Pentingnya Psikotes dalam Mendukung Perkembangan Anak

Acara Silaturahmi Wali Santri kembali diselenggarakan pada Sabtu (11/10/2025) di Aula Tasabuq. Kali ini, kegiatan berlangsung bersama Wali Santri kelas 1 dan 4 SMAWI (tingkat SMA) dan dihadiri oleh Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., Majelis Khidmah, para guru, serta alumni.

Acara tersebut menghadirkan Parenting Seminar bersama Ustazah Chaista Rahmanillah, M.Psi,, seorang psikolog sekaligus alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam, dan dipandu oleh Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M., anggota Majelis Khidmah Daar el-Qolam 3yang juga dosen Universitas Paramadina Jakarta.

Ustazah Chaista membuka seminar dengan harapan agar para santri yang menuntut ilmu di Daar el-Qolam 3 tidak hanya menyelesaikan proses pendidikan, tetapi juga menemukan kehidupan terbaik. “Versi terbaik dari hidupnya di sini,” ujarnya.

Menurutnya, usia remaja merupakan pintu gerbang menuju kedewasaan, di mana tahapannya berada pada masa kini. “Maka penting sekali kita menemukan treatment yang tepat untuk anak-anak kita,” katanya.

Pentingnya Psikotes dalam Menemukan Potensi Anak

Ustazah Chaista mengungkapkan pentingnya psikotes dalam dunia pendidikan. Psikotes, ujarnya, perlu diulang di setiap jenjang karena manusia adalah makhluk yang terus bertumbuh. Hasil psikotes sebelumnya bisa jadi sudah tidak sepenuhnya relevan sebab individu terus berkembang—baik dari sisi kepribadian, pola pikir, maupun sudut pandang.

Ia menjelaskan bahwa psikotes penting karena pemeriksaannya dilakukan secara sistematis menggunakan alat ukur (tools) yang telah distandarisasi dan ditangani oleh ahli yang kompeten, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.

Lebih lanjut, psikotes memberikan gambaran mengenai potensi dan perilaku anak berdasarkan skala angka atau kategorisasi tertentu. Angka-angka tersebut menjadi informasi penting untuk menentukan treatment yang tepat, sekaligus menggali potensi lain yang mungkin belum tampak pada setiap anak.

“Jangan pernah kita melihat kecerdasan anak hanya dari satu aspek,” kata Ustazah Chaista. Ia menegaskan bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, sebab ada banyak bentuk kecerdasan lain yang juga berharga.

Psikotes juga membantu seseorang mengenal dirinya sendiri, karena tidak semua orang benar-benar memahami potensi pribadinya. Melalui psikotes, seseorang dapat lebih sadar akan kelebihan dan kekurangannya.

Selain itu, psikotes bermanfaat untuk mengetahui potensi intelegensi, bakat dan minat, gaya belajar, serta aspek kepemimpinan. “Setiap anak punya potensi yang berbeda-beda dan semuanya sangat istimewa. Tidak ada yang satu lebih baik dari yang lain. Semuanya punya potensinya masing-masing,” ujarnya.

Psikotes juga dapat mengungkap kondisi mental anak. Jika ditemukan tanda-tanda yang tidak baik, maka hasil tersebut menjadi dasar untuk melakukan langkah mitigasi agar perilaku yang tidak diharapkan dapat dicegah.

Hasil psikotes, lanjutnya, juga menjadi peta pengasuhan dalam menentukan treatment yang tepat. Selain itu, psikotes membantu mengenali tingkat intelegensi, yaitu kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan mengaktualisasikan diri dalam lingkungannya.

IQ, Kegigihan, dan Peran Orang Tua dalam Pengasuhan

Ustazah Chaista menegaskan bahwa IQ tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang di masa depan. Meski berpengaruh, hubungan tersebut tidak bersifat langsung. Hasil psikotes ibarat peta yang membantu mengarahkan seseorang untuk mengembangkan potensi menuju keberhasilan.

Ia menambahkan pentingnya kegigihan dalam mencapai keberhasilan. “Seseorang yang pintar, tapi tidak punya kegigihan maka performanya cenderung biasa saja,” katanya. Walaupun IQ seseorang superior, prestasinya bisa tidak menonjol karena kegigihannya belum terbangun.

Selanjutnya, Ustazah Chaista memaparkan hasil psikotes dan berbagai rekomendasi berdasarkan potensi masing-masing anak. Ia menekankan pentingnya kesesuaian antara keinginan orang tua dengan minat dan bakat anak, termasuk dalam pemilihan jurusan. “Jurusan yang direkomendasikan itu akan memengaruhi daya juang anak tersebut dalam belajar,” jelasnya. Jika anak tidak menyukai jurusan tersebut, maka ia akan merasa berat menjalaninya. Namun, jika sesuai dengan minatnya, ia akan melakukannya dengan penuh semangat meski sulit.

Beliau juga mengingatkan agar para orang tua bersikap terbuka, mau mendengar, dan menerima perbedaan pendapat anak. Hal itu untuk mencegah terjadinya jarak atau kesenjangan antara orang tua dan anak.

Masa remaja, jelasnya, merupakan masa pencarian identitas diri. Dalam fase ini, anak akan mencari role model atau figur panutan. Oleh sebab itu, orang tua perlu menjadi contoh yang baik, sebab sikap dan perilaku mereka akan membentuk kepribadian anak.

Selain itu, Ustazah Chaista mengingatkan tentang tantangan besar media sosial yang berpengaruh kuat terhadap perkembangan anak. Orang tua diimbau untuk memantau penggunaan media sosial agar anak dapat mengambil manfaat positif dan terhindar dari hal negatif. Sebaiknya, orang tua mengetahui aktivitas anak di dunia maya.

Tiga Peran Utama Orang Tua: Sahabat, Mentor, dan Coach

Dalam penutup paparannya, Ustazah Chaista menjelaskan tiga peran utama orang tua dalam pengasuhan, yakni sebagai sahabat, mentor, dan coach. Sebagai sahabat, orang tua perlu duduk sejajar dengan anak, memahami situasi dan privasinya, serta membangun hubungan yang sehat.

Sebagai mentor, orang tua memberikan batasan dan aturan yang jelas. Sebagai coach, orang tua menempatkan anak secara setara, berempati terhadap apa yang mereka alami dan rasakan, serta mengadakan percakapan dua arah yang bermakna. Orang tua juga memberikan nasihat saat anak telah siap menerimanya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya jawab, di mana para wali santri aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan mereka.