Sumpah Pemuda di Tengah Generation Gap


Pada 28 Oktober, kita kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebuah momentum bersejarah yang mengingatkan kita pada keberanian para pemuda Indonesia pada 1928 untuk menyatukan tekad di tengah berbagai perbedaan. Mereka datang dari latar belakang suku, daerah, bahasa, budaya, dan organisasi yang berbeda. Namun di tengah keberagaman tersebut, mereka berhasil menemukan satu kesamaan yang jauh lebih besar, yaitu keinginan untuk membangun sebuah bangsa yang merdeka dan bersatu.

Menariknya, ketika membaca kembali sejarah Sumpah Pemuda, saya justru teringat pada sebuah fenomena yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini, yaitu generation gap atau kesenjangan antargenerasi. Jika dahulu para pemuda berjuang menyatukan perbedaan suku, bahasa, dan daerah, hari ini kita menghadapi tantangan yang sedikit berbeda. Kita hidup dalam satu bangsa, menggunakan bahasa yang sama, bahkan bekerja di kantor atau tinggal di rumah yang sama, tetapi terkadang justru kesulitan memahami satu sama lain karena perbedaan generasi.

Coba perhatikan percakapan yang sering kita dengar sehari-hari. Generasi yang lebih senior terkadang mengeluhkan anak-anak muda yang dianggap kurang sabar, mudah menyerah, terlalu banyak menuntut, atau terlalu bergantung pada teknologi. Sebaliknya, generasi muda kadang memandang generasi sebelumnya sebagai kelompok yang terlalu kaku, sulit menerima perubahan, kurang memahami teknologi, dan terlalu mempertahankan cara kerja lama. Masing-masing merasa memiliki alasan yang benar. Masing-masing merasa generasinya menghadapi tantangan yang lebih berat. Dan tanpa disadari, perbedaan tersebut perlahan membentuk jarak.

Dalam kajian sosial, generation gap merujuk pada perbedaan nilai, sikap, pengalaman, cara berpikir, dan perilaku antara kelompok generasi yang berbeda. Konsep generasi sendiri banyak dibahas oleh Karl Mannheim dalam tulisannya The Problem of Generations (1928). Mannheim menjelaskan bahwa pengalaman sejarah dan kondisi sosial yang dialami seseorang pada masa pertumbuhannya dapat memengaruhi cara mereka memandang dunia. Artinya, orang yang tumbuh dalam situasi sosial dan teknologi yang berbeda mungkin mengembangkan kebiasaan, pandangan, dan cara merespons persoalan yang berbeda pula.

Bayangkan seseorang yang mengawali karier ketika komputer masih digunakan secara terbatas, komunikasi kantor mengandalkan surat dan telepon, serta informasi diperoleh melalui proses yang relatif panjang. Bandingkan dengan anak muda yang sejak kecil terbiasa menggunakan internet, mencari informasi melalui mesin pencari, berkomunikasi melalui aplikasi, dan sekarang mulai memanfaatkan kecerdasan buatan. Keduanya mungkin menghadapi persoalan pekerjaan yang sama, tetapi pendekatan yang digunakan bisa sangat berbeda. Yang satu mengutamakan pengalaman dan kehati-hatian, sedangkan yang lain mungkin lebih mengandalkan kecepatan, eksperimen, dan teknologi.

Persoalannya muncul ketika perbedaan tersebut tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang wajar, tetapi berubah menjadi penilaian terhadap karakter seseorang. Generasi senior menganggap generasi muda tidak memiliki daya juang, sementara generasi muda menganggap generasi senior tidak mau berkembang. Padahal, tidak semua perbedaan perilaku dapat dijelaskan hanya dari tahun kelahiran. Penelitian Costanza dan koleganya (2012), misalnya, menunjukkan bahwa perbedaan antargenerasi dalam sejumlah sikap kerja cenderung lebih kecil dan kurang konsisten dibanding gambaran stereotip yang sering beredar. Kita perlu berhati-hati agar label generasi tidak membuat kita berhenti melihat manusia sebagai individu.

Di sinilah menurut saya semangat Sumpah Pemuda menjadi sangat relevan. Pada 1928, para pemuda tidak menunggu sampai seluruh perbedaan di antara mereka hilang untuk kemudian bersatu. Mereka justru membangun persatuan di atas kenyataan bahwa perbedaan tersebut memang ada. Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya memiliki identitas serta latar belakang yang berbeda. Namun melalui Kongres Pemuda Kedua, mereka menemukan kepentingan bersama yang lebih besar daripada identitas kelompok masing-masing.

Saya membayangkan betapa tidak mudahnya proses tersebut. Pada masa ketika komunikasi belum semudah sekarang, perjalanan antardaerah membutuhkan waktu panjang, dan identitas kedaerahan masih sangat kuat, para pemuda justru mampu menyepakati satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Mereka tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh, melainkan sebagai kekuatan untuk membangun cita-cita bersama.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Kita memiliki teknologi komunikasi yang jauh lebih canggih, tetapi apakah kemampuan kita untuk saling memahami juga semakin baik? Kita bisa mengirim pesan dalam hitungan detik, melakukan rapat dari kota yang berbeda, bahkan menerjemahkan bahasa asing secara langsung menggunakan AI. Namun dalam kehidupan sehari-hari, masih sering kita temukan orang tua yang kesulitan memahami anaknya, guru yang kesulitan berkomunikasi dengan muridnya, atau pemimpin yang kesulitan membangun hubungan dengan karyawan yang lebih muda.

Mungkin masalahnya bukan karena kita kekurangan alat komunikasi, tetapi karena kita kekurangan kemauan untuk benar-benar memahami. Kita terlalu cepat memberikan penilaian sebelum mendengarkan penjelasan. Kita lebih sibuk membandingkan pengalaman generasi sendiri daripada mencoba memahami pengalaman generasi lain. Bahkan terkadang kita menggunakan kalimat yang tanpa sadar menutup ruang dialog, seperti “Anak zaman sekarang memang beda”, atau sebaliknya, “Orang tua memang tidak akan mengerti.”

Dalam ilmu komunikasi, ada konsep perspective-taking, yaitu kemampuan untuk mencoba memahami suatu situasi dari sudut pandang orang lain. Kemampuan ini menjadi penting dalam membangun hubungan antarmanusia, termasuk hubungan antargenerasi. Ketika seorang pemimpin memahami bahwa karyawan muda mungkin membutuhkan umpan balik yang lebih sering, ia tidak harus langsung menganggap mereka manja. Sebaliknya, ketika karyawan muda memahami bahwa atasannya terbiasa dengan proses pengambilan keputusan yang lebih hati-hati, ia tidak perlu langsung menganggap atasannya lambat atau antiperubahan. Keduanya bisa mulai melihat bahwa ada pengalaman berbeda yang membentuk cara berpikir masing-masing.

Dalam dunia kerja, saya sering melihat bagaimana perbedaan generasi sebenarnya dapat menjadi kekuatan luar biasa apabila dikelola dengan baik. Generasi yang lebih senior memiliki pengalaman, pengetahuan tentang organisasi, jejaring, dan kemampuan membaca situasi yang terbentuk selama bertahun-tahun. Sementara itu, generasi yang lebih muda mungkin membawa perspektif baru, keberanian mencoba, serta kemampuan memanfaatkan teknologi yang berkembang sangat cepat. Bayangkan jika keduanya saling melengkapi. Pengalaman membantu inovasi tetap berpijak pada kenyataan, sedangkan inovasi membantu pengalaman agar tidak terjebak dalam kebiasaan lama.

Sayangnya, kolaborasi tersebut terkadang terhambat oleh ego masing-masing. Yang senior merasa harus selalu didengarkan karena lebih berpengalaman. Yang muda merasa lebih tahu karena lebih menguasai teknologi. Padahal pengalaman tanpa kemauan belajar dapat berubah menjadi kekakuan, sedangkan keberanian berinovasi tanpa kesediaan mendengarkan dapat berubah menjadi kecerobohan. Kita membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman sekaligus keberanian yang lahir dari semangat pembaruan.

Hal yang sama berlaku dalam keluarga dan pendidikan. Sebagai orang tua, kita tentu memiliki pengalaman hidup yang ingin diwariskan kepada anak-anak. Namun anak-anak kita tumbuh dalam dunia yang berbeda dengan dunia tempat kita dibesarkan. Mereka menghadapi teknologi, lingkungan sosial, dan tantangan yang mungkin tidak pernah kita alami pada usia yang sama. Karena itu, mendidik anak tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa cara kita dahulu adalah cara yang paling benar. Kita perlu memahami dunia mereka tanpa harus kehilangan nilai-nilai yang kita yakini.

Sebaliknya, generasi muda juga perlu memahami bahwa tidak semua hal lama harus ditinggalkan. Ada nilai-nilai yang justru semakin penting ketika dunia berubah semakin cepat, seperti integritas, disiplin, tanggung jawab, kesabaran, penghormatan kepada orang lain, dan kemampuan menjaga komitmen. Teknologi dapat membantu kita menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi tidak otomatis membuat kita lebih bijaksana. Informasi dapat diperoleh dengan mudah, tetapi pengalaman dan kedewasaan tetap membutuhkan proses.

Saya kemudian teringat bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa tentang anak-anak muda yang berkumpul dan mengucapkan ikrar. Sumpah Pemuda adalah peristiwa tentang kemampuan manusia untuk melampaui batas identitas kelompoknya. Mereka bersedia mengurangi ego kedaerahan demi membangun identitas kebangsaan yang lebih besar. Jika semangat itu kita bawa ke kehidupan hari ini, mungkin tantangannya adalah bagaimana kita bersedia mengurangi ego generasi demi membangun masa depan bersama.

Barangkali kita membutuhkan semacam semangat Sumpah Pemuda dalam hubungan antargenerasi. Bukan sumpah baru yang harus diucapkan dalam sebuah upacara, tetapi komitmen sederhana untuk berhenti merendahkan generasi lain. Generasi senior tidak perlu merasa terancam oleh kemampuan generasi muda. Generasi muda juga tidak perlu merasa bahwa pengalaman generasi sebelumnya sudah tidak relevan. Kita bisa berbeda usia, berbeda cara berpikir, berbeda kebiasaan, dan berbeda pendekatan, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama.

Dalam konteks organisasi, tujuan itu mungkin berupa pelayanan pelanggan yang lebih baik, inovasi yang lebih relevan, atau keberlanjutan perusahaan. Dalam konteks sekolah dan pesantren, tujuannya adalah membantu anak-anak tumbuh menjadi manusia yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. Dalam konteks keluarga, tujuannya adalah membangun hubungan yang hangat dan saling mendukung. Sedangkan dalam konteks kebangsaan, tujuan besarnya tentu tetap sama, yaitu menghadirkan Indonesia yang lebih maju, adil, dan bermartabat.

Ada satu hal menarik lainnya. Para pemuda pada 1928 tidak menunggu sampai menjadi tua untuk mulai memberikan kontribusi. Mereka mengambil peran pada usia muda, ketika masa depan bangsa masih penuh ketidakpastian. Ini menjadi pengingat bahwa anak muda bukan sekadar generasi penerus yang harus menunggu giliran. Mereka juga merupakan bagian dari generasi yang membentuk masa depan sejak hari ini. Namun pada saat yang sama, semangat kepemudaan tidak harus berhenti ketika usia seseorang bertambah. Orang yang lebih senior pun dapat terus memiliki rasa ingin tahu, keberanian belajar, dan keterbukaan terhadap perubahan.

Mungkin karena itulah saya semakin percaya bahwa menjadi muda bukan hanya persoalan angka usia. Ada orang yang secara biologis masih muda, tetapi sudah enggan belajar dan merasa paling tahu. Sebaliknya, ada orang yang usianya tidak lagi muda, tetapi tetap antusias mempelajari teknologi baru, mendengarkan gagasan anak-anak muda, dan berani mengubah cara kerjanya. Semangat muda sesungguhnya juga tercermin dari kesediaan untuk terus tumbuh.

Menjelang peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, saya merasa kita perlu memperluas cara memaknai persatuan. Persatuan bukan hanya tentang hubungan antarsuku, antaragama, atau antardaerah. Persatuan juga perlu hadir dalam hubungan antargenerasi. Sebab masa depan Indonesia tidak mungkin dibangun oleh satu generasi saja. Kita membutuhkan pengalaman generasi sebelumnya, energi generasi hari ini, dan keberanian mempersiapkan generasi yang akan datang.

Pada akhirnya, generation gap mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Setiap generasi akan tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, menghadapi tantangan yang berbeda, dan memiliki cara pandang yang tidak selalu sama. Namun perbedaan tersebut tidak harus menjadi sumber konflik. Justru ketika kita bersedia saling mendengarkan, saling belajar, dan saling menghargai, perbedaan generasi dapat menjadi sumber kekuatan yang memperkaya cara kita melihat dunia.

Para pemuda pada 1928 telah memberikan teladan bahwa perbedaan tidak harus menghalangi persatuan. Mereka berhasil menemukan satu cita-cita bersama di tengah keberagaman identitas. Kini, hampir satu abad kemudian, tantangan kita mungkin bukan lagi menyatukan Jong Java, Jong Sumatra, atau Jong Celebes, melainkan menyatukan cara pandang mereka yang dibesarkan oleh zaman yang berbeda.

Sebab Indonesia tidak membutuhkan generasi yang sibuk membuktikan bahwa generasinya paling hebat. Indonesia membutuhkan generasi-generasi yang bersedia bekerja sama untuk menjadikan bangsanya lebih hebat.

Dan mungkin, itulah salah satu cara terbaik kita memaknai Sumpah Pemuda hari ini. Bukan sekadar mengingat bagaimana para pemuda dahulu berhasil menyatukan perbedaan, tetapi juga belajar bagaimana kita hari ini mampu menjembatani perbedaan yang ada di antara kita.

Karena persatuan bukan berarti kita harus menjadi sama. Persatuan adalah kemampuan untuk tetap berjalan bersama, meskipun kita berasal dari zaman yang berbeda.


Referensi
Mannheim, K. (1952). “The Problem of Generations”. Dalam P. Kecskemeti (Ed.), Essays on the Sociology of Knowledge. Routledge & Kegan Paul. (Karya asli diterbitkan pada 1928).
Costanza, D. P., Badger, J. M., Fraser, R. L., Severt, J. B., & Gade, P. A. (2012). “Generational Differences in Work-Related Attitudes: A Meta-analysis”. Journal of Business and Psychology, 27, 375–394.
Rudolph, C. W., Rauvola, R. S., & Zacher, H. (2018). “Leadership and Generations at Work: A Critical Review”. The Leadership Quarterly, 29(1), 44–57.
Galinsky, A. D., Maddux, W. W., Gilin, D., & White, J. B. (2008). “Why It Pays to Get Inside the Head of Your Opponent: The Differential Effects of Perspective Taking and Empathy in Negotiations”. Psychological Science, 19(4), 378–384.
Museum Sumpah Pemuda, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Dokumentasi sejarah Kongres Pemuda Kedua dan lahirnya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.