
Kita sering mengira orang yang paling banyak mendapatkan ilmu adalah orang yang sedang duduk mendengarkan. Ternyata belum tentu.
Pagi itu seorang santri kelas 3 SMA berdiri di depan kelas. Biasanya ia duduk di bangku bersama teman-temannya. Mendengarkan guru menjelaskan, mencatat kalau sedang rajin, sesekali mengangguk seolah semuanya sudah dipahami.
Hari itu berbeda. Ia berdiri di tempat yang biasanya ditempati ustaznya. Di tangannya ada bahan ajar yang mungkin sudah dibaca berkali-kali. Malam sebelumnya ia menyiapkan materi, memikirkan bagaimana membuka pelajaran, mencari contoh yang mudah dipahami, lalu membayangkan pertanyaan apa yang mungkin muncul.
Inilah salah satu bagian menarik dari Amaliyah Tadris di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Santri kelas 3 SMA mendapatkan kesempatan untuk praktik mengajar. Sekilas, kegiatannya sederhana, ada yang mengajar, ada yang belajar. Tetapi sebenarnya, sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Sebab ketika seseorang harus mengajarkan sesuatu kepada orang lain, ia tiba-tiba menyadari bahwa “pernah belajar” tidak selalu berarti “sudah mengerti.”
Cobalah. Ambil sebuah topik yang kita merasa sudah menguasainya. Lalu berdirilah di depan lima orang dan jelaskan tanpa membaca catatan. Biasanya baru beberapa menit kita mulai menemukan lubangnya. “Sebentar. Ini sebenarnya kenapa, ya?”
Kita tahu jawabannya, atau lebih tepatnya, kita merasa tahu jawabannya. Sampai seseorang bertanya, “Kenapa?” Pertanyaan sederhana itu kadang mempunyai kemampuan luar biasa untuk menghancurkan kepercayaan diri. Apalagi kalau dilanjutkan dengan: “Contohnya apa?” Lalu guru dadakan di depan kelas mulai menatap langit-langit. Seolah jawaban sedang diturunkan dari sana.
Peter C. Brown, Henry L. Roediger III, dan Mark A. McDaniel dalam Make It Stick menjelaskan bahwa belajar yang kuat tidak hanya terjadi ketika kita memasukkan informasi ke dalam kepala. Proses mengingat kembali, menjelaskan, menghubungkan gagasan, dan menggunakan pengetahuan justru membantu memperkuat pemahaman.
Itulah mengapa mengajar mempunyai keistimewaan tersendiri. Ketika belajar untuk diri sendiri, kita mungkin cukup mengatakan: “Saya paham.” Tetapi ketika harus mengajar, standar itu berubah. “Apakah saya bisa membuat orang lain paham?” Dua kalimat itu kelihatannya hampir sama. Padahal jaraknya bisa sangat jauh.
Seorang santri mungkin sudah membaca satu bab berkali-kali. Tetapi ketika harus menjelaskannya di depan kelas, ia perlu menyusun ulang pengetahuan tersebut. Mana yang harus dijelaskan terlebih dahulu? Contoh apa yang paling mudah? Kalau ada yang tidak mengerti, bagaimana menjelaskannya dengan cara lain? Apa inti dari semua materi ini?
Tanpa sadar, ia sedang belajar sekali lagi. Bahkan mungkin lebih serius daripada ketika pertama kali mempelajarinya. Ada ungkapan yang sering dikaitkan dengan prinsip belajar: Ketika kita belajar untuk mengajar, cara kita belajar ikut berubah.
Kita tidak lagi sekadar mencari jawaban. Kita mencari pemahaman. Dan mungkin di situlah salah satu rahasia mengapa para guru sering terlihat begitu menguasai materi yang diajarkannya. Bukan selalu karena sejak awal mereka tahu semuanya. Bisa jadi karena mereka sudah menjelaskannya puluhan kali. Pertanyaan demi pertanyaan membuat pengetahuan mereka semakin rapi. Kesalahan membuat mereka belajar lagi.
Wajah murid yang kebingungan memaksa mereka mencari cara lain. Kadang-kadang seorang murid bahkan memberikan pertanyaan yang membuat gurunya pulang membawa pekerjaan rumah. Guru datang untuk mengajar. Ternyata ia juga pulang membawa pelajaran.
Amaliyah Tadris karena itu bukan sekadar latihan bagaimana berdiri di depan kelas. Ia adalah latihan tentang memberi. Santri membawa sesuatu yang selama bertahun-tahun ia terima dari para ustaz dan gurunya, lalu mencoba meneruskannya kepada orang lain. Ada ilmu yang berpindah. Ada pengalaman yang dibagikan. Ada keberanian yang tumbuh.
Dan mungkin ada seseorang di dalam kelas yang memahami sesuatu karena penjelasan kita. Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa jauh sebuah ilmu akan berjalan. Seorang guru mengajarkan sesuatu kepada muridnya. Murid itu beberapa tahun kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Orang lain tersebut menggunakannya untuk mengambil keputusan. Keputusan itu mungkin membantu keluarganya, pekerjaannya, atau bahkan masyarakatnya.
Guru pertama tadi mungkin sudah lupa pernah mengajarkannya. Tetapi ilmunya belum berhenti berjalan. Dalam Islam, gagasan ini mempunyai kedudukan yang sangat istimewa.
Rasulullah saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Ada dua aktivitas di sana. Belajar dan mengajarkan. Ilmu tidak berhenti pada diri sendiri. Dan dalam hadis lain, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah:
عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
ilmu yang bermanfaat.
Menarik sekali. Harta yang kita kumpulkan suatu hari akan berpindah tangan. Jabatan akan digantikan. Nama kita perlahan mungkin semakin jarang disebut. Tetapi sesuatu yang pernah kita ajarkan bisa saja masih hidup di kepala seseorang. Barangkali inilah salah satu bentuk kekayaan yang paling aneh. Ketika dibagikan, ia tidak berkurang. Justru bertambah.
Kita memberikan ilmu kepada orang lain, orang itu menjadi lebih tahu, sementara pemahaman kita sendiri sering kali menjadi lebih kuat. Satu pengetahuan dibagikan kepada dua puluh orang tidak membuat kita kehilangan seperdua puluh pengetahuan. Kita tetap memilikinya. Sekarang dua puluh orang lain ikut memilikinya.
Tidak banyak hal di dunia bekerja seperti itu. Kalau kita mempunyai satu roti lalu memberikannya kepada orang lain, roti kita berkurang. Kalau kita mempunyai uang seratus ribu lalu memberikan lima puluh ribu, saldo kita juga memahami matematika. Tetapi ilmu mempunyai cara berhitung yang berbeda. Semakin banyak diberikan, semakin banyak orang yang memilikinya.
Dan sering kali, semakin dalam kita sendiri memahaminya. Mungkin karena itu seorang guru sebenarnya tidak pernah benar-benar hanya memberi. Ketika ia mengajar kesabaran, ia sedang belajar bersabar menghadapi murid yang belum memahami. Ketika ia menjelaskan, ia sedang belajar menyederhanakan.
Ketika mendapat pertanyaan, ia sedang belajar rendah hati bahwa masih ada yang belum diketahuinya. Ketika berdiri di depan kelas, ia sedang belajar keberanian. Dan ketika melihat seseorang akhirnya berkata, “Oh, sekarang saya mengerti,” ada kebahagiaan yang sulit dimasukkan ke dalam angka.
Hari ini mungkin seorang santri berdiri di depan kelas hanya selama beberapa puluh menit. Tangannya mungkin sedikit dingin. Materinya mungkin tidak tersampaikan sempurna. Ada kalimat yang terlupa. Ada penjelasan yang terasa kurang jelas. Ada teman di belakang yang mungkin lebih sibuk menunggu jam pelajaran selesai. Tidak apa-apa. Guru-guru hebat pun pernah mempunyai hari pertama mengajar. Yang penting mungkin bukan apakah hari itu ia tampil sempurna. Yang lebih penting adalah ia sedang mengalami sesuatu yang selama ini hanya dilihatnya dari bangku murid. Ia mulai memahami bahwa mengajar bukan sekadar berbicara di depan kelas.
Mengajar adalah tanggung jawab agar sesuatu yang kita ketahui bisa menjadi sesuatu yang dipahami orang lain. Dan mungkin beberapa tahun lagi, para santri yang hari ini mengikuti Amaliyah Tadris akan menjalani jalan hidup yang sangat berbeda. Ada yang menjadi dokter, pengusaha, insinyur, akademisi, pemimpin, ustaz, profesional, atau berbagai profesi yang hari ini bahkan belum mereka bayangkan.
Tidak semuanya akan menjadi guru dalam pengertian formal. Tetapi hampir semuanya suatu hari akan menjadi pengajar. Seorang kakak mengajari adiknya, seorang ayah mengajari anaknya, seorang ibu membimbing keluarganya, seorang pemimpin membagikan pengalaman kepada timnya, seorang profesional mengajari juniornya, seorang alumni kembali ke pesantren dan menceritakan pelajaran hidup kepada adik-adiknya. Kelasnya berubah, muridnya berubah, materinya berubah, tetapi tugasnya tetap sama: meneruskan sesuatu yang pernah kita terima.
Maka mungkin Amaliyah Tadris sebenarnya sedang mengajarkan pelajaran yang jauh lebih besar daripada bagaimana membuat RPP, membuka pelajaran, menjelaskan materi, atau mengelola kelas. Ia sedang mengajarkan bahwa ilmu mempunyai perjalanan.
Hari ini kita menerimanya, besok kita menjaganya, lusa kita membagikannya, dan suatu hari nanti, mungkin kita sudah lupa pernah mengatakan sebuah kalimat kepada seseorang. Tetapi orang itu masih mengingatnya. Ia mengajarkannya kepada anaknya. Anaknya mengajarkannya kepada orang lain. Dan ilmu itu terus berjalan tanpa meminta izin kepada usia kita.
Pagi tadi seorang santri berdiri di depan kelas. Kita mengira ia sedang mengajar adik-adik kelasnya. Mungkin benar. Tetapi kalau diperhatikan lebih lama, ternyata hari itu ada dua pihak yang sedang belajar. Mereka yang duduk di bangku belajar dari apa yang ia sampaikan. Dan santri yang berdiri di depan kelas sedang mempelajari sesuatu yang mungkin jauh lebih penting: bahwa salah satu cara terbaik untuk menjaga ilmu adalah dengan memberikannya.
RUJUKAN
Brown, P. C., Roediger III, H. L., & McDaniel, M. A. (2014). Make it stick: The science of successful learning. Harvard University Press.
HR. Bukhari No. 5027, tentang keutamaan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.
HR. Muslim No. 1631, tentang tiga amal yang terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, termasuk ilmu yang bermanfaat.