
Pada dasarnya komunikasi yang terbuka antara guru dan orangtua murid adalah proses untuk saling memahami perkembangan anak, agar mereka tumbuh sesuai dengan fitrahnya. Bukan menurut kemauan subjektif kita yang belum tentu cocok bagi anak. Mereka tumbuh dan berkembang sebagaimana fitrahnya, fitrah yang suci sebagaimana hakikatnya yang diciptakan Allah. Adapun guru dan orangtua (lebih khusus seorang mursyid), ibaratnya menjaga dan membersihkan tanaman dari hama yang merusak, tanaman liar, dan semua unsur yang menghambat pertumbuhan. Demikian pernah disampaikan Imam al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad.
Hal ini juga sebagaimana diungkapkan dalam catatan Ustaz Ahmad Muchdor, guru Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, dalam kesempatan PTC pada Sabtu (2/8/2025). Ustaz Muchdor menulis:
“Terlalu sering kita, sebagai orang tua, memaksa anak-anak untuk menempuh jalan yang menurut kita aman, jalan yang penuh angka, ranking, dan prestasi di atas kertas, tanpa benar-benar mendengarkan suara hati mereka. Padahal, tidak semua anak ditakdirkan menjadi ahli matematika, ilmuwan, atau juara lomba olimpiade.”
Dengan perspektif yang luas, sang ustaz lalu menguraikan hakikat keberagaman potensi:
“Ada yang ditakdirkan menjadi penggerak lewat seni, ada yang terlahir untuk mencipta, membangun, atau bahkan menyembuhkan luka masyarakat dengan empati. Anak kita bukan kertas kosong untuk dicoret-coret ambisi kita yang belum selesai, tapi benih kehidupan yang punya potensi uniknya sendiri.”

Ia pun mengajak kita berevaluasi melalui pertanyaan menggugah:
“Maka, sebelum memaksa mereka mengejar nilai demi nilai, renungkanlah, apakah kita sedang mendidik mereka untuk jadi manusia utuh, atau hanya sedang mencetak robot yang pandai menjawab soal tapi kehilangan arah saat ditanya ‘Kamu bisa apa?’.”
Sebagai penutup catatannya, Ustaz Muchdor menegaskan bekal sejati dalam kehidupan:
“Dunia tidak menunggu ijazah, tapi menunggu aksi. Nilai tinggi bukan jaminan bahagia, tapi anak yang tahu jati dirinya dan didukung sepenuh hati, itu bekal paling sejati. Wallahu a’lam.”