
Amaliyah Tadris adalah pelaksanaan praktik mengajar bagi santri kelas akhir Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, di mana mereka dibekali dengan keterampilan mengajar yang matang, mulai dari pembekalan teori hingga praktik langsung. Dimulai dari Kuliah Amaliyah Tadris, lalu Simulasi Amaliyah Tadris, hingga Amaliyah Tadris Perdana, dan diakhiri dengan pelaksanaan Amaliyah Tadris Kelompok.
Menurut Ustaz TB. Wildanul Hakim, S.Hum., Simulasi Amaliyah Tadris merupakan tahap penting dalam proses ini. “Simulasi dalam Amaliyah Tadris artinya santri mencoba mempraktikkan mengajar setelah mereka mendapatkan pembekalan dalam Kuliah Amaliyah Tadris oleh para guru yang kompeten di bidangnya. Setelah mendapatkan bekal tersebut, mereka mencoba mempraktikkannya dalam Simulasi Amaliyah Tadris,” ujarnya saat diwawancara pada Selasa (2/9/2025).
Tujuan utama Simulasi Amaliyah Tadris adalah agar santri memahami bagaimana cara mengajar di kelas dengan benar. “Dalam simulasi ini, mereka dituntut untuk menjadi seorang guru yang sesuai dengan ketentuan, baik dari segi metode, materi, maupun sikap,” ungkap Ustaz Wildan.
Materi yang diajarkan dalam Simulasi Amaliyah Tadris mencakup lima bidang utama: Hadits, Imla, Muthala’ah, Nahwu, dan Reading (Bahasa Inggris). “Setiap materi tersebut dibimbing langsung oleh guru yang berkompeten di bidangnya. Ini menjadi contoh bagi para santri agar ke depannya mereka dapat mempraktikkan mengajar dengan baik,” tambahnya.

Dalam proses Simulasi Amaliyah Tadris, santri dinilai berdasarkan beberapa aspek penting yang harus dikuasai oleh seorang pendidik. Ustaz Wildan menyebutkan empat aspek utama:
- Maddah (Materi): Persiapan materi yang akan disampaikan;
- Thariqah (Metode): Cara atau metode yang digunakan dalam menyampaikan materi;
- Sifat/Akhlaq al-Karimah: Kepribadian baik yang harus dimiliki seorang pendidik;
- Naqd (Kritik): Proses pemberian masukan konstruktif untuk perbaikan.
“Setelah selesai simulasi, setiap anak yang tampil akan dinilai oleh teman-temannya dengan bimbingan guru. Namun, tidak semua komentar atau penilaian bisa langsung diterapkan. Harus sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan,” jelasnya.
Ustaz Wildan juga menekankan pentingnya ketelitian dalam proses mengajar. “Ini sangat penting, karena jika seorang guru salah dalam mengajar, dikhawatirkan akan menimbulkan jariyah suu’ (amal jariyah buruk) bagi anak-anak. Maksudnya, jika seorang guru mengajarkan ilmu yang tidak benar, itu bisa menjadi dosa yang terus mengalir. Maka, semaksimal mungkin kami bimbing para santri agar mereka dapat mengajar dengan baik,” tegasnya.
Oleh karena itu, proses persiapan dan pembuatan rencana mengajar harus dilakukan dengan matang oleh para santri. “Harapan kami, ilmu yang mereka ajarkan bisa menjadi jariyah hasanah (amal jariyah baik), bukan jariyah sayyiah (amal jariyah buruk),” pungkas Ustaz Wildan.