Membuka Gerbang Kearifan

Judul Buku : Filsafat Cinta Serial Percakapan Filsafat untuk Orang Awam
Penulis : Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M. dan Dr. Abdul Latief
Penerbit: Murai Kencana
Tahun terbit : 2025
Tebal : xii, 150 halaman
ISBN : 978-623-8144-47-1

Filsafat kerap kali dianggap rumit dan menjauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, filsafat dapat menjadi lentera yang menerangi cara kita mencinta, merasa, dan berpikir. Melalui Filsafat Cinta : Serial Percakapan Filsafat untuk Orang Awam, Dr. Aan Rukmana dan Dr. Abdul Latief, menunjukkan bahwa filsafat bisa menarik dan menyenangkan, bahkan menyapa lewat percakapan santai yang bisa dinikmati siapa saja—termasuk oleh mereka yang baru mulai belajar berpikir secara mendalam.

Buku Filsafat Cinta: Serial Percakapan Filsafat untuk Orang Awam hadir sebagai oase yang mempertemukan pemikiran mendalam dan kehangatan dialog. Ia menyuguhkan perbincangan filosofis yang tidak hanya membumi, tetapi juga menyentuh sisi paling manusiawi dalam diri pembaca: cinta.

Buku ini dibuka dengan penegasan kuat mengenai esensi filsafat. “Filsafat merupakan ilmu kebijaksanaan, ilmu yang menuntut kita mengenal realitas sebagaimana adanya. Filsafat jauh dari kesan ilmu sombong, ilmu melangit, ilmu yang tidak jelas. Filsafat adalah ilmu tentang hidup itu sendiri” (hal.vi).

Di halaman berikutnya ditegaskan bahwa “Filsafat adalah ilmu kehidupan sehingga orientasinya adalah kebijaksanaan (wisdom oriented)” (hal.vii), berbeda dengan pendekatan yang sekadar berorientasi kerja (job oriented). Penulis menggambarkan dengan terang bahwa kesalahpahaman terhadap filsafat masih melekat di benak banyak orang.

“Banyak masyarakat yang tidak mengenal filsafat dengan baik, bahkan ada di antaranya yang salah memahaminya. Alih-alih mengambil manfaat dari keberadaan filsafat, fakta yang terjadi sebaliknya, filsafat dijauhi dan dimusuhi. Dalam batas yang paling minimal, filsafat dianggap ilmu yang tidak berguna” (hal.viii).

Sebagai respons atas kesenjangan pemahaman tersebut, buku ini menyodorkan langkah-langkah strategis untuk memperkenalkan filsafat kepada khalayak awam. Ditekankan empat tahapan yang perlu ditempuh: pertama, penguasaan utuh atas filsafat sebagai fondasi pemikiran; kedua, keterbukaan terhadap disiplin ilmu lain agar kajian lebih relevan; ketiga, pemanfaatan media sosial sebagai saluran penyebaran gagasan; dan keempat, pengembangan tema-tema filsafat yang jarang dibahas seperti filsafat Indonesia, filsafat perennial dan filsafat minor. Keempat langkah ini menjadi pendekatan yang visioner dan kontekstual.

Buku ini merupakan karya bersama Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M. dan Dr. Abdul Latief yang keduanya sama-sama berlatar akademisi dan juga duduk sebagai Majelis Khidmah di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, Tangerang, Banten. Buku ini mengulas tema filsafat seperti: filsafat cinta, filsafat daya tahan, filsafat kebahagiaan, filsafat keberanian, filsafat kesepian, filsafat kesunyian, filsafat ketakutan, filsafat putus cinta, dan diakhiri dengan epilog. Disusun dengan gaya dialog dan tanya jawab, di mana Dr. Aan Rukmana menjawab pertanyaan-pertanyaan Dr. Abdul Latief dengan pemikiran filosofis yang menyegarkan sehingga terjadi diskusi mendalam dan menarik.

Tema sentral buku ini adalah filsafat cinta. Dalam bagian ini, Kang Aan menekankan pentingnya memahami cinta dalam makna esensialnya, yang tak terpisahkan dari keberadaan manusia. Dari sejak dalam rahim—istilah Arab yang berasal dari akar kata yang mengandung makna kasih sayang—hingga meninggal dunia dan disebut almarhum, yang berarti orang yang dicintai. Jadi, manusia senantiasa dilingkupi cinta sejak dalam kandungan sampai kematian.

Filsafat sendiri berhubungan erat dengan cinta. Aktivitas berpikir mencari kebijaksanaan yang didasarkan pada cinta. “Bahkan dari namanya saja, philosophia. Philos dan sophos. Philos itu cinta dan sophos itu kebijaksanaan. Jadi, filsafat itu sendiri mulainya dengan cinta” (hal.3).

Penulis menelusuri beragam pemikiran tentang cinta, mulai dari Plato dalam Symposium, Erich Fromm dalam Art of Loving, hingga Jalal al-Din Rumi dalam Fihi ma Fihi. Buku ini juga mengangkat karya sastra seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka sebagai contoh aktualisasi cinta dalam kehidupan. Penekanan utamanya adalah bahwa cinta sejati tidak berhenti pada hubungan antarmanusia semata, tetapi harus bermuara pada cinta yang Ilahiah.

Cinta yang sejati harus dibingkai oleh nilai-nilai universal agar manifestasi cinta sesuai dengan etika. Juga, nilai-nilai itu bersifat tetap dan tidak berubah yang menjadikan cinta tidak didasarkan pada hal-hal yang bersifat fisik atau material yang mengalami perubahan. Misalnya perhatian, kepedulian, empati, kedermawanan, tolong-menolong, dan lainnya.

Pembahasan selanjutnya pada bagian tema lainnya pun demikian. Diskusi menarik dengan mengangkat contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari, dijelajahi dengan nalar filosofis, lalu tak lupa dengan menyertakan pandangan dan pemikiran para tokoh besar. Dr. Abdul Latief yang begitu lincah dengan pertanyaan-pertanyaanya yang menantang untuk berpikir, disambut dengan refleksi filosofis Kang Aan (sapaan akrabnya) yang membuka relung-relung makna kehidupan, memahami fenomena dan ragam permasalahan dengan melihat kepada makna substansialnya. Menempatkan nalar filsafat sebagai sahabat dalam memahami diri dan dunia. Pendekatan ini menjadikan filsafat tidak lagi eksklusif atau menakutkan, tetapi hadir sebagai sahabat dalam memaknai kehidupan.

Epilog buku ini mengulas pandangan para filsuf tentang cinta seperti Plato, Nietzsche, Kierkegaard, Levinas, lalu dikatakan, “Dari berbagai perspektif ini, kita melihat bahwa cinta bukanlah sesuatu yang tunggal, melainkan berlapis-lapis.  Ia bisa menjadi jalan menuju kebijaksanaan, bisa menjadi ambisi, bisa menjadi komitmen, bisa pula menjadi bentuk ketulusan tertinggi dalam hubungan manusia” (hal.144).

Lebih lanjut, ditegaskan pula bahwa, “Filsafat bukanlah sekadar rangkaian kata-kata yang indah untuk didiskusikan, tetapi sebuah cara berpikir yang terus-menerus kita praktikkan dalam hidup. Begitu pula dengan cinta—ia bukan hanya sesuatu yang kita baca dan bicarakan, taetapi sesuatu yang kita jalani, kita maknai, dan kita perjuangkan setiap hari” (hal.145).

Sebagai buku hasil transkrip dari diskusi live Instagram antara @abdulLatief dan @aanrukmana1, karya ini berhasil mengolah percakapan menjadi narasi yang kaya dan mencerahkan. Meski tidak menyuguhkan kajian-kajian filsafat secara sistematik dan akademis sebagai sebuah disiplin ilmu, kekuatan buku ini justru terletak pada keberhasilannya menghadirkan filsafat ke ruang-ruang yang lebih luas dan inklusif. Ia membuktikan bahwa filsafat bukan semata bidang akademik, tetapi jalan berpikir yang bisa dijalani siapa saja dalam merespons kehidupan.

Buku Filsafat Cinta pada akhirnya menjadi ajakan yang hangat tetapi mendalam: untuk merasakan dengan nurani dan cinta, berpikir dengan akal filosofis, dan menjalani hidup dengan pemahaman yang lebih arif. Ia tidak memaksakan jawaban, tetapi menawarkan cara baru dalam memandang pertanyaan. Bagi siapa pun yang ingin menemukan keintiman antara logika dan cinta, rasionalitas dan spiritualitas, buku ini adalah pintu yang terbuka lebar. Sebuah karya yang tidak hanya layak dibaca, tetapi juga layak direnungkan dan dijadikan bagian dari perjalanan hidup.

.