
Saat ini, umat muslim di berbagai penjuru dunia berantusias merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Semua mengekspresikan rasa gembiranya dengan bentuk yang berbeda. Sebagian ada yang menyelenggarakan kajian sirah nabawiyah, sebagian lainnya ada yang menambah jumlah selawatnya. Semua dilakukan semata-mata atas dasar cinta kepada Rasulullah ﷺ. Masing-masing mengambil bagian, menjadikan maulid ini sebagai momen untuk selangkah lebih dekat kepada Rasulullah ﷺ. Karenanya, mari kita ulurkan tangan untuk ikut serta mengambil bagian dari kemuliaan yang Allah Swt hidangkan pada hari kelahiran Nabi dengan cara-cara berikut ini:
Pertama, Mengenal Lebih Dalam Kepribadian Rasulullah ﷺ
Pada umumnya, yang sering diperdengarkan tentang Rasulullah ﷺ adalah akhlaknya. Bagaimana beliau bersabar terhadap cercaan, bagaimana beliau memperlakukan kawan dan lawan, bagaimana beliau berkasih sayang, dan sebagainya. Jarang sekali ada yang menceritakan bagaimana beliau berjalan, apa makanan kesukaannya, barang apa yang tidak boleh tertinggal saat beliau bepergian. Seolah Rasulullah ﷺ adalah tokoh fiksi yang hanya dikisahkan pewatakannya saja. Padahal beliau pernah menapaki bumi yang hari ini kita huni. Fisiknya tidak kalah sempurna dari budi pekertinya. Itulah mengapa disebut sebagai al-Insan al-Kamil, manusia sempurna, Khalqan wa Khuluqan, rupa dan akhlaknya. Jangan sampai kekurangan kita meneladani akhlak sabarnya, keikhlasannya, kedermawanannya, menghalangi kita dari meneladani cara menyisirnya, cara duduknya, caranya bercanda dan tertawa. Karena itu, ulama terdahulu berbaik hati, memfasilitasi kita untuk lebih dalam mengenal Rasulullah ﷺ lewat kitab-kitab mereka yang menghimpun hadits tentang Syamailirrasul, kepribadian Rasulullah ﷺ secara mendetail. Seperti kitab asy-Syama’il Muhammadiyyah karya at-Tirmidzi (279 H), kitab asy-Syifa karangan Qadhi ‘Iyadh (544 H), atau Wasaililwushul ila Syamailirrasul yang ditulis oleh An-Nabhani (1350 H). Dalam kitab-kitab tersebut, diriwayatkan hadits-hadits yang bukan hanya menceritakan akhlak Rasulullah ﷺ saja, namun juga mengabarkan ciri fisik dan kebiasaannya sehari-hari. Seperti hal-hal berikut ini.
Cara Beliau Bersuci, Menyisir, dan Memakai Sandal
عن عائشة قالت: إنْ كان رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيُحِبُّ التَّيمُّنَ في طُهورِهِ إذا تطهَّرَ، و في تَرَجُّلِهِ إذا ترجَّلَ، و في انْتِعالِهِ إذا انتَعَلَ و في شَأنِهِ كُلِّه
Dari ‘Aisyah ra berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sangat menyukai mendahulukan bagian kanan dalam bersuci apabila beliau sedang bersuci, ketika beliau menyisir, saat mengenakan sandal dan dalam keadaan apa pun.
Cara Beliau Bersandar
عن جابر ابن سمرة، قال: رأيتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم مُتَّكِأً عَلى وِسَادَةٍ عَلَى يَسَارِهِ
Dari Jabir bin Samurah ra, beliau bercerita: Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ sedang bersandar dengan bantal ke arah sebelah kirinya.
Cara Beliau Berjalan
عن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا مشى تكفأ تكفّؤا كأنما ينحط من صبب
Dari Ali bin Abi Thalib ra beliau berkata: Rasulullah ﷺ apabila berjalan sigap seperti sedang turun dari tempat tinggi.
Semerbak Keharuman yang Beliau Tinggalkan di Tempat yang Ia Singgahi
عَنْ جَابِرِ ابْنِ عِبْدِ اللهِ قَالَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَمُرُّ فِي طَرِيْقٍ فَيَتْبَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا عَرَفَ أَنَّهُ سَلَكَهُ مِنْ طِيْبِهِ
Dari Jabir bin Abdullah, beliau mengatakan: “Rasulullah ﷺ tidak pernah melintasi suatu tempat kemudian diikuti oleh seseorang melainkan orang tersebut akan mengetahui dari semerbak keharumannya, bahwa Rasulullah baru saja melintasi jalan ini.”
Cara Beliau Makan
عن أبي جحيفة قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم أما أنا فلا آكل متكئا
Dari Abu Juhaifah ra beliau berkata: Rasulullah ﷺ: “Adapun aku, tidak makan sambil bersandar.”
Makanan Favorit Rasulullah ﷺ
عن زهدم الجرمي قال: كنا عند أبي موسى الأشعري فأتى بلحم دجاج فتنحى رجل من القوم، فقال: ما لك؟ فقال: إني رأيتها تأكل شيئا نتنا، فحلفت أن لا آكلها، قال: ادن فإني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكل لحم الدجاج
Dari Zuhdam al-Jarami beliau bercerita: Dahulu, kami pernah sambang ke rumah Abu Musa al-Asy’ari. Dia menyuguhkan kami dengan daging ayam. Kemudian ada seorang di antara kami yang menghindar. Melihat itu, Abu Musa bertanya kepada orang tersebut: “Kenapa kamu menjauh?” Laki-laki tersebut menjawab: “Aku pernah melihatnya memakan bangkai, oleh sebab itu aku bersumpah untuk tidak pernah memakannya lagi.” Abu Musa berkata: Dekatkanlah ayam itu! Sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah ﷺ memakan ayam.”
عن سفينة مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أكلت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم لحم حبارى
Dari Safinah, pembantu Rasulullah ﷺ bercerita: Aku pernah makan daging burung bersama Rasulullah ﷺ.
عن عبد الله ابن جعفر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أطيب اللحم لحم الظهر
Dari Abdullah bin Ja’far berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya daging yang paling lezat adalah daging bagian punggung.
عن أنس بن مالك قال: إن خياطا دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم لطعام صنعه. قال أنس فذهبت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى ذلك الطعام، فقرّب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم خبزا من شعير ومرقا فيه دبّاء وقديد، قال أنس فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتتبع الدباء حوالي القصعة، فلم أزل أحبّ الدباء من يومئذ
Dari Anas bin Malik beliau bercerita: Dahulu ada seorang penjahit yang pernah mengundang Rasulullah ﷺ untuk menyantap makanan yang dibuatnya. Maka pada saat itu aku ikut menemani Rasulullah ﷺ untuk makan. Si penjahit itu menyuguhkan roti dari gandum dan semangkuk sayur yang di dalamnya terdapat labu dan daging yang dikeringkan. Pada saat itu aku melihat Rasulullah ﷺ mencari-cari labu di dalam wadah tersebut. Sejak saat itu, aku jadi menyukai labu hingga saat ini.
Hal yang demikian rasanya lebih mudah untuk kita teladani dalam kegiatan sehari-hari. Sehingga setiap kali kita mengenakan sandal, teringat bagaimana Rasulullah ﷺ memakainya, setiap kali hendak bersandar, teringat ke arah mana beliau biasanya bersandar. Nampak remeh dan sepele. Padahal, jika diniatkan untuk ittiba’ussunnah, mengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ, hubban lahu, karena cinta kepadanya, maka Allah Swt akan memberikan pahala atas perkara yang kita anggap kecil itu. Begitulah caranya bagaimana mereka orang-orang saleh menyaksikan Rasulullah ﷺ pada masa hidupnya. Mereka menghadirkan Rasulullah ﷺ dalam setiap suapan makanan yang masuk ke dalam perut mereka. Ada nafas Rasulullah ﷺ dalam setiap kegiatan mereka sehari-hari.
Cara yang Kedua Adalah Banyak Berselawat Kepadanya
Hari kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah momen yang tepat untuk kita memperbarui niat dalam memperbanyak selawat kepada Rasulullah ﷺ sebagai saksi atas kecintaan kita kepada beliau. Dikatakan dalam sebuah kaidah:
إِذَا أَحَبَّ شَيْأً أَكْثَرَ ذِكْرَهُ
Jika seseorang mencintai sesuatu, ia akan banyak menyebutnya.
Di antara keutamaan memperbanyak selawat adalah mendekatkan diri kita dengan Rasulullah ﷺ pada hari kiamat.
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله عليه وسلم: أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak selawatnya.
Terutama di hari Jumat. Rasulullah ﷺ dalam haditsnya sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak selawat pada hari Jumat.
عن أوس بن أوسٍ، رضي اللَّه عنْهُ قَالَ: قالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “إنَّ مِن أَفْضلِ أيَّامِكُمْ يَوْمَ الجُمُعةِ، فَأَكْثِرُوا عليَّ مِنَ الصلاةِ فِيهِ، فإنَّ صَلاتَكُمْ معْرُوضَةٌ علَيَّ
Dari Aus bin Aus ra berkata: Rasulullah ﷺ bersabda sesungguhnya hari yang paling utama adalah hari Jumat. Maka perbanyaklah selawat kepadaku di dalam hari itu. Karena sesungguhnya selawat kalian disampaikan kepadaku.
Setidaknya, dua hal ini yang dapat kita lakukan untuk mengambil bagian dari kemuliaan yang Allah Swt limpahkan pada hari bahagia ini. Pertama, mengenal lebih jauh sosok Rasulullah ﷺ dengan mengkaji hadits-hadits yang secara detail menggambarkan rupa dan jiwa Rasulullah ﷺ serta menerapkannya dalam keseharian. Kedua, memperbanyak selawat kepada Rasulullah ﷺ. Sebab dalam hadits riwayat al-Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:
إنَّ اللهَ وكَّلَ بِقَبْري مَلَكًا أَعْطَاهُ أَسْمَاعَ الخَلَائِقِ فَلَا يُصَلِّي عليَّ أحَدٌ إِلَى يَوْمِ القيامةِ إلَّا أَبْلَغَنِي بِاسمِهِ واسمِ أبِيْهِ هَذَا فلانُ بنُ فلانٍ قَدْ صَلَّى عليك
Sesungguhnya Allah swt mengutus sesosok malaikat dalam kuburku. Malaikat itu diberikan kemampuan untuk mendengarkan suara makhluk di muka bumi. Maka tidaklah salah seorang di antara kalian berselawat kepadaku melainkan selawat itu akan disampaikan kepadaku dan disebutkan di hadapanku nama orang tersebut beserta nama ayahnya. “Inilah fulan bin fulan telah berselawat kepadamu.”
Itulah bagaimana Rasulullah ﷺ dapat mengenali umatnya. Semoga tulisan kecil ini dapat memantik para pembaca untuk mencari tahu lebih banyak tentang Rasulullah ﷺ. Sebab cinta seharusnya melahirkan rasa ingin tahu tentang keindahan kekasih terpuja.
كلما ازدادت المعرفة به عظمت المحبة له
Semakin bertambahnya pengetahuanmu tentangnya, cintamu akan semakin besar kepadanya.
Semoga upaya kita untuk mengenal Rasulullah ﷺ dan mengenalkan diri kita kepadanya, menghendaki Allah Swt untuk mempertemukan kita dengan Nabi Muhammad ﷺ di dunia dan akhirat. Aamiin.