Dari Tarawih hingga Puasa Syawal
Ornate mosque courtyard with a prominent green dome, several minarets and tall lamps beneath a starry night sky

Alhamdulillah, dengan izin Allah swt, serial ini mencapai ujung penulisannya. Setelah didahului oleh 7 seri dari tulisan ini, seri kali ini hadir sebagai penutup untuk lembaran baru lainnya. Semoga setiap rangkaian kata di dalamnya, untaian ilmu dan juga hikmahnya menjalar merambati lintas generasi, menembus kerangka ruang dan waktu, menjadi warisan luhur untuk siapa saja yang membacanya. Amin.

Pada bagian akhir dari risalah puasanya, Syekh Abdullah Sirajuddin al-Halabi membahas secara singkat ibadah apa saja yang secara khusus dilaksanakan pada bulan Ramadan saja. Lebih dari itu, beliau juga menyinggung soal pelaksanaan ibadah sunnah yang ada pada bulan setelahnya, Syawal. Sebelum itu, penulis merekomendasikan risalah ini bagi para pembaca yang tidak punya banyak waktu belajar serba-serbi Ramadan. Risalah ini hadir meringkas keluasan ibadah Ramadan tanpa mengurangi kualitas keilmuan di dalamnya. Sarat dengan ayat dan hadits-hadits sahih, risalah ini cukup kuat menjadi pegangan amaliyah Ramadaniyah.

Hanya saja, risalah ini memang tidak mencangkup secara utuh tentang fikih puasa lebih dalam. Mungkin karena memang penulisnya memperuntukkan risalah ini kepada mereka yang sudah paham mengenai rukun, sebab, syarat dan mani’nya. Meski demikian, risalah ini berhasil membuat saya kagum dengan gaya penulisannya yang tidak bertele-tele. Padat dalil dengan penjelasan yang terang. Semoga Allah swt berikan balasan kepada penulisnya atas setiap ilmu yang dimuat di dalamnya dengan kebaikan yang melimpah. Sebagaimana tulisan beliau dibedah, dialihbahasakan, disebarkan manfaatnya ke tempat yang bahkan mungkin belum pernah beliau kunjungi, saya pun berharap demikian. Hal ini tidak lain adalah tanda keikhlasannya dalam berkhidmat untuk ilmu. Sehingga saya pun yang belum pernah menjumpainya dan sudah didahului oleh ajalnya, masih dapat memetik buah keikhlasan serta hikmahnya. Jasadnya mungkin terbaring dalam pusaranya. Namun, bumi enggan menelan pemikirannya. Ilmunya bahkan lebih jauh berkelana, menyentuh tanah baru serta menyuburkannya dengan ilmu. Begitulah bagaimana ilmu memperlakukan pemiliknya. Semoga kita termasuk satu di antaranya. Amin.

Salat Tarawih

Dalam sahih al-Bukhari dan sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barang siapa yang menghidupkan Ramadan dengan keimanan dan penuh pengharapan rida Tuhan, niscaya ia akan mendapatkan pengampunan atas dosanya yang lampau.

Imam an-Nasa’i meriwayatkan dalam sunan-nya, Rasulullah ﷺ bersabda:

من قام رضان إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه 

Barang siapa yang menghidupkan Ramadan dengan keimanan dan penuh pengharapan rida Tuhan, niscaya ia akan keluar dari dosanya seperti hari ketika ibunya melahirkannya. 

Dalam riwayat yang lain dikatakan:

إن الله فرض صيام رمضان و سننت لكم قيامه فمن صامه وقامه إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه 

Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan puasa Ramadan dan aku menyunnahkan kepada kalian untuk menghidupkan malamnya. Barang siapa yang berpuasa dan menghidupkan malamnya dengan keimanan dan penuh pengharapan rida Tuhan, niscaya ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari ibunya melahirkannya. 

Syekh al-Halabi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menghidupkan malam Ramadan adalah pelaksanaan salat sunnah tarawih. Sebagaimana disabdakan dalam hadits di atas, bahwa hukum salat tarawih adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) baik bagi laki-laki mau pun perempuan. Melaksanakannya secara berjamaah tidak wajib. Jumlah rakaatnya dua puluh rakaat sebagaimana disepakati oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil yang ada. Hanya saja, beliau tidak menyebutkan dalil-dalilnya secara rinci dalam risalahnya ini. Beliau hanya memberikan keterangan bahwa dalil-dalil tersebut ada pada risalah lainnya yang berjudul al-Ad’iyah wa al-Adzkar.

Zakat Fitrah

Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa beliau berkata:

 فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم صدقة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين. فمن أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات 

Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari senda gurau dan ucapan tercela, juga sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum pelaksanaan salat idulfitri, maka itulah zakat fitrah yang diterima. Dan barang siapa yang menunaikannya setelah pelaksanaan salat idul fitri, maka itu adalah sedekah biasa seperti sedekah lainnya.

Menurut Imam al-Hanafi dan asy-Syafi’i, zakat fitrah hukumnya wajib. Takarannya dua kilo makanan pokok di daerah setempat per jiwa. Imam al-Hanafi membolehkan menunaikannya dengan mengeluarkan uang seharga 2 kilo makanan.

Salat Idulfitri 

Dalam sahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. beliau berkata:

أن رسول الله صلى الله وسلم خرج يوم الفطر فصلى ركعتين لم يصل قبلهما ولا بعدهما 

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ keluar rumah pada hari raya idulfitri, kemudian beliau melaksanakan salat dua rakaat dengan salat yang belum pernah dilakukan sebelum atau sesudahnya. 

Imam ath-Thabrani juga meriwayatkan hadits dengan sanadnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Apabila hari idulfitri tiba, maka para malaikat berhenti di persimpangan jalan, seraya berseru: ‘Wahai hamba Allah, datanglah menuju Tuhan kalian yang Mahapemurah! Dia akan menganugerahi kalian dengan limpahan kebaikan, diberikan ganjaran pahala. Sungguh kalian telah diperintahkan untuk bangun malam melaksanakan salat, kalian pun bangun. Kalian telah diperintahkan puasa pada siang hari, kalian pun puasa. Kalian telah menaati Tuhan kalian. Ambillah balasan kalian ini.’ Sehingga apabila mereka telah melaksanakan salat idulfitri, terdengar suara berseru: ‘Ketahuilah, sesungguhnya Tuhan kalian telah mengampuni dosa-dosa kalian. Maka kembalilah kalian ke rumah sebagai hamba-hamba yang baik. Hari itu adalah hari imbalan. Hari itu disebut di langit sebagai Yaum al-Jaizah (hari balasan).

Menurut madzhab asy-Syafi’i, hukum salat idulfitri adalah sunnah. Tata cara pelaksanaannya adalah dua rakaat dengan 7 takbir tambahan sebelum pembacaan al-Fatihah pada rakaat pertama, dan lima takbir tambahan sebelum pembacaan al-Fatihah pada rakaat kedua.

Puasa Sunnah Syawal 

Setelah sebulan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan, syariat Islam menawarkan puasa tambahan yang dihukumi sunnah pada 6 hari di bulan Syawal. Pelaksanaannya boleh dimulai tepat sehari setelah hari idulfitri. Syekh al-Halabi mengatakan, untuk pelaksanaannya tidak mesti berturut-turut. Boleh dilakukan secara terpisah selama masih di bulan Syawal sebanyak 6 hari. Imam Muslim dalam sahihnya meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ:

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر 

Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti puasa sepanjang tahun. 

Alhamdulillah. Dengan ini lengkap sudah serial Ramadanku yang disarikan dari risalah puasa berjudul ash-Shiyam Adabuhu Mathalibuhu Fawaiduhu Fadhailuhu karya dari Syekh Abdullah Sirajuddin al-Halabi (1422 H). Pada bagian akhir kitab, beliau memberikan keterangan tanggal selesainya penulisan risalahnya tepat pada tanggal 1 Ramadan tahun 1383 Hijriyah. 63 tahun yang lalu beliau menuliskan kitab ini, hari ini tepat 11 Ramadan 1447 Hijriyah, saya diberikan kesempatan untuk mengemas dan mengalihbahasakan risalahnya dalam bentuk serial esai. Semoga tulisan ini tumbuh subur dan lebat manfaat bagi siapa pun yang membacanya. Tulisan ini tentu tidak kosong dari kekeliruan dan kesalahan dalam pemilihan kata. Pasti ditemukan diksi yang kurang tepat, alih bahasa yang melenceng dan lain hal. Semoga Allah ampuni dosa penulis dengan kebenaran yang ada di dalamnya. Amin.