
Di antara banyak cara untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, mencari tahu segala tentangnya adalah cara terbaik untuk menghidupkan momen bahagia ini dalam mengenali kepribadian Rasulullah ﷺ. Sebagai saksi cinta yang selama ini hanya berhenti pada pengakuan tanpa pembuktian. Oleh sebab itu, serial ini dibuat untuk memfasilitasi pembaca dalam membangun hubungan cinta antara umat dan nabinya, Muhammad ﷺ. Semoga tulisan ini Allah Swt terima sebagai wasilah yang mengantarkan cinta tersebut kepada tiap-tiap wadah hati yang bersih. Agar darinya lahir kerinduan-kerinduan yang membuka jalan pada muara pertemuan yang dinantikan.
Sebagai pendahuluan, pada seri pertama ini, penulis akan menyuguhkan urgensi mengenali sosok Rasulullah ﷺ sebagai sosok teladan yang harus dijadikan panutan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam sebuah hadits riwayat at-Tirmidzi (279 H), Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ – أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ – أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ، فَيَقُولَانِ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: مَا كَانَ يَقُولُ: هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا، ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ، نَمْ، فَيَقُولُ: أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ، فَيَقُولَانِ: نَمْ كَنَوْمَةِ العَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ، حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ، وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ: سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ، فَقُلْتُ مِثْلَهُ، لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ: قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ، فَيُقَالُ لِلأَرْضِ: التَئِمِي عَلَيْهِ، فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ، فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلَاعُهُ، فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ
Apabila salah seorang di antara kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi oleh dua malaikat yang berwarna hitam dan biru, Munkar dan Nakir. Keduanya berkata: ‘Apa yang kamu ketahui tentang orang ini (Nabi Muhammad ﷺ)?’ Maka ia menjawab sebagaimana ketika ia di dunia: ‘Dia adalah seorang hamba Allah dan utusan-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.’ Keduanya berkata: ‘Kami telah mengetahui bahwa kamu akan mengatakan ini.’ Kemudian dibentangkan baginya di alam kubur seluas 70 × 70 hasta dan diberikan penerangan. Kemudian diserukan kepadanya: ‘Tidurlah!’ Dia menjawab: ‘Aku ingin kembali kepada keluargaku untuk mengabarkan mereka.’ Keduanya berkata: ‘Tidurlah seperti tidurnya pengantin yang tidak dapat dibangunkan kecuali oleh orang yang paling ia cintai.’ Sampai Allah Swt. membangkitkannya dari peraduannya. Adapun apabila yang meninggal adalah orang munafik ia akan menjawab: ‘Aku hanya pernah dengar orang-orang berkata dan saya mengatakan hal yang sama. Saya tidak tahu.’ Keduanya mengatakan: ‘Kami telah mengetahui bahwa kamu akan mengatakan itu.’ Seraya berkata: ‘Wahai bumi, himpitlah dia!’ Maka bumi menghimpitnya sampai tulang rusuknya berserakan dan ia akan selalu diazab sampai Allah Swt. membangkitkannya dari kuburannya. (HR. at-Tirmidzi)
Hadits di atas menyatakan tentang keberadaan pertanyaan alam kubur yang ditujukan pada setiap manusia yang telah wafat. Pertanyaan itu adalah: “Apa yang kamu ketahui tentang orang ini?” Abdurrahman al-Mubarakfuri (1353 H) dalam kitab-nya Tuhfah al-Ahwadzi syarah dari Shahih at-Tirmidzi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan lelaki dalam pertanyaan tersebut adalah Nabi Muhammad ﷺ. Pengetahuan kita di dunia tentangnya pada saat itu akan menentukan jawaban apa yang akan kita berikan saat dihadapkan dengan pertanyaan yang demikian. Dalam hadits di atas juga terdapat reka adegan yang menggambarkan bagaimana jika yang ditanya adalah jenazah orang beriman, maka ia akan menjawab dengan lugas. Sebab jawabannya itu, ia diberikan beragam kenikmatan kubur berupa diluaskan kuburnya, dijadikannya liang lahat sebagai tempat peristirahatan yang nyaman baginya. Adapun golongan lainnya yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan sosok Rasulullah ﷺ, tidak dapat berkata apa pun selain ‘Laa Adriy, saya tidak tahu’. Ketidaktahuan mereka disifatkan sebagai bentuk lain kemunafikan seperti yang disebutkan dalam lafaz hadits di atas. Sebab kebodohan mereka akan hal ini, tanah tempat di mana mereka dikebumikan menghimpit jenazah mereka hingga hancur jasadnya.
Qadhi ‘Iyadh (544 H) mengatakan dalam kitab asy-Syifa bahwa mengimani Rasulullah ﷺ merupakan kewajiban bagi setiap orang. Sebagaimana yang Allah Swt perintahkan dalam al-Qur’an:
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنزَلْنَا
Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. (QS. at-Taghabun: 8)
Keimanannya tidak akan sempurna tanpa mengimani kenabian dan kerasulannya, dan keislamannya tidak sah kecuali disertai dengan keimanan tersebut. Kemudian beliau menjelaskan yang dimaksud dengan mengimani Rasulullah ﷺ adalah meyakini kenabian dan kerasulannya serta membenarkan semua hal yang datang darinya. Apabila apa yang diucapkannya dalam dua kalimat syahadat selaras dengan apa yang diimani hatinya, maka sempurnalah keimanannya. Inilah keadaan terpuji yang sempurna. Untuk sampai pada titik keimanan yang kokoh, seseorang membutuhkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi yang di atasnya akan dibangun kepercayaan yang tidak goyah oleh keraguan. Bagaimana seseorang bisa meyakini sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahui apa itu? Sebab jika tidak, umat Nabi Muhammad yang tidak mengenal siapa nabinya, keimanannya hanya berhenti sampai kerongkongan saja. Qadhi ‘Iyadh melanjutkan bahwa yang semacam ini adalah keadaan orang munafik yang hanya mengakui lewat lisannya tanpa membenarkan dalam hatinya.
Ayat dan hadits di atas seharusnya sudah cukup sebagai alasan yang menjawab mengapa kita harus mengenal Rasulullah ﷺ. Hal yang demikian juga agar kita menghindari berbicara tentang beliau ﷺ dengan hal yang bukan haknya, menyamakannya dengan manusia pada umumnya, apalagi mencela dan menghinanya. Sedikit pengetahuan kita tentang besarnya kemuliaan beliau sebagai manusia pilihan Allah Swt akan memberikan kita rambu-rambu untuk menjauhi ucapan maupun perbuatan yang menista dan merendahkan keluhurannya di sisi Allah Swt. Sebab Allah Swt menjanjikan azab pedih lagi menghinakan bagi siapa saja yang secara sadar mencemooh Nabi Muhammad ﷺ.
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Orang-orang yang menyakiti Rasulullah bagi mereka azab yang sangat pedih. (QS. at-Taubah: 61)
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا
Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti (menista) Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.
Atas dasar ayat di atas, sebagian ulama sepakat bahwa pencela Nabi Muhammad berhak dijatuhi hukuman mati. Di antara ulama tersebut adalah Malik bin Anas (179 H), al-Laits (175 H) dan Ahmad bin Hanbal (241 H) seperti yang disebutkan oleh Abu Bakar bin al-Mundzir (318 H).
Jika paparan di atas masih belum cukup menggugah hati untuk lebih jauh mengenal Rasulullah ﷺ, maka coba kembali periksa kondisi hati. Apakah benar yang singgah di sana Rasulullah ﷺ atau ada sosok pujaan lain yang tidak membawamu pada jalan yang menunjukkan keindahan budi pekertinya. Karena seharusnya jika benar di sana ada setitik cinta kepadanya, itu sudah lebih dari cukup sebagai pemantik untuk mengulik serba-serbi tentang Rasulullah ﷺ. Seperti yang Bushiri (696 H) gubah dalam syairnya:
نَعَــمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِيْ * وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَــمِ
Memang benar bayangan orang yang kucinta selalu hadir membangunkan tidurku untuk terjaga. Sedangkan cinta senantiasa menghadirkan luka dalam setiap kenikmatan.
Semoga Allah Swt percikkan sedikit saja di hati kita kecintaan kepada Rasulullah ﷺ yang dengan cinta itu, perlahan kita menitih jalan yang tidak kosong dari ujian dan tipuan. Jasad yang tidak diizinkan untuk hidup bersamanya bukan halangan untuk tetap dapat menikmati kerinduan yang lebih dulu beliau rasakan jauh sebelum kita dilahirkan.
عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ: “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ. وَإِنَّا، إِنْ شَاءَ اللَّهُ، بِكُمْ لَاحِقُونَ. وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا” قَالُوا: أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ “أَنْتُمْ أَصْحَابِي. وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ”. فَقَالُوا: كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ “أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ. بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ. أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟ ” قَالُوا: بَلَى. يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ “فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ. وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ. أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ. أُنَادِيهِمْ: أَلَا هَلُمَّ! فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ. فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا
Dari Abu Hurairah (59 H), bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ pernah berziarah ke pemakaman kaum muslim. Seraya beliau mengucap salam: ‘Assalamu’alaikum, wahai orang-orang beriman. Sesungguhnya kami akan menyusul kalian, insya Allah.’ Kemudian beliau berkata: ‘Duhai, betapa inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku.’ Mendengar hal itu, sahabat yang pada saat itu mendampingi Rasulullah ﷺ keheranan menimpali: ‘Bukankah kami saudaramu, wahai Rasulullah ﷺ?’ Beliau menjawab: ‘Kalian adalah para sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang setelahku.’ Mereka menyambung percakapan dengan bertanya: ‘Bagaimana caramu mengenali umatmu yang datang setelahmu, wahai Rasulullah ﷺ?’ Beliau menjawab: ‘Apakah engkau pernah memperhatikan seseorang yang memiliki kuda putih yang berada di antara kuda hitam dan kuda berwarna lain, apakah dia tidak mengenali kuda miliknya?’ Para sahabat menjawab: ‘Tentu mengenalinya, wahai Rasulullah ﷺ.’ Rasulullah menjelaskan jawabannya: ‘Begitulah keadaan umatku. Mereka akan datang pada hari kiamat dengan cahaya terang benderang bekas dari wudhunya. Aku akan menuntun mereka menuju telaga. Ketahuilah, pada saat itu ada sekelompok orang yang dijauhkan dari telagaku sebagaimana dijauhkannya unta liar dari sahara. Aku memanggil mereka, “Hai, kalian. Kemarilah!” Namun, terdengar suara yang mengatakan bahwa mereka telah berpaling dari ajaranku. Mengetahui hal itu, aku berkata: “Menjauhlah kalian! Menjauhlah!”’