Adab-Adab Berpuasa
Large, gold-lit mosque with a central dome flanked by smaller domes and two tall minarets, glowing against a starry night sky with a crescent moon and silhouetted low-rise buildings and palm trees in the foreground.


Demi kesempurnaan pahala puasa, seorang hamba seharusnya memperhatikan adab-adab yang tidak kalah penting untuk dijaga sebagai seorang muslim. Berikut adab-adab yang telah dirangkum oleh Syekh Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam risalah puasanya.

Menjaga Lisan dan Anggota Tubuh
Hendaknya seorang muslim yang berpuasa menjaga lisan dan anggota tubuh lainnya dari perkara yang haram dan dosa. Sebagai bentuk realisasi dari makna puasa itu sendiri, al–Imsak yang berarti menahan. Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الصيام جُنة. فلا يرفث ولا يجهل وإن امرؤ قاتله أو شاتمه فليقل: إني صائم، إني صائم مرتين. والذي نفسي بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

Puasa itu adalah perisai. Maka janganlah seseorang mengucapkan kata-kata yang keji, tidak pula berbuat dosa. Apabila ada orang lain yang memancing amarah atau mencela, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa. Sesungguhnya saya sedang berpuasa.’ Sebanyak dua kali. Demi Dzat yang jiwa berada dalam genggaman-Nya, aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah swt dari pada harum minyak misik.

Dalam hadits yang lain, al-Bukhari juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ pernah berjanji tentang orang yang tidak membiarkan dirinya mengucapkan perkataan dusta atau pun melakukan sebuah kebohongan, niscaya Allah swt tidak akan menyia-nyiakan makan dan minumnya.

Ibnu Majah, an-Nasa’i serta perawi lainnya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra. berkenaan dengan hilangnya pahala orang puasa dan orang yang salat malam. Keduanya merupakan ibadah yang agung. Namun, karena tidak dibingkai dengan adab-adab Islami, pahalanya gugur. Hingga yang tersisa hanyalah lapar dan kelelahan. Rasulullah ﷺ bersabda:

رُب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع و رُب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

Berapa banyak orang berpuasa. Ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu selain rasa lapar. Berapa banyak pula orang yang salat malam. Ia tidak mendapatkan apa pun selain begadang.

An-Nasa’i dan ath-Thabrani dengan sanad yang shahih meriwayat hadits Rasulullah ﷺ. Bahwasanya beliau bersabda:

الصيام جُنة ما لم يخرقها. قال: وبم يخرقها؟ قال: بكذب أو غيبة

Puasa itu adalah pelindung selama orang yang berpuasa tidak membakarnya. Sahabat bertanya: ‘Dengan apa dia membakarnya?’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Dengan dusta dan gibah.’

Puasa itu adalah penjaga yang menghalangi orang yang melaksanakannya dari azab selama ia tidak membakarnya dengan kebohongan dan gibah.

Dikisahkan dari Ubaid, salah satu budak Rasulullah ﷺ. Suatu hari ada dua orang perempuan yang sedang berpuasa. Kemudian ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ: ‘Wahai Rasulullah. Sesungguhnya di sini ada dua orang perempuan yang sedang berpuasa. Mereka hampir mati karena kehausan.’ Mendengar itu, Rasulullah ﷺ terdiam sejenak. Lalu menyuruh laki-laki tersebut untuk memanggil kedua wanita itu. Maka tibalah mereka di hadapan Rasulullah ﷺ. Tak lama, mereka didatangi dengan wadah besar. Setelah itu, Rasulullah ﷺ berkata kepada salah seorang di antara dua perempuan tersebut: ‘Keluarkanlah apa yang ada dalam perutmu!’ Maka perempuan itu mengeluarkan muntah, darah, nanah dan potongan daging. Hingga memenuhi setengah dari wadah besar itu. Hal serupa terjadi pula dengan perempuan lainnya. Hingga darah, nanah, muntah dan daging busuk memenuhi wadah besar tersebut. Melihat kejadian menjijikan itu, Rasulullah ﷺ merespon dan bereaksi memberikan penjelasan: ‘Sesungguhnya kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka berdua. Akan tetapi, mereka berbuka dengan sesuatu yang Allah haramkan bagi mereka. Mereka berdua saling membicarakan aib orang lain. Seolah-olah mereka berdua sedang makan daging-daging manusia yang digibahkan.’ Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Begitu pula hadits riwayat ad-Dailami yang menegaskan betapa berbahayanya gibah bagi seorang muslim. Menggerogoti pahala layaknya api yang melahap kayu bakar. Dalam hadits itu, Rasulullah ﷺ:

الصائم في عبادة مالم يغتب مسلما أو يؤذه

Orang yang berpuasa senantiasa dalam keadaan beribadah selama ia tidak menggibah saudara muslim atau menyakitinya.

Menyibukkan Diri dengan Ibadah
Hendaknya seorang muslim yang sedang berpuasa menyibukkan dirinya dengan beragam bentuk ibadah dan tenggelam dalam ketaatan. Baik ibadah hati, amal perbuatan mau pun ucapan. Serta menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari dosa hati, anggota badan dan juga lisan. Terlebih lagi di bulan Ramadan, bulan puasa, musimnya taat dan ibadah. Di dalamnya, pahala dilipatgandakan dan pemberian Tuhan menjadi sangat besar.

Diriwayatkan dalam Shahihain dan kitab induk hadits lainnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر الله ما تقدم من ذنبه ومن قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan keridaan Allah swt, niscaya Allah ampuni dosa-dosanya yang lampau. Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatu Qadar dengan keimanan dan mengharapkan keridaan Allah swt, niscaya Allah ampuni dosa-dosanya yang lampau.

Dikisahkan dari sahabat Salman ra. bahwasanya pada suatu hari Rasulullah ﷺ berkhutbah di hadapan kami pada hari terakhir di bulan Sya’ban, seraya bersabda: ‘Wahai sekalian manusia! sesungguhnya bulan yang agung nan berkah telah datang menaungi kalian. Bulan yang ada di dalamnya satu malam lebih baik dari pada seribu bulan. Bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban dan ibadah malamnya sebagai sunnah.

Barang siapa yang mengerjakan sebuah kebaikan dengan perkara yang sunnah dalam bulan Ramadan, maka ia seperti mendapatkan pahala ibadah yang wajib. Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan lewat ibadah wajib, maka Allah lipatgandakan pahalanya hingga 70 kali di banding bulan lainnya. Ia adalah bulan kesabaran, dan kesabaran ganjarannya adalah surga. Ramadan juga merupakan bulan muhasabah, bulan yang di dalamnya ditambahkan rezeki orang-orang beriman.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

من فطّر صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء. فقال: يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على تمرة أو على شربة ماء أو مذقة لبن

Barang siapa yang memberikan sesuatu untuk orang berbuka puasa, niscaya ia akan mendapatkan ampunan untuk dosa-dosanya, dibebaskan dari belenggu api neraka dan mendapatkan pahala serupa dengan orang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun pahala puasanya. Salah seorang sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah ﷺ, tidak semua di antara kami memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang puasa.’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Allah swt memberikan pahala semacam ini bagi orang yang memberikan sebutir kurma kepada orang puasa atau seteguk air mau pun susu.’

Bulan Ramadan adalah bulan yang sepertiga awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sementara sisanya adalah pembebasan dari api neraka. Barang siapa yang memberikan keringanan bagi orang-orang yang berada di bawah kuasanya pada bulan Ramadan, niscaya Allah akan memberikan ampunan dan pembebasan dari jeratan neraka.

Perbanyaklah di dalam bulan Ramadan melakukan 4 hal berikut ini: 2 hal yang diridai oleh Allah dan 2 hal yang menjadi prioritas kita selaku hamba. Ada pun 2 hal yang diridai Allah adalah mengesakan Allah swt dengan mengulang ikrar kalimat syahadat (Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah) dan memperbanyak memohon ampun dengan istighfar (Astaghfirullah). Dua hal lainnya yang menjadi permintaan kita adalah memohon kependudukan surga serta perlindungan dari siksa neraka.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله، أَسْتَغْفِرُ الله، أَسْلُكَ الجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّار

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi, Rasulullah ﷺ bersabda:


ومن سقى صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة

Barang siapa yang memberi minum orang yang berpuasa, niscaya Allah akan memberikannya minum dari telagaku dengan minuman yang tidak membuatnya merasakan dahaga hingga ia masuka ke dalam surga.

Dikisahkan oleh Imam ath-Thabrani dengan sanadnya dari Ubadah bin ash-Shamit ra. bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kala Ramadan tiba:

أتاكم رمضان، شهر بركة، يغشاكم الله فيه فينزل الرحمة ويحطّ الخطايا ويستجيب فيه الدعاء. ينظر الله تعالى إلى تنافسكم فيه، ويباهي بكم ملائكته فأروا الله من أنفسكم خيرا. فإن الشقي من حُرم فيه رحمة الله عز وجل

Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadan. Bulan penuh keberkahan. Di dalamnya, Allah swt meliputi kalian semua hingga turunlah rahmat kasih sayang-Nya, Dia juga mengugurkan segala kesalahan serta menjawab doa-doa. Allah swt menyaksikan kalian yang berlomba-lomba dalam kebaikan pada bulan Ramadan. Malaikat-Nya pun menjadi bangga terhadap apa yang kalian lakukan. Sehingga mereka senantiasa memamerkan amal perbuatan baik kalian di hadapan Allah swt. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan dari rahmat Allah swt pada bulan Ramadan.

Memperbanyak Bacaan al-Qur’an
Di antara hal yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Ramadan adalah banyak membaca al-Qur’an. Karena Ramadan adalah bulan turunnya al-Qur’an. Itulah mengapa disunnahkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an. Terlebih pada malam hari. Diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas ra. beliau bercerita bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya bertambah pada bulan Ramadan. Ketika Jibril menemuinya pada malam hari, ia mendapatinya sedang membaca al-Qur’an. Jibril pun menyimak bacaannya. Pada bulan Ramadan, kedermawanan Rasulullah ﷺ lebih luas dari pada angin yang berhembus.

Biasanya, Rasulullah ﷺ membaca al-Qur’an lebih panjang dalam salat malam pada bulan Ramadan di banding pada bulan lainnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Hudzaifah ra., beliau bercerita bahwa suatu malam pada bulan Ramadan, aku mendatangi Rasulullah ﷺ beliau pun memulai salatnya. Setelah itu, aku mendengarnya membaca surat al-Baqarah, Ali Imran dan an-Nisa’. Tidaklah beliau melalui ayat yang mengisahkan kepedihan azab dan ancaman siksa neraka melainkan beliau terdiam sejenak.

Dalam riwayat lain, Hudzaifah juga bercerita. Suatu malam ia pernah salat bersama Rasulullah ﷺ. Dalam salatnya, beliau membaca surat al-Baqarah. Hingga sampai pada ayat seratus, Hudzaifah mengira bahwa Rasulullah ﷺ akan rukuk. Ternyata tidak. Beliau melanjutkan bacaannya hingga sampai pada ayat dua ratus. Ternyata ia tidak juga mengakhiri bacaannya. Sampai akhir surat al-Baqarah, ia mengira jika Rasulullah ﷺ akan rukuk. Ternyata beliau malah lanjut membaca surat an-Nisa. Barulah setelah itu beliau rukuk. Lama rukuknya sama seperti saat ia berdiri. Begitu pula sujudnya. Apabila beliau melalui ayat tentang kasih sayang Allah, beliau pasti memintanya. Apabila beliau melalui ayat tentang azab, niscaya beliau memohon perlindungan, dan apabila beliau melalui ayat yang mensucikan Allah, niscaya beliau bertasbih.

Pada masa kekhalifahannya, Umar ra. pernah memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dariy untuk menjadi imam salat tarawih. Mereka berdua masing-masing membaca kurang lebih 200 ayat per rakaat. Tiada satu pun dari makmumnya yang berpaling dari shafnya sampai menjelang subuh barulah mereka pulang untuk bersahur. Di antara mereka orang-orang saleh, ada yang megkhataman al-Qur’an dalam bulan Ramadan setiap tiga hari sekali, ada yang setiap sepekan sekali, ada pula yang setiap sepuluh hari sekali.

Ibnu Hajar al-Haitami menceritakan kisah teladan Imam asy-Syafi’i yang mengkhatamkan al-Qur’an selama bulan Ramadan sebanyak 60 kali. Siang sekali khatam dan malam sekali khatam. Beliau membacanya di luar salat. Begitu pula Imam Abu Hanifah. Imam az-Zuhri, apabila telah tiba bulan Ramadan, beliau berkata:

إنما هو تلاوة القرآن وإطعام الطعام

Sesungguhnya bulan Ramadan adalah bulan membaca al-Qur’an dan bulan memberikan makanan.