
Ramadan tahun ini, santri kelas satu SMP diperkenankan untuk melaksanakan salat Isya dan tarawih berjamaah di Ballroom asy-Syahid. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini kami dapat merasakan pengalaman salat di tengah sejuknya pendingin ruangan di atas empuknya hambal. Kemilau lampu kuning di dalamnya, menyamarkan noda baju kami yang nampak kumal. Turut hadir bersama kami Ustaz Ihsan, Ustaz Alim dan Ustaz Dzaky. Keberadaan mereka di tengah kami menambah kekhidmatan pelaksanaan ibadah. Di tambah lagi suara indah Kak Muhammad Akmal yang malam itu bertindak sebagai imam. Lisannya fasih melantunkan ayat suci dengan langgam nahawand yang memberikan warna sendu hingga menghanyutkan kami ke dalam penghayatan.
Semua itu bersatu padu menjelma menjadi kekhusyukan yang baru kami sadari setelah salat diusaikan dengan salam. Meski itu berarti keikhlasan kami masih harus terus dilatih karena masih di pengaruhi sebab-sebab duniawi, setidaknya kami punya kesempatan menyicipi manisnya salat yang membuat kami mengerti mengapa ia menjadi sangat penting dalam kehidupan seorang muslim.
Pemandangan itu mengingatkanku akan salah satu keistimewaan umat ini yang meruah dari kemuliaan nabinya, Muhammad ﷺ. Dalam salah satu haditsnya, beliau bersabda:
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أحَدٌ مِنَ الأنْبِيَاءِ قَبْلِي: نُصِرْتُ بالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وجُعِلَتْ لي الأرْضُ مَسْجِدًا وطَهُورًا، وأَيُّما رَجُلٍ مِن أُمَّتي أدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ، وأُحِلَّتْ لي الغَنَائِمُ، وكانَ النبيُّ يُبْعَثُ إلى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وبُعِثْتُ إلى النَّاسِ كَافَّةً، وأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ
Aku dianugerahi dengan lima pemberian yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: aku diberikan pertolongan berupa rasa takut yang Allah tanamkan ke dalam hati musuh-musuhku selama perjalanan sebulan, bumi dijadikan suci dan tempat salat untukku. Siapa pun dari umatku yang mendapati waktu salat, hendaklah ia salat. Dihalalkan bagiku harta rampasan perang. Biasanya para nabi diutus untuk sebuah kaum secara khusus. Sementara aku diutus untuk seluruh manusia, dan aku diberikan syafa’at. (HR. Al-Bukhari)
Salah satu keistimewaan itu adalah dijadikannya bumi sebagai tempat salat dan suci. Al-Qurtubi dalam tafsirnya surat al-Hijr ayat 80 mengutip hadits ini sebagai landasan hukum dibolehkannya salat di mana pun dari bagian bumi ini selama tidak terdapat najis yang dapat menghalangi seorang hamba untuk salat di atasnya.

Hadits ini juga yang dulu digunakan guru kami untuk menjelajahi sudut-sudut bumi. Selain untuk merehatkan pikiran, pelesiran berubah menjadi langkah berpahala dengan niat ibadah. Ketika ditanya mengapa kerap kali mengajak kami bersafar? Syekh Ali Bafadhal menjawab dengan jawaban yang tidak pernah kami harapkan keluar dari lisan seseorang melainkan menandakan bahwa beliau adalah pakar fikih: ‘Kita jalan-jalan untuk mensujudi setiap jengkal bumi yang kita tapaki. Kita berharap semoga kelak bekas sujud itu menjadi saksi.’ Jawabannya teduh, meninggalkan rindu pada hati kami muridnya akan sosok guru yang mendidik tidak dengan menghardik. Mengajarkan kami lebih sering dengan akhlaknya dari pada dengan ucapannya. Tidak banyak kitab yang kami khatamkan di hadapannya. Namun, tidak sedetik pun berlalu saat bersamanya melainkan ada ilmu.
Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, aku membayangkan bagaimana jika setiap petak lantai rumah yang kita huni pernah kita salati? Sepertinya tidak ada ruang yang kosong dari berkah. Ia akan disesaki oleh malaikat rahmat hingga rumahnya tidak selayaknya kuburan. Seperti yang disabdakan Rasulullah ﷺ:
لا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقابِرَ، إنَّ الشَّيْطانَ يَنْفِرُ مِنَ البَيْتِ الذي تُقْرَأُ فيه سُورَةُ البَقَرَةِ
Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan kabur dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah di dalamnya. (HR. Muslim)
Bagi kami para santri, pesantren adalah rumah ke dua kami setelah rumah yang di huni ayah dan ibu kami. Maka kami berharap setiap tempat di pesantren ini menjadi saksi sujud kami, merendahkan diri menadahi ilmu-ilmu ilahi. Seperti yang malam itu kami alami, usai sujud merendahkan kepala, kami disirami ilmu fikih yang pada kesempatan itu ditalkinkan oleh Ustaz Dzaky. Untuk kesyahduan dan kekhusyukan ini, izinkan kami yang langkahnya masih seumur pagi, menghaturkan terimakasih tulus kepada Pak Kiai. Terimakasih, Pak Kiai. Kami sudah diizinkan sujud di sini.