Sebuah Refleksi Imajiner di Hari Maulid Nabi Muhammad saw.

Besok kita kembali memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masjid-masjid akan dipenuhi lantunan shalawat, ceramah tentang perjalanan hidup Rasulullah, pembacaan sirah, dan berbagai kegiatan untuk mengenang kelahiran manusia mulia yang membawa risalah Islam kepada dunia. Namun menjelang Maulid kali ini, muncul sebuah pertanyaan yang agak berbeda dalam pikiran saya: bagaimana seandainya Nabi Muhammad saw. hidup di zaman kita sekarang?
Tentu ini hanyalah sebuah pengandaian. Kita tidak sedang menulis ulang sejarah, apalagi memastikan apa yang akan Rasulullah lakukan dalam situasi yang tidak pernah beliau alami. Namun sebagai sebuah refleksi, rasanya menarik membayangkan bagaimana nilai, karakter, dan prinsip dakwah Rasulullah yang kita kenal melalui Al-Qur’an, hadis, dan sirah berhadapan dengan dunia yang sangat berbeda.
Bayangkan jika Rasulullah hidup di tengah generasi yang hampir tidak pernah lepas dari smartphone, di tengah masyarakat yang setiap pagi membuka WhatsApp, Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya. Kita hidup di zaman ketika sebuah pesan dapat berpindah dari Jakarta ke New York hanya dalam hitungan detik, tetapi ironisnya orang yang duduk bersebelahan terkadang justru semakin jarang berbicara.
Lalu saya berpikir, apakah Rasulullah akan menggunakan media sosial? Saya tentu tidak tahu. Tetapi jika melihat perjalanan dakwah beliau, Rasulullah menggunakan berbagai medium komunikasi yang tersedia pada zamannya. Beliau berbicara langsung kepada masyarakat, berdialog secara personal, berdakwah di berbagai tempat, mengutus para sahabat, bahkan mengirim surat kepada para pemimpin dan penguasa di berbagai wilayah.
Dari sini kita setidaknya dapat mengambil pelajaran bahwa medium dapat berubah, tetapi nilai dari pesan tidak harus berubah. Dahulu pesan disampaikan melalui mimbar, surat, pertemuan, dan perjalanan panjang. Hari ini sebuah pesan dapat disampaikan melalui podcast, video pendek, kelas daring, media sosial, bahkan kecerdasan buatan. Teknologi hanyalah alat. Pertanyaan terpentingnya bukan apakah kita menggunakan teknologi atau tidak, melainkan nilai apa yang kita sebarkan melalui teknologi tersebut.
Saya kemudian membayangkan hal lain. Seandainya Rasulullah memiliki akun media sosial, mungkin jumlah followers-nya akan sangat banyak. Tetapi rasanya sulit membayangkan beliau sibuk memikirkan berapa banyak followers, likes, views, atau engagement yang diperoleh hari itu.
Sepanjang perjalanan dakwahnya, yang diperjuangkan Rasulullah bukan popularitas, melainkan perubahan manusia. Ini menjadi refleksi menarik bagi kita yang hidup dalam budaya angka. Hari ini hampir semua hal bisa diukur: berapa orang yang melihat, berapa yang menyukai, berapa yang membagikan, berapa yang mengikuti. Tidak ada yang salah dengan angka. Dalam ilmu komunikasi modern, data bahkan sangat penting untuk mengetahui jangkauan dan efektivitas pesan. Namun jangan sampai kita memiliki jutaan views tanpa menghasilkan values. Jangan sampai konten kita viral tetapi tidak meninggalkan kebaikan apa pun bagi orang yang melihatnya.
Pertanyaan berikutnya juga menarik: bagaimana Rasulullah menyampaikan dakwah kepada generasi yang terbiasa dengan video 30 detik? Generasi yang bisa berpindah dari satu konten ke konten lainnya hanya dengan satu gerakan jempol. Generasi yang memiliki akses informasi luar biasa banyak, tetapi sekaligus menghadapi distraksi yang juga luar biasa besar.
Jika membaca berbagai riwayat tentang kehidupan Rasulullah, kita menemukan bahwa cara beliau berkomunikasi sangat kontekstual. Beliau tidak selalu berbicara panjang. Banyak hadis justru berupa kalimat yang relatif singkat, mudah diingat, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Beliau menggunakan cerita, perumpamaan, pertanyaan, dialog, pengulangan, bahkan bahasa tubuh dalam menyampaikan pesan.
Artinya, komunikasi yang efektif bukan persoalan membuat pesan menjadi panjang atau pendek, melainkan bagaimana membuat pesan benar-benar sampai kepada manusia yang kita hadapi. Al-Qur’an sendiri memberikan prinsip yang sangat indah dalam QS. An-Nahl ayat 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik….” Kata hikmah menjadi sangat penting. Berdakwah bukan hanya tentang menyampaikan sesuatu yang benar, tetapi juga memikirkan bagaimana kebenaran tersebut disampaikan dengan cara yang tepat.
Maka menghadapi generasi hari ini, tantangan dakwah mungkin bukan sekadar memperbanyak ceramah. Kita juga perlu memahami bahasa generasinya. Jika mereka berada di media sosial, hadirkan kebaikan di media sosial. Jika mereka menyukai video, buatlah video yang memberikan makna. Jika mereka mendengarkan podcast, hadirkan percakapan yang mencerahkan. Jika mereka menggunakan AI, ajarkan bagaimana AI digunakan untuk memperkuat ilmu dan kemaslahatan, bukan menggantikan akal dan tanggung jawab manusia. Pesannya tidak perlu berubah, tetapi cara menyampaikannya perlu terus belajar.
Saya juga membayangkan, jika Rasulullah hidup di zaman media sosial, tentu tidak semua orang akan menyukai pesan yang disampaikannya. Mungkin akan ada komentar negatif, potongan video yang dilepaskan dari konteks, perdebatan di kolom komentar, bahkan hoax dan fitnah. Sebenarnya fenomena seperti itu bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Rasulullah pun menghadapi ejekan, penghinaan, fitnah, penolakan, bahkan kekerasan. Yang berubah hanyalah medianya. Dahulu dilakukan secara langsung, hari ini mungkin dilakukan melalui layar ponsel.
Dari perjalanan hidup Rasulullah kita belajar bahwa tidak semua keburukan harus dibalas dengan keburukan yang sama. Ketegasan tentu memiliki tempatnya, dan klarifikasi diperlukan ketika menyangkut kebenaran. Namun energi seorang pembawa kebaikan juga tidak seharusnya habis hanya untuk melayani setiap orang yang mencoba memancing kemarahan. Bayangkan jika setiap komentar negatif harus kita balas, kapan kita mempunyai waktu untuk menghasilkan karya yang positif? Di zaman ketika orang mudah marah hanya karena berbeda pilihan, mudah menghina karena berbeda pandangan, dan mudah menghakimi berdasarkan potongan video beberapa detik, akhlak Rasulullah justru terasa semakin relevan.
Ada satu hal lagi yang menurut saya sangat menarik. Dalam dunia customer experience dan komunikasi hari ini kita mengenal istilah personalization, yaitu memahami bahwa setiap orang memiliki karakter, kebutuhan, dan kondisi yang berbeda sehingga pendekatan kepada mereka tidak selalu bisa disamakan. Menariknya, jauh sebelum istilah tersebut populer, kita menemukan pola komunikasi Rasulullah yang sangat manusiawi. Beliau berinteraksi dengan anak muda, orang tua, sahabat dekat, orang yang baru mengenal Islam, masyarakat awam, hingga mereka yang menentangnya dengan pendekatan yang mempertimbangkan konteks masing-masing.
Ini mengingatkan kita bahwa dakwah bukan hanya broadcasting, tetapi juga connecting. Kita tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang ingin saya sampaikan?”, tetapi juga perlu bertanya, “Siapa yang sedang saya ajak bicara?” Orang yang sedang marah mungkin membutuhkan pendekatan berbeda dengan orang yang sedang sedih. Anak muda membutuhkan bahasa yang mungkin berbeda dengan orang tua. Orang yang baru belajar agama tidak selalu dapat diperlakukan sama dengan mereka yang telah mempelajarinya puluhan tahun. Pesannya bisa sama, tetapi manusianya berbeda. Maka pendekatannya membutuhkan hikmah.
Hal lain yang sangat relevan dengan zaman sekarang adalah personal branding. Hari ini kita belajar bagaimana agar dikenal, bagaimana membangun citra, bagaimana terlihat kompeten, dan bagaimana memperoleh kepercayaan publik. Namun ketika membaca sirah Rasulullah, saya justru mendapatkan pelajaran yang lebih mendasar: sebelum membangun personal branding, bangunlah personal value.
Rasulullah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya, bahkan sebelum menerima wahyu kenabian. Reputasi tersebut tidak dibangun melalui kampanye komunikasi, tetapi melalui perilaku yang konsisten dalam waktu yang panjang. Inilah salah satu pelajaran komunikasi yang sangat relevan hari ini. Reputasi terbaik adalah ketika apa yang kita tampilkan tidak berbeda jauh dengan siapa diri kita sebenarnya. Di media sosial kita mungkin bisa membangun citra dalam beberapa bulan, tetapi karakter dibangun bertahun-tahun.
Setelah membayangkan semua itu, saya justru sampai pada sebuah pertanyaan yang menurut saya lebih penting. Mungkin bukan lagi, “Bagaimana seandainya Rasulullah hidup di era digital?”, melainkan “Bagaimana jika akhlak Rasulullah kita hidupkan di era digital?” Ketika menulis komentar, apakah ada akhlak Rasulullah di sana? Ketika berbeda pendapat, apakah masih ada adab? Ketika menerima informasi, apakah kita melakukan tabayyun sebelum membagikannya? Ketika memiliki banyak pengikut, apakah kita semakin rendah hati atau justru merasa semakin paling benar? Dan ketika teknologi memberikan kemampuan kepada kita untuk berbicara kepada ribuan orang, apakah yang kita sebarkan memberikan manfaat atau justru menambah kegaduhan?
Di sinilah Maulid Nabi menurut saya menjadi lebih dari sekadar mengenang sebuah kelahiran. Maulid adalah momentum untuk bertanya seberapa banyak Rasulullah hadir dalam perilaku kita. Kita memang tidak hidup di zaman beliau. Kita tidak berjalan bersama beliau di Madinah dan tidak duduk langsung mendengarkan beliau berbicara. Namun nilai-nilai yang beliau ajarkan tidak pernah kehilangan relevansinya. Dunianya berubah, teknologinya berubah, generasinya berubah, dan cara manusia berkomunikasi berubah. Tetapi manusia tetap membutuhkan kejujuran, kasih sayang, keadilan, keteladanan, penghormatan, kepedulian, dan seseorang yang membuat mereka merasa dimanusiakan.
Mungkin karena itulah, semakin modern dunia kita, semakin kita membutuhkan akhlak Rasulullah. Maka pada Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini, barangkali kita tidak cukup hanya memperbanyak cerita tentang bagaimana Rasulullah hidup pada zamannya. Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: bagaimana saya menghidupkan nilai-nilai Rasulullah pada zaman saya? Di rumah, di sekolah, di pesantren, di kantor, di jalan, di WhatsApp, di Instagram, di TikTok, di YouTube, bahkan ketika menggunakan AI.
Sebab mencintai Rasulullah bukan hanya tentang seberapa sering kita menceritakan kehidupan beliau, tetapi juga tentang seberapa sungguh-sungguh kita berusaha menghadirkan nilai kehidupannya dalam kehidupan kita. Teknologi boleh semakin canggih, zaman boleh berubah semakin cepat, dan cara manusia berkomunikasi boleh terus berganti. Namun ada satu hal yang tidak pernah out of date: Akhlakul Karimah.
Dan mungkin, itulah pesan Maulid yang paling kita butuhkan di zaman modern ini.