Setiap Kata adalah Rumah

Sebuah pengantar dari serial esai sastra pesantren “Serambi Sunyi: Catatan Batin Seorang Santri”

Setiap rencana besar selalu membutuhkan permulaan yang tenang, dan kumpulan esai pesantren yang sedang kususun ini pun lahir dari langkah kecil yang penuh harap. Aku menuliskannya dengan hati yang ingin belajar kembali, sebab jalan kepenulisan yang kutempuh selama ini tak pernah jauh dari cahaya para guru yang sabar membimbing, baik yang kutemui di pesantren maupun yang hadir melalui jejak keilmuannya. Pesantren bagiku bukan hanya tempat belajar, melainkan juga taman jiwa yang mengajarkan adab sebelum ilmu, diam sebelum bicara, dan tulus sebelum menulis. Karena itu, sebelum memasuki pembahasan tentang sastra pesantren, aku merasa perlu membuka ruang hening terlebih dahulu, agar pembaca dapat memahami dari mana langkah ini berawal dan kepada apa ia ingin kembali. Catatan sederhana ini menjadi semacam salam pembuka, sebuah ketukan perlahan di pintu hati, agar perjalanan berikutnya dapat dinikmati dengan napas yang lebih dalam dan pandangan yang lebih jernih. Dengan kerendahan hati, aku berharap tulisan-tulisan setelahnya tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan sebagai bagian dari perjalanan menuju pengenalan diri dan Sang Pemilik Ilmu.

Ada saat ketika perjalanan kepenyairan terasa seperti meniti jalan setapak yang muncul dari kabut pagi. Setiap langkah menghadirkan bisikan yang sulit ditafsirkan, namun tetap memanggil dari jauh dengan kesabaran yang lembut. Aku belajar mendengar suara yang tak bersuara, dan menangkap cahaya yang tak terlihat, seakan dunia batin memiliki bahasa yang hanya dapat didengar ketika hati tenang. Di tengah kesunyian itu, kata-kata tumbuh seperti benih yang tiba-tiba mengeluarkan tunasnya tanpa aku memintanya. Aku hanya berusaha menjaga agar tanah batin tetap lembut, tidak retak oleh ambisi yang berlebihan. Setiap kata yang hadir selalu mengajarkan kerendahan hati, seolah menjadi pengingat agar langkah ini tidak terperosok oleh keangkuhan. Dari sana aku mulai memahami bahwa sastra sufistik bukanlah upaya memamerkan kecanggihan bahasa, melainkan latihan panjang untuk menjadi manusia yang lebih peka, lebih hadir, dan lebih jernih dalam memandang kehidupan.

Dulu aku menulis karena ingin dikenal sebagai penyair, tetapi perjalanan akhirnya membimbingku untuk menulis demi menyadarkan diri sendiri. Setiap bait yang lahir dari tanganku seperti mengetuk kembali pintu batin yang sudah lama tertutup. Aku membaca diriku melalui metafora yang kutemukan di tengah proses yang sunyi. Ada kegugupan sekaligus kelegaan ketika kata-kata itu muncul dan menampakkan dirinya. Rasanya seperti bercermin dan melihat wajah yang sama, tetapi dengan cahaya yang berbeda. Kadang aku terkejut oleh kedalaman yang tak pernah kurencanakan, seolah kata-kata itu lebih dulu mengetahui sesuatu yang belum kusadari. Kadang pula aku merasa takut, karena setiap kata menuntut kejujuran yang nyaris telanjang dan sulit dielakkan.

Dalam perjalanan itu, aku sering mendengar ajaran para guru tentang pentingnya menundukkan diri, agar kata-kata tidak berubah menjadi tuan yang arogan. Mereka selalu mengingatkanku bahwa bahasa bisa menjadi jebakan yang halus, terutama ketika seseorang mulai merasa nyaman dengan kepandaiannya sendiri. Aku mencoba mengikuti nasihat itu dan belajar menulis dengan napas yang lebih pelan, seolah setiap huruf memerlukan ruang untuk beristirahat. Banyak hal yang tiba-tiba muncul ketika aku menurunkan tempo dan memberi waktu bagi batin untuk tenang. Suara angin di luar jendela bisa berubah menjadi kalimat pembuka sebuah puisi, membawa bayangan yang sebelumnya tak terpikirkan. Gerimis yang jatuh pada malam hari memberi ritme lembut yang membuatku merasa dekat dengan diriku sendiri. Dan diam yang panjang sering kali menjadi ruang bagi makna lain yang perlahan tumbuh, menyelinap masuk tanpa memaksa, seakan ingin mengajariku cara mendengar lebih dalam.

Sastra sufistik mengajarkanku untuk tidak tergesa dalam menafsirkan setiap kehadiran. Setiap fenomena bisa menjadi pintu, selama aku tidak buru-buru menolaknya. Aku belajar memandang segala sesuatu dengan rasa ingin tahu yang lembut, tanpa prasangka yang mengeraskan pandangan. Bahkan hal kecil seperti dedaunan yang gugur mampu membuka cakrawala baru yang tak pernah kusangka. Aku melihat kehidupan lain dalam benda sederhana itu, seolah daun-daun membawa pesan sunyi bahwa segala yang hidup pada akhirnya akan kembali. Dari sana aku mulai memahami bahwa keterbatasan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari perjalanan yang membuat manusia tetap rendah hati.

Aku pernah mengalami masa ketika kata-kata berhenti datang. Seketika ruang batin terasa hampa. Saat-saat seperti itu aku mencoba memaksa diri, namun semakin keras aku mendorong, semakin jauh kata-kata itu pergi—seakan menyingkir dari hiruk pikuk yang kubuat sendiri. Aku pun berhenti menulis untuk sementara, membiarkan sunyi bekerja dan membersihkan jalannya. Di dalam sunyi itulah aku mulai menemukan kembali alasan awal mengapa aku menempuh jalan ini. Ternyata, aku merindukan percakapan dengan diriku sendiri—percakapan yang jujur, pelan, dan apa adanya. Aku merindukan ruang yang tidak sibuk mengejar pujian, ruang yang membiarkan hati bernafas tanpa harus menjadi apa-apa. Dan perlahan, kata-kata itu kembali datang tanpa aku undang, kata-kata itu pulang dengan tenang, seolah-olah tahu bahwa aku akhirnya siap mendengarkan.

Riyadhah batin yang kujalani telah mengubah caraku memandang karyaku sendiri. Dulu, aku menilai puisi seperti sebuah bangunan—harus indah di mata semua orang, rapi, dan memuaskan setiap pandangan. Kini, aku melihatnya sebagai taman kecil yang tumbuh mengikuti kehendak Ilahi. Ada bagian yang tumbuh liar, tetapi tetap memancarkan keindahan. Ada bagian yang bersih, seolah baru saja disapu dan disiram. Aku tak lagi sibuk mengejar rima atau kesempurnaan yang dibuat-buat. Yang paling penting adalah kejujuran yang bergerak di balik setiap kalimat—kejujuran yang membuat puisi itu hidup, meski tampak sederhana. Dan di situlah aku belajar bahwa sebuah karya akan menemukan jalannya sendiri ketika hati yang menuntunnya lebih tenang daripada ambisi yang mengendap di dada.

Dalam proses menulis, aku sering merasa seperti pengembara yang berjalan tanpa peta—melangkah, mencari, dan membiarkan intuisi menjadi kompas. Kadang aku tersesat, tetapi justru di sanalah aku menemukan jalan baru. Kesesatan itu menghadirkan pandangan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Setiap tikungan membawa pengalaman yang perlahan memperluas cakrawala batinku. Ada masa ketika aku bertemu ketakutan yang sudah lama kubiarkan bersembunyi. Aku menuangkan ketakutan itu ke dalam tulisan, agar aku tak lagi dikuasai olehnya. Dan perlahan, ketakutan itu berubah menjadi keberanian—keberanian yang tumbuh dari penerimaan, bukan dari paksaan. Dengan begitu, perjalanan menulis bagiku tak lagi sekadar mencari kata, melainkan juga memahami diri sendiri.

Aku percaya bahwa puisi lahir dari pertemuan antara rasa syukur dan rasa gentar—dua rasa yang mengalir dalam diriku seperti arus sungai yang tak pernah berhenti. Ketika aku merasakan syukur, kata-kata tampak seperti bunga yang bermekaran. Terasa ringan untuk dituliskan, diksi-diksinya tercium wangi, dan kalimat-kalimatnya pun mudah tumbuh. Ketika aku merasakan gentar, kata-kata justru muncul lebih jernih, seolah ketakutan membuka ruang kejujuran yang selama ini bersembunyi. Aku menulis untuk memahami sesuatu yang lebih besar daripada diriku sendiri, sesuatu yang tak dapat kujelaskan tapi dapat kurasakan. Dalam proses itu, aku menemukan sisi-sisi diriku yang sebelumnya tak pernah kukenal—sebuah perjumpaan batin yang membuatku terus ingin belajar, terus ingin kembali pada keheningan tempat kata-kata lahir.

Kadang aku menulis setelah membaca kitab para sufi, lalu merasakan denyut halus pada setiap ajaran yang mereka tinggalkan. Ajaran-ajaran itu membuka ruang untuk merenungkan kembali hakikat perjalanan manusia—tentang kehadiran, tentang arah, dan tentang kerendahan hati dalam melangkah. Setiap kalimat mereka bagaikan embun yang jatuh perlahan, mendinginkan luka yang lama membara. Aku meresapi nilai-nilai itu tanpa berniat menjiplaknya. Nilai-nilai itu hanya menjadi penuntun agar aku tidak melenceng dari niat awal. Aku menulis bukan untuk mengulang suara mereka, melainkan untuk menyambung keheningan yang mereka wariskan. Dari keheningan itulah perlahan lahir kalimat-kalimat yang membawa aroma rumah batinku sendiri—tenang, sederhana, namun jujur.

Ada momen ketika aku merasa semua tulisan yang kubuat hanyalah bayangan dari tulisan orang lain—pucat, samar, dan tidak memiliki pijakan. Pada masa itu aku belajar untuk tidak membandingkan diri dengan siapa pun. Setiap penyair memiliki air mata, tawa, dan jejak batin yang tidak bisa ditiru. Kesadaran itu menenangkan sekaligus membebaskan, seolah ada beban yang perlahan turun dari pundakku. Sejak saat itu aku tak lagi memaksakan bentuk tertentu ketika menulis. Aku hanya mengikuti arah napas yang mengalir dengan sendirinya. Kadang alirannya lembut, kadang berbelok tanpa alasan yang jelas, tapi selalu mengajakku kembali kepada kejujuran. Dan arah itu, tanpa kusangka, membawa kata-kata ke tempat yang tak pernah kuduga, tempat yang terasa seperti rumah yang selama ini kucari.

Menulis menjadi latihan untuk setia pada hal-hal yang tak kasat mata, pada sesuatu yang hadir tanpa suara namun meninggalkan getar dalam dada. Ada cahaya tipis yang muncul begitu saja ketika aku membiarkan hati diam. Cahaya itu bukan sesuatu yang terlihat oleh mata, tapi terasa oleh jiwa yang sedang beristirahat dari hiruk pikuk. Ia hadir seperti kunang-kunang yang mengambang di tengah gelap, kecil namun cukup untuk menerangi sudut yang terlupa. Aku berusaha menangkapnya dengan kata-kata yang paling lembut, seolah takut membuatnya pergi. Namun cahaya itu tak selamanya mau ditangkap, kadang ia hanya singgah sebentar lalu menghilang tanpa pamit. Kehadirannya yang singkat sering menjadi pengingat agar aku tetap rendah hati—bahwa inspirasi bukan sesuatu yang bisa dipaksa, melainkan anugerah yang datang ketika hati siap menerimanya.

Aku pernah mengira bahwa menulis harus dilakukan dengan gairah yang meluap-luap, seakan hanya ledakan rasa yang mampu melahirkan kalimat yang bernyawa. Seiring waktu, aku mulai memahami bahwa gairah semacam itu justru sering membuat langkah menjadi terburu-buru. Kini aku menulis dengan ritme yang lebih matang, ritme yang mengikuti getaran batin, bukan tekanan dari luar. Aku belajar menikmati setiap jeda dan tak lagi memaksakan diri menyelesaikan paragraf hanya demi merasa produktif. Dalam ritme yang lebih tenang itu, kata-kata terasa datang dengan sendirinya, lebih jernih dan lebih tulus. Tulisan yang lahir dari ketenangan membawa kejujuran yang sulit muncul ketika hati dipenuhi desakan. Dan kejujuran itulah yang selama ini kucari, baik dalam menulis maupun dalam memahami diriku sendiri.

Sastra sufistik mengajariku cara melihat dunia sebagai cermin diri, sebuah ruang pantul yang menyingkap hal-hal yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan sehari-hari. Setiap kejadian memantulkan sesuatu yang sebelumnya tak pernah kusadari, seolah hidup menyodorkan pesan yang pelan namun tegas. Bahkan pertemuan singkat dengan seseorang bisa berubah menjadi petunjuk bagi perjalanan batin yang panjang. Aku tak lagi memandang hidup sebagai rentetan peristiwa acak, karena setiap peristiwa mengandung hikmah yang menunggu dibaca dengan hati yang tenang. Aku berusaha menuliskannya agar tak hilang begitu saja, agar jejak makna itu tetap bisa kutemukan ketika ingatan perlahan menginggalkan. Dalam setiap penulisan itu aku belajar kembali tentang keteguhan, tentang menjaga hati agar tetap jernih sekalipun hidup sering bergerak di luar dugaan. Kadang aku merasa tulisanlah yang menuntunku lebih jauh daripada langkahku sendiri.

Sering aku merasa bahwa kata-kata yang kutulis sebenarnya sedang menulis ulang diriku, perlahan menyusun ulang bagian-bagian yang dulu berantakan. Proses itu berlangsung pelan dan hampir tak terlihat, seperti air yang diam-diam mengikis batu. Namun ketika aku menengok kembali perjalanan panjang ini, aku menemukan jejak perubahan yang tak dapat dipungkiri. Setiap tulisan menyembuhkan bagian diriku yang dulu retak, seolah luka itu menemukan obatnya sendiri. Setiap metafora memperlihatkan jalan pulang menuju diri yang lebih utuh, dan setiap kesunyian memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas dengan lega. Dalam momen-momen kecil itulah aku merasakan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan bentuk riyadhah yang paling halus—sebuah latihan menjaga hati agar tetap hidup, tetap peka, dan tetap jujur pada dirinya sendiri.

Aku juga belajar bahwa menulis membutuhkan keberanian yang tak selalu tampak. Keberanian untuk mengakui bahwa aku rapuh, keberanian untuk berkata bahwa aku tak selalu mengerti segalanya, dan keberanian untuk menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan. Semua itu tak mudah dilakukan, bahkan sering membuatku ragu untuk melangkah. Namun, begitu aku mengakuinya, kata-kata terasa lebih ringan. Ia hadir tanpa beban dan mengalir seperti air yang menemukan jalannya sendiri, terasa tenang, jernih, dan apa adanya.

Dalam beberapa malam, aku menulis ditemani cahaya lampu kecil yang redup—cahaya lembut yang membuat ruangan tampak seperti ruang meditasi. Di tengah ketenangan itu, aku kembali bertemu dengan pengalaman yang pernah kutinggalkan. Aku menuliskannya pelan-pelan agar tak merusak makna yang tersembunyi. Setiap ingatan memiliki aromanya sendiri, kadang manis, kadang getir, kadang justru keduanya bercampur menjadi satu. Namun apa pun aromanya, semuanya memberi warna pada perjalanan batinku dan mengingatkanku bahwa masa lalu bukan untuk disesali, melainkan untuk dipahami.

Aku sering berpikir bahwa puisi tak selalu harus dipahami. Ada puisi yang lahir untuk dirasakan saja—seperti angin yang menyentuh wajah tanpa meninggalkan bentuk. Dalam ketidakberbentukan itu, justru ada kelembutan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Aku mencoba membiarkan pembaca merasakan sendiri apa yang ingin disampaikan bait-bait itu. Bahasa memiliki caranya sendiri untuk menyentuh seseorang, dan setiap jiwa memiliki pintu yang berbeda. Sentuhan itu tak selalu membutuhkan logika yang rumit, terkadang cukup hati yang bersedia mendengar.

Perjalanan sebagai penulis sastra sufistik juga mengajariku bahwa kesunyian tak selalu berarti kekosongan. Kesunyian adalah ruang tempat jiwa membersihkan dirinya—ruang yang lembut, namun tegas, dalam menguji ketulusan niat. Di ruang itulah aku belajar mendengarkan kembali suara hati yang pernah tertutup oleh hiruk-pikuk dunia. Setelah melewati masa itu, aku menulis dengan hati yang lebih jernih. Setiap kalimat terasa lebih matang, setiap metafora menjadi lebih tulus, dan setiap puisi membawa pesan yang lebih mendalam. Kadang aku merasa bahwa kesunyian itulah guru yang paling sabar dalam perjalanan kreatifku.

Terkadang aku merasa perjalanan ini terlalu panjang, namun pada saat yang sama terasa begitu singkat. Panjang karena begitu banyak hal yang harus kupelajari; singkat karena waktu seakan berlari ketika aku hanyut dalam tulisan. Di sepanjang perjalanan itu, aku terus menemukan hal–hal baru tentang diriku. Ada bagian yang membuatku tersenyum, ada pula bagian yang membuatku menangis. Namun semuanya memberi pemahaman baru tentang arti sebuah pencarian—bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, selalu mengarah pada versi diriku yang lebih utuh.

Ketika melihat ke belakang, aku merasa bahwa seluruh perjalanan ini bukanlah tentang menjadi sastrawan yang dikenal. Perjalanan ini lebih menyerupai upaya kembali ke rumah batin yang lama kutinggalkan. Sastra sufistik membuatku sadar bahwa menulis bukan sekadar membentuk karya, melainkan membentuk jiwa. Kata–kata mengajarkanku untuk mendengar lebih dalam, mengajarkanku untuk melihat dengan hati, dan mengajarkanku bahwa perjalanan batin tak pernah benar–benar selesai. Dalam kesadaran itu, aku belajar bahwa setiap tulisan adalah langkah kecil untuk pulang pada diri sendiri.

Di tengah perjalananku menata kembali arah batin, muncul keinginan yang telah lama berdiam dalam hati, yaitu menulis rangkaian esai tentang kehidupan pesantren. Niat itu lahir bukan dari ambisi untuk mengabadikan masa lalu, melainkan sebagai ungkapan syukur karena pernah tumbuh dalam suasana yang dipenuhi doa, keheningan, dan ilmu yang mengalir tanpa pamrih. Pesantren adalah tempat yang mengajariku berjalan perlahan—menata langkah dengan hati-hati, mendengarkan sebelum berbicara, dan belajar memahami tanpa tergesa.

Keinginan itu semakin menguat saat kusadari bahwa tulisan dapat menjadi jembatan kecil yang menghubungkan kedamaian pesantren dengan siapa pun yang membacanya. Aku berharap esai-esai tersebut kelak menjadi ruang teduh, ruang yang mengajak orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, ruang yang membisikkan bahwa ketenangan masih mungkin ditemukan. Bila tulisan-tulisan itu mampu menghadirkan sedikit saja kesejukan, atau menenangkan satu hati yang gelisah, maka syiar kecil ini telah menemukan jalannya.

Pada akhirnya, aku belajar bahwa setiap kata yang kutulis adalah jejak yang menuntunku pulang—bukan hanya ke rumah batin, melainkan juga ke hadapan Sang Pemilik Segala Ilmu. Jika kelak halaman-halaman ini menemukan pembacanya, kuharap ia merasakan secuil keteduhan yang dulu pernah kujumpai di serambi pesantren: keteduhan yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan panjang untuk memahami diri, merawat hati, dan menjaga agar langkah tetap sederhana. Dan bila suatu hari aku kembali membuka tulisan-tulisan ini, semoga aku menemukan diriku yang lain—lebih rendah hati, lebih jernih, dan lebih siap menerima bahwa perjalanan menuju cahaya selalu dimulai dari langkah kecil yang tulus.

———————

Ahmad Moehdor al-Farisi, sastrawan dari Rembang, Jawa Tengah, kelahiran Sampang, Madura. Kini tinggal di Tangerang. Mantan Presiden KOSTRA (Komunitas Sanggar Sastra, 2011-2013) yang akrab disapa Cak Ndor ini pernah menyabet beberapa apresiasi susastra baik dalam negeri maupun luar negeri, salah satu di antaranya “Konvensyen Penyair Dunia” oleh Majlis Penyair Malaysia yang diikuti oleh penyair India, Taiwan, Vietnam, Rusia, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Timor Leste, dan Indonesia (2018); dan “Penyair GAPENA Kuala Lumpur” dalam rangka Hari Puisi ke-20 Malaysia (2018).

Buku puisinya Kesaksian sebagai Isyarat (2019) meraih anugerah Buku Puisi Terpuji Indonesia 2019 oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia. Buku-bukunya yang lain: FaNa (Novel Romantisme Sufistik, 2023); Risalah Kehilangan (Kumpulan Puisi, 2022); Meminjam Cerita Ayah (Kumpulan Cerpen, 2020); Intelektualitas, Agama dan Karya (Kumpulan Esai, 2014); dan Malam pun Menyetubuhiku (Kumpulan Puisi, 2011). Kini selain mengajar di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, Tangerang, ia juga membersamai santri-santrinya dalam kelompok Teater Dza ‘Izza. Bisa dihubungi melalui email [email protected] atau mampir ke Instagram Cak_Ndor dan YouTube Cak Ndor Official.