
Tebal sekali awan kelam pagi tadi menyekap bumi. Gerimis tipis menyertai langkah kecil penuntut ilmu yang siap mengais ceceran ilmu yang ditebar hari ini. Kendati langit pagi ini terlihat sedang enggan menampakkan pesonanya, mereka tetap melekaskan derap langkahnya menuju medan perjuangan, apel Sabtu pagi di lapangan.
Setelah komandan apel menyiapkan barisannya, dengan suara lengking, anak putri kelas 10 itu memberanikan diri membuka dan memandu acara. Sepertinya ini adalah pengalaman pertamanya. Membawakan acara berbahasa Arab di hadapan kakak dan adik kelasnya. Barangkali, segelintir guru yang hadir pagi tadi sedikit mengurangi gugupnya. Gelap yang tadi hanya awan, perlahan menjadi setitik dua titik air hujan. Bekas hujan semalam belum kering, sudah dibasahi lagi olehnya. Namun, tak satu pun dari mereka lari meninggalkan barisannya. Bahkan, genangan air yang kebetulan berada di jalur lintasan pasukan putri pengibar bendera, tidak lantas membuat langkah tegak maju anak-anak tangguh itu melemah. Mereka tidak khawatir sepatu dan celananya basah akibat cipratan besar sebab hentakan kakinya. Padahal, setelah itu mereka harus masuk ke sekolah menggunakan sepatu yang sama.
Terpukau dengan keteguhan yang mereka suguhkan, aku sampai tidak sadar dua tetes itu, kini menjadi jutaan hujan yang turun halus perlahan. Dari atas panggung utama, terlihat beberapa anak di barisan belakang nampaknya mulai gusar dengan rintik hujan yang mulai membasahi peci dan jas ungu mereka. Barang kali, mereka sempat berharap upacara dibubarkan jika dipertengahan kondisi cuaca tidak memungkinkan seperti yang dijanjikan Ustaz Mis sebelum upacara dimulai.
Gumpalan awan yang semakin gelap, memaksa kami pagi tadi kejar-kejaran dengan hujan. Dengan cermat, pembawa acara yang gugup tadi melangkah ke rangkaian acara yang lainnya. Mengamati kondisi anak-anak yang warna ungu jasnya menggelap karena basah, dengan singkat Ustaz Tom menyampaikan amanat tanpa mengurangi ruh pendidikan di dalamnya. Aku menduga, sepertinya awan di atas sana juga sedang berusaha menahan dan menunda hujan. Supaya anak-anak tidak basah kedinginan. Meski mungkin dia pun tahu, hujan tidak membuat mereka mengurungkan niat belajarnya. Benar saja, seperti yang sudah-sudah, hujan baru lepas saat anak-anak rapi duduk dengan kitab di dalam kelas mereka. Sampai hari ini, hal itu masih menjadi sebuah misteri. Tentang hujan yang tiba-tiba berhenti ketika bel masuk kelas berbunyi. Seolah alam pun memberi jeda dan menggelarkan karpet merah untuk ditapaki niat-niat suci mereka. Mungkinkah ini bagian dari pada kebenaran sabda Nabi tentang semesta yang turut berdoa bagi hamba yang menjadikan ilmu sebagai caranya beribadah? Entahlah, sebagai guru, terkadang aku hanya malu dengan ketulusan mereka menuntut ilmu. Bukan berburu pahala dengan menebar ilmu, malah beralasan ini-itu. Alih-alih menambah wawasan dan pengalaman, aku hanya duduk diam di kursi guru dengan bahasan lama dan bahasa yang membosankan. Maafkan Ustaz ya, Nak.

Maafkan pagi ini, Ustaz hanya bertengger angkuh di atas panggung. Ingin rasanya membersamai kalian basah berkah di bawah gerimis hujan. Namun, apa daya. Ustaz memiliki kewajiban untuk mengisi kehampaannya. Semangat kalian yang menembus dingin pagi ini untuk berdiri tegak di bawah siraman langit, mengingatkanku tentang Musa yang belajar kepada Khidir. Dalam kisahnya yang dimulai pada ayat 60 surat al-Kahf, Khidir memberikan syarat kepada Musa: jika ia ingin berguru kepadanya, maka selama prosesnya ia dilarang banyak bertanya. Pagi ini aku melihat pelajaran itu tertanam dalam di benak kalian. Tidak ada pertanyaan apa pun sebagai bentuk protes dari kalian saat bising klakson motor memecah keheningan, menggiring ragamu ke tengah lapangan. Aku bersangka baik, semoga itu adalah tanda kepatuhan kalian kepada para pendidik. Bukan karena kebebasan berpikirmu dibungkam oleh kepasifan yang ditularkan dari lingkungan.
Meski sebenarnya aku bukan Khidir dan kalian bukan Musa. Aku tidak berhak dipatuhi secara mutlak seperti Khidir, dan kalian boleh saja bertanya tentang apa saja yang membuat kalian keheranan. Padahal, Musa saja masih banyak bertanya di tengah masa belajarnya hingga akhirnya Khidir meninggalkannya. Sedangkan aku tidak seperti Khidir yang mengetahui hakikat sesuatu dari Tuhan dan menjamin kebenaran dari setiap apa yang ia perintahkan.
Maafkan Ustaz, Nak. Jika terlalu sombong memposisikan diri seperti Khidir yang menutup pintu pertanyaan bagi kalian terhadap sesuatu yang tidak kalian mengerti. Maafkan atas setiap perintah yang tanpa penalaran dan hampa alasan. Ustaz lebih sering menuntut nurut kalian daripada memahami bagaimana kalian mampu mencerna pengetahuan dan menjalani kewajiban. Semoga awan sendu hari ini tidak cukup tebal menghalangi doa yang kita langitkan di bawah rintik hujan, seraya meminta: ‘Semoga Allah tuntun langkahku dan kalian memerankan peran terbaik yang saat ini kita lakonkan. Aku menjadi guru seperti Muhammad ﷺ yang mendudukkan dan menyebut muridnya sebagai sahabat, dan kalian seperti sahabat Muhammad ﷺ yang memuliakannya lebih daripada kepada seorang raja. Menjadi guru seperti Muhammad ﷺ yang tidak enggan menjelaskan berulang kali, dan murid seperti sahabatnya yang tetap menjaga adab ketika hendak bertanya, meski Muhammad ﷺ lebih sering memancing mereka dengan pertanyaan.’ Membumbunglah doa yang kita aminkan bersama.