Ramadanku
Portrait of an elderly man with a long grey beard wearing a white turban and a dark blue buttoned robe against a pale background, surrounded by a green decorative border with Arabic text along the bottom.
Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini Al-Halabi. Mufassir dan Muhaddits asal Suriah. Salah satu muridnya yang menonjol adalah Syekh Nuruddin ‘Itr yang membuat kitab khusus berisi biografi sang guru.

Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kita hingga bulan Sya’ban. Setelah lalai menyia-nyiakan Rajab, Tuhan masih memberikan kesempatan sekali lagi untuk mengais sisa-sisa kemuliaan yang tercecer di antara tiga bulan agung ini, sebelum akhirnya tiba Ramadan bulan puasa. Di antara bentuk amalan yang tidak boleh luput dari bulan ini adalah menuntut ilmu. Untuk menopang niat baik itu, dibuatlah serial “Ramadanku” sebagai rupa suka cita menyambut datangnya bulan suci dengan mempelajari segala hal tentang Ramadan. Mulai dari pensyariatan puasa, adab di bulan Ramadan, hingga keutamaan malam Lailatul Qadar. Dalam hal ini, penulis menjadikan kitab Ash-Shiyam: Adabuhu, Mathalibuhu, Fawaiduhu, Fadhailuhu karya seorang ahli tafsir dan ahli hadits asal Suriah yang wafat pada tahun 1422 Hijriyah, Syekh Abdullah bin Najib Sirajuddin al-Husaini al-Halabi, sebagai media pembelajaran.

Pensyariatan Puasa

Pembahasan ini mencangkup 3 perkara utama:

Pensyariatan Puasa Bagi Semua Umat

Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 183 berkenaan dengan perintah puasa:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa perintah puasa itu menyeluruh: untuk umat ini (umat Muhammad ﷺ), dan umat yang lainnya. Tiada satu pun syariat langit yang luput darinya. Karena sesungguhnya puasa adalah maslahat pokok bagi umat manusia serta derajat luhur yang sempurna. Sebagaimana hikmah puasa yang diisyaratkan lewat firman-Nya adalah agar seorang hamba sampai kepada takwa.

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Agar kalian bertakwa.

Maknanya, agar kamu sekalian mencapai predikat takwa berkat ibadah puasa kalian. Dalam ibadah puasa, terkandung penjagaan yang mencegah hal-hal berikut ini dari pelakunya: memelihara badan dari penyakit, memelihara anggota tubuh dari kejahatan syahwat, menjaga akal dari memikirkan sesuatu yang keliru, serta melindungi hati dari was-was dan tipu daya.

Ada pun dalil yang menunjukkan tentang keumuman perintah ibadah puasa kepada seluruh umat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari al-Harits al-Asy’ari ra. beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya Allah swt memerintahkan Yahya putra Zakariya alaihimassalam dengan 5 perintah yang harus ia kerjakan dan memerintahkan Bani Israil agar mengerjakannya. Maka ia pun mengumpulkan umatnya di Bait al-Maqdis hingga masjid menjadi padat sesak dengan manusia yang duduk di pelataran. Yahya pun bersabda: ‘Sesungguhnya Allah swt memerintahkanku dengan 5 hal yang harus aku kerjakan dan aku diperintahkan untuk memerintahkan kalian agar kalian pun mengerjakanannya: Pertama, sembahlah Allah swt dan jangan menyekutukannya dengan apa pun. Sesungguhnya perumpamaan orang yang menyekutukan Allah swt adalah seperti seseorang yang membeli budak yang tidak punya harta. Tuan itu berkata kepada budaknya: ‘Ini adalah rumah dan pekerjaanku. Kerjakanlah dan tunaikan kewajibanmu untukku. Akan tetapi budak ini malah mengerjakan pekerjaan yang bukan milik tuannya. Maka, manakah di antara kalian yang rela memiliki budak demikian?

Sesungguhnya Allah swt memerintahkan kalian untuk salat. Apabila kalian sedang salat, maka janganlah kalian berpaling. Karena sesungguhnya Allah swt menghadapkan kehadirat-Nya kepada hamba selama ia tidak berpaling dari-Nya.

Allah swt memerintahkan kalian untuk berpuasa. Karena sesungguhnya perumpamaan orang yang berpuasa adalah seperti seseorang yang berada di dalam balutan kain, di dalamnya ada minyak misik. Semua orang terpesona dengan keharumannya. Sesungguhnya wangi orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari minyak misik.

Allah swt memerintahkan kalian untuk bersedekah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang bersedekah adalah seperti seseorang yang sedang ditawan oleh musuh. Musuh-musuh itu mengikat kedua tangannya ke lehernya dan mereka membawanya untuk dipenggal. Kemudian sedekah itu berkata kepada mereka: ‘Aku tebus orang itu dengan sejumlah harta yang sedikit mau pun banyak.’ Maka sedekah itu menjadi tebusan bagi orang tersebut dari musuh-musuhnya.

Allah swt memerintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah swt. Sesungguhnya perumpamaan orang yang berzikir adalah seperti orang yang kabur dari genggaman musuh yang siap menebasnya. Hingga apabila ia masuk ke dalam benteng, maka benteng itu akan melindunginya dari serangan musuh. Begitu pun seorang hamba yang tidak terlindung dari serangan setan kecuali ia berzikir kepada Allah swt.

Berdasarkan hadits ini, ibadah puasa disyariatkan dalam setiap syariat Allah swt kepada umat-umat terdahulu. Hanya saja berbeda bilangan dan waktunya. Pada syariat yang lain, puasa diwajibkan selama setahun penuh. Seperti syariatnya Nabi Nuh ‘alaihissalam. Hal itu karena sesuai dengan fisik mereka yang kuat. Ada pula yang disyariatkan puasa selama 50 hari. Begitulah kira-kira perbedaan syariat puasa antar umat. Perbedaan itu terjadi karena perbedaan keadaan dan latar belakang sosial-histori.

Allah swt telah mewajibkan ibadah puasa kepada umat terbaik sepanjang masa, umat Nabi Muhammad ﷺ pada bulan yang paling mulia dalam setahun. Ketahuilah, bulan itu adalah Ramadan. Inilah syariat puasa yang paling sempurna dan maslahat untuk manusia. al-Bazzar meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Sa’id ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

سيد الشهور شهر رمضان و أعظمها حرمة ذو الحجة

Penghulunya bulan-bulan adalah bulan Ramadan. Sedangkan yang paling besar kehormatannya adalah bulan Dzul Hijjah.

Ath-Thabrani juga meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra. beliau berkata:

سيد الشهور شهر رمضان و سيد الأيام يوم الجمعة

Penghulunya bulan-bulan adalah bulan Ramadan. Sedangkan penghulunya hari-hari adalah hari Jumat.

Kewajiban Puasa Ramadan

Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah.

Sedangkan dalam hadits, diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dari Anas bin Malik ra. beliau bercerita: ‘Suatu hari kami sedang duduk di hadapan Rasulullah ﷺ di masjid. Sejurus kemudian, datanglah seorang laki-laki mengendarai unta. Setelah mengikat untanya, ia bertanya kepada kami yang berada di dalam masjid bersama Rasulullah ﷺ, seraya bertanya: ‘Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?’ Spontan kami menjawab: ‘Ini dia yang kau cari. Sosok laki-laki berkulit putih yang sedang bersandar.’ Memastikan kebenaran, orang itu bertanya meyakinkan dirinya: ‘Muhammad cucu Abdul Muttalib?’ Rasulullah ﷺ mengiyakan agar hilang keraguannya. Setelah yakin bahwa lawan bicaranya adalah Rasulullah ﷺ, ia kembali bertanya dan menegaskan: ‘Aku hendak bertanya dengan serius.’ Rasulullah ﷺ menimpali dan bersedia dihujani pertanyaan: ‘Tanyakanlah apa yang muncul di benakmu!’

‘Aku bertanya kepadamu demi Tuhanmu dan Tuhan nabi-nabi sebelummu, apakah Allah yang mengutusmu kepada semua manusia?’

‘Demi Allah, benar.’

‘Semoga Allah menolongmu. Apakah benar Allah yang menyuruhmu melaksanakan salat 5 kali sehari semalam?’

‘Demi Allah, benar.’

‘Semoga Allah menolongmu. Apakah benar Allah yang menyuruhmu berpuasa pada bulan ini dalam setahun?’

‘Demi Allah, benar.’

‘Semoga Allah menolongmu. Apakah benar Allah yang menyuruhmu mengambil sedekah orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin?’

‘Demi Allah, benar.’

Setelah bertanya banyak, akhirnya laki-laki itu menyatakan keislamannya dan bersaksi:

آمنت بما جئت به

Aku beriman dengan ajaran yang engkau bawa.

Rasulullah ﷺ telah menjadikan ibadah puasa sebagai salah satu rukun di antara rukun islam yang lima. Beliau bersabda dalam haditsnya:

بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان (متفق عليه)

Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan berpuasa di bulan Ramadan. (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Peringatan bagi yang meninggalkan puasa Ramadan tanpa uzur

Peringatan yang tegas dan ancaman yang keras diterangkan dalam hadits Rasulullah ﷺ bagi orang-orang yang sengaja tidak berpuasa pada bulan Ramadan tanpa uzur syar’i seperti safar, sakit atau uzur lainnya. Imam at-Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasa’i meriwayatkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة ولا مرض لم يقضه صوم الدهر كله و إن صامه

Barang siapa yang sengaja tidak berpuasa sehari saja dari bulan Ramadan, niscaya ia tidak akan dapat menebusnya dengan puasa setahun penuh meskipun ia melaksanakannya.

Para ulama menambahkan keterangan bahwa yang dimaksud dengan makna hadits di atas adalah orang tersebut tidak mendapatkan keutamaan bulan Ramadan, tidak pula kesucian dan keberkahannya. Meskipun secara tinjauan fikih, hutang puasanya gugur setelah mengqadhanya dan menunaikan kafarat sebagai tebusan pelanggaran syariat yang telah diperbuat.