Bu, Peluk Aku Sekali Lagi

Hiruk-pikuk sesak padat perlahan terurai oleh temaram senja yang kian merona. Pagi itu, Dza ‘Izza disambangi oleh jejak-jejak asing berwajah lugu dan berperasaan sendu. Keramaian itu mengusikku untuk menjadi bagian di antara haru yang terpancar dari senyum dan peluk mereka. Kuperhatikan arah langkah kecilnya yang tidak bergeming dari bayangan perempuan itu.

Namun, sang surya tidak berkenan menunda tenggelamnya sehingga bayang itu memanjang dan mulai sirna bersama datangnya maghrib. Kakinya yang semula tegang, kini lunglai seolah beban tubuhnya yang tidak seberapa menindihnya agar rela melepas hangat rengkuhan kasih sayang yang sebentar lagi pergi meninggalkan. Kedipan anak itu tak lagi mampu membendung lara yang tiba-tiba meruak dari sela-sela selaput matanya.

Tetapi sesal saat itu tidak mengubah apa pun. Dia harus tabah menetap dan perempuan itu pun dipaksa tangguh menjauh. Pemandangan itu membawaku kembali ke 10 tahun silam saat pertama kali Dza ‘Izza membatasi jarak dan waktu pertemuanku dengannya. Aku ingat bagaimana sejuk anginnya membujukku untuk tetap tinggal. Aku tidak lupa rayuan nyiur hijaunya yang berhasil membulatkan tekadku membumikan juang di tanah ini.

Alam seolah tidak tega melihatku tidak rela membiarkan perempuan paruh baya itu pergi. Bagaimana tidak? Rasa-rasanya di antara yang lain, aku yang paling sedikit jumpanya, aku yang paling jarang bersamanya. Hal itu tidak lantas membuatku terbiasa dengan perpisahan. Justru lebih terasa seperti mati berkali-kali. Sebab, sesering apa pun ditinggalkan, rasanya selalu sesakit pertama kali.

Tidak seperti nasib anak itu, perempuan ini tidak sudi menunggu matahari pergi. Aku tidak sempat menangkap bayangnya karena langkahnya terlalu lekas berlari. Seolah kemantapan hatinya sedang menguatkan gemetar hatiku yang tak kuasa melihat punggungnya perlahan menjauh dari pandangan. Juntaian kerudungnya melambai ke arahku mengucapkan selamat tinggal.

Dia memang seperti itu. Pantang terlihat lemah di hadapanku. Padahal kata orang, derai air matanya kerap mengalir saat tubuhnya berpaling. Aku percaya itu dan sedikit pun tidak menyesali perpisahan yang pernah membentang genggaman tangan kami. Aku hanya menyesali peluk yang sekejap. Padahal dari sana aku mendapatkan kekuatan.

Pelukan itu tidak dapat dipahami oleh anak yang hidup dalam dekapan. Mereka tidak mengerti betapa berartinya rengkuhan sebelum kepergian. Memang bukan sebuah kenikmatan. Namun, berpisah mengajarkan bagaimana menghargai kebersamaan. Hingga kini, pelajaran itu begitu melekat dalam sanubari. Menghadirkan kesadaran dan doa dalam setiap pertemuan yang berkesan bahwa setiap kita tidak bisa selamanya. Namun, semoga kebersamaan kita tidak sementara.

Nak, tangismu bukan tanda lemah. Semata-mata ia hanya bukti cintamu yang luar biasa padanya. Kalau benar cinta sebabnya, seharusnya ia menguatkan. Ia akan membuatmu bertahan dari siksaan rindu yang menyesakkan. Ia memberimu harapan untuk terus menunggu sebuah pertemuan singkat yang meredakan.

Bersabarlah atas sedikit kesedihan untuk kebahagiaan yang lebih panjang. Aku tidak berbicara sebagai gurumu. Namun, sebagai anak yang sampai saat ini masih menderita kerinduan. Kini, aku hanya memiliki kurang dari satu hari dalam sepekan untuk menikmati rekah senyumnya di usianya yang senja. Itu pun jika tidak dihalau oleh tanggung jawab yang membelenggu leher dan kakiku.

Nak, setelah ini kau akan belajar menjalani hari tanpa lengkingan suaranya yang kadang membuatmu jengkel. Nanti kau akan sadar bahwa suaranya saat memanggil namamu menyuruh makan adalah kasih sayangnya yang gagal kau terjemahkan. Saat ini suara yang kau rindukan itu tergantikan oleh nyaringnya bel yang bernyanyi. Tidak seperti omelannya, bel tidak menunggumu bangun dari tidurmu yang dalam.

Kau akan ditinggal, dikejar, dan digilas olehnya jika tidak pandai mengikuti ritmenya. Sampai pada saatnya nanti waktu dan tempat berkenan menyatukanmu kembali dalam dekapannya, katakanlah:
“Bu, peluk aku sekali lagi.”