Kajian Rutin Asmaul Husna ke-12: al-Jabbar

Dari segi bahasa, al-Jabbar dalam Bahasa Arab memiliki makna yang beragam. Di antaranya adalah memperbaiki, memaksa dan menyatukan sesuatu yang tercerai berai. Seperti yang dikatakan oleh Syekh Ahmad Zarruq dalam kitabnya, Syarah Asmaul Husna.

الجبار من الجبر الذي هو تلاقي الأمر عند اختلاله. وقيل من الإجبار الذي هو إنفاذ الحكم قهرا على العباد

Di antara makna tersebut, Syekh Zarruq mengatakan bahwa makna yang paling tepat adalah Dia, Tuhan yang Maha Memaksa wujud kehendak-Nya pada para hamba. As-Sayyid Yusuf Ahmad, penyunting kitab Syarah Asmaul Husna memberikan catatan tentang makna al-Jabbar. Beliau menjelaskan bahwa al-Jabbar adalah Tuhan yang memaksakan hamba-Nya pada apa yang Dia kehendaki. Dia-lah Allah, Tuhan yang memperbaiki hal yang sudah hancur, melapangkan dada, dan segala sesuatu menjadi mudah dengan kuasa-Nya. Dia juga Tuhan yang menurunkan musibah, menggoncang istana kemegahan manusia dan melenyapkan kezaliman. Dia-lah Allah, Tuhan yang Maha Tinggi, tak dapat dijangkau, Tuhan yang menggoncang kekokohan pegunungan, Yang mampu memusnahkan segalanya dan Dia tidak tergantikan. Dia hanya melakukan apa yang Dia kehendaki, terhadap apa yang Dia kehendaki, dengan cara yang Dia kehendaki, di tempat yang Dia kehendaki dan pada waktu yang Dia kehendaki.

الجبار هو الذي جبر الخلق على ما أراد. هو الذي يجبر الكسور ويشرح الصدور وعليه تهون الأمور وهو الذي يقصم الظهور ويزلزل

القصور ويمحق الغرور. وهو المتعال لا ينال، ومزلزل الجبال ومزيل كل شيء وهو لا يزال، يفعل مايشاء فيما يشاء كيفما يشاء أينما

يشاء وقتما يشاء

Kemudian Syekh Zarruq mengingatkan, seorang hamba yang mengenal al-Jabbar, maka ia akan meruntuhkan segala rupa makhluk yang dianggap sebagai sosok penguasa dalam pandangannya. Ia akan selalu kembali kepada Allah swt dalam setiap urusannya. Mengakui kefakiran dan kebutuhannya kepada Allah swt, sehingga Allah akan memperbaiki amal ibadahnya yang tidak luput dari kerusaka, melapangkan dadanya. Ia akan diberikan keteguhan dalam meninggalkan segala hal yang tidak penting selain Allah yang dicari dan dicintai, serta tidak disibukkan menata rencana yang belum tentu terlaksana.

Selain itu, Syekh Ahmad Zarruq juga memberikan amalan zikir nama al-Jabbar yang berkhasiat menjaga diri dari kezaliman penguasa tirani dan musuh-musuh yang hendak mencelakai. Baik saat dalam keadaan safar ataupun mukim. Dibaca sebanyak 21 kali setiap pagi dan petang.

Ada fakta menarik tentang nama al-Jabbar ini. Kata al-Jabbar atau pun kata yang berakar dari tiga huruf pokok yang sama, yaitu huruf Jim, Ba’ dan Ra’ ditemukan pada 10 tempat dalam al-Qur’an. Berikut surat dan ayatnya.

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا حَتَّىٰ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِن يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ

Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya (negeri itu) ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam. Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar. Jika mereka keluar dari sana, kami pasti akan masuk.” (al-Maidah : 22)

وَتِلْكَ عَادٌ ۖ جَحَدُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

Itulah (kaum) ‘Ad. Mereka mengingkari tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan, mendurhakai rasul-rasul-Nya, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi keras kepala. (Hud : 59)

وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

Mereka (para rasul) memohon diberi kemenangan dan kecewalah setiap orang yang sewenang-wenang lagi sangat keras kepala. (Ibrahim : 15)

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّا

(Dia) orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang yang sombong lagi durhaka. (Maryam : 14)

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

dan berbakti kepada ibuku serta Dia tidak menjadikanku orang yang sombong lagi celaka. (Maryam : 32)

وَإِذَا بَطَشْتُم بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ

Apabila menyiksa, kamu lakukan secara kejam dan bengis. (asy-Syu’ara : 130)

فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَن يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَّهُمَا قَالَ يَا مُوسَىٰ أَتُرِيدُ أَن تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالْأَمْسِ ۖ إِن تُرِيدُ إِلَّا أَن تَكُونَ جَبَّارًا فِي الْأَرْضِ

وَمَا تُرِيدُ أَن تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ

Ketika dia (Musa) hendak memukul orang yang merupakan musuh mereka berdua, dia (musuhnya) berkata, “Wahai Musa, apakah engkau bermaksud membunuhku sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini) dan tidak bermaksud menjadi salah satu dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” (al-Qashash : 19)

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ وَعِندَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, sangat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci hati setiap orang yang sombong lagi sewenang-wenang. (Ghafir : 35)

نَّحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ ۖ وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ ۖ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ

Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan dan engkau (Nabi Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka, berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa pun yang takut pada ancaman-Ku. (Qaf : 45)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. Dia (adalah) Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahadamai, Yang Maha Mengaruniakan keamanan, Maha Mengawasi, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, dan Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (al-Hasyr : 23)

Dari sepuluh ayat yang mengandung kata Jabbar, sembilan di antaranya Allah nisbahkan kepada manusia. Semuanya berkonotasi negatif. Hanya satu saja yang menjadi nama Allah yang dimaksud. Yaitu, pada ayat 23 surat al-Hasyr. Seolah ayat-ayat di atas mengisyaratkan bahwa al-Jabbar adalah kekhususan bagi Allah swt. Jika sifat-sifat al-Jabbar ada pada diri manusia, ia hanya akan menjadi keburukan baginya.