Menyiapkan Pemimpin Masa Depan dari Pesantren
Six men in formal attire and black caps seated behind a long draped table at a leadership training panel.


Menanamkan Jiwa Kepemimpinan Sejak Dini

Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza menyelenggarakan kegiatan BLTP (Basic Leadership Training Program) pada Sabtu dan Ahad, 16-17 Mei 2026. Para santri kelas 4 dan 1 SMAWI duduk rapi, menyimak setiap materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Di tangan merekalah estafet kepengurusan organisasi santri Mumtaza akan dilanjutkan pada tahun ajaran mendatang.

Program ini bukan sekadar agenda tahunan. Pesantren menyiapkannya sebagai ruang pembinaan karakter dan kepemimpinan sejak dini, agar para santri tumbuh menjadi pribadi yang matang, percaya diri, dan mampu memimpin dengan akhlak.

A group of smiling male students in white robes and black caps listening to a teacher in white holding a microphone, with purple header text about preparing future pesantren leaders and a schedule of a leadership training program.

Kepala Bagian Pengasuhan sekaligus penanggung jawab kegiatan BLTP, Ustaz Ihsan Ahmadi, S.Pd. menjelaskan bahwa setiap santri kelas 4 perlu mendapatkan bekal keterampilan dan kompetensi kepemimpinan sebelum mengemban amanah organisasi.

“Tanpa pembinaan kepemimpinan sejak dini, individu berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang pasif, tidak percaya diri, atau sebaliknya aktif namun tanpa kendali dan nilai,” ujarnya.

Menurutnya, pelatihan dasar tersebut tidak hanya diarahkan untuk mencetak pemimpin yang piawai mengatur organisasi, melainkan menanamkan fondasi karakter, kedisiplinan, serta kesadaran peran diri sebagai santri.


Kepemimpinan yang Berakar pada Akhlak
BLTP disusun dengan pendekatan pembinaan personal atau intra-personal. Pesantren ingin membentuk santri yang memiliki kewibawaan moral dan wawasan kepemimpinan sebelum mereka terjun memimpin orang lain.

“BLTP disiapkan agar para santri memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang prinsip dan ilmu-ilmu kepemimpinan. Program ini diorientasikan ke dalam diri setiap individu santri agar tampil dengan kewibawaan moral personal yang berakhlak mulia dan kewibawaan moral visioner yang berwawasan jauh ke depan,” kata Ustaz Ihsan.

Nilai itu dipandang penting agar ketika para santri memasuki masa kepengurusan Mumtaza di kelas 5, mereka mampu menjalankan kepemimpinan secara interpersonal dengan etika, tanggung jawab, dan keteladanan.

Man in suit and traditional black cap speaking into a microphone and raising his hand while addressing an audience.

Tiga Tahapan Menempa Jiwa Pemimpin
Pembinaan kepemimpinan di Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza disusun dalam tiga jenjang pelatihan. Tahap pertama ialah BLTP (Basic Leadership Training Program) bagi santri kelas 4 dan 1 SMAWI sebagai bekal awal menuju kepengurusan Mumtaza.

Tahap kedua adalah ILTP (Intermediate Leadership Training Program) bagi santri kelas 5 dan 2 SMAWI untuk memperkuat kemampuan organisasi, kedisiplinan, dan etika kepemimpinan.

Sementara tahap ketiga adalah ALTP (Advance Leadership Training Program) bagi santri kelas akhir atau nihai sebagai bekal terjun ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.

“Basic Leadership Training Program diselenggarakan sebagai tahap awal pembinaan kepemimpinan santri yang akan menjadi pijakan menuju jenjang kepemimpinan lanjutan di tingkat berikutnya,” tutur Ihsan.

Man in grey blazer and black cap speaking into a microphone to seated students in purple uniforms and headscarves.

Dua Hari Penuh Pembinaan Karakter
Selama dua hari pelaksanaan, para santri mengikuti delapan sesi materi yang disusun berjenjang, mulai dari dasar kepemimpinan hingga pengendalian emosi remaja.

Kegiatan dibuka oleh Mudirul Ma’had, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. Dalam sesi pembukaan bertajuk Menumbuhkan Pribadi yang Memiliki Pengetahuan tentang Dasar-Dasar Kepemimpinan dan Akhlak Mulia, beliau menekankan pentingnya memahami hakikat kepemimpinan dalam organisasi.

“Kepengurusan bukan untuk menjadi penguasa,” pesannya kepada para santri.

Kiai Zahid juga mengutip ungkapan Arab Syubbanul yaum rijalul ghad (شبان اليوم رجال الغد), yang berarti “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.” Ungkapan itu menjadi pengingat bahwa kualitas generasi muda hari ini akan menentukan arah masyarakat pada masa mendatang.

Pada hari pertama, materi dilanjutkan oleh Dr. Abdul Latief melalui dua sesi bertema Skills dan Kompetensi Kepemimpinan serta Menumbuhkan Pribadi Pejuang dan Bersemangat Competitiveness. Dalam sesi tersebut, santri dibekali kemampuan komunikasi, kreativitas, critical thinking, pengambilan keputusan, hingga semangat daya saing yang sehat.

Materi berikutnya disampaikan Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M. dengan tema Pengertian, Tujuan dan Prinsip-Prinsip Dasar Berorganisasi. Para santri diajak memahami hakikat organisasi sebagai ruang belajar tanggung jawab dan kerja sama.

Middle-aged man in glasses and a patterned black‑and‑white batik shirt and songkok speaking into a microphone, gesturing with his finger.


Belajar Mengelola Emosi dan Menjadi Teladan
Hari kedua diisi dengan materi pembentukan karakter bersama tim ESQ Corp. Dalam dua sesi bertema Menjadi Santri yang Bertanggung Jawab dan Berkarakter serta Membangun Karakter Santri: Disiplin, Jujur, dan Peduli, peserta diajak menyadari bahwa kepemimpinan selalu dimulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana menjadi semakin hidup ketika sesi psikologi bersama Ustazah Chaista Rahmanillah, S.Psi., M.Psi., dimulai. Melalui materi Mengelola Emosi dan Perilaku Remaja dalam Kehidupan Sehari-hari, para santri belajar mengenali emosi dasar seperti marah, sedih, kecewa, dan senang, sekaligus memahami cara merespons emosi negatif secara tepat.

Materi penutupan disampaikan Ustaz Muhamad Wahyuni Nafis, M.A., dengan tema Memimpin adalah Memberi Contoh. Dalam sesi itu, para santri diajak memahami pentingnya menjadi pemimpin yang proaktif dan mampu menjadi uswah hasanah atau teladan bagi lingkungan sekitarnya.

Woman wearing a pale hijab and glasses speaking into a microphone on a stage with steps behind her


Menjadi Kakak Pengurus yang Ramah
Keberhasilan BLTP tidak hanya diukur dari kemampuan santri memimpin organisasi. Lebih dari itu, kepemimpinan harus tercermin dalam sikap sehari-hari, terutama kepada adik kelas.

“Harapannya, apa yang didapatkan oleh santri kelas 4 dan 1 SMAWI menjadi bekal dalam menjalankan kepengurusan organisasi Mumtaza, serta menjadikan mereka kakak pengurus yang ramah terhadap adik-adik kelasnya,” ujar Ustaz Ihsan.

Antusiasme peserta selama dua hari pelatihan menjadi tanda bahwa pesantren tidak sekadar menyiapkan pengurus organisasi, tetapi sedang menanam benih pemimpin masa depan—pemimpin yang dibentuk dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Male speaker with microphone addressing rows of students in purple uniforms seated in a hall, some girls wearing light purple hijabs in foreground.