Keringat Rasulullah Saw

Sebagian orang beranggapan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia biasa yang tidak berbeda dengan kita. Sama-sama makan, tidur dan menunaikan hajat yang sama. Tidak cukup sampai di sana, mereka juga mendalilkan penyimpangannya dengan ayat al-Qur’an yang maknanya dipaksakan untuk membenarkan dugaan mereka yang keliru.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ

Katakanlah (wahai Muhammad ﷺ) sesungguhnya aku adalah manusia biasa seperti kalian.. (Qs. al-Kahfi: 110)

Ada banyak ayat serupa di dalam al-Qur’an pada ayat dan surat yang lain. Atas dasar ayat semacam ini, mereka mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak lebih dari seorang manusia biasa seperti kita. Padahal, sekiranya mereka belajar sedikit saja ilmu al-Waqf wa al-Ibtida yang mengajarkan tentang kapan kita harus berhenti, boleh atau dilarang menyambung bacaan ayat dalam al-Qur’an, niscaya mereka akan menemukan bahwa potongan ayat yang mereka jadikan dalil untuk mengatakan Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia biasa itu tidak tepat. Tidak ada satu pun riwayat al-Qur’an yang membolehkan waqaf pada potongan ayat tersebut kecuali untuk keadaan darurat, dan itu pun harus mengulangnya dari awal ayat kemudian menyempurnakan ayat hingga pangkalnya. Mari kita lihat terusan dari potongan ayat di atas.

يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

.. manusia yang diberikan wahyu bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Esa. (Qs. al-Kahfi : 110)

Justru ayat di atas mengabarkan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ bahwa Rasulullah ﷺ tidak seperti kita dan manusia lainnya. Dialah Sang Utusan Tuhan yang diwahyukan. Diciptakan dengan segala kesempurnaan tanpa celah dan kekurangan, baik secara zahir maupun batin. Beliau menjadi bukti yang paling nyata atas kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Wakil Tuhan yang menjadi kepanjangan kasih sayang-Nya melalui syariat dan ajarannya. Bangsa manusia menjadi mulia karenanya. Sebab kemanusiaan disempurnakan oleh keluhuran akhlaknya. Nasabnya tidak seperti nasab kita, fisiknya tidak seperti fisik kita, bahkan keringat dan sisa makanan yang keluar dari tubuhnya tidak seperti yang keluar dari tubuh kita. Al-Bushiri sampai memujinya seperti ini dalam burdah-nya:

فهو الذى تم معناه وصورته # ثم اصطفاه حبيبا بارئ النسم

Dialah seorang rasul yang sempurna batin dan lahirnya , kemudian Allah Sang Pencipta manusia memilihnya sebagai kekasih-Nya

منزه عن شريك فى محاسنه # فجوهر الحسن فيه غير منقسم

Tak seorang pun mampu menyaingi kebaikannya. Inti keindahan yang ada pada dirinya tak dapat terbagi-bagi

داع ما ادعته النصارى في نبيهم # واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم

Hindarilah memujinya sebagaimana kaum nasrani memuji nabi mereka (Isa as). Pujilah Rasulullah ﷺ dengan puji-pujian yang kau kehendaki

وانسب إلى ذاته ما شئت من شرف # وانسب إلى قدره ما شئت من عظم

Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu, dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau

فإن فضل رسول الله ليس له # حد فيعرب عنه ناطق بفم

Karena sesungguhnya keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ itu tidak ada batasnya, hingga tak ada satupun yang mampu mengungkapkan dengan lisannya

Jadi, dari sisi apa kita sama dengan Rasulullah ﷺ? Makannya tidak seperti makan kita, tidurnya tidak seperti tidur kita, gaya hidupnya tidak seperti gaya hidup kita, bahkan cara beliau memandang dunia sama sekali tidak seperti cara kita memandangnya. Paham yang menganggap Rasulullah ﷺ itu sama seperti kita dan tidak berbeda dengan manusia lainnya adalah sikap kurang ajar yang menunjukkan kebodohan dan ketidaktahuan tentang Rasulullah ﷺ. Ungkapan semacam ini sudah Allah Swt gambarkan dalam al-Qur’an dan ucapan seperti ini tidak keluar melainkan dari lisan orang-orang yang mengingkari kenabian.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ (23) فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ (24) إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّىٰ حِينٍ (25)

Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu, dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Apakah kamu tidak bertakwa?” Maka, para pemuka orang-orang yang kufur dari kaumnya berkata, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu. Dia ingin menjadi orang yang lebih mulia daripada kamu. Seandainya Allah berkehendak, tentu Dia akan mengutus malaikat. Belum pernah kami dengar (seruan seperti) ini pada (masa) nenek moyang kami dahulu. Dia hanyalah seorang laki-laki yang gila. Tunggulah dia sampai waktu yang ditentukan.”  (Qs. al-Mukminun : 23-24)

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ (32) وَقَالَ الْمَلَأُ مِن قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ (33) وَلَئِنْ أَطَعْتُم بَشَرًا مِّثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَّخَاسِرُونَ (34)

Lalu, Kami utus kepada mereka seorang rasul dari (kalangan) mereka sendiri. (Dia berkata,) “Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Apakah kamu tidak bertakwa?” Para pemuka kaumnya yang kufur dan mendustakan pertemuan hari akhirat serta mereka yang telah Kami beri kemewahan dan kesenangan dalam kehidupan di dunia berkata, “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu. Dia makan apa yang kamu makan dan minum apa yang kamu minum. Sungguh, jika menaati manusia yang seperti kamu, sesungguhnya kamu benar-benar akan merugi. (al-Mukminun : 32-34)

Tulisan ini mengajak para pembaca untuk sama-sama menyadari perbedaan besar yang terbentang antara kita dengan manusia pilihan Tuhan. Dalam hal ini, mari kita telaah lebih dalam tentang keringat Rasulullah ﷺ sebagai salah satu tolok ukur kesempurnaannya yang membedakan beliau dengan manusia lainnya. Mungkin dari sisi ini, sebagai manusia Rasulullah ﷺ sama-sama berkeringat seperti kita. Namun, keringat yang keluar dari kulit tubuhnya tidak sama dengan keringat yang keluar dari pori-pori kulit kita.

Imam Muslim (261 H) dalamShahih-nya meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik, beliau bercerita:

كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم كثير العرق

Rasulullah ﷺ banyak berkeringat

Lazimnya, keringat manusia akan menambah bau tidak sedap pada tubuhnya. Sebab bau tubuh dan bau keringat adalah dua hal yang berbeda. Bau tidak sedap yang ditimbulkan oleh badan yang berkeringat lebih besar dari pada saat tidak berkeringat. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Ubbi ulama asal Tunisia yang wafat pada tahun 827 Hijriah. Namun, hal ini tidak berlaku bagi keringat Rasulullah ﷺ. Kita akan melihat bagaimana para sahabat menikmati keharuman aroma tubuh Rasulullah ﷺ.

Abu Nu’aim (430 H) meriwayatkan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah ra.

كان عرقه صلّى الله عليه وسلّم في وجهه كاللّؤلؤ، وأطيب من المسك الأذفر

Bulir keringat Rasulullah ﷺ yang mengalir di wajahnya seperti butiran mutiara yang mengkilau dan aromanya lebih harum dari misik yang paling wangi.

Imam al-Lahji menjelaskan bahwa wangi harum yang dimaksud dalam hadits di atas bukanlah wangi yang disebabkan oleh minyak wangi. Melainkan keharuman yang memang muncul dari aroma tubuh Rasulullah ﷺ. Sebab jika wangi-wangian yang dimaksud berasal dari sesuatu yang lain, maka itu tidak akan menjadi pujian yang sempurna bagi Rasulullah ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ tetap wangi meski tanpa minyak wangi. Seperti kesaksian Abu Bakar ash-Shiddiq ra yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari ketika mencium kening Rasulullah ﷺ saat beliau wafat, Abu Bakar berkata:

بأبي أنتَ وأمي ، طِبْتَ حيًّا وميتًا

Demi ayah dan ibuku, engkau sungguh harum saat hidup dan setelah wafat

Walau demikian, Rasulullah ﷺ tetap senang dan tidak jarang mengenakan minyak wangi bahkan secara berlebihan. Hal itu karena beliau sering berjumpa dengan Malaikat Jibril as dan kerap duduk bersama umatnya. Itulah mengapa mengenakan minyak wangi dihukumi sunnah muakkadah, sunnah yang sangat dianjurkan. Begitu ungkap al-Lahji.

Dalam hadits yang lain, Ummu Sulaim, ibu Anas bin Malik, pembantunya Rasulullah ﷺ mengisahkan pengalaman mengesankannya ketika Rasulullah ﷺ berkunjung ke rumahnya dan tidur siang di sana. Imam an-Nawawi (676 H) dalam al-Minhaj, syarah shahih Muslim menerangkan bahwa Ummu Sulaim merupakan bibi Rasulullah ﷺ dari persusuan. Sehingga ia adalah mahram bagi Rasulullah ﷺ. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik ra.

كان صلّى الله عليه وسلّم يأتي أمّ سليم فيقيل عندها، فتبسط له نطعا فيقيل عليه، وكان كثير العرق، فكانت تجمع عرقه فتجعله في الطّيب، فقال النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم: يا أمّ سليم؛ ما هذا؟ قالت: عرقك نجعله في طيبنا، وهو من أطيب الطّيب

Suatu hari, Rasulullah ﷺ berkunjung ke rumah Ummu Sulaim dan beristirahat di sana. Ummu Sulaim lantas menggelarkan untuknya sebuah alas dari kulit sehingga beliau dapat tidur siang di atasnya. Karena panasnya siang, beliau berkeringat saat tertidur. Melihat hal itu, Ummu Sulaim berinisiatif untuk mengumpulkan butiran keringat yang jatuh dari tubuh Rasulullah ﷺ dan menjadikannya sebagai wewangian. Ketika terbangun dari tidurnya, Rasulullah ﷺ bertanya: ‘Wahai Ummu Sulaim, apa yang sedang kau lakukan?’ Ummu Sulaim menjawab: ‘Ini adalah keringatmu, wahai Rasulullah. Kami menjadikannya sebagai wewangian yang kami gunakan. Sungguh itu adalah wewangian yang paling harum.

Pada riwayat yang lain, Anas bin Malik melengkapi hadits di atas dan menambahkan keterangan bahwa ibunya, Ummu Sulaim mengumpulkan keringat Rasulullah ﷺ dalam sebuah botol yang ia bawa. Kemudian Ummu Sulaim mengatakan bahwa selain menjadikannya sebagai wewangian, ia juga mengharapkan keberkahan dari keringat Rasulullah ﷺ untuk anak-anaknya.

قالت: يا رسول الله؛ نرجو بركته لصبياننا

Ummu Sulaim berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mengharapkan keberkahan (dari keringatmu) untuk anak-anak kami.’

Coba kita lihat bagaimana respon Rasulullah ﷺ setelah mengetahui segala yang telah dilakukan Ummu Sulaim terhadap keringatnya. Apakah beliau mengingkari perbuatan Ummu Sulaim? Tidak. Bahkan menetapkannya sebagai sebuah kebenaran sebagaimana beliau berkata kepada Ummu Sulaim di ujung kisah di atas.

قال: أصبتِ

Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: ‘Apa yang kau lakukan adalah benar.’

Kali ini giliran sang anak, Anas bin Malik yang menceritakan pengalamannya mencium dan menyentuh tangan Rasulullah ﷺ. Sebagaimana yang diabadikan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

ما شممت شيئا قطّ؛ مسكا ولا عنبرا أطيب من ريح رسول الله صلّى الله عليه وسلم، ولا مسست شيئا قطّ؛ حريرا ولا ديباجا ألين مسّا من رسول الله صلّى الله عليه وسلم

Aku sama sekali belum pernah mencium aroma misik atau anbar yang lebih harum wanginya dari pada aroma tangannya Rasulullah ﷺ. Aku juga sama sekali belum pernah menyentuh kain sutera yang lebih lembut dari pada tangannya Rasulullah ﷺ.

Imam asy-Sya’rani (973 H) dalam kitab Kasyf al-Ghummah meriwayatkan sebuah hadits senada dengan hadits di atas.

كان كفّه صلّى الله عليه وسلم ألين من الحرير، وكانت رائحته كرائحة كفّ العطّار، مسّها صلّى الله عليه وسلّم بطيب أم لم يمسّها، وكان يصافح الرّجل فيظلّ يومه يجد ريحها، ويضع يده على رأس الصّبيّ فيعرف من بين الصّبيان بريحها على رأسه

Telapak tangan Rasulullah ﷺ itu lebih lembut dari kain sutera. Tangannya selalu wangi seperti tangan penjual minyak wangi. Baik ketika beliau mengenakan wewangian atau pun tidak. Ketika bersalaman dengan sahabatnya, wanginya membekas di tangan sahabatnya sepanjang hari. Beliau juga gemar mengusap kepala anak kecil. Anak yang diusap kepalanya oleh Rasulullah ﷺ akan dengan mudah diketahui dari wanginya bahwa ia telah disentuh oleh tangannya Rasulullah ﷺ.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kegemaran Rasulullah ﷺ mengusap kepala anak kecil adalah tanda dari kasih sayang dan sikap lemah lembut beliau kepada mereka. An-Nawawi juga menambahkan bahwa wangi harum yang timbul dari tubuh Rasulullah ﷺ adalah salah satu sifat yang melekat pada diri beliau seperti yang dikatakan para ulama.

Bahkan Imam al-Lahji menjelaskan alasan mengapa objek yang pernah bersentuhan langsung dengan tangan Rasulullah ﷺ akan menyimpan bekas keharuman yang ditinggalkan adalah karena wanginya yang semerbak luar biasa. Beliau mengatakan wanginya dapat bertahan hingga batas waktu yang lama.

Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i (96 H) juga menceritakan tentang harum semerbak Rasulullah ﷺ yang dapat tercium dari kejauhan seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (230 H) dalam kitabnya, ath-Thabaqat.

كان صلّى الله عليه وسلّم يعرف منه ريح الطّيب إذا أقبل

Keharuman tubuh Rasulullah ﷺ dapat diketahui apabila beliau mendatangi sebuah tempat.

Karena setiap kali beliau melintasi sebuah jalan atau singgah di sebuah tempat, niscaya wanginya akan tertinggal dan membekas pada jalan dan tempat yang pernah ia kunjungi meskipun orang-orang di sana tidak sempat melihat dan berjumpa dengannya ﷺ.

Dari banyak hadits di atas yang mengisahkan tentang keharuman alami yang bersumber dari Rasulullah ﷺ, Az-Zurqani (1122 H) memberikan kita sebuah pelajaran berharga. Hal ini sekaligus mengakhiri edisi tulisan kali ini. Semoga sedikit pengetahuan ini membawa kita pada keadaan yang memberikan kita kesempatan untuk turut menikmati keharuman Rasulullah ﷺ.

فيفيد طيب ريح بدنه؛ وإن لم يعرق، وذلك لأن القلب الطّاهر الحيّ يشمّ منه رائحة الطيب، كما أن القلب الخبيث الميت يشمّ منه رائحة النتن، لأن نتن القلب والروح يتّصل بباطن البدن أكثر من ظاهره، والعرق يفيض من الباطن، والنفس الطيّبة يقوى طيبها ويفوح عرف عرقها حتّى يبدو على الجسد، والخبيثة بضدّها

Hadits-hadits di atas memberikan kita pengetahuan tentang wangi tubuh Rasulullah ﷺ yang harum meski tidak berkeringat. Yang demikian adalah karena sesungguhnya hati yang bersih dan hidup akan tercium darinya bau yang harum sebagaimana hati yang kotor dan mati akan tercium darinya bau bangkai. Karena sesungguhnya hati dan ruh yang telah menjadi bangkai lebih berpotensi mempengaruhi kondisi batin dari pada kondisi jasad. Sedangkan keringat melimpah dari dalam batin. Jiwa yang baik akan menguatkan semerbak wangi serta menyebarkan keharuman keringat hingga tercium pada jasad. Begitu pun sebaliknya.