
Bagian akhir dari tulisan sebelumnya seharusnya mampu jadi pemantik rasa penasaran pembaca tentang malam yang jadi buah pembicaraan banyak umat muslim kala Ramadan hampir berakhir. Ramadan datang bersamanya sebagai hadiah perpisahan yang indah bagi hamba Allah yang baik menjamunya dengan ragam ketaatan dan kebajikan. Hingga saat-saat terakhir, amalannya dilipatgandakan bahkan bernilai lebih baik dari pada seribu bulan. Kelipatan pahala ini menunjukkan keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ. Dibandingkan dengan umat-umat terdahulu, nampaknya umat Muhammad ﷺ tidak diberikan jatah hidup di dunia lebih lama dari pada usia umat sebelumnya. Ambil contoh saja, Nabi Nuh as. yang dalam al-Qur’an disebutkan masa dakwahnya saja 950 tahun lamanya. Seperti firman Allah swt dalam surat al-Ankabut ayat 14:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًاۗ فَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ
Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.
Sedangkan usia umat Rasulullah ﷺ dinubuatkan hanya berkisar antara 60-70 tahunan. Sebagaimana sabdanya dalam riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ
Usia rata-rata umatku berkisar di antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sedikit sekali di antara mereka yang melewati usia itu.
Secara hitung-hitungan, tentu umat-umat yang mendapatkan jatah hidup lebih panjang lebih diuntungkan dari pada kita. Jika dalam kurun waktu itu mereka gunakan untuk beribadah dan melakukan ketaatan, niscaya pahala yang mereka kumpulkan dari amal salehnya akan melampaui amalan kita yang hanya seberapa. Belum dipotong jatah dosa dan perbuatan yang sia-sia. Namun, pendeknya masa hidup umat Muhammad ﷺ tidak lantas membuatnya kalah timbangan kebaikan. Kelipatan pahala semacam inilah yang memungkinkan umat Muhammad ﷺ bahkan mampu melampaui mereka yang hidupnya sepuluh kali lebih panjang dari usia. Hal ini juga menandakan keistimewaan posisi Rasulullah ﷺ di sisi Allah swt. Sehingga kita selaku umatnya mampu meraih limpahan pahala hanya dengan melakukan kebaikan sedikit dan kecil namun berangkat dari keikhlasan yang murni.
Berikut keutamaan yang telah dirangkum oleh Syekh Abdullah Sirajuddin al-Halabi dalam risalah puasanya.
Pertama, malam Lailatul Qadar adalah malam turunnya al-Qur’an yang di dalamnya terdapat nasihat dan kebenaran, petunjuk bagi hamba menuju jalan yang paling lurus, jalan kebahagiaan dan kehormatan, keutamaan dan kemuliaan, adab dan akhlak. Maka pada malam inilah al-Qur’an turun secara utuh ke Bait al-‘Izzah di langit pertama. Kemudian sejak malam itu, al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Rasulullah ﷺ dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun.
Kedua, ayat yang menyatakan tentang malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.
Syekh al-Halabi menjelaskan sebagaimana yang dipahami oleh salafussaleh, maksudnya adalah bahwa amal saleh dan ibadah pada malam itu lebih baik dari pada ibadah selama seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya agar menghidupkan malam tersebut. Beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan, niscaya ia akan mendapatkan pengampunan atas dosanya yang telah lampau.
Ini adalah bagian dari pada keutamaan dan anugerah yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad ﷺ yang disebabkan kemuliaannya di sisi Allah swt. Sebagaimana mereka diberikan satu malam yang di dalamnya dilipat masa yang panjang dalam beribadah. Berkat malam itu, mereka mendapatkan sesuatu yang tidak pernah didapatkan oleh umat sebelumnya. Yaitu, malam yang tidak setara dengan seribu bulan. Karena ayatnya mengatakan malam itu lebih baik dari pada seribu bulan.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang satu hari yang lebih baik dari pada seribu hari:
رباطُ يومٍ في سبيلِ اللهِ خيرٌ من ألفِ يومٍ فيما سواهُ من المنازلِ
Menjaga benteng pertahanan seharian di jalan Allah lebih baik dari pada seribu hari di tempat-tempat lainnya.
At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
من صلى بعد المغرب ست ركعات لم يتكلم فيما بينهن بسوء عدلن بعبادة اثنتي عشرة سنة
Barang siapa yang salat sunnah setelah maghrib enam rakaat dan tidak menyelanya dengan perkataan yang buruk, maka sama seperti ibadah selama 12 tahun lamanya.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amr ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
من غسّل واغتسل ودنا وابتكر واقترب واستمع كان له بكل خطوة يخطوها قيام سنة وصيامها
Barang siapa yang mandi (sebelum salat Jumat), duduk di dekat mimbar, datang di awal waktu hingga selesai, mendekat dan mendengar khotbah, maka setiap langkah yang dilangkahkan sama seperti salat malam dan puasa selama setahun penuh.
Abu Dawud, an-Nasa’i dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Aus bin Aus ats-Tsaqafi, Rasulullah ﷺ bersabda:
من غسّل يوم الجمعة واغتسل وبكّر وابتكر ومشى ولم يركب ودنا من الإمام واستمع ولم يلغ كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها
Barang siapa yang mandi pada hari Jumat, bersegera pergi ke masjid dan datang di awal waktu hingga selesai, dengan berjalan kaki tanpa berkendara, duduk dekat dengan imam, kemudian mendengarkan khotbah dan tidak berkata yang sia-sia, maka setiap langkah sama seperti ibadah selama setahun dengan ganjaran salat malam dan puasa di dalamnya.
Ketiga, ayat yang menerangkan tentang turunnya para malaikat beserta Jibril ke dunia pada malam Lailatul Qadar,
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ
Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.
Syekh al-Halabi mengatakan bahwa maksud dari pada kata ar-Ruh dalam kalimat itu masih menjadi perselisihan di kalangan mufassir. Namun, secara zahir, maksud dari kata ar-Ruh pada ayat tersebut adalah Jibril as. Sebagaimana firman Allah swt pada ayat berikut ini:
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ
Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhul amin (Jibril). (asy-Syu’ara : 193)
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ruhulkudus (Jibril) menurunkannya (Al-Qur’an) dari Tuhanmu dengan hak (an-Nahl : 102)
فَاَرْسَلْنَآ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
Lalu, Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, kemudian dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. (Maryam : 17)
Kata ar-Ruh dalam ayat tersebut maksudnya adalah Jibril as. Penyebutannya secara khusus pada ayat empat surat al-Qadar setelah penyebutan para malaikat adalah bentuk kekhususan yang menandakan ketinggian derajatnya di antara malaikat lainnya. Sebab Jibril memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt. Sebagaimana Allah swt firmankan dalam surat at-Takwir ayat 20:
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ
yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy.
Maka pada malam itu, para malaikat turun ke muka bumi menyalami penduduknya satu persatu, orang-orang beriman, baik laki-laki mau pun perempuan. Kecuali pemabuk, ahli maksiat yang belum bertaubat, penyihir (dukun), dan orang yang masih menyimpan kebencian dalam hati kepada saudaranya. Siapa pun yang disalami oleh para malaikat, maka dosanya akan diampuni oleh Allah swt. Sebagaimana yang dinukil oleh Imam an-Nawawi dari Ibnu Abbas ra. Menurut Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya sebagaimana beliau menukil dari Nafi’, adh-Dhahhak, Mujahid dan asy-Sya’bi, yang dimaksud dengan salam para malaikat kepada orang-orang beriman pada malam Lailatul Qadar adalah keselamatan mutlak dari segala macam keburukan. Pada malam itu Allah swt tidak mentakdirkan kecuali kebaikan. Orang-orang beriman selamat dari pengaruh buruk setan yang menjerumuskan. Sehingga tidak mampu berbuat keburukan mau pun memberikan gangguan kepada mereka. Dikatakan pula, pada malam itu para malaikat sibuk memberikan salam kepada orang-orang beriman, seraya berkata: ‘Assalamualaikum, salam sejahtera untukmu, wahai orang beriman.’
Dalil lain yang menguatkan bahwa kata ar-Ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut merupakan Jibril as., adalah riwayat hadits panjang yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah ﷺ bersabda:
إذا كانت ليلة القدر، يأمر الله عز وجل جبريل عليه السلام فيهبط في كبكبة من الملائكة، فيسلمون على كل قائم وقاعد، ومصل وذاكر، ويصافحونهم، ويؤمّنون على دعائهم حتى يطلع الفجر. فإذا طلع الفجر ينادي جبريل عليه السلام: معاشر الملائكة الرحيل الرحيل. فيقولون: يا جبريل، فما صنع الله تعالى في حوائج المؤمنين من أمة أحمد صلى الله عليه وسلم؟ فيقول: نظر الله إليهم في هذه الليلة، فعفا عنهم وغفر لهم، إلا أربعة: مدمن الخمر، وعاق لوالديه، وقاطع الرحم، ومشاحن.
Bila tiba malam Lailatul Qadar, Allah swt memerintahkan Jibril as. Maka turunlah ia di antara kumpulan para malaikat. Mereka menyalami siapa saja yang sedang berdiri mau pun duduk, yang salat dan yang berzikir. Para malaikat itu menjabat tangan mereka dan mengaminkan doanya hingga pagi menjelang. Apa bila matahari terbit, Jibril menyeru kepada para malaikat, seraya memanggil: ‘Wahai sekalian malaikat, waktu pergi, waktunya pergi.’ Lalu mereka bertanya kepada Jibril: ‘Wahai Jibril, apa yang Allah lakukan terhadap hajat orang-orang beriman dari umat Nabi Muhammad ﷺ*?’ Jibril menjawab: ‘Pada malam ini, Allah swt memandang mereka, sehingga Dia memaafkan dan mengampuni dosanya, kecuali kepada empat golongan: pemabuk, anak durhaka, pemutus silaturahim dan pembenci saudaranya.
Pada malam Lailatul Qadar, turunlah para malaikat beserta Jibril di antara mereka untuk demi perkara yang ditakdirkan pada tahun tersebut: segala keberkahan, kebaikan dan rahmat kasih sayang.
Keempat, ayat terakhir dari surat al-Qadar menjanjikan keselamatan bagi peraih malam yang lebih baik dari seribu bulan itu, seraya berfirman:
سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.
Syekh al-Halabi mengatakan bahwa yang dimaksud salam itu, adalah salamnya para malaikat kepada para kekasih Allah, hamba-hamba yang taat, penghuni masjid dan setiap laki-laki dan perempuan yang beriman, kecuali pemabuk, pemaksiat yang belum taubat dan golongan lainnya yang disebutkan di atas. Malaikat menyalami mereka serta menyampaikan salam dari Allah kepadanya sebagaimana yang dikatakan para salafussaleh. Oleh karena itu turunlah ketenangan dan keselamatan. Keamanan menyertai orang-orang beriman. Hal itu terus berlangsung hingga terbit matahari.
Syekh al-Halabi mengemukakan pandangan ulama tentang makna Lailatul Qadar dari segi bahasa. Menurutnya, Lailatul Qadar dipandang dari segi bahasa, terbagi menjadi dua pengertian: pertama, bermakna keutamaan, kedua, bermakna takdir. Ada pun arti yang pertama adalah yang diambil dari ayat ketiga dalam surat al-Qadar. Mayoritas ulama mengatakan bahwa malam itu berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Sementara makna kedua, diserap dari awal surat ad-Dukhan sebagaimana Allah swt berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ (3) فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ (4)
Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (ad-Dukhan : 3-4)
Jika Lailatul Qadar dimaknai malam penentuan takdir, maka malam yang dimaksud bukan hanya terdapat pada bulan Ramadan. Namun, ada pada setiap malam dalam setahun. Terlebih, pada bulan malam pertengahan bulan Sya’ban. Tidak mustahil, kedua makna malam Lailatul Qadar tersebut terkumpul dalam satu malam: malam turunnya al-Qur’an. Oleh karena itu, malam Lailatul Qadar disifatkan dengan dua hal: malam kemuliaan dan malam penentuan takdir.
Tanda Lailatul Qadar
Syekh al-Halabi merangkum tanda-tanda tersebut pada risalah puasanya berdasarkan hadits-hadits sahih. Di antara tanda tersebut adalah matahari pada pagi harinya terbit dengan cahaya keputihan tanpa kemilau. Hal demikian dikarenakan kuatnya kilauan cahaya yang turun pada malam harinya. Selain itu juga disebabkan karena banyaknya malaikat yang turun pada malam itu bersama dengan lembutnya ketenangan ruhani yang tersebar di antara langit dan bumi.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahih-nya dari Ubay bin Ka’ab ra. Rasulullah ﷺ bersabda:
والذي لا إله إلا هو، إنها في رمضان وإنها الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها وهي ليلة سبع وعشرين. وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحتها بيضاء لا شعاء لها
Demi Tuhan yang tidak ada selain-Nya, sesungguhnya malam Lailatul Qadar ada pada bulan Ramadan. Sesungguhnya ia adalah malam yang kami diperintahkan Rasulullah ﷺ untuk menghidupkannya. Malam itu terletak pada malam ke dua puluh tujuh. Tandanya adalah pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya keputihan tanpa kilauan.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnad-nya dari ‘Ubadah bin ash-Shamit ra., Rasulullah ﷺ bersabda:
إن أمارة ليلة القدر أنها صافية بلجة، كأن فيها قمرا ساطعا ساكنة ساجية لا برد فيها حر ولا يحل لكوكب أن يرمى به فيها حتى تصبح وإن أمارتها أن الشمس صبيحتها تخرج مستوية ليس لها شعاع، مثل القمر ليلة البدر، ولا يحل للشيطان أن يخرج معها يومئذ
Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah langit malamnya bersih, paginya bersinar keputihan seolah malamnya ada purnama bertengger di langit. Tenang dan teduh, suhunya tidak dingin, tidak pula panas. Semesta tak diizinkan menolak tandanya hingga fajar menjelang. Sesungguhnya, tanda lainnya adalah pagi harinya, mentari terbit tanpa kemilau seperti bulan malam purnama. Setan pun tidak diizinkan keluar pada malam itu.
Syekh al-Halabi menuturkan bahwa tanda-tanda malamnya, menambah semangat ibadah para hamba Allah yang beriman, serta memotivasi mereka untuk menghidupkan malam dan beribadah di dalamnya. Sementara tanda-tanda pagi harinya, juga mendorong mereka untuk memperbanyak ibadah pada pagi hari setelah malam Lailatul Qadar. Karena sesungguhnya cahaya Lailatul Qadar dan kebaikannya meliputi hari berikutnya. Oleh karena itu Imam an-Nawawi menukil dalam kitab al-Majmu’, bahwa disunnahkan untuk seorang mukmin agar beribadah sebaik mungkin pada hari setelah malam Lailatul Qadar sebagaimana ia berjuang beribadah pada malam harinya.
Apa yang Harus Dilakukan Pada Malam Lailatul Qadar?
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah ﷺ bersabda:
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan rida Allah swt, niscaya ia akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lampau.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi, bahwa tanda seseorang menghidupkan Lailatul Qadar dengan keimanan adalah kesungguhannya dalam ketaatan hanya mengharapkan keridaan Allah swt tanpa riya. Maka dianjurkan kepada seorang mukmin memperbanyak salat pada malam itu, begitu pula doa, dan ibadah lainnya. Terlebih pada 10 malam terakhir pada malam bulan Ramadan. Seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari A’isyah ra. beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان
Raihlah Lailatul Qadar pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadan.
Begitu juga yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam sahih-nya yang menggambarkan keadaan Rasulullah ﷺ yang apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh ibadah dan mengencangkan sarungnya.
Pahala Lailatul Qadar tetap didapatkan bagi seorang mukmin yang menghidupkan dan mendapatkannya. Meski pun ia tidak diperlihatkan sedikit pun dari cahaya dan tanda-tandanya, baik dalam keadaan terjaga mau pun tertidur. Berdasarkan yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
من يقم ليلة القدر فيوافقها إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dan ia mendapatkannya dengan keimanan dan mengharapkan keridaan Tuhan, niscaya dosanya yang lampau akan diampuni.
Utamanya, memperbanyak doa khusus yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada A’isyah pada malam Lailatul Qadar seperti yang disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi.
اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
Ya Allah.. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, nan gemar memaafkan. Maka maafkanlah aku.
Semoga Allah perkenankan kita semua menerka malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Berusahalah agar pada malam itu, Dia mendapati kita ada pada ketaatan dan menjauhkan kita dari senda gurau yang membuat kita rela tanpa sadar menjual kesempatan berharga yang belum tentu kita dapatkan ketika ia kembali pada tahun-tahun berikutnya.