Jangan Biarkan Momen Berlalu Begitu Saja

Pagi tadi mungkin kita bangun seperti biasanya. Mematikan alarm, mengambil ponsel, melihat beberapa pesan yang masuk, bersiap-siap, kemudian memulai aktivitas. Kita bertemu orang yang hampir sama, melewati jalan yang sama, mengerjakan pekerjaan yang kurang lebih sama, lalu malam hari kembali pulang. Besok, siklus itu kembali berulang.

Karena terlalu sering terjadi, kita menyebutnya RUTINITAS. Padahal, kalau direnungkan lebih dalam, di antara rutinitas itulah sebenarnya kehidupan sedang berlangsung.

Ada percakapan singkat dengan pasangan sebelum berangkat bekerja. Ada anak yang berlari menghampiri ketika kita pulang. Ada sapaan dari petugas keamanan di kantor. Ada obrolan dengan rekan kerja di sela-sela kesibukan. Ada makan siang bersama teman. Ada perjalanan pulang yang panjang. Bahkan mungkin ada beberapa menit ketika kita hanya duduk sendiri sambil menikmati secangkir kopi. Semuanya TERLIHAT BIASA. Namun justru dari hal-hal yang biasa itulah sering kali lahir sesuatu yang luar biasa.

Saya teringat pada gagasan Chip Heath dan Dan Heath dalam buku The Power of Moments. Mereka menjelaskan bahwa kehidupan manusia sebenarnya dipenuhi oleh begitu banyak pengalaman, tetapi hanya sedikit yang benar-benar melekat dalam ingatan. Ada momen-momen tertentu yang menjadi titik penting dalam perjalanan hidup kita—momen yang membuat kita bahagia, mengubah cara berpikir, memperkuat hubungan, atau bahkan mengubah arah kehidupan.

Menariknya, momen-momen seperti itu tidak selalu harus menunggu kejadian besar. Kita bahkan bisa menciptakannya. Chip Heath dan Dan Heath menjelaskan empat elemen yang sering membuat sebuah momen menjadi lebih bermakna: Elevation, Insight, Pride, dan Connection. Keempatnya menarik jika kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Elevation adalah ketika sebuah pengalaman mampu keluar dari rutinitas dan memberikan kesan yang lebih kuat. Tidak harus mahal. Misalnya, biasanya kita makan malam sambil sibuk dengan ponsel masing-masing. Sesekali, matikan televisi dan simpan semua ponsel. Makanlah bersama sambil bercerita. Aktivitasnya tetap makan malam, tetapi pengalaman yang tercipta berbeda.

Atau seorang atasan yang biasanya hanya berkomunikasi melalui rapat formal, suatu hari mengajak anggota timnya makan siang bersama tanpa membicarakan pekerjaan. Sederhana, tetapi bisa menjadi momen yang dikenang.

Insight adalah momen ketika kita tiba-tiba memahami sesuatu yang sebelumnya tidak kita sadari. Kadang insight datang dari kejadian kecil. Misalnya, kita ditegur oleh seseorang, lalu tersadar bahwa cara berkomunikasi kita selama ini kurang tepat. Kita gagal dalam sebuah pekerjaan, kemudian menyadari ada kemampuan yang perlu dikembangkan. Kita mendengar cerita seorang teman, lalu mulai melihat persoalan dari perspektif yang berbeda.

Orang yang bertumbuh bukanlah orang yang tidak pernah mengalami kejadian buruk. Orang yang bertumbuh adalah mereka yang mampu bertanya: “Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?“. Pertanyaan sederhana tersebut bisa mengubah kegagalan menjadi pelajaran, kritik menjadi bahan evaluasi, bahkan masalah menjadi kesempatan untuk bertumbuh.

Elemen berikutnya adalah Pride, yaitu momen ketika seseorang merasakan kebanggaan atas pencapaian atau keberaniannya. Ini pun tidak selalu tentang pencapaian besar. Misalnya, anak yang akhirnya berani maju ke depan kelas pantas mendapatkan apresiasi. Karyawan yang berhasil menyelesaikan pekerjaan sulit pantas mendapatkan pengakuan. Teman yang akhirnya menyelesaikan kuliah setelah perjalanan panjang pantas dirayakan. Bahkan diri kita sendiri sesekali perlu diapresiasi.

Kita sering terlalu sibuk mengejar target berikutnya sampai lupa melihat sejauh apa kita sudah berjalan. Padahal mengatakan kepada diri sendiri, “Alhamdulillah, ternyata saya sudah sampai sejauh ini,” bukanlah kesombongan. Itu adalah bentuk syukur sekaligus energi untuk melanjutkan perjalanan.

Dan yang terakhir adalah Connection—keterhubungan. Menurut saya, inilah salah satu bagian terpenting dalam kehidupan. Momen menjadi lebih bermakna ketika kita mengalaminya bersama orang lain.

Coba ingat kembali kenangan masa kecil kita. Bisa jadi yang paling kita ingat bukan harga mainannya, tetapi siapa yang menemani kita bermain. Ketika mengingat sebuah perjalanan, mungkin bukan hotelnya yang paling kita rindukan, tetapi percakapan di sepanjang perjalanan. Bahkan ketika mengingat masa-masa sulit, kita sering mengingat siapa yang hadir menemani kita saat itu.

Karena manusia tidak hanya membutuhkan pengalaman. Manusia membutuhkan keterhubungan. Di sinilah The Power of Moments menjadi sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Kita sering menunggu momen besar untuk menjadi bahagia. Menunggu naik jabatan. Menunggu memiliki rumah. Menunggu liburan. Menunggu anak lulus. Menunggu bisnis berhasil. Menunggu punya banyak uang.

Padahal, ketika kita terlalu sibuk menunggu momen besar, ribuan momen kecil sedang lewat begitu saja. Anak yang hari ini meminta ditemani bermain suatu saat akan tumbuh dewasa. Orang tua yang hari ini masih bisa kita telepon suatu saat mungkin hanya bisa kita rindukan. Teman-teman yang setiap hari kita temui di kantor suatu hari akan berpisah jalan. Bahkan tubuh yang hari ini masih kuat bekerja dan bepergian suatu saat akan meminta kita memperlambat langkah.

Kita sering mengetahui nilai sebuah momen justru setelah momen itu menjadi kenangan. Maka barangkali kita perlu belajar untuk lebih sadar terhadap kehidupan yang sedang kita jalani.

Konsep ini dekat dengan gagasan mindfulness, yaitu kemampuan untuk hadir secara sadar pada pengalaman saat ini. Dalam kehidupan modern, tubuh kita sering berada di satu tempat sementara pikiran berada di tempat lain. Kita sedang makan bersama keluarga, tetapi pikiran sibuk dengan pekerjaan. Kita sedang berbicara dengan anak, tetapi tangan masih menggulir media sosial. Kita sedang berlibur, tetapi sibuk memikirkan bagaimana membuat kontennya.

Kita hadir secara fisik, tetapi kehilangan momennya. Karena itu, menjadi pribadi yang lebih baik tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Kadang cukup dengan memperbaiki cara kita menjalani momen-momen kecil.

Ketika bertemu orang, benar-benar dengarkan. Ketika bersama keluarga, benar-benar hadir. Ketika mendapatkan kritik, ambil pelajarannya. Ketika memperoleh keberhasilan kecil, syukuri. Ketika melakukan kesalahan, evaluasi. Ketika memiliki kesempatan membantu orang lain, lakukan. Ketika ingin mengatakan terima kasih, jangan ditunda. Ketika ingin meminta maaf, jangan menunggu terlalu lama. Dan ketika ingin mengatakan sayang kepada orang-orang terdekat, katakanlah selagi masih ada kesempatan.

Karena kita tidak pernah tahu momen sederhana mana yang kelak menjadi defining moment dalam kehidupan seseorang. Mungkin ucapan penyemangat kita hari ini membuat seseorang tidak menyerah. Mungkin apresiasi sederhana membuat seorang anak semakin percaya diri. Mungkin lima menit mendengarkan keluhan seorang teman membuatnya merasa tidak sendirian. Mungkin telepon singkat kepada orang tua menjadi kenangan yang suatu hari sangat kita rindukan. Inilah yang membuat kehidupan menarik.

Kita tidak selalu memiliki kendali terhadap apa yang akan terjadi. Tetapi kita memiliki pilihan tentang bagaimana menjalani apa yang sedang terjadi.

Pada akhirnya, The Power of Moments bukan hanya tentang bagaimana menciptakan pengalaman yang mengesankan bagi orang lain. Bagi saya, gagasan ini juga merupakan ajakan untuk menjalani hidup dengan lebih sadar.

Jangan hanya melewati hari. Hiduplah di dalamnya. Jangan hanya mengalami kejadian. Ambillah pelajarannya. Jangan hanya bertemu orang. Bangunlah hubungan dengannya. Dan jangan menunggu sesuatu menjadi kenangan untuk menyadari bahwa ternyata ia sangat berharga.

Karena menjadi pribadi yang lebih baik tidak selalu dibentuk oleh satu peristiwa besar. Sering kali kita dibentuk oleh ribuan momen kecil—yang kita sadari, kita maknai, lalu kita gunakan untuk memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Hidup pada akhirnya bukan hanya tentang berapa lama kita menjalaninya, tetapi tentang berapa banyak momen yang benar-benar kita hidupkan. Mari kita belajar menjadi lebih baik dari momen-momen kecil kehidupan.

Referensi

Heath, C., & Heath, D. (2017). The Power of Moments: Why Certain Experiences Have Extraordinary Impact. Simon & Schuster.

Kabat-Zinn, J. (1994). Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life. Hyperion.

Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. Harper & Row.

Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being. Free Press.