
“Indonesia, merah darahku
Putih tulangku, bersatu dalam semangatmu
Indonesia, debar jantungku
Getar nadiku, berbaur dalam angan-anganmu
Kebyar-kebyar pelangi jingga…”
(Kebyar-Kebyar, Gombloh)
Ada getaran rasa yang menyentuh jiwa setiap kali lagu Kebyar-Kebyar ciptaan Gombloh menggema. Ia bukan sekadar rangkaian nada yang membangkitkan ingatan tentang Indonesia, melainkan pengingat bahwa tanah air yang kita pijaki bukan hanya tempat kita dilahirkan. Tanah air adalah ruang tempat harapan ditumbuhkan, perbedaan dipertemukan, dan masa depan diperjuangkan bersama. Merah dan putih bukan sekedar warna bendera, melainkan simbol keberanian, pengorbanan, dan kesediaan untuk menjaga persatuan.
Bagi santri, cinta tanah air semestinya tidak berhenti pada upacara bendera, hafalan ikrar, atau lantunan lagu-lagu kebangsaan. Nasionalisme harus menjelma menjadi kesungguhan belajar, keluhuran akhlak, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Sebab, mencintai Indonesia berarti ikut memikirkan bagaimana negeri ini menjadi lebih baik, beradab, dan bermartabat.
Santri dalam Bingkai Ukhuwah, Merawat Persaudaraan, Menjaga Indonesia
Pesantren mengajarkan bahwa manusia tidak tumbuh sendirian. Ia dibentuk melalui interaksi, perjumpaan, nasihat, keteladanan, dan pengalaman hidup bersama. Di lingkungan yang mempertemukan santri dari berbagai daerah, bahasa, kebiasaan, dan latar belakang keluarga, persaudaraan bukan sekadar konsep yang dipelajari dalam kitab turats. Persaudaraan adalah kenyataan yang harus dipraktikkan setiap hari.
Pertama, ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang tumbuh dari ikatan keimanan. Di pesantren, nilai ini menemukan bentuknya dalam kebiasaan saling menasihati, mengingatkan, membantu teman yang kesulitan, menghormati guru, dan menjaga kehormatan sesama santri. Perbedaan pandangan hendaknya tidak menjadi pemicu permusuhan di antara sesama. Justru, kedewasaan beragama tampak ketika seseorang mampu berbeda pandangan tanpa kehilangan rasa hormat.
Kedua, ukhuwah wathaniyah, persaudaraan kebangsaan yang melampaui sekat suku, bahasa, budaya, dan agama. Indonesia berdiri di atas kemajemukan. Karena itu, cinta tanah air tidak cukup diwujudkan dengan membanggakan identitas sendiri, tetapi juga dengan menghormati identitas orang lain. Santri perlu menyadari bahwa tetangga yang berbeda agama, masyarakat yang berbeda adat, dan warga yang berbeda pandangan tetap merupakan bagian dari bangsa yang sama-sama harus dijaga martabatnya.
Ketiga, ukhuwah basyariyah, persaudaraan kemanusiaan. Ikatan ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga. Tidak seorang pun pantas direndahkan karena keadaan ekonomi, keterbatasan fisik, asal daerah, perbedaan suku atau perbedaan keyakinan. Kepedulian kepada sesama bukan hanya tentang membantu orang yang dekat dengan kita, melainkan juga kesediaan memahami penderitaan orang lain dan mengambil bagian dalam meringankannya.
Ketiga bentuk persaudaraan tersebut tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Ukhuwah Islamiyah menguatkan ikatan keimanan, ukhuwah wathaniyah merawat persatuan bangsa, sedangkan ukhuwah basyariyah memperluas kepedulian hingga menjangkau seluruh manusia. Ketiganya menjadi fondasi bagi santri untuk tumbuh sebagai pribadi religius sekaligus warga negara yang bertanggung jawab.
Dari kamar asrama hingga ruang kelas, dari lapangan upacara hingga lingkungan masyarakat, persaudaraan itu perlu hadir dalam tindakan nyata, tidak melakukan perundungan, tidak menyebarkan fitnah, tidak merusak fasilitas bersama, berani membela teman yang diperlakukan tidak adil, serta peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Sebab, persatuan yang besar selalu dimulai dari kesediaan melakukan kebaikan-kebaikan kecil secara istikamah.
Sumpah Pemuda, Ketika Perbedaan Menemukan Rumah Bernama Indonesia
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru dan latar belakang bersatu untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Persatuan, yaitu Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa karena menghadirkan kesadaran bahwa cita-cita bersama jauh lebih besar daripada kepentingan kelompok.
Di balik momentum kebangsaan tersebut, dunia pendidikan Islam dan pergerakan kaum muda muslim turut menjadi bagian dari dinamika kebangkitan nasional. Jong Islamieten Bond (JIB), yang berdiri pada 1925 dan dibimbing oleh tokoh seperti Haji Agus Salim, menjadi salah satu ruang perjumpaan bagi pelajar muslim untuk mengembangkan pemikiran keislaman sekaligus kesadaran berkebangsaan.
Tradisi pesantren sendiri telah lama membiasakan santri hidup dalam komunitas, mempelajari ilmu, bermusyawarah, dan membangun hubungan dengan masyarakat. Pengalaman tersebut menyediakan modal sosial dan moral yang penting bagi tumbuhnya semangat persatuan. Meski sejarah Sumpah Pemuda melibatkan banyak organisasi dan tokoh dengan latar yang heterogen, kontribusi lingkungan pendidikan Islam dan pergerakan pemuda Muslim merupakan bagian penting dari gambaran kebangkitan Indonesia.
Bahasa Indonesia, yang berakar dari bahasa Melayu dan telah lama digunakan sebagai sarana komunikasi lintas wilayah dan daerah, kemudian menjadi simbol kesediaan untuk membangun jembatan di tengah perbedaan. Bagi santri, keputusan menjunjung satu bahasa persatuan mengandung pelajaran mendalam, identitas yang kuat tidak harus melahirkan sikap tertutup. Seseorang justru dapat mencintai tradisi dan keyakinannya sembari menghargai keberagaman bangsanya.
Semangat kebangsaan tersebut juga mengingatkan kita pada perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober dan peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menghadirkan dua momentum yang saling menguatkan. Keduanya mengajak generasi muda untuk mengenang pengorbanan pendahulu sekaligus meneruskan cita-cita mereka melalui cara-cara yang sesuai dengan tantangan zamannya.
Jika generasi terdahulu berjuang menghadapi penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang menghadapi persoalan yang berbeda, ketimpangan sosial, kemerosotan moral, disinformasi, intoleransi, kerusakan lingkungan, serta perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat. Semangat perjuangan tidak boleh berhenti sebagai nostalgia. Ia harus menjadi energi untuk menjawab persoalan hari ini.
Nasionalisme Santri, Memadukan Iman, Ilmu, dan Pengabdian
Cinta tanah air membutuhkan lebih dari sekadar perasaan bangga. Ia memerlukan kesediaan untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan bersama. Nasionalisme yang berakar pada nilai keagamaan semestinya melahirkan pribadi yang jujur, amanah, adil, menghormati martabat manusia, dan tidak mudah mengorbankan kepentingan masyarakat demi keuntungan atau kesenangan pribadi.
Dalam kehidupan pesantren, kecintaan kepada tanah air dapat diterjemahkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, kedisiplinan menjalankan amanah, penghormatan terhadap perbedaan, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial. Santri yang senantiasa menjaga kebersihan kamar tengah menumbuhkan sikap tanggung jawab jawab terhadap lingkungan yang digunakan bersama. Santri yang menolong temannya, sedang melatih empati dan kepekaan sosial. Santri yang menentang segala bentuk perundungan turut menjaga kehormatan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat sesama manusia. Santri yang menggunakan teknologi secara bertanggung jawab sedang ikut menjaga kualitas kehidupan masyarakat di ruang publik.
Tindakan-tindakan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, bangsa yang besar tidak dibangun hanya oleh pidato dan keputusan monumental. Ia pun terbentuk dari jutaan tindakan positif yang dilakukan secara terus-menerus dan istikamah. Di sinilah nilai tawassuth atau moderasi, tasamuh atau toleransi, dan tawazun atau keseimbangan menjadi relevan. Santri perlu memiliki keyakinan yang kokoh tanpa bersikap angkuh, keberanian menyampaikan kebenaran tanpa merendahkan orang lain, serta keterbukaan terhadap kemajuan tanpa kehilangan pijakan moral.
Nasionalisme yang sehat tidak mempertentangkan iman dan kebangsaan. Sebaliknya, nilai keimanan dapat menjadi sumber etika untuk mengabdi kepada bangsa, sementara kecintaan kepada tanah air menjadi ruang untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan secara nyata.
Menghadapi Zaman, Dari Penjajahan Fisik ke Tantangan Digital
Hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda, medan perjuangan telah berubah. Generasi muda saat ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi yang seolah tidak memiliki batas. Teknologi membuka kesempatan belajar, berkreasi, dan berkolaborasi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa berita hoax, ujaran kebencian, kecanduan digital, budaya pamer, dan kecenderungan menghakimi orang lain berdasarkan informasi yang tidak utuh.
Santri tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu menjadi pembelajar yang kritis, pencipta yang inovatif, dan warga digital yang bertanggung jawab. Ketika menerima informasi, santri perlu memeriksa kebenarannya sebelum membagikannya. Ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat, mereka perlu mengutamakan argumentasi yang sehat dan rasional daripada serangan pribadi. Ketika melihat persoalan sosial, mereka perlu mengembangkan empati dan mencari jalan keluar, bukan sekadar menjadikannya bahan perbincangan.
Demikian pula dalam menyikapi kemajuan kecerdasan buatan dan perubahan dunia kerja. keterampilan teknologi perlu diimbangi dengan daya pikir kritis, kreativitas, kecakapan berkomunikasi, serta integritas yang kuat. Ilmu agama memberi orientasi moral, ilmu pengetahuan membantu memahami persoalan, sedangkan keterampilan modern memungkinkan gagasan diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pesantren masa kini perlu menjadi ruang tumbuh yang mempertemukan kekuatan tradisi dengan keberanian berinovasi. Tradisi menjaga arah dan nilai, sedangkan inovasi membuka jalan untuk menjawab kebutuhan zaman. Keduanya tidak harus dipertentangkan selama kemajuan tetap berpijak pada tanggung jawab moral.
Menjadi Pelanjut Sumpah Pemuda
Pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dirayakan dengan mengenakan pakaian tradisional, mengibarkan bendera, atau mengulang ikrar sejarah. Semua itu penting sebagai simbol, tetapi simbol akan kehilangan makna dan ruh apabila tidak disertai Tindakan nyata.
Santri masa kini perlu meneruskan semangat para pemuda terdahulu dengan cara yang sesuai dengan zamannya, memperkuat persaudaraan di tengah polarisasi, membangun budaya literasi di tengah banjir informasi, mengembangkan ilmu pengetahuan di tengah perubahan teknologi, serta merawat kemanusiaan di tengah kecenderungan saling mencurigai.
Nasionalisme mereka harus tampak dalam prestasi yang membawa manfaat, patriotisme mereka terlihat dalam kesediaan berkorban untuk kepentingan bersama, dan kecintaan mereka kepada sesama hadir dalam kepedulian yang tulus. Bahkan, keberanian membela teman yang dirundung, menghargai petugas kebersihan, menjaga fasilitas umum, dan membantu masyarakat yang mengalami kesulitan merupakan bagian dari pendidikan kebangsaan yang tidak boleh diremehkan.
Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati nurani, bukan hanya terampil, tetapi juga bertanggung jawab, bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga bersedia bekerja sama dengan yang lain. Generasi seperti inilah yang dapat menghubungkan kekuatan iman dengan kemajuan ilmu, kemuliaan akhlak dengan kecakapan modern, serta kebanggaan terhadap identitas dengan penghormatan terhadap perbedaan.
Maka, ketika bulan Oktober mengingatkan kita pada Hari Santri serta Sumpah Pemuda, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa meriah peringatannya, melainkan seberapa jauh nilai-nilainya hidup dalam diri kita.
Apakah kita telah menjadi saudara yang saling menolong, menghargai, menghormati dan menenteramkan? Apakah ilmu yang kita pelajari telah memberi manfaat kepada lingkungan sekitar? Apakah kehadiran kita membuat lingkungan lebih baik? Dan apakah kita telah menggunakan kesempatan hidup untuk memperjuangkan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri?
Dari pesantren, santri belajar bahwa kemuliaan tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh melalui niat yang lurus, ilmu yang terus dicari, akhlak yang dijaga, dan pengabdian yang dilakukan dengan kesungguhan. Dari sejarah Sumpah Pemuda, mereka belajar bahwa perbedaan tidak harus berakhir menjadi perpecahan. Dari tantangan zaman, mereka belajar bahwa nilai-nilai luhur membutuhkan kecakapan baru agar tetap mampu menjawab persoalan manusia.
Sebab, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mewarisi kemerdekaan. Indonesia membutuhkan generasi yang sanggup mengisi kemerdekaan dengan keadilan, kebenaran, kesungguhan, pengetahuan, persaudaraan, dan karya nyata. Dan ketika santri melangkah keluar dari gerbang pesantren untuk mengambil peran di tengah masyarakat, semangat Sumpah Pemuda semestinya ikut melangkah bersamanya, hidup dalam akhlaknya, tumbuh dalam ilmunya, dan berbuah dalam pengabdiannya.
Daftar bacaan
Rahman, Momon Abdul. 2008. Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda.
Suryanegara, Ahmad Mansur. 2014. Api Sejarah: Jilid Kesatu, Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta: Penerbit Suryadinasti.
“Mengenalkan Trilogi Ukhuwah.” 2022. Muslimat NU, 16 Desember 2022. https://muslimatnu.or.id/bincangtoleransi/mengenalkan-trilogi-ukhuwah/ (diakses 26 Oktober 2026).
“Kaum Santri dan Sumpah Pemuda 1928.” Tanpa tahun. Suara Islam. https://suaraislam.id/kaum-santri-dan-sumpah-pemuda-1928/ (diakses 26 Oktober 2026).
Mutiarasari, Kanya Anindita. 2023. “Lirik Lagu Kebyar-Kebyar dan Profil Penciptanya.” detikNews, 4 Agustus 2023. (diakses 26 Oktober 2026).https://news.detik.com/berita/d-6859440/lirik-lagu-kebyar-kebyar-dan-profil-penciptanya