
Pada bagian sebelumnya, pembaca disuguhkan dengan kesederhanaan gaya hidup Rasulullah ﷺ yang tercermin dari pakaiannya. Kesederhanaan itu membingkai setiap ucapan dan perbuatannya. Salah satu alasan beliau disebut sebagai manusia sempurna adalah karena setiap bagian dari dirinya sederhana. Sesuai dengan porsinya. Tidak lebih dan tidak kurang. Sempurna. Tidak terkecuali, alas tidur yang beliau gunakan pun merupakan cermin yang memantulkan kesederhanaan hidupnya. Jika kita membaca kembali tulisan sebelumnya, di sana diterangkan bagaimana Rasulullah ﷺ tidak bisa tidur hingga tiada sepeser pun harta di rumahnya. Hal itu belum cukup menggambarkan betapa zuhudnya Rasulullah ﷺ terhadap dunia. Beliau bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Lewat tulisan ini, kita akan sama-sama mengetahui bahwa beliau juga meninggalkan kenyamanan. Serial kali ini hanya menegaskan kezuhudan beliau yang nampak dari bekas ruas pelepah kurma yang dijadikan alas tidurnya.
Sebelum lebih jauh mengarungi riwayat yang mengabarkan tentang alas tidur Rasulullah ﷺ, penulis kembali mengangkat nilai penting yang mesti disadari oleh setiap pembaca dalam menelusuri indahnya tentang Rasulullah ﷺ. Tentangnya tidak pernah sia-sia. Segala macam bentuk pengetahuan tentangnya tidak pernah hanya sebatas informasi tanpa hikmah di dalamnya. Selain bentuk kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ, penyifatan mereka yang begitu mendetail akan sosok manusia sempurna itu juga didorong oleh keinginan luhur yang bertujuan untuk mengabadikan suri teladan agar umat yang hidup setelah ketiadaannya dapat menitih kegelapan jalan dunia dengan secercah cahaya yang mereka temukan lewat riwayat-riwayat sarat makna.
Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah ﷺ dalam haditsnya mengajarkan agar tidak berlebihan menyediakan kasur di rumah. Dalam hal ini, sekali lagi beliau mengajarkan kita umatnya agar hidup seperlunya, sebatas memenuhi kebutuhan yang ada.
فراش للرّجل، وفراش لزوجته، وفراش للضّيف، وفراش للشّيطان
Satu kasur untuk dirinya, satu kasur untuk istrinya, satu kasur untuk tamu yang singgah dan kasur lainnya untuk setan.
Imam an-Nawawi menjelaskan dalam al–Minhaj syarah Shahih Muslim bahwa lewat hadits di atas Rasulullah ﷺ mengajarkan agar hidup tidak perlu berlebih-lebihan. Harta benda yang berlebihan biasanya hanya untuk pamer, sombong, berbangga-bangga terhadap perhiasan dunia dan itu adalah hal tercela. Setiap keburukan akan dinisbatkan kepada perbuatan setan. Itulah mengapa dalam hadits tersebut Rasulullah ﷺ menyebut jumlah kasur yang berlebihan adalah untuk setan. Imam an-Nawawi juga menambahkan bahwa boleh saja memberikan istri kasur sendiri. Barangkali diperlukan bagi masing-masing pasangan untuk isolasi saat sakit dsb. Meski tidur bersama istri di atas ranjang yang sama tidak wajib bagi suami, akan tetapi jika tidak ada uzur tidur di kasur terpisah, maka tidur seranjang lebih baik seperti yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Kemudian di akhir penjelasan beliau mengatakan bahwa tidur seranjang dengan pasangan tidak mewajibkan seorang suami menggaulinya.
Penisbatan Rasulullah ﷺ akan bilangan kasur yang melebihi batas kebutuhan kepada setan, selaras dengan apa yang Allah firmankan dalam al-Qur’an tentang perbuatan Tabdzir pada surat al-Isra’ ayat 26. Imam ath-Thabari menafsirkan kata tabdzir dengan makna berlebihan yang sia-sia. Pada ayat selanjutnya, Allah swt katakan bahwa pelaku tabdzir merupakan kawanan setan. Sehingga hadits di atas hanya penegasan dari apa yang Allah sampaikan dalam al-Qur’an.
Alas Tidur Rasulullah ﷺ
Imam al-Munawi dalam kitab Thabaqat ash-Shufiyyah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki sehelai sorban berbahan wol yang biasa digunakan beliau sebagai alas tidurnya. Syekh Yusuf an-Nabhani juga menambahkan dalam kitabnya bahwa Rasulullah ﷺ terbiasa tidur di atas alas yang terbuat dari tumpukan pelepah kurma atau sejenisnya.
Imam at-Tirmidzi dalam kitab asy-Syamail meriwayatkan dari A’isyah ra. beliau pernah ditanya tentang apa yang menjadi alas tidur Rasulullah ﷺ.
ما كان فراش رسول الله صلّى الله عليه وسلم في بيتك؟ قالت: من أدم حشوه ليف
‘Apa yang menjadi alas tidur Rasulullah ﷺ di rumahmu?’ Kemudian A’isyah menjawab: ‘Sesungguhnya alas tidur Rasulullah ﷺ adalah terbuat dari kulit hewan sembelihan yang disamak berisi serat dahan pohon kurma.
Pertanyaan sahabat di atas menunjukkan besarnya keingintahuan mereka terhadap segala hal tentang Muhammad ﷺ. Sebab keyakinan mereka menafikan kesia-siaan dari setiap ucapan dan tindakan Rasulullah ﷺ. Hikmah itu diungkapkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah peristiwa yang dialami oleh salah satu istrinya, Hafshah ra. yang juga pernah mendapatkan pertanyaan serupa, sebagaimana yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.
سئلت حفصة ما كان فراش رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيتك قالت مسحا نثنيه ثنيّتين فينام عليه؛ فلمّا كان ذات ليلة قلت لو ثنيته أربع ثنيات لكان أوطأ له؛ فثنيناه له بأربع ثنيات، فلمّا أصبح قال: ما فرشتموا لي الليلة؟ قالت قلنا هو فراشك، الا أنّا ثنيناه بأربع ثنيات، قلنا هو أوطأ لك، قال: ردوه لحالته الأولى فإنّه منعتني وطاءته صلاتي الليلة
Suatu hari, istri Rasulullah ﷺ, Hafshah ra. pernah ditanya: ‘Apa alas tidur yang digunakan Rasulullah ﷺ di rumahmu?’ Kemudian beliau menjawab: ‘Rasulullah ﷺ tidur di atas alas kain kasar yang kami jadikan dua lapis. Suatu malam aku pernah berpikir, bagaimana jika sekiranya aku jadikan empat lapis saja, pasti lebih empuk. Maka aku pun melakukannya. Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ bertanya: ‘Kasur apa yang semalam kamu siapkan untukku?’ Hafshah ra. menjawab: ‘Itu adalah kasur yang biasa engkau gunakan. Hanya saja semalam aku menjadikannya empat lapis agar alas itu lebih nyaman untukmu.’ Mengetahui itu, beliau berkata: ‘Kembalikan kasurku seperti sebelumnya. Sesungguhnya kasur yang empuk itu telah menghalangiku dari salat malam.’
Inilah hikmah di balik kesederhanaan beliau dalam memilih alas tidur. Bukan tidak mampu memiliki hambal tebal, beliau tidak ingin ketebalan kasur menyenyakkan tidurnya dan membuatnya melewatkan salat malam. Kemudian, jika kita perhatikan dengan saksama, dua hadits di atas bersumber dari dua istri Rasulullah ﷺ yang berbeda: pertama, A’isyah putri Abu Bakar. Kedua, Hafshah putri Umar. Keduanya disodorkan dengan pertanyaan yang sama. Seolah sahabat Rasulullah ﷺ tidak merasa cukup baru mendapatkan informasi dari satu sumber. Mereka persis seperti orang yang sedang melakukan penelitian demi menyingkap sebuah pengetahuan. Perhatikan bagaimana kedua pertanyaan tersebut sama-sama bertanya tentang alas tidur Rasulullah ﷺ di rumah masing-masing istrinya. Barangkali, ketika baru menanyakannya kepada satu sumber, terbesit dalam pikiran mereka tentang kemungkinan lain, bahwa bisa jadi Rasulullah ﷺ tidur beralaskan kulit hewan berisikan serabut pelepah kurma di rumah A’isyah karena memang itu yang disediakan A’isyah untuk Rasulullah ﷺ. Siapa tahu, di rumah istrinya yang lain, beliau mendapatkan fasilitas kasur yang lebih layak. Ternyata, sama saja. Bahkan, pada kisah Hafshah ra. Rasulullah ﷺ mengungkap tentang keinginannya tidur di alas yang tipis agar tidak terlena dengan kenikmatan tidur dan memudahkannya untuk salat malam. Pernyataan itu, memberikan kesimpulan: dimana pun tidurnya, begitulah alasnya ﷺ.
Setiap hati yang Tuhan percayakan untuk menyimpan setitik saja rasa cinta kepada manusia pilihan-Nya, pasti akan menitikkan air mata setelah mengetahui kebenaran ini. Untuk membayangkannya saja tak kuasa. Bagaimana seorang utusan Tuhan yang membawa umat manusia kepada kemuliaan tidur dengan kondisi yang memprihatinkan. Sementara itu, umatnya memutar kepala mencari cara bagaimana bisa tidur senyaman mungkin di atas peraduan terbaik. Bahkan, ada di antara mereka yang rela mengeluarkan segenap harta dan tenaganya hanya untuk bermalam di tempat berfasilitas lengkap. Jika sampai paragraf ini tidak ada setetes pun linangan air mata, cobalah untuk berkaca ke dalam sembari belajar bagaimana para sahabat begitu iba melihat Rasulullah ﷺ sampai rela berbuat seperti itu demi umatnya. Kisah ini diabadikan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Imam at-Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ra.
وعن عبد الله بن مسعود رضي الله تعالى عنه قال: دخلت على النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم وهو في غرفة كأنّها بيت حمّام، وهو نائم على حصير قد أثّر بجنبه، فبكيت، فقال: ما يبكيك يا عبد الله؟ ، قلت: يا رسول الله؛ كسرى وقيصر يطؤون على الخزّ والدّيباج والحرير؛ وأنت نائم على هذا الحصير، قد أثّر بجنبك. فقال: فلا تبك يا عبد الله، فإنّ لهم الدّنيا ولنا الآخرة و في الرواية ما لي وللدّنيا، وما أنا في الدّنيا إلّا كراكب استظلّ تحت شجرة، ثمّ راح وتركها
Dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia bercerita: ‘Suatu hari aku pernah sambang ke rumah Rasulullah ﷺ, sedang ia tertidur di dalam sebuah ruangan yang mirip seperti kamar kecil beralaskan pelepah kurma yang meninggalkan bekas ruas di bagian samping tubuhnya. Aku menangis dibuatnya. Setelah terjaga, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai Abdullah?’ Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah ﷺ, Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) berjalan di atas kain sutra, sedangkan engkau tidur di atas pelepah ini hingga membekas ruasnya di bagian samping tubuhmu?’ Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Jangan menangis, wahai Abdullah. Karena sesungguhnya dunia memang diberikan kepada mereka dan akhirat hanya untuk kita.’ Dalam riwayat yang lain: ‘Apa kepentinganku terhadap dunia? Keberadaanku di dunia ini hanya laksana pejalan pejalan yang sedang berteduh sesaat di bawah pohon, lalu kemudian lekas pergi dan meninggalkannya.’
Kejadian serupa juga pernah dialami oleh dua sahabat karibnya: Abu Bakar dan Umar. Hanya saja, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban lainnya ketika mereka bertanya tentang alas tidurnya yang hanya tumpukan pelepah kurma. Jawaban beliau tidak menyelisihi jawaban pada kisah di atas. Justru, melengkapi dan menyingkap motivasi apa yang melandasi beliau memilih untuk berbaring di atas alas yang tidak memberikan kenikmatan tidur. Dalam riwayat al-Hakim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Kisra, Kaisar dan golongan serupa adalah kaum yang Allah swt tunaikan kenikmatannya di dunia yang segera fana. Sedangkan kita adalah kaum yang Allah tunda kenikmatannya di akhirat kekal selamanya. Adapun dalam riwayat Ibnu Hibban dalam kitabnya, al-Anwa’u wa at-Taqasim, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kebenaran tentang kesederhanaan yang beliau ajarkan lewat gaya hidupnya dan kemewahan yang dibanggakan ahli dunia. Bahwa kemewahan itu akan menyeretnya ke dalam azab dan kehinaan siksa neraka, dan kesederhanaan kelak berujung pada kenikmatan surga.
Imam an-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim mengatakan bahwa hasits semacam ini dijadikan dalil oleh para ulama yang berpendapat tentang keutamaan orang miskin dari pada orang kaya. Berdasarkan hadits di atas, mereka menyimpulkan bahwa orang yang semasa hidupnya di dunia bergelimang harta sedang ditunaikan kenikmatannya. Sehingga tidak ada tabungan pahala yang tersisa di akhirat apabila kekayaan tersebut tidak hadir bersama rasa syukur serta absen dari amal kebaikan. Hal ini senada dengan firman Tuhan pada surat asy-Syura ayat 20.
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ
Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.
Benarlah Allah swt bersaksi bahwa dalam diri Muhammad ﷺ terdapat teladan yang baik. Keluhuran akhlak itu terpancar dari segala tentangnya. Bahkan sampai alas tidurnya saja mengajarkan bahwa tidak sepantasnya kita menggadaikan kenikmatan abadi di surga dengan kesenangan dan kenyamanan dunia yang sementara. Jika kenikmatan itu melalaikan kita dari beribadah kepadanya, maka sesungguhnya itu adalah di antara tipu daya iblis yang menjelma pada perhiasan dan pernak-pernik dunia. Allah benar lagi tentang dunia hanyalah permainan dan senda gurau yang melalaikan.
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui. (al-Ankabut : 64)
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya. (al-Hadid : 20)
Memang berat jalan menuju puncak teladannya. Tapi bukan alasan bagi umatnya untuk sama sekali tidak menapaki langkahnya. Allah Mahatahu tentang hamba-Nya yang tak kuasa bersabar memerankan kemiskinan di dunia. Paling tidak, semoga Allah senantiasa tanamkan rasa syukur atas setiap helaan kebahagiaan yang Dia hembuskan sepanjang usia. Amin.