
Pada Sabtu, 6 September 2025, pelantikan Pengurus Mumtaza dan Sekjen Nihai Masa Khidmat 2025-2026 sukses digelar di Aula at-Tasabuq. Acara ini berlangsung dengan penuh khidmat dan dihadiri oleh Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., Majelis Khidmah, serta seluruh guru dan santri.
Prosesi pelantikan dimulai dengan pembacaan ikrar oleh pengurus baru yang dilantik, dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara sebagai simbol komitmen para pengurus dalam mengemban amanah untuk masa khidmat satu tahun ke depan.
Pelantikan ini menjadi momen penting bagi organisasi internal pesantren untuk memperkuat kepemimpinan dan meningkatkan sinergi dalam menjalankan program-program yang telah direncanakan.
Tausiyah Mudir al-Ma’had
Acara ini disertai dengan tausiyah dari Mudir al-Ma’had, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., yang menekankan pentingnya kepemimpinan santri sebagai proses pendidikan dan pengabdian. Dalam tausiyahnya, Kiai Zahid menyebutkan bahwa pergantian pengurus di pesantren merupakan bagian dari sunnatullah.
“Setiap masa ada pemimpinnya, dan setiap pemimpin ada masanya. Inilah tradisi pondok pesantren, bagian dari salah satu pendidikan kehidupan di pondok pesantren. Pendidikan yang diwariskan oleh Baginda Rasulullah saw.,” ujar Kiai Zahid.
Kiai Zahid menegaskan bahwa menjadi pengurus merupakan amanah yang harus diperjuangkan. “Amanah dalam konteks pengurus Mumtaza dan Mumtaha, adalah salah satu konsep pendidikan di pondok pesantren,” tegas beliau.
Kiai Zahid mengingatkan para santri untuk meneladani kepemimpinan Rasulullah saw yang lahir dari kesulitan dan kesederhanaan. Beliau mengutip buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History karya Michael Hart yang menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia.
“Beliau membawa Risalah Islam dan membangun peradaban. Rasulullah saw adalah pemimpin terbesar dalam sejarah umat manusia. Nama beliau sangat harum, tidak hanya di kalangan umat Islam saja, tetapi harum juga di hadapan seluruh umat manusia. Sebagai rahmatan lil ‘alamin,” terang Kiai Zahid.
“Beliau tidak lahir di istana megah, tidak lahir dari orangtua yang kaya. Beliau tidak dibesarkan dalam kemewahan. Sejak kecil beliau yatim piatu, menggembala kambing untuk bertahan hidup. Beliau berdagang dengan penuh kejujuran. Dari kesulitan dan kesederhanaan itulah lahir jiwa kepemimpinan yang tangguh,” lanjut beliau.

Kiai Zahid juga mencontohkan tokoh-tokoh besar seperti Umar ibn Khattab, Umar ibn Abdul Aziz, Shalahuddin al-Ayyubi, hingga Imam Syafi’i , Imam Ahmad dan lainnya yang tumbuh dari kesederhanaan. Menurut beliau, dari kesederhanaan lahir keteguhan, dari keprihatinan lahir kebijaksanaan, dan dari kesulitan lahir kemuliaan.
“Pasti dalam kepengurusan kalian akan ada ujian dan cobaan, tapi justru dari situlah jiwa kepemimpinan kalian, ketangguhan kalian, resiliensi akan tumbuh, akan besar, karena kalian selalu ditempa,” ucap Kiai Zahid.
Lebih jauh, beliau menegaskan bahwa pesantren adalah miniatur kehidupan sekaligus cerminan pendidikan Rasulullah saw di Madinah.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab. Pesantren bukan hanya belajar ilmu pengetahuan teoritis di kelas. tetapi ia adalah miniatur kehidupan. Pesantren adalah cermin dari pendidikan Rasulullah di Nadinah. Beliau menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan, tempat belajar ilmu pengetahuan, tempat mendidik akhlak, tempat melatih kepemimpinan, dan tempat mengatur kehidupan umat. Beliau, Rasulullah, melakukannya di Madinah,” ungkap Kiai Zahid.
Jika hal ini diterjemahkan ke dalam kehidupan di pondok pesantren, kata Kiai Zahid, maka kelas adalah tempat menggali ilmu, asrama adalah sekolah disiplin, organisasi santri Mumtaza dan Mumtaha adalah laboratorium kepemimpinan, dan pengabdian kepada pondok adalah kurikulum tak tertulis.
Menjadi pengurus Mumtaza, menurut Kiai Zahid, bukan sekadar tugas tambahan, melainkan ibadah dan latihan kepemimpinan yang akan meninggalkan jejak untuk pondok pesantren. Maka kepemimpinan adalah proyek pendidikan. Inilah cara pesantren membentuk kader umat.
“Semoga kelak anak-anakku menjadi generasi ahlul ‘izzah yang kuat dan tangguh, bukan generasi cengeng,” harap beliau.
Kiai Zahid menekankan bahwa pemimpin sejati bukan dihormati karena posisinya, tetapi dicintai karena kebermanfaatannya. Keberadaanya terasa bermanfaat oleh sekitarnya. Beliau mengutip hadis Rasulullah saw: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).

Kiai Zahid pun mengingatkan pengurus Mumtaza untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya. Pengurus Mumtaza harus lebih disiplin, lebih sopan, lebih rajin. Kehadirannya adalah contoh hidup yang akan ditiru. Memimpin bukan soal memerintah, tetapi menjaga aturan agar kehidupan pesantren berjalan baik.
Dalam kesempatan itu, Kiai Zahid menyampaikan apresiasi kepada pengurus Mumtaza periode sebelumnya. Kepada pengurus baru, beliau berpesan agar amanah ini disambut dengan rendah hati, semangat, dan penuh kesungguhan. Beliau mengingatkan pesan K.H. Ahmad Syahiduddin: “Sunnatullah itu kalau kita terjemahkan di pondok pesantren adalah sebuah disiplin yang berjalan dengan baik.”
Mengakhiri tausiyahnya, Kiai Zahid menegaskan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang siapa yang memberikan manfaat bagi orang banyak.
“Jadilah pemimpin seperti Rasulullah: sederhana tapi mulia, lembut tapi tegas, rendah hati tapi berwibawa. Jadilah teladan yang dikenang bukan karena jabatan, tetapi karena ketulusan dan keikhlasan,” ucap beliau.
Kiai Zahid mendoakan agar para pengurus Mumtaza dapat menjadi pemimpin umat di masa depan. “Semoga Allah menjadikan kalian pengurus yang ikhlas, sabar, dan penuh manfaat. Dari kepengurusan Mumtaza dan Mumtaha inilah kita berharap lahir pemimpin-pemimpin umat, pembangun peradaban Islam di masa depan,” pungkas beliau.