Penglihatan dan Suara Rasulullah

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَغْفِرُ بِهَا الذُّنُوْب وَتُسَهِّلُ بِهَا المَطْلُوْب وَتُصْلِحُ بِهَا القُلُوْب وَتَنْطَلِقُ بِهَا العُصُوْب وَتَلِيْنُ بِهَا الصُّعُوْب وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ إِلَيْهِ الْمَنْسُوْب

Ya Allah limpahkanlah selawat dan salam kepada penghulu kami, Nabi Muhammad ﷺ, selawat yang dengannya Engkau ampuni segala dosa, Engkau mudahkan segala keinginan, Engkau perbaiki isi hati, selawat yang dengannya pergi segala rintangan dan mudah segala kesulitan. Beserta keluarga, sahabat dan semua yang bernasab kepadanya.

Kesempurnaan fisik Rasulullah ﷺ yang dibahas pada serial sebelumnya, tidak terlepas dari fungsi dan kegunaannya yang di luar batas kemampuan manusia pada umumnya. Hal ini semata-mata adalah mukjizat yang Allah anugerahkan kepada beliau untuk melindungi diri dan melemahkan musuh-musuhnya. Juga sebagai bukti atas kenabian dan kemuliaannya yang menguatkan iman umatnya. Sebagai contoh, penglihatan kedua matanya yang dapat menjangkau objek dari arah yang tidak seharusnya serta suaranya yang menembus ruang dan jarak tempuh yang jauh. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh banyak hadits yang menjadi saksi atas fungsi dari anggota tubuh Rasulullah ﷺ yang Khariq al-‘Adat, keluar dari adat kebiasaan.

Penglihatan Rasulullah ﷺ

Dalam kitab al-Mawahib al-Ladunniyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah karya Imam al-Qasthallani (923 H) diriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Abbas ra:

كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يرى باللّيل في الظّلمة كما يرى بالنّهار في الضّوء

Rasulullah ﷺ melihat pada malam hari yang gelap, sama seperti melihat ketika siang hari yang terang.

Syekh al-Lahji (1410 H) menjelaskan hadits di atas memberikan pemahaman bahwa penglihatan Rasulullah ﷺ sama jelasnya pada malam hari sebagaimana beliau melihat pada siang hari. Kegelapan malam tidak menghalangi dan mengurangi ketajaman pandangan beliau. Karena ketika Allah Swt menghendaki Rasulullah ﷺ untuk mengetahui hal ghaib, Allah pun memberinya pengetahuan berupa penglihatan yang luar biasa untuk menangkap objek-objek nyata. Al-Qadhi Iyadh (544 H) dalam asy-Syifa memberikan keterangan bahwa mukjizat ini beliau peroleh setelah beliau kembali dari perjalanan Isra dan Mikraj.

Ibnu Katsir (774 H) ketika menafsirkan ayat 219 surat asy-Syu’ara, beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Mujahid bin Jabr (104 H):

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرى من خلفه كما يرى من أمامه

Rasulullah ﷺ melihat bagian belakang sama seperti melihat bagian depan

Kemudian Mujahid menyandarkan keterangannya di atas kepada hadits Rasulullah ﷺ yang pernah bersabda ketika hendak memimpin salat berjamaah:

سووا صفوفكم؛ فإني أراكم من وراء ظهري

Luruskanlah shaf kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku.

Asy-Syihab al-Khafaji (1069 H) dalam syarah asy-Syifa mengatakan bahwa hadits selaras juga diriwayatkan oleh Imam Malik (179 H), al-Bukhari (256 H) dan Muslim (261 H) dari Abu Hurairah ra, ketika Rasulullah ﷺ sedang menegur sahabat yang salatnya tidak khusyuk, beliau bersabda:

هل ترون قبلتي ههنا!!، فوالله ما يخفى عليّ ركوعكم ولا خشوعكم، وإنّي لأراكم من وراء ظهري

Apakah kalian mengetahui bahwa arah kiblat ke sini? Demi Allah, rukuk dan kekhusyukan kalian dalam salat tidak tersembunyi dari pengetahuanku. Sesungguhnya aku benar-benar melihat kalian dari belakang punggungku.

Dalam riwayat yang lain, Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa ketika Rasulullah ﷺ menegur sahabatnya yang mendahulukan rukuk dan sujud Rasulullah ﷺ ketika menjadi imam dalam salat berjamaah. Beliau bersabda:

أيّها النّاس؛ إنّي إمامكم، فلا تسبقوني بالرّكوع ولا بالسّجود، فإنّي أراكم من أمامي ومن خلفي

Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku ini adalah imam kalian. Maka janganlah kalian mendahului aku dalam rukuk dan sujud. Karena sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari arah depan dan belakang.

Dalam hal ini, Imam al-Qasthallani dalam al-Mawahib menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penglihatan dalam hadits di atas adalah penglihatan hakiki. Sebab dalam bahasa Arab, kata رأى juga dapat diterjemahkan dengan makna mengetahui. Penglihatan dari tempat yang tidak seharusnya ini merupakan kekhususan bagi Nabi Muhammad ﷺ sebagai mukjizat yang Allah anugerahkan kepada beliau. Imam al-Qasthallani juga menambahkan bahwa penglihatan dari arah belakang yang dimiliki oleh Rasulullah ﷺ tidak seperti yang kita bayangkan tentang penglihatan yang membutuhkan bola mata, pencahayaan dan hal lainnya. Beliau juga mengingatkan bahwa Tuhan yang memberikan penglihatan pada mata sangat mampu memberikan penglihatan pada sesuatu yang Dia kehendaki.

Selain itu, dalam hadits dhaif dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ suka menikmati pemandangan hijau beserta air yang mengalir. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu as-Sunni (364 H) dan Abu Nu’aim (430 H) dalam kitab mereka yang judulnya sama, ath-Thib an-Nabawi dari Abdullah bin Abbas ra. beliau mengatakan:

أن النبي صَلَّى الله عَليْهِ وَسلَّم كان يحب أن ينظر إلى الخضرة وإلى الماء الجاري

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyukai pemandangan hijau beserta air yang mengalir.

Al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir bahwa kesenangan Rasulullah ﷺ memandang tetumbuhan dan aliran air adalah semata-mata hanya ingin menikmati keindahannya saja. Bukan karena ingin mendapatkan buah dari pepohonan tersebut atau meneguk sejuknya air sungai. Kemudian beliau mengutip kalam Imam al-Ghazali (505 H) yang mendefinisikan rasa cinta atau kesenangan terhadap sesuatu.

ففيه أنّ المحبّة قد تكون لذات الشيء؛ لا لأجل قضاء شهوة منه، وقضاء الشهوة لذّة أخرى، والطباع السليمة قاضية باستلذاذ النظر إلى الأنوار والأزهار، والأطيار المليحة والألوان الحسنة، حتّى أنّ الإنسان ليفرج عنه الهمّ والغمّ بالنظر إليها؛ لا لطلب حظّ وراء النظر

Hal tersebut membuktikan bahwa cinta sejati adalah ketika hanya menyenangi objek cinta tanpa tujuan untuk menunaikan syahwat terhadap objek tersebut. Menunaikan syahwat adalah kenikmatan lain yang dapat dilakukan tanpa cinta. Pada fitrahnya, manusia senang menikmati keelokan cahaya cerah, aneka ragam bunga, kawanan burung yang cantik dan padu warna yang indah. Sehingga terkadang manusia dapat mengurangi gundah gulananya hanya dengan memandangi panorama tersebut. Bukan karena menginginkan hal lainnya.

Lebih spesifik, Imam ath-Thabrani (360 H) meriwayatkan hadits dari Abu Kabsy al-Anmari ra. bahwa Rasulullah ﷺ senang melihat buah sitrun dan apel,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعجبه النظر إلى الأترج، وكان يعجبه النظر إلى الحمام الأحمر

Rasulullah ﷺ suka melihat buah sitrun dan buah apel merah.

Imam as-Suyuti (911 H) menyebutkan beberapa manfaat dari buah sitrun dalam kitabnya, al-Jami’ ash-Shaghir,

وهو مذكور في التنزيل ممدوح في الحديث؛ منوّه به فيه بالتفضيل، بارد رطب، في الأولى يصلح غذاء ودواء ومشموما ومأكولا، يبرّد عن الكبد حرارته، ويزيد في شهوة الطعام، ويقمع المرّة الصفراء، ويسكّن العطش، وينفع للقوة، ويقطع القيء والإسهال المزمنين

Buah sitrun disebut dalam al-Qur’an, begitu pula dalam hadits. Sebutannya menjadi mulia dengan keberadaannya dalam al-Qur’an dan hadits. Buahnya bersifat dingin dan basah. Baik dikonsumsi saat makan siang. Harumnya wangi dan dapat dikonsumsi. Mendinginkan lambung yang panas, menambah nafsu makan, menyembuhkan penyakit kuning, melegakan dahaga, menambah stamina, menghentikan mual dan meredakan diare.

Suara Rasulullah ﷺ

Adapun suara Rasulullah ﷺ, sahabat Anas bin Malik memberikan kesaksian atas keindahan suara Rasulullah ﷺ sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (279 H) dalam sunan-nya:

ما بعث الله نبيّا إلّا حسن الوجه، حسن الصّوت، وكان نبيّكم أحسنهم وجها، وأحسنهم صوتا

Sesungguhnya Allah swt tidak mengutus seorang nabi melainkan berwajah indah dan bersuara merdu. Nabi kalian (Nabi Muhammad ﷺ) adalah seorang nabi yang paling tampan wajahnya dan paling merdu suaranya.

Imam al-Lahji menjelaskan bahwa keindahan suara Rasulullah ﷺ tidak diukur oleh titinada yang berlaku pada dunia musik. Akan tetapi berdasarkan kelantangan suaranya yang dapat didengar dari kejauhan serta kelembutannya yang dapat diterka oleh rasa. Hadits di atas sekaligus menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ lebih tampan wajahnya dari Nabi Yusuf as dan lebih indah suaranya dari Nabi Daud as.

Imam Muslim, Ibnu Majah, Ibnu Hibban (354 H) serta al-Hakim (405 H) meriwayatkan hadits yang menggambarkan keadaan ketika Rasulullah ﷺ sedang khutbah di atas mimbar dari sahabat Jabir bin Samurrah ra.

وكان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إذا خطب.. اشتدّ غضبه وعلا صوته، كأنّه منذر جيش يقول: صبّحكم ومسّاكم

Apabila Rasulullah ﷺ khutbah, marahnya bertambah dan suaranya meninggi. Seolah-olah beliau seperti sedang menjadi panglima pasukan perang yang mengatakan: ‘Besok pagi atau sore musuh akan mendatangi kalian!’

Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa matanya juga ikut memerah karena marahnya. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa marahnya adalah untuk menegaskan hal-hal yang dilarang dalam Islam. Imam an-Nawawi (676 H) menambahkan, marahnya Rasulullah ﷺ mungkin terjadi untuk menegaskan perintah atau kewajiban yang besar dalam Islam. Ath-Thayyibi (743 H) memberikan faedah dari hadits tersebut.

فكذا حاله صلّى الله عليه وسلم عند الإنذار، وفيه أنّه يسنّ للخطيب تفخيم أمر الخطبة ورفع صوته وتحريك كلامه، ويكون مطابقا لما تكلّم به من ترغيب وترهيب

Begitulah keadaan Rasulullah ﷺ ketika sedang memberikan peringatan. Hadits tersebut sekaligus mengajarkan tentang kesunnahan membesarkan suara bagi khatib, meninggikannya serta memainkan intonasi yang tepat. Sehingga sesuai dengan objek pembicaraan, baik berupa motivasi atau peringatan.

Sementara sahabat yang lain seperti Abdurrahman bin Mu’adz membagikan pengalaman menakjubkannya ketika telinganya dapat menangkap suara Rasulullah ﷺ dari tempat yang tidak dekat sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (230 H).

قال عبد الرّحمن بن معاذ التّيميّ رضي الله تعالى عنه: خطبنا رسول الله صلّى الله عليه وسلّم بمنى، ففتح الله أسماعنا، حتّى إن كنّا لنسمع ما يقول ونحن في منازلنا

Abdurrahman bin Mu’adz ra. mengisahkan pada peristiwa haji, beliau berkhutbah di hadapan kami di Mina. Kemudian Allah swt membukakan pendengaran kami sehingga jika seandainya pada saat itu kami berada di rumah, niscaya kami akan mampu mendengar khutbahnya.

Dapat kita bayangkan pada peristiwa di atas, betapa lantangnya suara Rasulullah ﷺ menyampaikan risalah ketuhanan. Suaranya Allah perdengarkan kepada para sahabatnya yang tidak sedikit di tempat lapang tanpa pengeras suara.

Berbeda ceritanya dengan apa yang dialami oleh Ummu Hani ra. yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (273 H). Beliau adalah putri Abu Thalib, saudara Imam Ali ra, sekaligus sepupu Rasulullah ﷺ.

كنّا نسمع قراءة النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم في جوف اللّيل عند الكعبة، وأنا على عريشي

Aku sering mendengar bacaan al-Qur’an Rasulullah ﷺ pada malam hari di Kakbah, sedangkan aku berada di atas kasurku.

Pendengaran Ummu Hani’ yang menangkap suara Rasulullah ﷺ di dalam rumahnya yang jauh dari tempat Rasulullah ﷺ berada, menunjukkan suara Rasulullah ﷺ yang keras dan lantang.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim keduanya meriwayatkan sebuah kisah sahabat yang melengkapi persaksian para sahabat yang menikmati merdu suara Rasulullah ﷺ. Kali ini dari sahabat al-Barra’ bin ‘Azib.

قرأ صلّى الله عليه وسلم في العشاء (وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ) فلم أسمع صوتا أحسن منه

Pada suatu kesempatan, Rasulullah ﷺ membaca surat at-Tin ketika memimpin salat Isya berjamaah. Sungguh aku belum pernah mendengar suara yang lebih merdu daripada suaranya.

Semoga sedikit pengetahuan yang bertambah tentang Rasulullah ﷺ mendekatkan kita selangkah demi selangkah kepada wujud kesempurnaan mutlak, Nabi Muhammad ﷺ di dunia dan akhirat. Amin.