Inilah Alasan Mengapa Al-Qur’an Menekankan Pentingnya Sejarah

Sejarah mendapat perhatian khusus dalam al-Qur’an. Kitab suci ini bukan hanya memerintahkan manusia untuk memahami sejarah, tetapi juga banyak memuat kisah-kisah bersejarah yang sarat makna. Mulai dari sejarah para nabi dan rasul, bangsa-bangsa terdahulu seperti Firaun, Bani Israil, kaum ‘Ad dan Tsamud, hingga peristiwa besar seperti bencana alam (sebagai azab atas orang-orang yang ingkar pada para nabi dan rasul), terbelahnya Laut Merah, peperangan, hingga penciptaan langit dan bumi. Selain itu, al-Qur’an juga memuat kisah tokoh-tokoh tertentu seperti Dzul Qarnain, Lukman al-Hakim, Khidir, Ashabul Kahfi, hingga Thalut dan Jalut.

Kisah-kisah tersebut tentu bukan sekadar cerita, melainkan memiliki maksud dan tujuan yang mendalam. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (QS. Al-A‘raf: 176)

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (QS. Yusuf: 111)

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Mengapa mereka tidak berjalan di bumi, sehingga hati mereka dapat memahami dan telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj: 46)

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Maka berjalanlah di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul). (QS. Ali Imran: 137)

كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا
Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami. (QS. Thaha: 99)

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ
Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar-Rum: 42)

Sejarah Sebagai Ibrah

Ustaz Ade Rumaedi, S.Pd., pengajar sejarah di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, menegaskan bahwa banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk belajar sejarah. Bahkan, Surat al-Fatihah yang menjadi pembuka al-Qur’an pun mengandung unsur sejarah.

“Dalam al-Fatihah kita memohon petunjuk ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang yang sesat. Siapakah mereka? Itu bisa diketahui dengan mempelajari sejarah. Ada kisah-kisahnya dalam al-Qur’an,” jelas Ustaz Ade saat diwawancara, Senin (25/8/2025).

Menurutnya, sejarah adalah ibrah, pelajaran hidup yang mengajarkan kebijaksanaan. “Ada konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukan manusia sebagaimana ditunjukkan oleh umat-umat terdahulu. Semua sudah ada contohnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, peristiwa sejarah menjadi peringatan agar manusia, khususnya kaum muslimin, berhati-hati dalam menjalani kehidupan. “Sejarah adalah pelajaran hidup. Banyak ibrah yang bisa kita ambil hikmahnya agar kita tidak terjerumus pada kesalahan yang sama. Kita pun termotivasi untuk meneladani kebaikan orang-orang saleh,” ungkapnya.

Pentingnya Sejarah dalam Pendidikan

Lebih jauh, Ustaz Ade menyoroti kurangnya perhatian terhadap sejarah dalam kurikulum pendidikan. Padahal mata pelajaran ini penting dalam rangka pembentukan karakter. Menurutnya, ada tiga mata pelajaran yang harus diperkuat untuk membangun karakter bangsa, yakni agama, sejarah, dan PKN. “Ketiga mata pelajaran ini akan memengaruhi pendidikan karakter siswa,” katanya.

Agar siswa tertarik pada sejarah, Ustaz Ade menawarkan dua langkah penting. Pertama, sejarah harus diajarkan secara kontekstual, bukan hanya naratif. Peristiwa masa lalu perlu dikaitkan dengan persoalan kehidupan sehari-hari siswa. “Karena sejarah berulang. Apa yang terjadi di masa lalu, juga terjadi di masa sekarang. Dari situlah hikmahnya diambil,” jelasnya.

Kedua, strategi pembelajaran sejarah harus variatif dan interaktif agar siswa merasa terlibat dan berempati terhadap peristiwa sejarah. “Maka dalam hal ini, penguasaan materi sejarah mutlak bagi guru agar bisa menerapkan metode yang variatif dan menarik bagi siswa,” tambahnya.

Ustaz Ade berharap, sejarah dapat menjadi ilmu yang membentuk karakter bangsa, menumbuhkan nasionalisme, dan memperkuat persatuan bangsa. Ia mencontohkan bahwa di sejumlah negara, seperti Cina dan Amerika, sejarah masuk sebagai mata pelajaran dalam ujian nasional.

“Para pelajar diharapkan dapat mewarisi nilai-nilai sejarah dan membentuk karakter yang lebih baik demi masa depan Indonesia,” pungkasnya.