Dari Dza ‘Izza ke Rusia, Perjalanan Ashila Menekuni Dunia Teknologi di Kazan
Student standing on wide stone steps leading to a modern university entrance with blue signage in Russian above the doors

Salju pertama yang turun di Rusia tidak hanya menghadirkan dingin yang menusuk tubuh, tetapi juga rasa asing yang perlahan menguji keberanian. Bahasa yang sulit dipahami, cuaca ekstrem, hingga wajah-wajah yang tampak dingin menjadi pengalaman baru bagi Ashila Arya Wirayuda, alumni 2024 Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza yang kini menempuh studi di Kazan National Research Technological University, Rusia.

Di balik semua tantangan itu, ada satu hal yang terus ia pegang: keberanian untuk mencoba hidup yang lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Tertarik kuliah di luar negeri karena ingin punya banyak pengalaman, khususnya pengalaman di luar negeri yang Alhamdulillah-nya saya dikasih kesempatan sama Allah untuk mewujudkannya,” ungkap Ashila, saat diwawancara pada Selasa, 26 Mei 2026.

Memilih Rusia dan Dunia Teknologi
Di tengah banyaknya pilihan negara tujuan studi, Rusia menjadi tempat yang dipilih Ashila untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Ia diterima di Kazan National Research Technological University pada jurusan Information System and Technology.

Baginya, pilihan itu bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Ketertarikannya pada dunia teknologi membuat ia mencari kampus yang memiliki fasilitas bagus di bidang tersebut.

“Saya pilih Kazan National Research Technological University di jurusan Information System and Technology karena kampus ini salah satu kampus dengan fasilitas IT terbaik di Kazan dan sesuai dengan minat belajar saya,” jelasnya.

Perjalanan menuju Rusia ia tempuh melalui program Rumah Rusia Scholarship atau RGS. Dalam proses pendaftaran, setiap pelamar diminta memilih enam universitas tujuan dengan sistem prioritas.

“Mendaftar via RGS atau beasiswa Rumah Rusia, pelamar harus memilih 6 kampus tujuan di Rusia. Semakin atas nomornya semakin diprioritaskan,” katanya.

Menurut Ashila, peluang diterima akan semakin besar bagi mereka yang memiliki kemampuan bahasa Rusia atau memiliki relasi yang tinggal di sana.

Person in a long dark coat standing outside a brightly lit airport entrance with large yellow "TERMINAL 1A" signage.


Bahasa Rusia dan Wajah Kota yang Dingin
Bagi banyak mahasiswa internasional, tantangan terbesar kuliah di luar negeri biasanya soal akademik. Namun bagi Ashila, tantangan pertama justru dimulai dari hal paling sederhana: berbicara dan bertahan hidup sehari-hari.

“Untuk tantangan terbesar selama berkuliah di Rusia ini pertama pasti bahasanya. Kedua, adaptasi dengan lingkungan yang ‘susah’ ramah dengan orang asing,” tuturnya.

Bahasa Rusia menjadi tantangan yang cukup berat karena digunakan hampir di seluruh aktivitas masyarakat sehari-hari. Beruntung, program beasiswa yang ia ikuti menyediakan kelas bahasa khusus selama delapan bulan.

“Untuk masalah bahasa, beasiswa Rumah Rusia ini menyediakan kelas belajar bahasa khusus selama 8 bulan untuk mengejar bahasa Rusia-nya. Sisanya kita bisa latihan di kamar dengan teman sekamar atau belajar mandiri,” jelasnya.

Namun persoalan tidak berhenti di bahasa. Cuaca dingin khas Rusia dan karakter masyarakat yang cenderung tertutup menjadi ujian lain yang harus dihadapi.

“Untuk adaptasi lingkungan, tantangan paling nyata itu cuaca yang dingin, dan orang sini yang ‘jutek abis’,” ungkapnya.


Minyak Kayu Putih dan Bercerita
Di tengah rasa asing yang datang silih berganti, Ashila menemukan cara sederhana untuk bertahan: bercerita.
Ia mengaku sering berdiskusi dengan kakak tingkat asal Indonesia yang lebih dulu tinggal di Rusia. Dari merekalah ia belajar memahami budaya masyarakat setempat.

“Kalau saya untuk mengatasi semua masalah ini biasanya dengan cerita ke kating-kating saya buat bantu mengingatkan saya kalau memang itu sudah jadi tabiat orang sini,” katanya.

Soal cuaca dingin, Ashila punya “senjata” khas anak Indonesia.

“Kalau masalah cuaca yang dingin saya selalu jastip minyak kayu putih dan obat-obatan karena pasti badan akan kaget,” ujarnya sambil tertawa.

Kini, setelah memasuki tahun kedua di Rusia, tubuhnya mulai terbiasa menghadapi musim dingin yang dulu terasa begitu berat.

“Alhamdulillah, karena ini sudah tahun kedua di sini, badan sudah lumayan terbiasa,” katanya.

Teenage boy in a blue parka and jeans standing in snow with boots on, a lit fortress gate and lampposts in the background.

Bekal dari Kehidupan Asrama di Pesantren
Di balik kemampuannya bertahan di negeri orang, Ashila merasa kehidupan pesantren memiliki pengaruh besar terhadap proses adaptasinya hari ini.

Menurutnya, pengalaman hidup bersama banyak orang dengan latar belakang berbeda di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menjadi bekal penting ketika harus hidup di lingkungan internasional.

“Salah satu manfaat yang paling saya rasakan selama mondok di Daar el-Qolam 3 dengan kuliah di luar negeri itu kehidupan berasrama dan bermasyarakat dengan orang-orang yang punya latar belakang berbeda,” jelasnya.

Ia mengingat bagaimana awalnya tidak mudah untuk berbaur, bahkan dengan teman-teman yang berasal dari daerah berbeda di Indonesia. Namun kehidupan pondok perlahan membentuk dirinya menjadi lebih terbuka.

“Dulu di pondok awalnya memang susah untuk berbaur dengan orang yang beda budaya dengan kita padahal satu negara, tapi lama-kelamaan saya mulai terbiasa karena ‘dipaksa’ menjalani kehidupan asrama dan bermasyarakat mini dalam pondok,” ungkapnya.

Pengalaman itu membuatnya lebih siap menghadapi perbedaan budaya yang jauh lebih besar di luar negeri.

“Karena itu juga sekarang saya sudah terbiasa dengan perbedaan budaya yang sangat beragam selama kuliah di luar negeri,” pungkasnya.