, Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh memiliki kesempatan untuk mengenali perubahan kecil sebelum berubah menjadi persoalan besar.
Setidaknya ada tiga kebiasaan yang perlu dibangun:
Pertama, amati perubahan. Jangan hanya mencatat siapa yang melanggar aturan. Perhatikan juga perubahan emosi, kebiasaan, prestasi, kesehatan, dan hubungan sosial.

Kedua, hadirkan percakapan yang aman. Tidak semua masalah membutuhkan nasihat panjang. Terkadang seorang santri hanya membutuhkan orang dewasa yang mau duduk bersamanya tanpa menghakimi. Percakapan sederhana setelah salat, ketika piket bersama, atau menjelang tidur bisa menjadi pintu menuju cerita yang selama ini terkunci.

Ketiga, jangan bekerja sendirian. Ketika persoalan mulai memengaruhi ibadah, pembelajaran, kesehatan, maupun relasi sosial, Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh perlu berkoordinasi sesuai mekanisme pesantren dengan bagian disiplin, pengasuhan, coaching and counseling, guru BK, wali kelas, maupun wali santri.

Pendampingan bukan berarti Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh harus menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri. Justru kedewasaan dalam pengasuhan terlihat ketika kita tahu kapan harus bertindak sendiri dan kapan harus meminta dukungan pihak lain.

Karena Setiap Perilaku Membawa Pesan
Banyak persoalan besar di asrama sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya mungkin telah ada tanda-tanda kecil yang berulang, tetapi tidak cukup diperhatikan. Santri yang akhirnya meninggalkan pesantren mungkin sebelumnya sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak betah. Santri yang kemudian menjadi pelaku perundungan bisa jadi pernah mengalami luka yang sama. Santri yang terus melanggar aturan mungkin sebenarnya sedang mengetuk pintu perhatian, hanya saja ia belum menemukan cara yang tepat untuk mengetuknya.

Karena itu, pengasuhan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Apa kesalahannya?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang sedang ia rasakan?” Dan lebih jauh lagi, “Apa yang bisa kita lakukan agar ia tidak menghadapi semuanya sendirian?” Inilah wajah pengasuhan yang sesungguhnya: tegas terhadap aturan, tetapi lembut terhadap manusia yang sedang belajar bertumbuh.

Seorang Musyrif/Musyrifah/Bapak asuh/Ibu asuh bukan hanya orang yang memastikan santri bangun tepat waktu, hadir di masjid, mengikuti kegiatan, dan menaati tata tertib. Ia adalah salah satu orang dewasa yang mungkin menjadi saksi pertama dari perubahan kecil dalam hidup seorang anak.

Maka, jangan hanya menjadi orang yang melihat ketika santri jatuh dalam pelanggaran. Jadilah orang yang cukup peka untuk melihat ketika ia sedang jatuh dalam kesulitan. Sebab tujuan akhir tarbiyah bukan sekadar melahirkan santri yang takut melanggar aturan, tetapi menumbuhkan pribadi yang merasa aman untuk belajar, berbuat salah, memperbaiki diri, dan bertumbuh.

Dan barangkali, salah satu bentuk kasih sayang terbesar dalam pengasuhan pesantren adalah memastikan bahwa tidak ada seorang pun santri yang diam-diam sedang berjuang, sementara tidak seorang pun dewasa menyadarinya.

Sumber Bacaan

Al-Faruq, Abu Abdurrahman. 2020. Cara Nabi SAW Mendidik Anak Laki-Laki. Yogyakarta: Pro U-Media.
Al-Ghazali. 2011. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim Ba’adillah. Jakarta: Republika.
al-Nawawī, Abū Zakariyyā Yaḥyā bin Syaraf. 1431 H. Al-Arba’īn al-Nawawiyyah. Suriah: Dār al-Ghautsānī.
Az-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. 2009. Ta’lim al-Muta’allim. Diterjemahkan oleh Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Covey, Stephen R. 2013. 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif: 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Edisi Revisi. Tangerang Selatan: Penerbit Binarupa Aksara.
Huda, N., dan M. Hamim. 2018. Mondok sebagai Potret Cinta Tanah Air. Kediri: Santri Salaf Press.
Kasturi, Taufik, dan Faza Izzudin Nuha. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2024. Tujuh Karakter Pengasuh Pesantren. Solo: Penerbit DEA.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2025. Musyrif Teladan. Solo: Penerbit DEA.
Nawawi, Imam. 2018. Adabul ‘alim wal muta’allim. Diterjemahkan oleh Hijrian A. Prihantoro. Yogyakarta: Diva Press.
Rajasam, Wahab. 2023. Enam Bekal bagi Pendidik dan Pengasuh. Bekasi: Khazanah Fawaid.
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2020. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim. Sukoharjo: Insan Kamil.
Yoga, Miarti. 2018. Adversity Quotient: Agar Anak Tak Gampang Menyerah. Solo: Tiga Serangkai.
Zakaria, M. 2023. Kitab Pengasuhan: Pesantren Cahaya, Tanpa Marah, Tanpa Hukuman, Tanpa Bullying, Pesantrenku Surgaku. Belitung: Maktabah Fajrul Islam.