Tuhan, Beri Aku Keturunan



Tidak ada satu pun bentuk ujian yang Allah swt berikan kepada manusia, melainkan telah dirasakan lebih dulu oleh para nabi dan rasul-Nya. Termasuk di antaranya adalah tertundanya kedatangan keturunan. Ujian semacam ini, pernah diujikan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariya alaihimassalam. Keduanya menghabiskan waktu yang begitu panjang untuk menunggu, sembari terus berdoa dan berusaha untuk mewujudkan keinginannya: memiliki keturunan. Tentu, beratnya penantian juga dirasakan oleh para istri: Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Isya’, Istri Nabi Zakariya. Hingga kesabarannya berbuah manis, doa-doa yang dilangitkan tidak kembali sia-sia. Kisah kebahagiaannya diabadikan dalam al-Qur’an di berbagai ayat dan surat yang berbeda. Pada serial kali ini, penulis akan menyoroti bagaimana kedua wanita salehah ini menghadapi ujian yang Allah berikan, hingga akhirnya mereka lolos dan berhasil membuktikan kebenaran juga kuasa Allah swt.

Sebelum mengarungi samudera hikmah kisah mereka, Allah swt memberikan isyarat lembut kepada kita tentang kuasa-Nya menganugerahi seseorang keturunan atau pun menghalanginya. Mari kita simak firman Allah swt dalam surat asy-Syura ayat 49-50.

لِّلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ
عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (50)

Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan (keturunan) laki-laki dan perempuan, serta menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini menyiratkan tentang terbaginya manusia menjadi empat macam: ada di antara mereka yang hanya diberikan anak perempuan, ada yang hanya diberikan anak laki-laki, ada yang diberikan anak laki-laki dan perempuan, dan ada yang tidak diberikan keturunan. Dari semua itu, Allah swt dengan kehendak-Nya mengajarkan kepada kita tentang arti mengakui bahwa tiada daya dan upaya selain hanya kepada Allah swt.

Kita mulai dari Sarah, istri Ibrahim as. Dalam kitab ar-Raudhah al-Faiha’ disebutkan ia bernama Sarah binti Harun bin Nakhur. Dalam tafsir ath-Thabari dikatakan bahwa ayahnya Sarah merupakan paman Nabi Ibrahim as. Kisah kesabarannya menunggu sang buah hati diabadikan dalam surat Hud ayat 69-73 dan surat adz-Dzariyat ayat 24-30. Ketika datang malaikat utusan Tuhan untuk mengirim azab kepada kaum Nabi Luth yang melakukan penyimpangan seksual, para utusan itu lebih dulu datang bertamu ke rumah Ibrahim untuk menyampaikan kabar gembira.

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (69) فَلَمَّا رَأَىٰ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ
مِنْهُمْ خِيفَةً ۚ قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍ (70)

Sungguh, utusan Kami (malaikat) benar-benar telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, “Salam.” Dia (Ibrahim) menjawab, “Salam.” Tidak lama kemudian, Ibrahim datang dengan membawa (suguhan) daging anak sapi yang dipanggang. Ketika (Ibrahim) melihat tangan mereka tidak menjamahnya, dia mencurigai dan memendam rasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, “Jangan takut! Sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut (untuk menghancurkan mereka).” (Hud : 69-70)

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ (24) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ (25) فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ
(26) فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ (27) فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (28)

Sudahkah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Cerita itu bermula) ketika mereka masuk (bertamu) kepadanya, lalu mengucapkan, “Salam.” Ibrahim menjawab, “Salam.” (Mereka) adalah orang-orang yang belum dikenal. Kemudian, dia (Ibrahim) pergi diam-diam menemui keluarganya, lalu datang (kembali) membawa (daging) anak sapi gemuk (yang dibakar). Dia lalu menghidangkannya kepada mereka, (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, “Mengapa kamu tidak makan?” Dia (Ibrahim) menyimpan rasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut!” Mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (akan kelahiran) seorang anak yang sangat berilmu (Ishaq). (adz-Dzariyat : 24-28)

Menurut ahli tafsir seperti ath-Thabari, Ibnu Katsir dan al-Qurtubi, dikatakan bahwa pada saat dibawakan kabar gembira akan lahirnya keturunan dari Sarah, ia sudah berusia kisaran 70-90 tahun. Sementara, mereka berdua sudah bersama-sama menghabiskan waktu 40 tahun lamanya dengan usaha dan berdoa sampai akhirnya Allah swt mengabulkannya. Secara biologis, sudah mustahil bagi seorang perempuan dengan usia setua itu mampu hamil. Itulah mengapa Sarah terkejut mendengar kabar gembira yang dibawa para utusan Tuhan.

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِن وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ
عَجِيبٌ (72)


Istrinya berdiri, lalu tersenyum. Kemudian, Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya‘qub (putra Ishaq). Dia (istrinya) berkata, “Sungguh mengherankan! Mungkinkah aku akan melahirkan (anak) padahal aku sudah tua dan suamiku ini sudah renta? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” (Hud : 71-72)

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

Istrinya datang sambil berteriak (terperanjat) lalu menepuk-nepuk wajahnya sendiri dan berkata, “(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul.” (adz-Dzariyat : 29)

Perhatikan baik-baik dua ayat ini yang menggambarkan dengan jelas bagaimana reaksi Sarah tua, ketika dikabarkan akan mengandung seorang anak yang dinamakan Ishaq dalam al-Qur’an. Pada surat Hud, ia digambarkan sedang berdiri sambil tertawa. Ath-Thabari menyebutkan banyak pandangan tentang apa yang menyebabkan ia tertawa. Salah satunya yang mencuri perhatian penulis adalah pandangan yang mengatakan bahwa ia tertawa heran dan terkejut ketika mendengar kabar gembira berupa kehamilan di usia senjanya. Sementara dalam surat adz-Dzariyat, Sarah bukan hanya berdiri dan tertawa. Melainkan juga berteriak terperanjat sambil menampar wajahnya sebagai reaksi keheranannya terhadap berita yang menurutnya mustahil, seperti yang ditafsirkan oleh Ibnu Katsir. Sarah mengira bahwa dirinya tak lagi mampu mengandung seorang anak karena dirinya yang mandul dan suaminya, Ibrahim yang sudah tua renta. Namun, entah bagaimana, dengan kuasa-Nya, Allah mampu membuatnya mengandung Ishaq yang kelak juga akan menjadi seorang nabi.

Sementara kisah kesabaran Isya’ binti Faqudza, istri Nabi Zakariya, diabadikan dalam surat Ali Imran ayat 40 dan surat Maryam ayat 5-8. Isya’ adalah saudari Hannah, Ibu Maryam. Setelah pernikahannya dengan Zakariya, Isya’ tak kunjung juga dianguerahi keturunan. Hingga tak terasa, waktu telah membuatnya beruban. Meski demikian, Zakariya tak pernah sekali pun bosan dan enggan untuk senantiasa berdoa, melangitkan harapan kepada Allah swt.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imran : 38)

Keistikamahan doa itu lahir dari pengalaman baiknya setiap kali berdoa kepada Allah swt, ia tak pernah mendapatkan penolakan dan tidak pernah dikecewakan. Itulah yang akhirnya membuat Zakariya tidak berhenti mengayuh doanya hingga Allah swt menjawab panggilannya.

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا

Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.

Ternyata, motivasi serupa juga dimiliki oleh suami Sarah, Nabi Ibrahim yang tidak pernah dikecewakan saat berdoa. Meski harus bertahun-tahun menunggu jawaban doa, hal itu tak lantas membuatnya jemu menyeru nama Sang Mujib, Tuhan yang mengijabah doa.

وَأَدْعُو رَبِّي عَسَىٰ أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

Aku akan berdoa kepada Tuhanku semoga aku tidak kecewa dengan doaku kepada Tuhanku.” (Maryam : 48)

Doanya menggema sepanjang zaman, lafaznya abadi dalam lembaran al-Qur’an, menjadi tuntunan bagi para hamba tatkala berdoa kepada Sang Ada. Di antara banyak doa yang beliau ulang-ulang dalam hidupnya adalah doa meminta keturunan yang baik. Sebagaimana tertera dalam surat ash-Shaffat ayat 100

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

(Ibrahim berdoa,) “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

Setelah lamanya penantian, tibalah saat Allah swt mengutus malaikat-Nya untuk menyampaikan kabar gembira berupa kehamilan Isya’ di masa tuanya. Mari kita lihat bagaimana ekspresi Zakariya ketika menerima kebahagiaan yang menurut perhitungannya sebagai manusia adalah suatu hal yang mustahil. Kabar itu Allah swt narasikan dalam surat Ali Imran ayat 39-40 dan surat Maryam ayat 7-8.

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ (39) قَالَ
رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (40)

Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang membenarkan kalimat dari Allah, (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.” (Ali Imran : 39-40)

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ
عِتِيًّا (8)

(Allah berfirman,) “Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya yang nama itu tidak pernah Kami berikan sebelumnya.” Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana (mungkin) aku akan mempunyai anak, sedangkan istriku seorang yang mandul dan sungguh aku sudah mencapai usia yang sangat tua?” (Maryam : 7-8)

Jika kita amati dengan seksama, kedua kisah di atas memiliki latar belakang yang sama: seorang istri yang sudah cukup lama menanti kedatangan sang buah hati. Selain itu, dalam kedua kisah tersebut juga kita dapatkan kesamaan reaksi: heran dan terkejut. Pasalnya, pada kedua kisah teladan ini, Allah swt menunjukkan kuasa-Nya yang merobek dimensi sebab-akibat. Asalnya, sepasang suami istri hanya mampu menghasilkan keturunan pada fase reproduksi. Biasanya terjadi pada masa ovulasi seorang perempuan serta didukung keprimaan laki-laki yang baik. Sementara kedua pasangan saleh-salehah ini: Ibrahim dan Sarah; Zakariya dan Isya’ berada pada kondisi yang sangat tidak memungkinkan terjadinya kehamilan. Suaminya tua renta, sementara sang istri sudah habis masa suburnya.

Dan jika lebih dalam lagi kita cermati, niscaya di samping kesamaan kisah di atas, kita juga akan menemukan beberapa perbedaan yang signifikan. Dari perbedaan inilah kita akan menguak rahasia kewanitaan Sarah dan Isya’ untuk kita jadikan panduan dalam bermuamalah kepada kaum perempuan. Perhatikan kisah Sarah. Pada surat Hud ayat 72 dan surat adz-Dzariyat 29, Allah swt menceritakan keheranannya dengan sudut pandang Sarah sebagai orang pertama. Sehingga apa yang kita baca pada ayat tersebut, menginterpretasikan apa yang diucapkan Sarah. Sementara pada kisah Isya’, keheranannya hanya ditunjukkan melalui lisan suaminya, Zakariya.

Lihatlah perbedaan penggunaan diksi yang digunakan oleh Sarah dan Zakariya ketika keduanya mendeskripsikan makna majir. Pada ayat 29 surat adz-Dzariyat, Allah swt memberitahukan kepada kita tentang ucapan Sarah yang menggunakan kata (عَقِيْمٌ). Sedangkan Nabi Zakariya menggunakan kata (عَاقِر) seperti firman Allah swt pada surat Ali Imran ayat 40, surat Maryam ayat 5 dan 8. Meski para mufassir seperti ath-Thabari, Ibnu Katsir dan al-Qurtubi, Fakhruddin ar-Razi mengatakan bahwa secara umum keduanya bermakna satu: mandul, akan tetapi, jika ditilik dari linguistik Arab, tentu kita akan menemukan perbedaan makna.

Dr. Salamah Jum’ah, Rektor Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, menjelaskan lafaz (عَقِيْمٌ) dalam surat adz-Dzariyat dengan pendekatan ilmu Balaghah, bab Isti’arah. Pada surat yang sama, Allah swt berfirman di ayat 41 tentang azab yang diturunkan kepada kaum ‘Ad berupa angin topan yang mematikan. Pada ayat itu, Allah menyifatkan angin dengan kata sifat yang sama ketika Sarah menyifatkan dirinya mandul pada ayat 29: (عَقِيْمٌ). Melalui komparasi ini, Dr. Salamah mengungkap rahasia makna kata (عَقِيْمٌ).

وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ (41)

(Begitu pula Kami meninggalkan) pada (kaum) ‘Ad (tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengirim kepada mereka angin yang membinasakan. (adz-Dzariyat : 41)

Beliau lebih dulu menjelaskan kata (عَقِيْمٌ) pada ayat 41 dan mengatakan bahwa kata (عَقِيْمٌ) pada asalnya adalah kata sifat untuk perempuan yang tidak dapat melahirkan. Kemudian, kata tersebut digunakan sebagai kiasan untuk menyifatkan angin yang mematikan. Kata (عَقِيْمٌ) dalam ayat 41 menunjukkan betapa mematikannya angin tersebut hingga tidak menyisakan satu pun dari kaum ‘Ad yang terkena azab tersebut. Sama seperti perempuan (عَقِيْمٌ), mandul yang tidak melahirkan satu pun anak darinya. Penafian mutlak yang disebabkan oleh azab yang disebut dalam al-Qur’an (الرِّيحَ الْعَقِيمَ) ini, didasarkan oleh ayat setelahnya yang berbunyi:

مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ اَتَتْ عَلَيْهِ اِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيْمِۗ

(Angin) itu tidak meninggalkan apa pun pada semua yang dilandanya, kecuali menjadikannya bagai tulang yang hancur. (adz-Dzariyat : 42)

Atas dasar ini, Dr. Salamah menyimpulkan bahwa kata (عَقِيْمٌ) yang diucapkan Sarah pada ayat 29 surat adz-Dzariyat ketika ia menyifatkan dirinya mandul, memberikan penekanan yang lebih besar pada makna mandul dari pada kata (عَاقِر) yang digunakan Nabi Zakariya menyifatkan kemandulan istrinya.

Sementara dari sisi Fonetik atau Fonologi, Dr. Husam an-Na’imi menjelaskan bahwa dua kata (عَقِيْمٌ) dan (عَاقِر), akar katanya berasal dari (عقم) dan (عقر). Perbedaan di antara keduanya hanya ada pada huruf terakhirnya: م dan ر. Beliau melanjutkan kedua kata tersebut bermakna mandul. Hanya saja, dalam Bahasa Arab tidak ada kosa kata yang benar-benar memiliki makna yang sama persis. Sampai ketika beliau menguliti satu-satu makhraj (tempat keluar), sifat dan cara mengucapkan huruf Mim dan Ra’, rahasia tersingkap.

Huruf Ra’, makhrajnya berada di ujung lidah yang ditempelkan ke gusi depan bagian atas dengan sifat takrir (berulang/bergetar) dan diucapkan dengan mulut terbuka. Sedangkan huruf mim, makhrajnya adalah kedua bibir dengan sifat ghunnah (dengung) dan diucapkan dengan menutup kedua belah bibir. Kemudian, Dr. Husam mengembalikan kajian kepada pembahasan yang merujuk pada kamus induk Bahasa Arab (Mu’jam) Lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur. Beliau mengatakan bahwa kata (عقر) digunakan dalam Bahasa Arab untuk mendeskripsikan keadaan mandul dengan kemungkinan hamil. Ada pun kata (عقم) bermakna suatu penyakit yang tidak memiliki penawar, sehingga tidak memiliki kemungkinan untuk hamil.

Melanjutkan penjelasannya, Dr. Husam memberikan jeda untuk sebuah pertanyaan yang menjadi pertanyaan kita juga pada tulisan kali ini: mengapa Sarah pada kisahnya dalam al-Qur’an menggunakan kata (عقم)? Padahal, sama seperti Isya’, ia juga diberikan kabar gembira oleh Allah swt akan datangnya seorang keturunan yang lahir dari rahimnya. Lalu beliau memberikan jawaban dengan penafsiran berbasis linguistik Arab pada ayat 29 surat adz-Dzariyat dan mengatakan:

هي أولا جاءت في صرة. يعني في صيحة وضربت وجهها كأنها تستحي على كبر سنها. وقالت عجوز عقيم، لأنها عند نفسها تجربة
التي مرت بها إلى أن بلغت مرحلة شيخوخة نفسها وهي عقيم. ما تقول عجوز عاقر. لأن القول (عجوز عاقر)، كانت تتأمل. بينما هي
قطعت الأمل تماما. يريد القرآن يشير إلى أنها قطعت الأمل تماما، فاستعملت (عجوز عقيم). مع أنه ما دام الله سبحانه وتعالى قال لها
يكون غلام، سواء كان رحمها مسدودة في الأصل يفتحها الله سبحانه وتعالى

Pertama, ia mengatakan hal itu dengan kondisi ia sedang berteriak sambil menampar wajahnya. Seolah ia malu atas usianya yang sudah renta. Sarah kemudian berkata (عجوز عقيم), orang tua yang mandul. Karena pada saat itu, dirinya telah melewati pengalaman yang hingga membuatnya sampai pada fase tua dan meyakini dirinya (عقيم). Sarah tidak mengatakan (عجوز عاقر). Karena seandainya ia menggunakan kalimat (عجوز عاقر), maka maknanya, pada saat itu ia masih menaruh harapannya. Sementara, dia benar-benar memutuskan harapannya. Melalui diksi tersebut, al-Qur’an hendak mengisyaratkan bahwa Sarah yang sudah tua, tidak berharap lagi mampu mengandung seorang anak. Maka itu, al-Qur’an menggunakan kalimat (عجوز عقيم). Padahal, jika Allah swt telah berkata padanya bahwa ia akan dianugerahi keturunan, baik menggunakan kata عقيم atau عاقر, dan rahimnya tertutup, niscaya Allah swt akan membukanya.

Pemaparan perbedaan diksi pada dua kisah tersebut, memberikan dua pemahaman berikut ini.

Berdasarkan penjelasan di atas, kemandulan Sarah lebih parah daripada Isya’. Hal itu ditunjukkan dari bagaimana reaksi alaminya yang digambarkan tersenyum, berteriak lalu menampar wajah. Dalam kajian psikologi, hal semacam itu disebut dengan istilah adult tantrum yang diakibatkan oleh dysregulation emotional (ketidakmampuan mengelola emosi secara matang). Barangkali Isya’ pun mengalami hal yang sama. Hanya saja dalam al-Qur’an, Allah swt menjadikan kisahnya dari sudut pandang orang ketiga, yaitu suaminya sendiri, Zakariya.

Melalui kisah mereka berdua ini, para suami diminta untuk mengerti tentang keadaan istrinya yang sudah lama menunggu kehadiran anak tercinta tinggal di dalam kandungannya. Apabila suatu hari, ia menunjukkan reaksi serupa, pahamilah bahwa hal itu wajar apa adanya. Kita hanya butuh sedikit lebih banyak sabar dan ada di sisinya untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala.

Perbedaan sudut pandang kedua kisah di atas, setidaknya mengisyaratkan sedikit tentang kebijakan laki-laki dalam memilih kata. Tidak seperti Sarah, Zakariya mengucapkan kata عاقر untuk mendeskripsikan kemandulan istrinya. Kata tersebut mengandung adanya harapan dan tidak putus asa dari kuasa Allah swt. Hal itu selaras dengan doa Zakariya yang tidak ada hentinya memohon kehadiran anak yang akan mewarisi ilmunya. Sementara Sarah, menggunakan kata عقيم untuk menunjukkan betapa tidak tersisa lagi sedikit pun harapan untuk mengandung keturunan. Hal itu sangat berlawanan dengan apa yang terus dimintakan Ibrahim dalam doanya.

Padahal jika kita perhatikan, Sarah dan Isya’ pada saat itu sama-sama sudah berusia renta. Ibrahim dan Zakariya juga sama-sama seorang utusan Tuhan yang tidak pernah meragukan kuasa Allah serta tidak pernah bosan untuk menyeru nama-Nya dalam doa. Namun, kisah keduanya memiliki sudut pandang yang berbeda karena yang satu diceritakan langsung oleh wanita, sementara yang lainnya dinarasikan oleh pria.

Di samping semua itu, kita juga tidak boleh melupakan pelajaran yang tidak kalah penting daripada memahami wanita dari sisinya. Ibrahim dan Zakariya juga mengajarkan bagaimana menjadi suami yang baik dari sudut pandang seorang pria. Ibrahim mengajarkan untuk tidak goyah oleh keraguan istri dalam berharap kepada Allah swt. Justru, mantapnya keyakinan Ibrahim menjadi bukti besar atas kuasa Tuhan bagi Sarah dan siapa pun yang mendengar kisahnya. Begitu pun, Zakariya, suami yang menjaga tuturnya ketika sedang menceritakan kekurangan istrinya di hadapan Allah swt. Padahal tahu persis bagaimana keadaannya. Betapa pun demikian, ia tetap menjaga adabnya di hadapan Allah swt dengan memilih kata yang menampakkan adanya harapan.

Ibrahim dan Zakariya berhasil mengajarkan kepada kita semua tentang bagaimana menghadapi kebuntuan di alam sebab-akibat. Keduanya, membuktikan bahwa benar, Tuhan yang menjadi alamat doa kita adalah Allah yang tidak pernah mengecewakan pendoa. Meski objeknya adalah satu hal yang mustahil menurut perhitungan akal manusia. Semoga siapa saja yang sedang menunggu hadirnya buah hati, dengan membaca dan berusaha meneladani dua kisah di atas, segera dianugerahi keturunan yang baik. Pada akhirnya, kita harus selalu mengingat kembali bahwa, manusia hanyalah satu di antara 4 ketentuan Tuhan: diberikan keturunan perempuan, diberikan keturunan laki-laki, diberikan keduanya atau tidak sama sekali. Kesemuanya adalah media ibadah bagi kita ketika mampu menyikapinya sebagai kuasa yang tak dapat digugat oleh hawa nafsu semata.