
Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menjadi tuan rumah Pelantikan dan Sarasehan Pengurus Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kecamatan se-Kabupaten Tangerang Masa Khidmah 2025–2028. Acara berlangsung pada Rabu (3/9/2025) di Ballroom Asy-Syahid.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Drs. H. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., Bupati Kabupaten Tangerang; Idrus Salim, Lc., M.BA., Anggota DPR RI; Dr. H. Amrullah, M.Si., Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten; H. Ahmad Baijuri, S.Pd.I., M.Si., Kepala Kemenag Kabupaten Tangerang; K.H. Ues Nawawi, Ketua MUI Kabupaten Tangerang; serta K.H. Amal Faihan Maimun, M.Pd., Ketua Presidium FSPP Kabupaten Tangerang. Turut hadir pula para kiai, alim ulama, dan tokoh masyarakat dari berbagai pesantren di wilayah Kabupaten Tangerang.
Dalam sambutannya, Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Ketua FSPP dan seluruh pengurus yang mempercayakan Daar el-Qolam 3 sebagai tuan rumah. Beliau berharap keberkahan bagi pesantren ini dengan hadirnya para alim ulama serta menegaskan bahwa acara tersebut merupakan ikhtiar dalam memperjuangkan dakwah Islam agar senantiasa hadir di tengah umat.
“Hari ini kita semua menyaksikan, bahwa pesantren bukan lagi lembaga pinggiran. Di Kabupaten Tangerang sendiri saat ini terdapat 864 pesantren yang aktif. Angka ini sudah sangat fantastis dengan jumlah santri yang puluhan ribu banyaknya. Maka pondok pesantren menjadi salah satu tulang punggung pendidikan di Kabupaten Tangerang. Artinya adalah tulang punggung pendidikan moral keagamaan masyarakat kita adalah pondok pesantren,” ungkapnya.
Pesantren dan Tantangan Saat Ini
Kiai Zahid kemudian menegaskan posisi pesantren dalam sejarah pendidikan di Indonesia yang bukan sekadar pusat pengajaran ilmu agama, melainkan juga benteng karakter bangsa. Dari pesantren lahirlah banyak tokoh, ulama, hingga intelektual yang memberi kontribusi besar bagi peradaban dan kemerdekaan Indonesia.
”Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, pesantren memiliki tempat yang istimewa, tidak hanya menjadi pusat penyebaran ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga benteng pembentukan karakter bangsa. Pesantren telah melahirkan banyak tokoh ulama, pemimpin, dan intelektual yang berkontribusi besar terhadap peradaban dan kemerdekaan Indonesia. Mudah-mudahan ke depan banyak santri-santri kita yang akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa ini,” ungkapnya.
Beliau menyoroti tantangan yang kini dihadapi pesantren akibat beberapa kasus yang digiring menjadi isu nasional oleh media. Hal itu, menurutnya, merusak citra pesantren secara umum. Padahal, lebih banyak pesantren yang tetap menjaga integritas dalam mencetak generasi yang bermoral.
Kiai Zahid menekankan perlunya solusi yang struktural dan sistemik, melalui langkah eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, Kementerian Agama diharapkan memperketat regulasi pendirian pesantren, mendorong lahirnya peraturan daerah sebagai turunan Undang-Undang Pesantren, serta menjaga kolaborasi dengan tokoh agama agar kepercayaan publik terhadap pesantren semakin kuat.
Dari sisi internal, menurut beliau, peran kiai, ibu nyai, guru, santri, hingga wali santri harus diperkuat. Peran dakwah pesantren melalui media digital, peningkatan mutu pendidikan, serta budaya keterbukaan terhadap kritik menjadi bagian dari reformasi yang diperlukan.
“Marwah pesantren tidak akan jatuh hanya karena mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Justru di situlah kemuliaan yang sebenarnya terlihat. Wa tawāṣaub bil-ḥaqqi wa tawāṣaubiṣ-ṣabr,” tuturnya.
Lebih jauh, Kiai Zahid menekankan bahwa pesantren tidak cukup hanya mencetak santri yang mahir membaca kitab, tetapi juga harus melahirkan cendekiawan Muslim yang berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu bersaing di kancah internasional.
“Dengan niat yang tulus, keberanian untuk berubah, dan kerja sama semua pihak, pesantren dapat kembali menjadi oase pendidikan moral dan spiritual yang dirindukan umat. Pesantren yang bersih, pesantren yang aman dan nyaman, serta transparan, bukan hanya dambaan tetapi kebutuhan mutlak di tengah krisis moral generasi muda saat ini,” ujar beliau.

Kiai Zahid juga menyinggung kondisi bangsa Indonesia saat ini yang dinilai rapuh bukan karena serangan luar, tetapi akibat pengkhianatan sebagian anak bangsa sendiri. Oleh karena itu, beliau berharap agar para santri kelak bisa tampil sebagai pemimpin umat dan pejabat negara yang membawa nilai-nilai kebaikan.
“Kita berharap, santri kita ke depan yang menjadi para pemimpin umat, dengan harapan negara kita menjadi baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr,” harap beliau.
Peran dan Kedudukan Penting FSPP
Kiai Zahid menegaskan bahwa pesantren adalah kawah candradimuka dalam melahirkan generasi berintegritas, berloyalitas, dan berkapasitas. Karena itu, pesantren harus melakukan reorientasi strategi tanpa meninggalkan ruh dan nilai-nilai dasarnya.
Beliau juga mengutip pandangan K.H. Ma’ruf Amin dalam forum PK-TREN, yang menekankan pentingnya persaudaraan dan kemitraan antarpesantren tanpa harus menyeragamkan program. Ciri khas masing-masing pesantren justru harus tetap dipertahankan, namun saling menguatkan dalam satu barisan perjuangan.
“Kalau al-Qur’an pun memberikan kita ruang yang berbeda: wa ja‘alnākum syu‘ūban wa qabā’ila li ta‘ārafū. Jadi, jangan takut untuk berbeda. Banyak metode, banyak sistem, tetapi selama masih dalam bingkai nilai luhur pesantren—keikhlasan, akhlak, adab, tawaduk, dan cinta ilmu—kita masih dalam satu nafas perjuangan,” pesannya.
Beliau berharap Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) se-Kabupaten Tangerang dapat menjadi wadah saling belajar, menyuarakan aspirasi kolektif, merancang program yang solutif, sekaligus menjadi rumah besar yang menaungi semua pesantren di Tangerang.
“Mari kita perkuat ukhuwah, kita majukan dunia pesantren di Kabupaten Tangerang. Kita sinergikan langkah dan strategi, kita satukan visi dan perjuangan. Insya Allah, dengan berjamaah, barakah Allah akan turun. Semoga Allah memudahkan segala niat baik kita dan menjadikan santri-santri kita kelak sebagai pembawa cahaya di tengah umat yang sedang mencari arah,” harap beliau.
Sebagai penutup, Kiai Zahid mengajak seluruh hadirin memperkuat ukhuwah, memajukan pesantren, serta menyinergikan visi perjuangan agar keberkahan Allah Swt. tercurah.
“Terakhir, saya ingin mengutip perkataan K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Beliau mengatakan, pesantren itu rumah ilmu, rumah akhlak, dan rumah cinta. Jika tidak ada cinta dan rasa aman di dalamnya, itu bukan pondok pesantren, hanya bangunan saja. Maka mari kita jaga dan rawat ruh pesantren agar tetap menjadi cahaya di tengah krisis moral zaman,” pungkasnya.