
Ustaz Firza Nofdi Muhammad, Lc., M.A. alumnus Universitas Zaitunah, Tunisia, memaparkan pengalaman dan pandangannya tentang sistem pendidikan di negeri Afrika Utara tersebut. Dalam wawancara pada Senin (13/10/22025), Ustaz Firza menjelaskan bahwa Tunisia memiliki keunikan tersendiri dalam dunia akademik yang mampu memadukan antara tradisi keilmuan Islam dan sistem pendidikan Barat.
Ustaz Firza mengungkapkan bahwa, sebagai negara Arab di kawasan Afrika, Tunisia memiliki keunikan tersendiri dalam sistem pendidikan dan kegiatan belajar mengajar dalam lingkungan akademik. “Tunisia mempunyai kesamaan yang cukup signifikan dengan sistem pendidikan di Prancis. Hal ini lumrah diketahui, karena Prancis pernah menjajah Tunisia untuk waktu yang lama, dan sistem pendidikan Barat masih memiliki pengaruh besar pada Tunisia saat ini, terutama dalam hal struktur, evaluasi, dan metodologi,” ungkapnya.
Menurutnya, hal yang paling menarik justru terletak pada kemampuan Tunisia memadukan dua warisan besar itu. “Yang menarik adalah bagaimana Tunisia mampu memadukan pengaruh sistem pendidikan Barat tersebut dengan akar keilmuan Islam yang otentik, terutama melalui keberadaan Jāmi‘ah al-Zaitunah atau Universitas Zaitunah,” terangnya.
Ustaz Firza menambahkan, “Universitas Zaitunah, dalam beberapa literatur klasik dikatakan sebagai universitas Islam tertua di dunia. Selama ratusan tahun, tempat ini telah menjadi pusat pembelajaran Islam, seperti bahasa Arab, aqidah, fikih dan lainnya. Dengan tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat keilmuan Islam sambil mengadopsi sistem akademik modern, menjadikan Universitas Zaitunah sebagai model pendidikan yang integratif antara Turats (warisan klasik), Tajdid (pembaharuan), dan Hadatsah (modernitas).”
Kurikulum dan Semangat Intelektual di Universitas Zaitunah
Berbicara tentang kurikulum, Ustaz Firza menekankan bahwa nilai-nilai Islam yang diajarkan di kampus ini sangat kontekstual dan progresif. “Di universitas ini, kami diajarkan bahwa Islam adalah agama universal yang ṣāliḥ li-kulli zamān wa makān (selalu relevan untuk setiap waktu dan tempat). Kami juga selalu diberikan semangat dan ruh bahwa pemikiran Islam memiliki kapasitas inherent untuk terus berkembang, beradaptasi, dan memberikan kontribusi positif dalam merespons kompleksitas modernitas saat ini,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu klasik, tetapi juga dituntut untuk memahami pemikiran Islam kontemporer dan isu-isu modern. “Di sana, para mahasiswa tidak hanya dibekali dengan ilmu-ilmu klasik seperti nahwu, sharaf, ushul fiqh, tafsir, dan balaghah, tetapi juga diwajibkan untuk memahami pemikiran Islam kontemporer, maqāṣid al-syarī‘ah, filsafat, isu-isu terkini, dan juga worldview atau pandangan dunia modern,” katanya.
“Dengan hal itu, diharapkan para mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan teks klasik, tetapi juga didorong untuk mengontekstualisasikan hal tersebut, sehingga nilai-nilai Islam tetap bisa membumi, relevan, dan solutif terhadap tantangan zaman,” tambahnya.
Budaya Diskusi dan Tradisi Membaca yang Mengakar
Ustaz Firza menggambarkan suasana perkuliahan di Tunisia yang sangat terbuka dan menumbuhkan budaya berpikir kritis. “Pembelajaran di kampus didasarkan pada dialog ilmiah dan pemikiran kritis. Para dosen tidak hanya meminta mahasiswa untuk memahami warisan khazanah Islam klasik, tetapi juga menstimulasi mereka untuk merespons secara kritis, menilai sejauh mana suatu pendapat masih relevan, dapat diterapkan, atau perlu ditinjau ulang,” jelasnya.
Ustaz Firza melanjutkan, “Seringkali ada diskusi terbuka di kelas. Mahasiswa didorong untuk menyampaikan argumen, merespons perspektif yang berlaku sebelumnya, dan bahkan berbeda pendapat dengan dosen, asalkan pendapat mereka bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Cara belajar seperti ini mendorong kultur akademik yang dinamis yang berpusat pada konsep-konsep inovatif dalam pemikiran Islam (tajdīd al-fikr al-islāmī).”
Selain itu, Tunisia juga dikenal memiliki budaya membaca yang sangat kuat. “Budaya membaca sangat kental di Tunisia, terutama di lingkungan akademik. Perpustakaan di kampus seringkali ramai. Akses terhadap buku juga sangat mudah, toko buku sering kita temukan di pinggir jalan di sana,” tuturnya.
Ia menambahkan, “Menariknya, toko-toko buku itu tidak kalah ramai dengan restoran atau toko pakaian di sekelilingnya. Di sana kami sering menemukan orang-orang pergi ke kafe untuk membaca buku dan belajar bersama rekan-rekannya. Bagi orang Tunisia, kafe atau kedai kopi adalah tempat ternyaman untuk membaca dan berdiskusi sembari menyeruput kopi. Ini menunjukkan bahwa membaca juga merupakan tradisi yang melekat bagi orang Tunisia.”
Pelajaran untuk Dunia Pendidikan di Indonesia
Di akhir wawancara, Ustaz Firza menyoroti pelajaran yang dapat diambil dari lingkungan akademik di Tunisia untuk diterapkan di Indonesia. “Keunggulan yang dapat diadopsi dari lingkungan akademik di Tunisia adalah bagaimana para guru di Indonesia bisa belajar dari guru di Tunisia yang selalu menstimulus para murid untuk bertanya, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan dengan cara yang sopan dan ilmiah,” ungkapnya.
“Dengan demikian, kelas tidak lagi menjadi ruang satu arah, tetapi menjadi ruang dialog di mana orang bisa kreatif dalam berpikir,” ujarnya. Ia menutup perbincangan dengan refleksi, “Jika kita mengajarkan budaya ini di ruang kelas kita, sepertinya itu akan membantu menciptakan generasi yang tidak hanya mahir secara akademik, tetapi juga mandiri secara intelektual dan berani memberikan kontribusi positif bagi sekitarnya.”