Memahami Faktor Pendorong Semangat Belajar Anak

Faktor utama yang memengaruhi semangat belajar anak di kelas adalah lingkungan belajar yang mendukung dan relevan dengan kehidupan mereka. Hal itu diungkapkan Ustaz Eka Sugandi, Kepala SMAS Daar el-Qolam 2, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza saat diwawancara pada Kamis (28/8/2025).

“Di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, santri menjalani kehidupan dengan sistem berasrama. Faktor yang mendukung semangat belajar itu adalah atmosfer kebersamaan, kedisiplinan, dan nilai-nilai religius,” ujarnya.

Menurut Ustaz Eka, peran guru juga sangat penting karena menjadi teladan. “Guru di pesantren tidak hanya mengajar, tapi juga menjadi figur yang ditiru. Orang tua pun turut memengaruhi lewat perhatian yang mereka berikan,” tambahnya.

Mengenali Karakter Santri

Terkait cara guru mengidentifikasi semangat belajar anak, Ustaz Eka menjelaskan bahwa setiap santri memiliki karakter berbeda. “Guru perlu mengenal santri secara personal. Di pesantren, interaksi tidak hanya di kelas, tapi juga di asrama, masjid, maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dari situ guru bisa melihat minat belajar, kondisi emosional, atau partisipasi di kelas,” paparnya.

Guru juga diarahkan untuk melakukan assessment diagnostic sesuai kurikulum merdeka. “Dengan begitu, kita bisa mengenali kondisi awal dan ciri khas setiap anak. Ada yang semangat karena tantangan akademis, ada yang termotivasi dengan penghargaan, ada pula yang tersentuh dengan pendekatan emosional,” jelasnya.

Menciptakan Lingkungan Belajar Kondusif

Lebih lanjut, Ustaz Eka menyebut tiga hal penting agar suasana belajar menjadi kondusif. Pertama, kebersamaan. “Di kelas, santri harus merasakan suasana kerja sama, bukan sekadar kompetisi. Di asrama pun ada kebersamaan dengan teman-temannya.”

Kedua, kedisiplinan. “Anak-anak berprestasi biasanya disiplin dan teratur. Di pesantren sudah ada aturan jelas, dari bangun hingga tidur kembali. Rata-rata santri yang mengikuti aturan itu akan lebih berprestasi,” ungkapnya.

Ketiga, mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata. “Misalnya dalam sains, guru mengaitkan fenomena sekitar pondok dengan materi pelajaran. Dengan begitu, santri merasa pembelajaran dekat dengan kesehariannya,” lanjutnya.

Selain itu, suasana spiritual menjadi ciri khas pesantren. “Doa sebelum belajar, cara guru menyampaikan pelajaran, hingga suasana kelas yang religius membuat anak-anak sadar bahwa manfaat belajar bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat,” sambungnya.

Strategi Menghadapi Anak Kurang Bersemangat

Untuk menangani santri yang kurang bersemangat, Ustaz Eka menekankan pentingnya mencari tahu penyebabnya. “Apakah karena kesulitan memahami materi, kurang percaya diri, atau ada masalah pribadi. Sering kali ada masalah keluarga atau hal lain yang memengaruhi mereka.”

Setelah diketahui penyebabnya, guru dapat memberikan motivasi personal, bimbingan langsung, hingga mengobrol di waktu senggang. “Kita juga bisa mengaitkan pelajaran dengan minat mereka. Misalnya, anak yang suka teknologi bisa diajak membuat proyek multimedia. Saya mengajar multimedia, mereka bersemangat ketika dibimbing membuat video, karena sesuai dengan tren saat ini,” ujarnya.

Penghargaan terhadap partisipasi santri juga penting. “Anak yang berperan aktif di kelas harus dihargai,” tegasnya.

Pesan untuk Guru dan Orang Tua

Di akhir wawancara, Ustaz Eka menyampaikan pesan kepada para guru dan orang tua. “Untuk guru, mari kita menjadi teladan, bukan sekadar penyampai materi. Gunakan pendekatan variatif agar semua gaya belajar santri terlayani. Jangan lupa apresiasi kecil yang bisa menumbuhkan kepercayaan diri mereka, seperti ucapan terima kasih atau pujian sederhana.”

Untuk orang tua, ia berpesan agar membangun komunikasi positif dengan anak, baik saat menjenguk maupun melalui komunikasi dengan wali kelas atau wali asuh. “Jangan hanya mengejar hasil akademik, tapi hargai proses belajar dan usaha mereka. Anak-anak berjuang bukan hanya belajar, tapi juga menyesuaikan diri hidup jauh dari orang tua, sehingga proses belajar dan usaha mereka untuk tetap betah di pesantren harus kita hargai,” jelasnya.

“Kemudian untuk kita semua, mari kita tanamkan nilai bahwa belajar adalah bagian dari ibadah, sehingga anak merasa termotivasi bukan hanya untuk dunia tapi juga untuk akhirat.,” pungkas Ustaz Eka.