Jemaah yang Terbatuk-batuk

Seri keempat dari “Cerita Pesantren”

Temaram senja mulai merona. Sang surya perlahan memasuki masa pengujungnya. Pemandangan langit nampak kemuning dengan gumpalan awan yang putihnya tak lagi utuh.

Lantunan ayat suci Al-Quran mulai terdengar yang keagungannya perlahan menghantarkan langkah-langkah suci menuju rumah-Nya. Para santri mulai mengisi baris-baris yang kosong, ada yang dengan segera menghamparkan sajadah lalu menunaikan dua rakaat tahiyatul masjid. Ada juga yang memilih untuk duduk di sudut-sudut masjid kemudian membuka mushafnya dan mulai merapal ayat-ayatnya dengan suara yang hanya dapat didengar oleh dirinya dan Tuhannya. Kebanyakan dari mereka menempati saf-saf yang kosong di bagian tengah masjid.

Seperti biasa, setiap Selasa sore menjelang waktu magrib diadakan kajian rutin yang dipimpin oleh salah seorang ustaz yang jadwalnya telah ditentukan secara tematik periodik berdasarkan pengkajian atas tema-tema tertentu yang kiranya dibutuhkan oleh para santri. Selain bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan, juga ditujukan untuk menopang pemahaman mereka dalam praktik-praktik ibadah amaliyah sehari-hari khususnya terkait dengan pelaksanaan ibadah-ibadah mahdhah.

Kajian yang disampaikan bersifat sebagai suatu penguatan sekaligus pendalaman atas materi-materi fikih ibadah yang diajarkan di kelas. Dengan demikian, para santri diharapkan dapat memiliki pemahaman yang luas, tidak hanya secara teoritis tetapi juga praksis dalam pelaksanaan ibadah amaliah yaumiyah. Sehingga praktik ibadah yang mereka lakukan memiliki dasar intelektual yang kuat guna terus berproses ke arah yang lebih baik lagi.

Sore itu yang bertugas untuk mengisi kajian adalah Ustaz Hamas, sesuai jadwal dan materi yang ditentukan beliau akan menyampaikan pembahasan seputar rukun dan syarat sah pelaksanaan salat Jumat. Namun, beliau memutuskan untuk mengubah tema pembahasan sore hari itu dengan tema lain yang dinilainya lebih mendesak dan harus segera disampaikan kepada seluruh santri agar kekeliruan yang selama ini didapatinya dari praktik pelaksanaan jamaah salat para santri dapat segera diperbaiki dan tidak terulang lagi. Ada dua indikasi penilaian dalam benak Ustaz Hamas terkait hal ini. Pertama, ia menilai para santri banyak yang abai dan tidak memberikan perhatian lebih terkait kekeliruan dalam salat tersebut. Kedua, barangkali mereka belum mendapatkan materi tentang hal itu dalam pelajaran-pelajaran yang disampaikan di kelas.

“Shadaqallahul ‘adzim“. Qori mengakhiri lantunan kalam Ilahi sore itu ketika Ustaz Hamas mulai memasuki masjid. Para santri yang berada di shaf terdepan secara bergiliran mencium punggung telapak tangan beliau seiring berjalan menuju meja yang telah disediakan tepat di bagian tengah dari shaf terdepan. Seorang santri pengurus terlebih dahulu memberikan sedikit pengarahan kepada santri-santri lainnya dan menghimbau agar mengikuti kajian tersebut dengan saksama.
‘اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا جَمِيْعًا عَلَيْكُمْأَنْ تَهْتَمُّوْا عَلَى مَا سَيُلْقِيْهَا الأُسْتَاذُ مِنَ المَادَّةِ”

“السلام عليكم ورحمه الله وبركاته”
Beliau membuka kajian dengan mengutip ayat:
“وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِوَالصَّلَاةِ وَ إِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلَّا عَلَى الخَاشِعِيْنَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّـهُمْ مُّلَاقُوْا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمِ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ”
“Uhuk,uhuk, uhuk,… Afwan. Uhuuk, uhhuuk…..uhukk, uhhukk, uhuk. Anak-anakku yang dirahmati Allah, uhuk, uuhuk, uhuk. Semoga kita semua, uhukk, uhhuuk…”

Berulang kali Ustaz Hamas mengeluarkan batuk sehingga ucapannya menjadi terputus-putus.
“Senantiasa dalam lindungan Allah. Uhhuk, uhuk. Aamiin. Uhuk, uuhuk.”

Melihat kejadian itu beberapa santri berupaya mencarikan air minum untuk beliau. Yang lainnya banyak menampakkan wajah bingung melihat Ustaz Hamas terbatuk-batuk. “Ternyata tidak enak rasanya mengisi kajian ini sambil terbatuk-batuk, capek. Jadi tidak khusyuk saya mengisi kajian ini. Baiklah, kalau begitu saya akan seperti biasa saja. Tanpa perlu terbatuk-batuk.”

Mendengar ucapan itu, sontak para santri menjadi semakin dibuat kebingungan. Apa sebenarnya yang dimaksud oleh Ustaz Hamas. Bahkan salah satu di antara mereka sampai melepas kopiahnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak berambut itu.

Ustaz Hamas bangkit dari kursinya seraya meneruskan “Kenapa kalian terlihat seperti orang yang sedang keheranan? Bukankah kalian sudah akrab dengan suara batuk?”

Raut wajah para santri semakin menunjukkan isi kepala yang penuh tanda tanya, seolah mereka belum bisa memahami arah tujuan pembicaraan Ustaz Hamas sore ini.
“Betul, toh? Bagaimana tidak? Beberapa hari ini pelaksanaan salat berjamaah ramai dengan irama batuk yang kalian mainkan. Mulai dari batuk kecil, batuk sedang, hingga batuk yang dilepaskan dengan suara lantang. Ada yang batuk dengan satu ketukan, dua ketukan, bahkan sampai batuk yang berketuk-ketuk. “

Ustaz Hamas berusaha menirukan macam-macam suara batuk tersebut. Tak pelak hal itu mencairkan suasana dan nampaknya para santri baru mulai mengerti akan mengarah ke mana pembahasan kajian sore ini.

“Begitu ramainya suara batuk yang kalian keluarkan saat jama’ah salat dilaksanakan. Hampir-hampir saya merasa bahwa jangan-jangan kalian mengikuti suatu mazhab baru, mazhab al-atuki fi shalati. Yang saya tidak habis pikir, riuh suara batuk itu hanya ramai saat jama’ah salat sedang dilaksanakan. Berawal dari satu suara batuk yang seolah-olah itu adalah satu aba-aba bagi batuk-batuk yang lain untuk segera keluar dari sarangnya masing-masing. “

“Uhuk, uhuk” terdengar pelan suara batuk yang ditahan oleh si empunya dari arah kanan tengah shaf.

“Saya tidak yakin kalau mereka, batuk-batuk itu, adalah batuk-batuk yang tulus. Batuk yang keluar karena sudah tak tahan lagi berada di persemayamannya sebab sang tuan sedang kurang enak badan. Saya mengatakan seperti ini bukan berarti saya tidak peduli dengan santri-santri yang sedang sakit. Sekarang coba kita perhatikan, adakah di antara kalian yang mendengar suara-suara batuk itu di kantin?”

Kompak para santri menjawab, “Maffiii….”
“Di lapangan? Saat kalian sedang main futsal? Di saung-saung saat kalian asyik mengobrol ini itu? Bahkan di kelas pun fenomena serangan batuk itu pun tidak saya temui. Pertanyaannya adalah, mengapa saat salat berjamaah di masjid kalian terbatuk-batuk sedangkan saat melakukan aktivitas yang lain batuk-batuk tersebut tidak terdengar, tidak nampak walau hanya batang hidungnya saja.”

“Sejak kapan batuk punya hidung, tadz?”. Tanya salah seorang santri baru bernama Abim. Keluguannya membuat Ustaz Hamas tak mampu menahan refleks menepak jidatnya sendiri “Gustiiii nu agung.”

“Apakah kalian yakin batuk-batuk itu benar-benar dikarenakan kondisi tubuh yang sedang tidak fit sehingga menghendaki rangkaian mekanisme kerja di dalam tubuh untuk batuk? Saya rasa tidak.”

Kemudian Ustaz Hamas memulai penjelasannya dengan gaya bicara layaknya seorang detektif ulung.
“Berdasarkan hasil investigasi saya yang mendalam dan didasari oleh rangkaian variabel-variabel yang menyusun konstruksi analitik-hipotetik dalam struktur wacana pemikiran mengenai fenomena batuk berjamaah ini. Suara-suara batuk yang kalian keluarkan saat salat berjamaah lebih dekat pada persoalan dorongan psikologis dibanding dengan dorongan fisik, yaitu kehendak untuk batuk yang disebabkan oleh terjadinya miss (kesalahan) atau ketidakstabilan tertentu pada bagian fisik tertentu yang memiliki keterkaitan langsung dengan bagian tubuh tempat batuk itu berasal. Dorongan psikologis yang saya maksud adalah, bahwa batuk yang kalian keluarkan tersebut disebabkan karena kalian mendapati adanya suara batuk dari luar diri kalian yang mana suara batuk tersebut tanpa kalian sadari menciptakan suatu bentuk stimulus-respons tertentu pada diri kalian. Saat sedang salat berjamaah, melalui takbiratul ihram kita sejatinya sedang menstimulus seluruh bagian tubuh, termasuk pikiran, untuk “mengosongkan diri” dan siap dengan serangkaian aktivitas ritual dalam gerakan dan bacaan salat. Saat kondisi fisik kita dituntut untuk “diam”, untuk fokus pada satu kegiatan, di saat yang bersamaan juga kita tidak dapat “mendiamkan” pikiran kita. Kegiatan berpikir terus aktif sekalipun tubuh kita hanya diam berdiri tegak mendekap kedua tangan di dada. Dalam keadaan seperti itulah tubuh dan pikiran kita menjadi lebih peka terhadap sekitar. Contohnya saja, kita bisa tiba-tiba ingat kalau masih punya hutang dengan teman, padahal sebelumnya kita sama sekali tidak ingat akan hal itu. Karenanya khusyuk menjadi bagian terberat dalam salat. Secara tidak kita sadari, alam bawah sadar kita menangkap setiap informasi yang diterima oleh tubuh melalui panca indra yang kita miliki, kemudian oleh tubuh kita informasi tersebut diproses untuk pada tahap selanjutnya ditentukan tindakan apa yang dapat dilakukan sebagai respons atas informasi tersebut. Ketika informasi tersebut berupa suara batuk, respon paling umum yang akan dilakukan oleh tubuh kita, sebagai suatu bentuk respons yang paling mudah dan cepat, adalah dengan menunjukkan batuk yang sama dengan informasi yang diterima.”

Sampai di sini Ustaz Hamas berhasil membuat para santri mengernyitkan dahi.

“Saya beri contoh, ini umum kita alami, ketika kita sedang berselisih dengan salah seorang teman kemudian dia memukul wajah kita, dengan segera kita berusaha menentukan reaksi apa yang akan kita lakukan terhadap pukulan itu. Dan reaksi yang paling umum terjadi adalah dengan memberikan pukulan balik kepada teman kita tersebut sehingga terjadilah suatu perkelahian, saling pukul-memukul satu sama lain. Seperti itu juga yang terjadi ketika di dalam salat, tubuh kita yang sedang berusaha untuk fokus kemudian menerima suatu informasi yang “asing”, informasi yang tidak seharusnya ditemukan di dalam prosesi salat berjamaah. Informasi yang juga kita miliki dan dapat dengan mudah kita keluarkan sebagai suatu bentuk tindakan, yaitu suara batuk. Dengan begitu, mereka yang tidak berusaha untuk terlebih dulu mengolah informasi yang diterimanya akan dengan mudah memberikan reaksi yang sama sebagaimana informasi itu sendiri. Maka kemudian terjadilah fenomena “batuk jama’i” di dalam salat berjamaah. Keadaan psikologis seperti itu banyak dijelaskan di dalam buku-buku psikologi, di antaranya, karya-karya Sigmund Freud yang banyak membahas soal kondisi alam bawah sadar manusia.”

Ustaz Hamas menghentikan penjelasannya sejenak, kembali duduk dan meraih botol mineral yang ada di hadapannya lalu meminumnya. “Fahimtum? “
“Fahimnaaaa“
“Alhamdulillah.Sekarang saya tanya, apakah batuk merupakan dari hal-hal yang dapat membatalkan salat?”
“Tidaakkk”pertanyaan itu dijawab para santri dengan penuh kepercayaan diri.
“Kalian yakin dengan jawaban itu?”
“Yakiinnn”
“Hhhmmm, sayangnya persoalan dalam hal ini tidak sesederhana itu. Tidak seperti kentut yang jelas-jelas hukumnya membatalkan salat. Baik keluarnya dengan atau tanpa suara, kentut menyebabkan batalnya salat.”
“Begini…” Ustaz Hamas menampakkan ekspresi keseriusannya hingga suasana masjid menjadi benar-benar sunyi. “Persoalan batuk dan sejenisnya seperti bersin, sendawa, menguap, dan berdehem, banyak dibicarakan oleh para ulama fikih mengingat keberadaan salah satu hadis yang berbunyi:
إِنَّهذه الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيْهَا شَيْءُ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ
Kandungan hadis tersebut menunjukkan bahwa ucapan seseorang, selain daripada bacaan-bacaan yang berhubungan dengan salat, dapat membatalkan salatnya. Kemudian para ulama berusaha memahami dan membuat batasan terkait yang dimaksud dengan “kalamun naas” yang menyebabkan batalnya salat seseorang. Para ahli fikih dalam Mazhab Syafi’i menerangkan bahwa standar atau batasan ucapan yang dapat membatalkan salat adalah keluarnya bunyi satu huruf yang memiliki makna dan dapat dipahami atau dua huruf yang jelas atau terang pelafalannya sekalipun tidak dapat dipahami dan tidak memiliki makna.”

“Contohnya, ustaz?” Tanya salah seorang santri dengan tangkas.

“Ro (رَ) dalam bahasa Arab yang memiliki arti ‘lihatlah’. Satu huruf ini memiliki makna, lebih-lebih kita memahaminya. Atau RORO (رَرَ) dua huruf ini juga dapat membatalkan salat meskipun kita tidak tahu maknanya dan tidak dapat memahami ucapan tersebut. Jika ucapan atau suara yang keluar tidak menunjukkan huruf yang jelas, hanya samar-samar, seperti bersin, batuk, berdehem ataupun sendawa. Maka hal itu tidak membatalkan salat, baik sedikit ataupun banyaknya. Pendapat ini ditegaskan oleh syekh Zakaria Al Anshori dalam kitab Fathul Wahab Hamisy Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Wahhab:
وَلَا بِتَنَحْنُحٍلِتَعَذُّرِ رُكْنٍ قَوٍلِيٍّ
“Yang berarti ‘dan tidak pula batal disebabkan oleh berdehem karena sulitnya mengucapkan rukun qauli’, bukan sulitnya bacaan lain. Seperti anjuran membaca dengan keras atau jahr, karena hal itu tidak wajib, maka tidak ada keterdesakan untuk berdehem.”

“Hal-hal seperti batuk, sendawa, berdehem dan lain-lain yang semisalnya yang darinya menampakkan keluarnya satu huruf yang dapat dipahami ataupun dua huruf meskipun tidak dapat dipahami maknanya, itu tidak membatalkan salat apabila disertai dengan uzur syar’i yang berkisar pada dua hal. Pertama, untuk memudahkan bacaan wajib dalam salat, saat hendak membaca Al-Fatihah, misalnya, apabila orang yang salat tersebut merasa kesulitan untuk membacanya dengan benar maka boleh baginya untuk berdehem atau batuk sekalipun menampakkan beberapa huruf. Dalam hal ini dapat diterapkan kaidah fiqhiyyah, seperti:
إِذَا تَعَارَضَتْمَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

“Kita dapat mengartikannya sebagai berikut, apabila kita berhadapan dengan dua mafsadat dalam suatu persoalan. Maka yang harus dipilih adalah kemafsadatan yang paling kecil risikonya. Analisisnya dalam kasus batuk jama’i ini sebagai berikut, mafsadat yang pertama yaitu mengeluarkan huruf melalui berdehem saat salat, ini dapat membatalkan salat berdasarkan hadis di awal tadi. Mafsadat kedua, yaitu, membaca surat al-Fatihah dengan tidak sempurna, bisa dianggap sebagai meninggalkan bacaan al-Fatihah yang mana hal tersebut dapat menjadikan sholat tidak sah berdasarkan hadis berikut:
لَا صَلَاةَلِـمَنْ لَـمْ يَقْرَأْ بِفَاتِـحَةِ الكِتَابِ
“Tidak(sah) salat seseorang apabila ia tidak membaca al-Fatihah”.
“Apabila kesempurnaan bacaan al-Fatihah hanya dapat diperoleh melalui berdeham atau batuk, maka berdeham tersebut harus dilakukan sebab kandungan mafsadatnya lebih kecil daripada meninggalkan bacaan al-Fatihah. Dan karena untuk memenuhi kewajiban membaca al-Fatihah tersebut baru dapat dilakukan dengan berdehem atau batuk, maka berdasarkan kaidah:
مَا لَا يَتِمُّالوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Yaitu suatu hal yang menjadikan suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hal tersebut juga menjadi wajib. Sehingga berdehem ataupun batuk menjadi perlu untuk dilakukan. Maka dapat dihukumi dengan begitu berdehem tidak membatalkan salat sekalipun sampai menampakkan huruf yang terang, selama masih dalam batas wajar.

Uzur syar’i yang kedua, yaitu apabila kehendak untuk berdeham, batuk, dan lain-lain tersebut tidak dapat dihindari, maka tidak membatalkan salat sekalipun juga sampai menampakkan dua huruf atau lebih. Hal ini juga dibatasi oleh batas kewajaran berdasarkan ‘urf atau adat yang berlaku di wilayah setempat. Menurut pendapat syekh Zakaria Al Anshori juga, sedikitnya berdehem atau batuk tidak membatalkan salat ketika terdesak. Sedangkan banyaknya dapat membatalkan salat dikarenakan hal itu dapat memutus rangkaian salat. Dengan begitu maka dapat kita pahami bahwa berdehem ataupun batuk yang dapat membatalkan salat adalah yang dilakukan secara berulang-ulang, terlepas dari persoalan apakah itu menampakkan huruf yang terang ataupun tidak, ia dapat membatalkan salat karena pengulangannya itu dapat memutus rangkaian salat. Jika seseorang mengalami keadaan di mana ia tidak dapat menghindari batuknya yang berulang-ulang, ia wajib menunda salatnya hingga menemukan keadaan yang mana pada keadaan tersebut ia dapat terhindar dari batuk, sekalipun harus menunggu sampai akhir waktu sholat.

Sekarang coba kita perhatikan bagaimana kondisi batuk-batuk yang kita temukan dalam jamaah salat kita. Apakah batuk-batuk tersebut sampai pada kategori yang membatalkan atau tidak. Saya tidak dapat menjawab itu karena toh bukan saya yang batuk-batuk, tapi kalian, kalian dapat menjawab pertanyaan itu kepada diri kalian masing-masing sebagai seorang musholi yang terbatuk-batuk.”

“Uhhuuukk…” tepat dari arah kanan masjid terdengar suara batuk yang tertahan keras. Seluruh perhatian seketika tertuju padanya, semua santri dari arah kiri dan belakang berusaha mencari-cari dan menebak-nebak siapa pemilik batuk yang tertahan itu.

Mendapati tingkah santrinya seperti itu, Ustaz Hamas hanya tersenyum “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat. Bermanfaatnya ilmu yaitu ketika diamalkan. Anak-anakku yang saya cintai, saya berpesan kepada kalian dan juga kepada diri saya sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan. Banyak cara yang dapat kita lakukan dalam meningkatkan ketakwaan itu, di antaranya dengan memperbaiki dan menyempurnakan salat kita. Jika salat kita benar, maka benarlah pula seluruh amal perbuatan kita. Sebagaimana yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah saw:
أَوَّلُمَا يُـحَاسَبُ عَلَيْهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلَاةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلَاتُهُ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَ إِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
Kita tutup kajian sore hari ini dengan sama-sama membaca hamdallah.”

“Alḥamdulillahirobbil’alamin”

“Hadānallah wa iyyākum ajma’in. Billahi at-taufiq wal hidāyah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.

“Wassalamualaikum.., uhhuk uhhhukk, warahmatullahi…, uhukk, wabarakatuh…, uuhhhhuuuuuuukkkkkk”

Jawaban salam dari para santri diiringi oleh gejolak batuk-batuk yang tertahan selama kajian berlangsung.