Standardisasi Khatib Jumat Masjid al-Ibad ash-Shalihun


Jumat, 25 September 2026, alhamdulillah DKM al-Ibad ash-Shalihun, telah menyelenggarakan kegiatan standardisasi khatib. Kegiatan ini merupakan salah satu program yang diusung oleh DKM periode 2026-2027. Didasari oleh kebutuhan peningkatan kualitas khatib dan penetapan ketentuan yang berlaku pada khatib Jumat masjid al-Ibad ash-Shalihun, acara ini dibuat. Tujuannya adalah agar para khatib mendapatkan dasar ilmu khotbah Jumat yang mesti dimiliki dan terpenuhi pada saat pelaksanaan khotbah. Khususnya bagi para khatib muda. Selain itu, kami juga meminta kepada pemateri, juga kepada guru-guru yang turut serta menghadiri kegiatan itu, seperti Ustaz H. Indra Jaya, Ustaz Tohari Syamsudin, Ustaz Yudi Hairudin, Ustaz Haerudin, Ustaz Ihsan Ahmadi, Ustaz Ma’ruf Aqlan, hingga Ustaz Muhammad Syahroni, untuk turut membagikan pengalamannya sebagai khatib yang pernah dididik langsung oleh K.H Ahmad Rifa’i Arief, serta K.H Ahmad Syahiduddin – semoga Allah merahmati keduanya – amin. Agar darinya, kami dapat menghimpun hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menjadi khatib.

Pada kesempatan itu, Ustaz H. Indra Jaya, M.A selaku pemateri memberikan alasan lebih mendalam mengapa kegiatan ini menjadi penting. Pertama, semasa hidup Pak Kiai Ahmad Syahiduddin, Ustaz Indra pernah diamanahkan untuk mengumpulkan para khatib. Tidak lain adalah untuk menyamakan standar khatib yang sesuai dengan syariat dan adat setempat. Beliau mengatakan bahwa kegiatan semacam ini merupakan bentuk dari pengejawantahan wasiat almarhum Pak Kiai. Kedua, perhatian Pak Kiai terhadap kualitas para khatib adalah tanda kepedulian beliau terhadap kesempurnaan ibadah. Sehingga dalam rangka mewujudkan hal itu, para khatib harus mencapai minimal standar syariat. Karena merekalah yang menentukan keabsahan ibadah ketika mampu memenuhi rukun dan syaratnya. Ketiga, para khatib merupakan cermin yang merepresentasikan wajah pesantren ke hadapan para wali santri yang tidak sedikit menjadi jamaah salat Jumat. Maka sudah semestinya, yang tampil adalah wajah-wajah terbaik yang menampakkan kualitas pesantren.

Ustaz Indra melanjutkan pemaparannya dengan menjelaskan satu persatu tentang esensi khotbah Jumat. Merangkap rukun, syarat, sunnah, makruh dan adab khatib saat berada di atas mimbar. Di antara poin-poin penting tersebut, beliau menyisipkan pesan mendalam bagi para khatib agar hendaknya menyiapkan kondisi batin sebelum menaiki mimbar, dengan menjaganya dari perbuatan tercela yang berpotensi menodai kesucian batin. Hal ini lebih penting dari pada sekadar menyiapkan hal-hal yang bersifat lahiriah. Sebagus apapun naskah khotbah yang disiapkan di atas secarik kertas, tidak akan sampai maknanya ke dalam perenungan jamaah. Begitu pungkasnya. Berikut kami paparkan hal-hal yang perlu diperhatikan bagi setiap khatib di Masjid al-Ibad ash-Shalihun, Pesantren Dza Izza Daar el-Qolam 3.

  1. Khatib harus memperhatikan rukun dan syarat khotbah Jumat serta memenuhinya ketika pelaksanaan sebagai tolak ukur keabsahan khotbah Jumat.
  2. Khatib harus suci dari hadats dan pakaiannya mesti suci dari najis. Dianjurkan bagi khatib agar memakai pakaian putih.
  3. Suara khatib harus terdengar jelas. Paling tidak oleh 40 jamaah. Dalam sebuah hadits bahkan digambarkan bahwa saat khotbah, Rasulullah ﷺ lebih seperti sedang menjadi panglima perang karena begitu lantangnya menyuarakan kebenaran di atas mimbar. Maka khatib perlu memperhatikan posisi pengeras suara agar tepat berada di dekat mulutnya.
  4. Di antara poin penting yang disampaikan oleh pemateri dan para guru yang hadir pada kegiatan itu adalah mempersingkat durasi khotbah agar tidak lebih dari 5 – 7 menit. Menurut keterangan yang di sampaikan Ustaz Yudi, hal itu merupakan pesan dari Pak Kiai Almarhum Syahiduddin. Selain karena memang disunnahkan demikian, juga memperhatikan kondisi santri yang sudah sejak pukul 11.00 WIB iktikaf di masjid. Menghindari kejenuhan, pelaksanaan khotbah Jumat harus dilaksanakan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. ‘Khotbah tidak boleh lebih panjang durasinya dari salat.’ Begitu ungkap Ustaz Indra.
  5. Penting bagi seorang khatib untuk menyesuaikan diri dengan adat setempat. Terlepas dari rukun dan syarat khotbah yang menjadi standar syariat, ada hal lain yang perlu diketahui oleh para khatib sebelum berkhotbah. Biasanya, masing-masing daerah memiliki adat yang berbeda dari tempat yang lainnya. Seperti misalnya, di Masjid al-Ibad ash-Shalihun, sebelum khatib memulai khotbahnya, ada seorang yang disebut dalam kitab Raudhah ath-Thalibin sebagai al-Muraqqi bertugas untuk menghimbau jamaah agar mendengarkan, menyimak dan tidak bersenda gurau saat khatib sedang berkhotbah demi kesempurnaan salat Jumat.
  6. Setelah salat usai, imam membaca surat al-Fatihah sebanyak 7 kali dan surat al-Ikhlas, al-Falaq serta an-Nas masing-masing 3 kali.
  7. Imam salat Jumat wajib membaca doa yang biasa dibaca pada hari Jumat. Seperti yang diajarkan oleh Pak Kiai Syahid. Doa akan dilampirkan di bawah setelah pemaparan tuntas.
  8. Di ujung doa, imam membaca syair Abu Nawas yang juga dikenal dengan sebutan al-I’tiraf.
  9. Terakhir, sebagai bentuk pemanfaatan akun media sosial resmi milik pesantren sekaligus mensyiarkan kebaikan, khatib dianjurkan untuk mengirim naskah khotbah kepada tim redaksi Dza Izza untuk kemudian diolah menjadi Hikmah Jumat. Harapannya, manfaat dan ilmunya meluas serta dapat dikonsumsi oleh banyak orang.

  10. Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut berkontribusi demi terlaksananya kegiatan ini. Kami juga sangat mengapresiasi keikutsertaan para khatib pada kegiatan tersebut dan ikut meriwayatkan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu kami. Semoga kegiatan ini menjadi awal langkah menuju perbaikan dan peningkatan kualitas khatib di Masjid al-Ibad ash-Shalihun, Pesantren Dza ‘Izza Daar el-Qolam 3. DKM terus mengupayakan untuk meningkatkan kenyamanan ibadah para santri dan asatidz dengan meningkatkan kualitas petugas masjid, baik imam mau pun khatib. Begitu pula kebersihan dan kerapiaan masjid yang juga dipesankan oleh Ustaz Indra agar dibuat sebaik mungkin untuk disinggahi. Hal ini sebagai bentuk memuliakan masjid, tempat yang paling mulia di atas muka bumi. Karenanya, kami memohon doa dan dukungannya. Mohon maaf jika masih terdapat kekurangan dalam memakmurkan masjid. Hal yang lebih penting dari pada menyiapkan tempatnya adalah datang dan ikut meramaikan rangkaian ibadah rutin di masjid, seperti salat berjamaah lima waktu. Semoga Allah swt memberikan kita hidayah dan taufik. Izinkan kami mengakhiri tulisan ini dengan melampirkan susunan zikir dan doa yang dibaca setelah salat Jumat.

ZIKIR & DOA SETELAH SALAT JUMAT

سورة الفاتحة (7 مرّات)

سورة الإخلاص (3 مرّات)

سورة الفلق (3 مرّات)

سورة الناس (3 مرّات)

قراءة الدعاء التالي

الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدَ الشَّاكِرِيْن حَمْدَ النَّاعِمِيْن حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَةً يَارَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ

سُلْطَانِكَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِ الأَنْوَار وَسِرِّ الأَسْرَار وَتِرْيَاقِ الأَغْيَار وَمِفْتَاحِ البَابِ اليَسَار سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ المُخْتَار وَآلِهِ الأَطْهَار

وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَار عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَإِفْضَالِه. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهٌمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ المُؤْمِنِيْن وَالمُؤْمِنَات

وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَات الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَات إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات يَا قَاضِيَ الحَاجَات. اللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْد يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْد

يَا رَحِيمُ يَا وَدُوْد يَا ذَا الطَّوْلِ وَيَا ذَا العَرْشِ المَجِيْد وَيَا فَعَّالٌ لِمَا يُرِيْد وَيَا مَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْأً أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْن أَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ

وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ

وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم. بِفَضْلِكَ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِينَ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِينَ

إِلَهِي لَسْتُ لِلفِردَوسِ أَهلاً … وَلَا أَقْوَى عَلَى نَارِ الجَحِيمِ … فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوبِي … فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنبِ العَظِيمِ (5 مرّات)