
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ عَدَدَ كَمَالِ اللهِ وَكَمَا يَلِيْقُ بِكَمَالِهِ
Selawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ beserta keluarga dan para sahabatnya, sebanyak bilangan kesempurnaan Allah dan sebagaimana kesempurnaan yang pantas baginya.
Pada seri sebelumnya, penulis memberikan penalaran tentang pentingnya mengenali kepribadian Rasulullah ﷺ melalui pendekatan al-Qur’an dan Hadis yang menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengimani sosok teladan sempurna sebagai konsekuensi dari mengimani Tuhan yang menjadikannya salah satu di antara syarat keabsahan iman. Sebelum masuk lebih dalam kepada pembahasan tentang Rasulullah ﷺ, Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani (1350 H) dalam kitabnya Wasail al-Wushul Ila Syamail ar-Rasul lebih dulu memaparkan faidah-faidah yang dilahirkan dari mengetahui tentang Rasulullah ﷺ sebagai motivasi lain yang mendorong umat untuk tergerak menggali lebih dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi Muhammad ﷺ selain al-Qur’an dan Hadis. Mari kita petik faedah apa saja yang akan kita dapatkan.
Beliau mengatakan bahwa tujuan daripada menghimpun pengetahuan tentang akhlak Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk mempelajarinya sebagai bagian dari sejarah, sebagai hiburan hati, atau sebagai bahan pembicaraan di setiap perkumpulan dan lain sebagainya. Ada maksud lain yang lebih penting dalam pandangan agama dari mempelajari budi pekerti Sang Nabi. Antara lain adalah sebagai berikut.
- Menikmati keindahan sifat-sifat Nabi Muhammad yang luhur dan budi pekertinya yang diridai oleh Allah swt.
- Mendekatkan diri kepada Nabi Muhammad ﷺ serta meraih cinta dan rida-Nya dengan menyebut-nyebut sifatnya yang sempurna dan akhlaknya yang utama. Sebagaimana seorang penyair yang mendekatkan diri kepada dermawan dengan mendendangkan sifat terpuji serta kelebihannya. Tidak diragukan lagi bahwa mengumpulkan hadis-hadis tentang kepribadian Rasulullah ﷺ dan menyebarkannya adalah lebih utama dan lebih sempurna daripada hanya sekadar memujinya dengan bait-bait kasidah. Rasulullah ﷺ sungguh telah meridai dan mengapresiasi sahabat-sahabatnya yang menyanjung beliau lewat syair-syair pujian, seperti Hassan bin Tsabit (40 H), Abdullah bin Rawahah (8 H), dan Ka’ab bin Zuhair (26 H) semoga Allah meridai semuanya. Maka semoga beliau meridai kita semua dengan upaya kita mengenalnya lewat meneladani sifat dan akhlaknya.
- Hal ini merupakan bagian dari cara kita berterima kasih kepada Rasulullah ﷺ sebagai umatnya, atas kebaikan beliau kepada kita. Beliau telah menyelamatkan kita dari gelapnya kesesatan dan menunjukkan kita menuju cahaya hidayah, membawa kita dari penyesalan panjang menuju kebahagiaan abadi. Ini adalah kenikmatan yang besar yang tidak mungkin dibalas dengan apa pun. Tidak ada yang mampu membalas kebaikannya selain Allah swt. Semoga Allah swt membalas beliau dengan sebaik-baik balasan. Karena sesungguhnya beliau telah menyelamatkan kita dari kebinasaan (kekufuran), menjadikan kita sebagai umat terbaik dari golongan manusia yang beragama dengan agamanya yang diridai oleh Allah swt. Tiada sedikit pun nikmat yang kita rasakan secara lahir maupun batin dalam urusan agama ataupun dunia, melainkan Nabi Muhammad ﷺ adalah sebabnya, penuntun kepada kebaikan dan penunjuk kepada kebenaran.
- Mengetahui segala tentang kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ merupakan di antara sebab mendapatkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Karena sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan fitrah mencintai sifat-sifat keindahan dan kepada siapa saja yang memiliki sifat tersebut, dan tidak ada seorang pun yang sifatnya lebih indah dan sempurna dari Rasulullah ﷺ. Maka pasti, siapa saja yang fitrahnya suci, ketika mengetahui keindahan Rasulullah ﷺ pasti akan jatuh cinta kepadanya. Kadar kecintaan kita kepada beliau memengaruhi kadar keimanan yang kita miliki. Keimanan itu akan bertambah dengan bertambahnya kecintaan kepada beliau, dan akan berkurang dengan kekurangannya. Bahkan rida Allah swt, kebahagiaan abadi, kenikmatan penduduk surga, dan derajat mereka di dalamnya ditentukan oleh kadar kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana murka Allah, kesengsaraan panjang, azab penduduk neraka juga ditentukan oleh kadar kebencian seseorang kepada Rasulullah ﷺ.
- Pengetahuan kita tentangnya akan membantu kita dalam mengikuti sunnah dan ajarannya yang mungkin untuk ditiru. Seperti kedermawanannya, kesabaran, ketawadukan, zuhud, ibadah, dan lain sebagainya dari akhlaknya yang mulia. Itulah hal yang menyebabkan datangnya kecintaan Allah Swt yang di dalamnya terdapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian mencintai Allah swt, maka ikutilah aku (Muhammad). Niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31)
Semoga Allah menjadikan kita umat yang mengikuti syariatnya yang lurus dan jalannya yang benar serta membangkitkan kita di bawah panjinya bersama para pecintanya di hari kiamat nanti. Aamiin.