
Pada serial kali ini, pembaca akan disuguhkan dengan kesucian nasab dan keindahan nama Rasulullah ﷺ. Dalam hal ini, penulis akan banyak bersandar pada dua referensi unggulan yang mengupas tuntas bab nasab dan nama Nabi Muhammad: Wasail al-Wushul ila Syamail ar-Rasul dan syarah-nya, Muntaha as-Sul.
Nasab Rasulullah ﷺ
Kesempurnaan Nabi Muhammad ﷺ bukan hanya nampak pada rupa atau akhlaknya saja. Bahkan, jauh sebelum beliau dilahirkan, Allah Swt telah menjaga kesucian sulbi dan rahim yang Dia pilih untuk membawa calon Nabi ini dari waktu ke waktu hingga tiba saatnya rahim ibunda Aminah mengandung insan mulia dan melahirkannya ke alam dunia sebagai pelita. Imam as-Suyuti (911 H) dalam tafsir-nya, ad-Dur al-Mantsur ketika menafsirkan ayat 128 surat at-Taubah, menukil satu hadits dari Ibnu Abi Umar al-‘Adni (243 H) yang dimuat dalam Musnad-nya, Rasulullah ﷺ bersabda:
خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى أَنْ وَلَدَنِيْ أَبِيْ ، وَأُمِّيْ لَمْ يُصِبْنِيْ مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّةِ شَيْءٌ
Aku dilahirkan dari pernikahan dan bukan dari perzinaan. Mulai dari Adam sampai ayah dan ibuku melahirkanku, nasabku sama sekali tidak pernah dinodai oleh perzinaan.
Ath-Thabrani (360 H) juga meriwayatkan sebuah hadits dalam al–Awsath dari Abdullah bin Umar (73 H)
إِنَّ اللهَ اخْتَارَ خَلْقَهُ؛ فَاخْتَارَ مِنْهُمْ بَنِي آدَمَ، ثُمَّ اخْتَارَ بَنِي آدَمَ فَاخْتَارَ مِنْهُمُ العَرَبَ، ثُمَّ اخْتَارَ العَرَبَ فَاخْتَارَ مِنْهُمْ قُرَيْشًا، ثُمَّ اخْتَارَ قُرَيْشًا فَاخْتَارَ مِنْهُمْ بَنِي هَاشِمٍ، ثُمَّ اخْتَارَ بَنِي هَاشِمٍ فَاخْتَارَنِي، فَلَمْ أَزَلْ خِيَارًا مِنْ خِيَارٍ، أَلَا مَنْ أَحَبَّ العَرَبَ فَبِحُبِّي أُحِبُّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَ العَرَبَ فَبِبُغْضِيْ أُبْغِضُهُمْ
Sesungguhnya Allah swt memilih yang terbaik di antara ciptaan-Nya. Maka Allah memilih yang terbaik di antara mereka anak keturunan Nabi Adam as. Kemudian Allah memilih di antara mereka bangsa Arab. Lalu Allah memilih di antara mereka suku Quraisy. Dari suku Quraisy, Allah memilih anak keturunan Hasyim dan dari Bani Hasyim itulah Allah memilihku. Aku dipilih menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Ketahuilah barang siapa yang mencintai bangsa Arab, maka demi cintaku aku mencintainya. Barang siapa yang membenci bangsa Arab, maka demi kebencianku aku pun membencinya.
Imam al-Lahji (1410 H) dalam syarah-nya, Muntaha as–Sul menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang nasabnya paling mulia secara mutlak. Bahkan musuh-musuhnya pun mengakui hal tersebut. Seperti Abu Sufyan yang kala itu bersaksi di hadapan Raja Romawi akan kemuliaan nasab beliau. Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi keturunan bangsa Arab, dari suku Quraisy keturunan Hasyim. Terpilih dari kabilah terbaik bangsa Arab. Paling fasih lisannya dan paling sahih imannya ﷺ.
Beliau adalah Muhammad ﷺ bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Sampai pada batas inilah, nasab Rasulullah ﷺ yang disepakati para ulama.
Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani (852 H) dalam Fath al–Bari menerangkan bahwa antara silsilah Adnan sampai kepada Nabi Ismail as terdapat banyak perbedaan pendapat, silsilah antara Nabi Ismail sampai kepada Nabi Adam as disepakati banyaknya bilangan nasabnya, terdapat perselisihan tentang berapa silsilah yang terbentang antara beliau berdua juga tentang penamaannya.
Di antara ulama ahli nasab yang membahas tuntas hal ini adalah as-Sayyid Umar bin Alwi al-Kaf (1412 H) yang menghimpun nama-nama leluhur Rasulullah ﷺ hingga berujung kepada Nabi Adam as dalam kitab yang dinamai ash-Sharh al-Mumarrad wa al-Fakhr al-Muabbad li aba’i sayyidina Muhammad ﷺ. Adapun Imam Malik bin Anas (174 H) ketika dimintakan pendapatnya tentang orang yang mengangkat nasabnya hingga Nabi Isma’il atau bahkan Nabi Adam, beliau tidak mengiyakan hal tersebut. Atas dasar ini, al-Lahji menganjurkan kita agar tidak terlalu memperhatikan nasab Rasulullah ﷺ setelah urutan nasabnya yang ke-21, Adnan. Karena di dalamnya terdapat banyak kerancuan dan faedah yang sedikit. Rasulullah ﷺ apabila menyebutkan nasabnya, tidak pernah melebihi nama kakeknya, Adnan. Setelah itu, beliau bersabda: ‘Ahli Nasab telah berdusta.’ Kemudian beliau mengutip ayat 38 surat al-Furqan:
وَقُرُوناً بَيْنَ ذلِكَ كَثِيراً
Dan ada banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu.
Nama Rasulullah ﷺ
Imam an-Nawawi (676 H) dalam kitabnya, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat menukil ucapan al-Hafiz al-Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi (543 H) yang dimuat dalam kitabnya, Aridhah al-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi (279 H), beliau berkata: ‘Sebagian ulama mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki seribu nama.’ Banyaknya nama yang disematkan kepada beliau menunjukkan kemuliaannya sebagai manusia sempurna. Sebagaimana dikatakan al-Lahji:
ثم معرفة أنّ له أسماء كثيرة تدلّ على عظمه، وذلك يحصّل تعظيمه ويزيد في محبّته
Pengetahuan yang mengabarkan Rasulullah ﷺ memiliki banyak nama, menunjukkan keagungan beliau. Pengetahuan tersebut akan melahirkan pengagungan dan menambah kecintaan kepada Sang Panutan.
Mengenai hal ini, Rasulullah ﷺ sendiri memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan beberapa nama lainnya selain Muhammad. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (256 H) dan Muslim (261 H) dari sahabat Jubair bin Muth’im (57 H) bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إنّ لي أسماء، أنا محمّد، وأنا أحمد، وأنا الماحي الّذي يمحو الله بى الكفر، وأنا الحاشر الّذي يحشر النّاس على قدميّ، وأنا العاقب الّذي ليس بعده نبيّ
Sesungguhnya aku memiliki beberapa nama: Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi karena Allah menghapuskan kekufuran dengan keberadaanku, aku adalah al-Hasyir karena pada hari kiamat semua manusia akan dibangkitkan setelah kebangkitanku, aku adalah al-Aqib, nabi yang terakhir.
Dalam hadits yang lain, Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari sahabat Hudzaifah bin Yaman (36 H), Rasulullah ﷺ bersabda:
أنا محمّد، وأنا أحمد، وأنا نبيّ الرّحمة، ونبيّ التّوبة، وأنا المقفّي «١» ، وأنا الحاشر، ونبيّ الملاحم
Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Nabi ar-Rahmah (penyebab datangnya rahmat Allah), Aku adalah Nabi at-Taubah (yang menyeru dan mengajak untuk bertaubat, Nabi yang banyak bertaubat kepada Allah swt), aku adalah al-Muqaffa (yang mengikuti jejak para nabi terdahulu), aku adalah al-Hasyir dan aku adalah Nabi al-Malahim (pandai berperang).
Imam al-Khattabi (388 H) menyingkap syubhat yang terselip dalam nama al-Malahim. Beliau melemparkan pertanyaan kepada kita: ‘Bagaimana memahami firman Allah surat al-Anbiya’ayat 107 yang menyifatkan Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang untuk alam semesta) juga sabda beliau yang menetapkan dirinya sebagai rahmat dan hidayah, sedangkan pada saat yang bersamaan beliau juga menamai dirinya dengan Nabi al-Malahim?’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya, pengutusan beliau dengan peperangan dan pedang adalah salah satu bentuk dari kasih sayangnya. Karena Allah Swt menyiapkan bagi setiap rasul-Nya dengan mukjizat.
Sunnatullah berlaku pada umat terdahulu, bahwasanya ketika mereka mendustakan para utusan Tuhan, azab yang membinasakan disegerakan untuk mereka. Adapun umat ini (umat Nabi Muhammad) azabnya ditangguhkan dan tidak segera dimusnahkan dengan azab. Sehingga Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk memerangi mereka agar tidak terjerumus ke dalam kekufuran. Efek kerusakan yang ditimbulkan pedang tidak seperti azab yang tidak menyisakan apa pun (kecuali apa yang Allah kehendaki)’.
Di antara kisah kasih sayangnya pada umat ini adalah yang dikabarkan oleh riwayat yang sahih tentang malaikat penjaga gunung yang menghampirinya menawarkan azab untuk kaum yang menyakitinya, seraya berkata: ‘Jika engkau mau, akan aku timpakan dua gunung ini kepada mereka!’ Namun kemudian beliau menjawab: ‘Aku justru berharap, barangkali Allah akan mengeluarkan dari mereka keturunan yang mengesakan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.’
Kemudian Imam an-Nawawi menyebutkan beberapa nama lain Nabi Muhammad yang terdapat dalam al-Qur’an.
سمّاه الله عزّ وجلّ في القران رسولا، نبيّا، أمّيّا، شاهدا، مبشّرا، نذيرا، داعيا إلى الله بإذنه، وسراجا منيرا، ورؤوفا رحيما، ومذكّرا، وجعله رحمة ونعمة وهاديا صلّى الله عليه وسلّم
Allah menamakan beliau dalam al-Qur’an dengan sebutan Rasul, Nabi, Ummiy (tidak mengenal baca tulis), Syahid (saksi), Mubasysyir (pembawa kabar gembira), Nadzir (pemberi peringatan), Da’i ila Allah (orang yang mengajak kepada Allah), Siraj Munir (pelita yang menerangi), Rauf Rahim (kasih sayang), Mudzakkir (pemberi peringatan), dan Allah swt menjadikannya sebagai rahmat, nikmat dan petunjuk ﷺ.
Abdullah bin Abbas (68 H) meriwayatkan hadits tentang nama Rasulullah ﷺ yang bukan hanya ada pada al-Qur’an. Namun, juga ada pada kitab-kitab terdahulu. Beliau bersabda:
اسمي في القران: محمّد، وفي الإنجيل: أحمد، وفي التّوراة: أحيد، وإنّما سمّيت أحيد لأنّي أحيد أمّتي عن نار جهنّم
Namaku di dalam al-Qur’an adalah Muhammad, di dalam Injil adalah Ahmad, di dalam Taurat adalah Ahyad. Aku dinamakan Ahyad karena aku melindungi umatku dari neraka jahannam.
Beberapa ulama, ada yang menghimpun nama Rasulullah ﷺ hingga menjadi kitab. Di antaranya adalah Imam al-Jazuli (870 H) dalam kitabnya yang masyhur, Dalail al-Khairat beliau menyebutkan sebanyak 201 nama Rasulullah ﷺ. Ada juga Imam as-Suyuti (911 H) yang mengumpulkan nama Nabi Muhammad ﷺ sebanyak 500 nama dalam risalah yang dinamakan al-Bahjah as-Saniyyah fi al-Asma an-Nabawiyyah. Bahkan, Syekh Yusuf an-Nabhani meneliti dan mengumpulkan nama Rasulullah ﷺ hingga mencapai bilangan kurang lebih 860 nama yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah. Dari sekian banyak nama Rasulullah ﷺ, Syekh Yusuf an-Nabhani menyebutkan bahwa nama beliau yang paling utama adalah Muhammad ﷺ karena keistimewaan yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah karena keislaman orang kafir tidak akan sah sebelum menyebutkan nama Muhammad dan mengikrarkannya sebagai seorang utusan Tuhan. Begitu pun ketika mengucapkan bacaan tasyahhud di dalam salat.
Selain itu, nama Muhammad satu akar kata dengan nama Allah, Mahmud (Yang Dipuja). Sehingga sahabat Hassan bin Tsabit menggubah pujian kepada Rasulullah ﷺ dalam syairnya
وضمّ الإله اسم النّبيّ إلى اسمه * إذا قال في الخمس المؤذّن: أشهد وشقّله من إسمه ليجلّه * فذو العرش محمود وهذا محمّد
Tuhan menyandingkan nama Nabi Muhammad dengan nama-Nya Ketika seorang muadzin mengumandangkan azan salat yang lima Allah menjadikan nama Muhammad berasal dari nama-Nya Allah adalah Mahmud (Yang Dipuja) dan engkau adalah Muhammad (yang terpuji)
Ada pun nama Ahmad, Syekh al-Bajuri dalam Hasyiyah ‘ala asy-Syamail memberikan penjelasan tentang kandungan makna nama Ahmad. Beliau mengatakan bahwa Rasulullah dinamakan Ahmad karena beliau adalah orang yang paling terpuji di antara hamba yang lainnya. Dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan bahwa pada hari kiamat nanti, Allah Swt mengilhamkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan puji-pujian yang belum pernah dipersembahkan untuk Allah Swt oleh makhluk mana pun. Pada hari itu, beliau diberikan panji al-Hamd yang dibawahnya bernaung seluruh manusia terpuji dan memuji Allah. Dialah satu-satunya manusia yang pada saat itu diberikan kesempatan untuk memberikan syafa’at kepada para pendosa dari kalangan umatnya.
Kedua nama ini, Ahmad dan Muhammad memiliki keistimewaan di antara nama-nama yang lain. Maka hendaknya, kita menghidupkan nama Ahmad dan Muhammad di tengah keluarga kita. Imam asy-Syafi’i menamakan putranya dengan nama Muhammad. Beliau mengatakan bahwa ia menamakan anaknya dengan nama yang paling ia cintai. Sehingga dibuatlah kitab oleh para ulama yang membahas tentang keutamaan nama Ahmad dan Muhammad. Seperti yang dikarang oleh al-Hafiz al-Husain bin Ahmad bin Abdillah bin Bukair al-Baghdadi dengan judul Fadhail man Ismuhu Ahmad aw Muhammad. Semoga Allah Swt senantiasa menghidupkan nama indah ini dalam sanubari kita sebagai penyejuk dari segala gundah dan lara. Amin.