Merasa Benar: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Tidak sedikit ilmu pengetahuan yang menghantarkan pemiliknya pada titik sebuah kebenaran. Sehingga setelah sampai puncak sana, mereka hanya melihat kekeliruan dan kesalahan di sekitarnya. Walau pun memang di antara buah mempelajari ilmu adalah menikmati manisnya kebenaran. Namun, apakah dibenarkan jika seseorang menafikan kebenaran yang menjasad dalam bentuk yang lain? Di sinilah kebijaksanaan ilmu berperan. Bahwa ilmu bukan hanya sekadar menyampaikan pada dimensi benar-salah. Lebih dari itu, ujung perjalanan ilmu adalah rasa takut yang menyertai setiap kata dan langkah pada raja alam semesta.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ (فاطر : 29)
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 29)

Karena jika tidak, manusia hanya akan menjadi korban keilmuan yang mengangkatnya ke atas kemuliaan semu saat ia mulai merasa benar. Al-Qur’an sudah mengingatkan tentang bahayanya merasa benar. Semakin jauh kesesatan yang dilakukan, semakin menjadi pula keyakinannya bahwa perbuatan tersebut adalah benar. Menakutkan sekali ketika seseorang dirabunkan hatinya dari melihat kebenaran hakiki. Sehingga, merasa benar tidak bisa diremehkan sebagai salah satu penyakit hati yang harus segera diobati. Oleh sebab itu, penulis mencoba meramukan penawarnya lewat tulisan ini yang diracik seperti gaya penulisan khas literasi kesehatan yang tidak luput pembahasannya dari pengertian, gejala, penyebab, dan pengobatannya. Berikut penjelasannya.

Pengertian

Seperti yang telah diisyaratkan, bahwa dalam hal ini al-Qur’an sudah menggambarkan betapa tercelanya orang yang merasa benar padahal sedang berkubang dalam kesesatan. Bahkan, Allah Swt menyebutkan pembahasan tersebut berulang kali pada ayat yang berbeda.

Siapakah mereka?
Allah Swt menjawab dalam firman-Nya:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (الكهف : 103-104)
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah perlu kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang-orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahf: 103-104)

Ayat ini menjawab bahwa yang dimaksud dengan golongan orang yang suka merasa benar adalah mereka yang perbuatannya tidak dilandaskan ilmu dan keimanan. Ath-Thabari (310 H) menafsirkan bahwa kesesatan amal mereka disebabkan karena mereka mengerjakannya tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Swt. Sehingga bukan hanya sia-sia, mereka bahkan meyakini bahwa kesesatan yang dilakukan sebagai sebuah kebenaran. Golongan semacam ini disebut dalam ayat sebagai orang yang paling merugi.

Gejala

Gejala yang sering muncul pada penderita penyakit ini biasanya meliputi hal berikut ini:

  1. Arogan
    Penyakit ini cenderung membuat penderitanya lebih mudah merasa cukup dengan pencapaian dirinya yang pada akhirnya membuatnya bersikap angkuh. Melihat dirinya sebagai personal yang lebih dominan dibanding yang lain. Hal ini dibuktikan dari penolakannya terhadap kritik dan saran, mudah marah dan menyalahkan tanpa sedikit pun merasa bersalah.
  2. Bodoh
    Keluasan lautan ilmu tidak akan pernah dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar mencintainya. Sehingga semakin banyak mereka meneguknya, semakin merasa haus terhadapnya karena ia tidak ada habisnya. Manusia yang mengidap penyakit “merasa benar” akan sulit memahami kebodohan yang melapuk bersama usianya. Semakin tua, semakin susah disadarkan tentang kesalahan yang selama ini dianggap benar. Keadaan semacam inilah yang membuatnya kekal dalam kubangan kebodohan sampai ia mampu menyadari kapasitas keilmuannya yang tidak ada seujung jari. Pada saat itulah ia akan perlahan terselamatkan dari tenggelam dalam kebenaran semu.
  3. Stagnan
    Selain itu, penderita akan mengalami gaya hidup yang statis. Tidak ada perkembangan dan kemajuan dari berbagai aspek kehidupan. Baik dari sisi ekonomi, sosial, pendidikan, bahkan kesehatan yang kian memburuk seiring bertambahnya usia. Sebab, setiap kali diberikan saran yang konstruktif, selalu dihadapkan dengan sikap defensif. Sehingga perjalanan hidupnya hanya seperti jalan di tempat tanpa arah tujuan dan pencapaian yang jelas.

Penyebab

Di antara hal yang menyebabkan seseorang terpapar penyakit ini adalah ketika ia jauh dari Allah Swt dan menjadikan setan sebagai kawan akrabnya. Indikasinya adalah lalai dari mengingat Allah Swt. Sebagaimana difirmankan dalam surat Al-A’raf ayat 30 dan surat Az-Zukhruf ayat 36-37.

إِنّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ (الأعراف : 30)
“… Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain Allah. Mereka mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ (الزخرف : 36-37)
“Siapa yang berpaling dari mengingat (Allah) Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan (menyesatkannya). Maka, ia (setan) selalu menemaninya. Sesungguhnya mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalangi mereka (manusia) dari jalan (yang benar), sedangkan mereka (manusia yang sesat itu) mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Pada dua surat ini, Allah Swt menyebutkan bahwa mereka yang cenderung merasa paling benar adalah golongan yang berpaling dari mengingat Allah Swt. Hal itu membuatnya terjatuh dalam dekapan setan yang menjerumuskannya dalam kemaksiatan. Lebih dari itu, saat terlena dalam perbuatan dosa, ia bukan hanya melakukannya dengan sengaja, bahkan ia meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Mengomentari ayat tersebut, Az-Zamakhsyari (538 H) menjelaskan bahwa maksud dari menjadikan setan sebagai kawan adalah karena mereka menuruti apa yang diperintahkan setan. Surat Al-Baqarah ayat 268 menjelaskan bahwa yang diperintahkan setan adalah tidak lain agar manusia melakukan perbuatan mungkar.

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِۚ (البقرة : 268)
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji.”

Secara eksplisit, surat Ali Imran ayat 180 menyebutkan dampak nyata dari berteman dengan setan. Kawanan setan yang mengiringinya senantiasa membisikkan ketakutan akan kemiskinan. Sehingga was-was tersebut mewariskan sifat bakhil, dan pelakunya merasa bahwa perbuatan tersebut merupakan sebuah kebaikan baginya. Padahal sejatinya adalah keburukan yang nyata.

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (آل عمران : 180)
“Jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya mengira bahwa (kekikiran) itu baik bagi mereka. Sebaliknya, (kekikiran) itu buruk bagi mereka. Pada hari Kiamat, mereka akan dikalungi dengan sesuatu yang dengannya mereka berbuat kikir. Milik Allahlah warisan (yang ada di) langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Pengobatan

Penyakit ‘merasa benar’ ini lebih sering menyerang kaum intelektual daripada yang lainnya. Karena seperti yang telah diutarakan di atas bahwa ilmu pengetahuan cenderung membawa pemiliknya kepada titik sebuah kebenaran. Letak masalahnya terdapat pada keabsahan kebenaran yang dijunjung. Apakah dapat diuji kebenarannya? Atau hanya sekadar hipotesis yang melahirkan dugaan semata? Oleh karena itu, Islam menawarkan ramuan yang dapat melindungi kaum intelektual dari penyakit tersebut.

  1. Bersanad
    Keberadaan sanad dalam kehidupan seseorang layaknya sebuah pagar yang menata dan merapikan pikiran, ucapan, dan perbuatan agar tidak tumbuh liar dan sembarangan. Sanad tidak merenggut kebebasan seseorang dalam berpikir, hanya saja bersanad merupakan upaya pencegahan dari kemungkinan terjadinya penyelewengan dalam ajaran Islam. Kita tahu bahwa Islam tidak lahir dari diskusi antara Muhammad dan para malaikat ataupun para sahabat. Melainkan, datang dari Allah dengan kesempurnaan-Nya. Tugas Nabi Muhammad hanya menyampaikan sebagaimana mestinya, dan kita lihat para sahabat menerima Islam dengan lapang tangan dan pikiran. Meskipun ada banyak hal dalam Islam yang menurut akal dan adat mereka kurang relevan dengan zaman dan keadaan mereka kala itu. Dalam kitab At-Tibyan fii Adab Hamalatil Qur’an, Imam An-Nawawi (676 H) berkata:
    “Sesungguhnya sanad merupakan di antara sesuatu yang harus diperhatikan dan diketahui oleh guru maupun murid. Sungguh tercela bagi keduanya jika tidak mempedulikan sanad. Karena sesungguhnya seorang guru yang mengajarkan ilmu bagi seorang murid adalah bapaknya dalam agama dan perantara yang menghantarkannya kepada Tuhannya. Sesungguhnya keistimewaan umat ini ada pada sanad sebagaimana marga merupakan sebuah kebanggaan bagi orang Arab. Sanad juga memiliki faidah yang sangat banyak dalam menjaga agama dari penyimpangan dan penyelewengan. Umat Islam sudah lebih dulu perhatian terhadap sanad semenjak generasi sahabat, kemudian datang setelah mereka para tabi’in dan orang-orang setelahnya. Semuanya kompak menjaga sanad serta menggigitnya erat-erat dengan gerahamnya.” Bersanad akan meminimalisir kesombongan yang kerap merayapi hati-hati penuntut ilmu. Karena dengan bersanad, seorang murid seharusnya lebih bersikap rendah hati. Karena ia sadar bahwa ilmu yang ada pada dirinya tidak lain dan tidak bukan hanyalah titipan dari Allah, warisan Sang Nabi yang diperoleh dari tangan ke tangan orang-orang sholeh demi menjaga kemurnian ajaran agama Islam.
  2. Duduk bersama Orang Saleh
    Bersanad dalam berilmu menghajatkan seseorang untuk melazimkan perjumpaan dengan para pemilik sanad dalam agama ini. Perkumpulan mereka tidak kosong dari zikir dan ilmu. Keduanya menjadi perisai yang melindungi seseorang dari berteman dengan setan yang menyebabkan kelalaian dan kerugian. Imam Muslim (261 H) dalam Shahih-nya meriwayatkan hadits yang menjelaskan tentang keutamaan berteman dengan orang saleh.

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi akan memberimu kasturi atau kau dapat membeli minyak itu darinya, atau paling tidak kau akan menghirup wewangian yang sedap darinya. Adapun pandai besi, ia berpotensi untuk membakar pakaianmu atau paling tidak kau akan mendapatkan bau tidak sedap darinya.”

An-Nawawi menjelaskan dalam Al-Minhaj bahwa pada hadits tersebut terdapat keutamaan berteman dengan orang baik yang menjaga marwah, berakhlak, berilmu, dan beradab. Selain itu, hadits di atas juga mengandung larangan berteman dengan orang jahat yang gemar ghibah, tidak bermoral, dan perbuatan tercela lainnya.

Kedua obat di atas saling melengkapi sebagai antioksidan bagi seorang muslim dari bahayanya kesesatan yang diyakini sebagai sebuah kebenaran dan kebodohan yang terbungkus rapi dalam kemasan ilmu pengetahuan. Sanad melindungi orisinalitas ilmu yang membuahkan kebenaran absolut, dan lingkungan sosial yang saleh akan menjaga seseorang dari kerusakan moral. Keduanya merupakan bentuk zikir yang membawa seseorang pada alam kebersamaan Tuhan dalam setiap helaan napas, kehendak, ucapan, gerak, dan diam. Hingga tak ada celah untuk setan membisikkan kelalaian.