
Malam itu, Kamis, 21 Mei 2026, Aula Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza berubah menjadi ruang penuh tafsir, tempat penonton, guru dan santri, diajak menyelami dunia batin yang sunyi namun penuh gejolak, melalui pertunjukan teater produksi ke-13 bertajuk Langit Tak Pernah Pergi dalam rangkaian Dza ‘Izza Art Festival (DAF) 2026.
Lakon tersebut menghadirkan pergulatan rasa yang dekat dengan kehidupan manusia: rindu, kehilangan, doa-doa yang dipendam, hingga cinta yang tumbuh diam-diam tanpa pernah benar-benar menemukan tempatnya.
Di balik latar panggung yang tampak syahdu, pertunjukan itu memperlihatkan bahwa setiap manusia menyimpan ruang sunyi yang tidak selalu mampu dijelaskan oleh kata-kata.
Pertunjukan Langit Tak Pernah Pergi terasa semakin hidup melalui kolaborasi lintas seni yang terlibat di dalamnya. Nuansa emosional dalam setiap adegan dibangun melalui perpaduan musik dari berbagai unit ekstrakurikuler, mulai dari Tim Band Dza ‘Izza Music Club, Tim Marching Band Dza ‘Izza Corps, Tim Paduan Suara Dza ‘Izza Choir, hingga Tim Dza ‘Izza Marawis. Iringan musik yang berganti antara lembut, megah, hingga menghentak membuat suasana pertunjukan terasa lebih dramatis dan menyentuh, sekaligus menunjukkan kuatnya kerja sama antarsantri dalam membangun sebuah pertunjukan yang utuh.

Dunia Sunyi di Balik Serambi Pesantren
Pembawa acara, Ustaz Alif Hendrawan, mengungkapkan, pertunjukan menggambarkan bagaimana cinta hadir tanpa pernah meminta izin kepada logika. Namun lebih dari itu, Langit Tak Pernah Pergi berbicara tentang manusia yang mencari tempat pulang bagi hatinya sendiri.
“Dan malam ini, sebelum pertunjukan benar-benar dimulai, izinkan kami bertanya kepada Anda semua: bila cinta tumbuh di tempat yang tak seharusnya, apakah hati mampu tetap memilih langit?” tanyanya kepada seluruh penonton sebelum pementasan dimulai.
Sejak awal pertunjukan, penonton dibawa memasuki dunia para tokoh yang hidup di antara kitab, hafalan, nasihat, dan pergulatan hati. Dialog-dialog yang lirih berpadu dengan tata musik dan pencahayaan yang sendu, membuat suasana aula terasa hening sekaligus emosional.

Proses Produksi yang Singkat
Di balik pertunjukan yang berlangsung matang, ada proses produksi yang berjalan sangat cepat. Naskah selesai ditulis pada dini hari 13 April 2026, lalu malam harinya langsung dibedah bersama Tim Redaksi Majalah Dza ‘Izza. Empat hari kemudian, tim produksi mulai bergerak melalui rapat, pembacaan naskah bersama aktor, hingga bedah musik bersama pelatih band dan marching band.
Waktu latihan intensif hanya berlangsung sekitar dua pekan. Dalam sejarah Teater Dza ‘Izza, proses ini menjadi produksi tercepat yang pernah dilakukan.
Namun justru di situlah letak kekuatannya. Para pemain dituntut belajar bergerak cepat, membaca karakter, mengolah emosi, hingga membangun chemistry antartokoh dalam waktu terbatas, padahal itu dilakukan menjelang ujian.
Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., mengingatkan bahwa nilai penting teater bukan hanya pada hasil akhirnya, melainkan proses panjang di belakang panggung.
“Dari kegiatan teater, bukan hanya ceritanya yang diambil, tapi prosesnya, penampilannya, bagaimana anak-anak, teman, adik, kakak kita, yang akan tampil, itu tidak mudah. Berproses dari satu hari ke hari yang lain,” ujar beliau saat memberikan sambutan sebelum pertunjukan dimulai.
Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dan mendoakan agar seluruh proses menjadi kebaikan bagi para santri.

Teater sebagai Ruang Pembelajaran
Di tengah riuh tepuk tangan penonton, pertunjukan itu menyimpan dimensi lain: pembelajaran karakter dan pengasahan kepekaan rasa.
Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M., dari Majelis Khidmah yang turut hadir malam itu, menilai teater memiliki peran penting dalam membangun daya rasa santri dan guru.
“Ini bagus. Teater ini kan meningkatkan daya rasa santri dan guru. Yang paling penting bukan hanya teaternya, tapi proses di belakangnya. Ada pembelajaran karakter, ada nilai-nilai yang diangkat,” ungkapnya.
Menurutnya, cinta yang menjadi tema utama pertunjukan merupakan sesuatu yang universal.
“Satu hal penting, cinta itu universal dan bagaimana merawat cinta itu. Cinta itu universal dan yang bisa kita lakukakn adalah merawat dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Nilai kepesantrenan dalam pertunjukan juga tampak melalui pesan-pesan yang disampaikan tokoh kiai di dalam lakon. Salah satunya berkaitan dengan fitrah manusia yang diciptakan berpasang-pasangan, sebagaimana firman Allah Swt., dalam Surah Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Pertunjukan yang Baik Tidak Memberi Jawaban Tunggal
Usai pertunjukan, para pemain dan kru berkumpul di depan panggung. Wajah lelah bercampur lega terlihat jelas. Namun, bagi Ustaz Ahmad Moehdor al-Farisi—yang akrab disapa Cak Ndor—yang merupakan guru Daar el-Qolam 3 sekaligus sutradara, pertunjukan malam itu bukan akhir dari perjalanan.
Ia justru mengingatkan seluruh pemain agar tidak cepat merasa puas.
“Kematian seorang seniman adalah ketika merasa puas dengan karyanya,” ungkapnya kepada seluruh pemain dan tim setelah pertunjukan usai.
Menurutnya, ketidakpuasan adalah bahan bakar untuk terus bertumbuh.
“Andai ketidakpuasan itu kita aplikasikan dalam bentuk ibadah, betapa syahdunya hidup kita. Hari ini merasa ibadah kita tidak khusyuk, besok harus lebih khusyuk lagi,” imbuhnya.
Cak Ndor juga menjelaskan bahwa pertunjukan yang baik bukanlah pertunjukan yang memberikan jawaban seragam kepada semua penonton.
“Salah satu pertunjukan yang gagal adalah penonton mendapatkan jawaban yang sama ketika selesai pertunjukan terus puas, dalam artian memiliki jawaban yang sama sehingga tidak muncul kegelisahan untuk menafsirkan. Itu adalah salah satu ciri pertunjukan yang gagal,” jelasnya.
Bagi Cak Ndor, teater harus meninggalkan pertanyaan, kegelisahan, sekaligus ruang berpikir bagi penonton.
Ketika Panggung Menjadi Ruang Tafsir
Malam itu, Dza ‘Izza Art Festival bukan hanya menghadirkan hiburan menjelang ujian semester. Panggung teater berubah menjadi ruang refleksi tentang manusia, cinta, dan pencarian makna hidup.
DAF sendiri rutin diselenggarakan dua kali dalam setahun, menjelang ujian semester pertama dan kedua. Di tengah hari-hari penuh tekanan akademik, festival seni menjadi jeda yang menenangkan, sekaligus ruang bagi santri untuk mengekspresikan gagasan dan rasa.
Ustaz Alif Hendrawan yang menjadi pembawa acara mengaku menikmati keseluruhan pertunjukan malam itu.
“Meskipun persiapannya singkat, proses tercepat, tapi hasilnya memuaskan. Apalagi tadi audiens benar-benar menikmati. Saya sendiri menikmati,” katanya usai pertunjukan.
Dan ketika lampu pentas pertunjukan akhirnya dipadamkan, Langit Tak Pernah Pergi tampaknya benar-benar belum pergi. Ia masih tinggal di hati para penonton—menjadi pertanyaan yang terus berputar diam-diam: tentang cinta, tentang kehilangan, dan tentang bagaimana manusia memilih langitnya masing-masing.