
Oleh Ahmad Moehdor al-Farisi
Esai seri ketiga dari “Mencari Ruh Pendidikan”. Sebuah catatan reflektif, semacam kado cinta untuk dunia pendidikan.
Pendidikan masa kini berjalan seperti mesin besar yang berderak tanpa jeda. Segalanya diukur dengan angka, dikalkulasi dengan rumus, dipetakan dalam grafik yang menanjak atau menurun. Namun di balik semua deru itu, ada keheningan yang mencekam, yaitu keheningan ruh yang perlahan terpinggirkan. Manusia diukur dari skor, bukan dari nurani, dari sertifikat, bukan dari kesadaran. Sekolah menjadi pabrik yang sibuk mencetak kompetensi, tapi lupa menumbuhkan kebijaksanaan.
Kita hidup di zaman ketika kecerdasan buatan dipuja, tetapi kebijaksanaan manusia kian meredup. Segala hal kini ditimbang dengan angka dan kecepatan—berapa cepat kita memahami, setinggi apa nilai yang kita kejar, dan sebanyak apa data yang kita kumpulkan dalam ingatan yang lelah. Namun di tengah percepatan itu, kita kehilangan seni untuk berhenti dan merenung. Di sanalah sesungguhnya ruh pendidikan mulai menjauh, pelan namun pasti, seperti bayangan senja yang mundur dari cahaya.
Pendidikan yang dulu lahir dari percakapan dan perenungan kini berubah menjadi perlombaan dan penilaian. Guru tidak lagi dipandang sebagai penuntun jiwa, melainkan sebagai pengelola target. Murid tidak lagi dianggap sebagai manusia yang tumbuh, melainkan sebagai hasil yang harus diukur. Dalam atmosfer seperti ini, keheningan yang seharusnya menjadi ruang bagi kebijaksanaan berubah menjadi kebisuan spiritual. Tidak ada lagi ruang untuk mendengar detak halus batin manusia, karena semuanya tenggelam dalam hiruk-pikuk angka dan laporan.
Padahal, inti pendidikan bukanlah pada seberapa banyak yang dapat dicapai, melainkan seberapa dalam manusia memahami dirinya dalam proses itu. Ketika tujuan belajar bergeser dari pencarian makna menjadi perburuan pengakuan, maka ruh pengetahuan perlahan melepaskan diri. Di sinilah kita mulai mengerti mengapa al-Ghazali begitu menekankan pentingnya cahaya dalam ilmu, karena tanpa cahaya itu, pengetahuan akan kehilangan arah, dan manusia pun akan tersesat di tengah terang yang palsu.
Al-Ghazali dalam Iḥyâ’ ‘Ulȗm al-Dîn pernah menulis bahwa ilmu yang tidak menuntun hati menuju Allah hanyalah “bayangan ilmu”, bukan cahaya sejati (al-Ghazali, 2011: 31-33). Bayangan itu tampak hidup, tapi dingin, seperti api yang tak memberi hangat. Demikian pula pendidikan hari ini, tampak gemerlap dalam prestasi, tapi sepi makna. Kita sibuk menyalakan layar, tapi lupa menyalakan jiwa.
Dalam Mishkât al-Anwâr, al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu sejati adalah cahaya yang “muncul dari dalam hati yang telah disucikan dari kegelapan hawa nafsu” (al-Ghazali, n.d.: 8-10). Jika hati masih gelap oleh ambisi, maka ilmu hanya akan memperkuat kesombongan. Bukankah kita sedang menyaksikan itu hari ini? Anak-anak didorong untuk bersaing sejak dini, mengejar peringkat, memburu prestasi, sementara kegembiraan belajar pelan-pelan sirna.
Ibn Sina, dalam Risâlah al-Tayr, menggambarkan jiwa manusia sebagai burung yang ingin terbang ke langit makna, namun sayapnya terikat oleh dunia yang membebaninya (Ibn Sina, 1954: 7). Pendidikan modern, alih-alih melepaskan ikatan itu, justru menambah rantai dengan tumpukan ujian dan target. Manusia belajar bukan untuk terbang, tapi untuk bertahan dalam sangkar.
Sementara itu, Ibn ‘Arabi dalam Futȗḥât al-Makkiyyah menegaskan bahwa pengetahuan sejati bukan sekadar mengenal sesuatu, tetapi “menjadi sesuatu” (Ibn ‘Arabi, 1998: 311). Artinya, belajar sejati adalah proses penyatuan antara pengetahuan dan keberadaan. Namun, pendidikan kita kini berhenti pada akumulasi data, bukan transformasi diri. Ia menjadikan manusia pandai menjelaskan hidup, tapi gagap menjalaninya.
Dalam banyak ruang kelas, yang kita temukan bukan percakapan, melainkan transmisi, bukan tanya yang jujur, melainkan hafalan yang dipaksakan. Guru menjadi operator kurikulum, bukan pembimbing ruhani. Murid menjadi penerima data, bukan pencari makna. Padahal, sebagaimana dikatakan al-Farabi dalam Ârâ’ Ahl al-Madînah al-Fâḍilah, masyarakat yang mulia hanya bisa lahir dari manusia yang menggabungkan kebajikan intelektual (al-faḍîlah al-‘aqliyyah) dengan kebajikan jiwa (al-faḍīlah al-khuluqiyyah) (al-Farabi, 1985: 67). Bila salah satunya mati, maka masyarakat itu akan kehilangan wajah manusianya.
Rumi pernah menulis dalam Mathnawî, “Ilmu tanpa cinta ibarat lilin tanpa api.” (Jilid I, bait 1071). Lilin yang dingin tak akan memberi cahaya, sekalipun bentuknya sempurna. Begitu pula Pendidikan, ia bisa terstruktur rapi, bersertifikat akreditasi, tetapi tetap gelap bila tidak menyalakan cinta. Cinta di sini bukan romantisme murahan, melainkan getaran batin yang menggerakkan hati untuk mengenal kebenaran.
Hari ini, anak-anak belajar tentang bumi tapi kehilangan rasa kagum terhadapnya. Mereka mempelajari tubuh manusia tanpa pernah belajar mensyukuri kehidupan. Mereka mendalami sejarah tanpa merasa menjadi bagian dari kisah besar kemanusiaan. Heidegger menyebut fenomena ini sebagai forgetfulness of Being, kelupaan terhadap keberadaan itu sendiri (Heidegger, 1962: 23). Pendidikan menjadi sibuk berbicara tentang apa, tetapi lupa menanyakan siapa.
Kita seolah terperangkap dalam peradaban yang tahu banyak hal, tetapi semakin sedikit yang benar-benar dipahami. Pengetahuan telah menjadi koleksi, bukan kesadaran, menjadi daftar yang bisa dihafal, bukan cermin untuk menatap diri. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan, semakin kabur makna yang seharusnya menuntun arah hidup. Dalam keramaian pengetahuan itu, manusia kehilangan pengalaman mistik paling sederhana, yaitu rasa takjub terhadap keberadaan.
Rasa takjub itu, kata para sufi, adalah pintu pertama menuju pengenalan diri. Ketika seseorang berhenti merasa kagum pada ciptaan, ia sesungguhnya sedang menutup pintu menuju Pencipta. Maka, hilangnya rasa kagum dalam proses belajar bukan sekadar kehilangan estetika batin, melainkan kehilangan akar spiritualitas. Pendidikan tanpa rasa kagum menjadikan dunia tampak datar—terukur, tapi tak menyentuh, terlihat, tapi tak terasa.
Dari sinilah kita mulai memahami bahwa krisis pendidikan bukan hanya krisis metodologi, melainkan krisis pandangan tentang manusia. Ketika belajar direduksi menjadi proses mekanis, maka yang hilang bukan sekadar keindahan berpikir, melainkan juga kesucian hati. Barulah kemudian pendidikan menjelma menjadi sistem yang teknokratis—melatih keterampilan tangan, namun lupa membangunkan hati yang seharusnya menjadi sumber makna dari segala pengetahuan.
Pendidikan yang teknokratis memoles permukaan, tapi membiarkan kedalaman kosong. Di ruang rapat para pengambil kebijakan, istilah seperti output, outcome, dan performance index menjadi mantra baru yang menggantikan doa. Seakan-akan kemajuan dapat diukur dengan persentase, dan kebahagiaan dapat dikonversi menjadi indikator mutu. Padahal, sebagaimana dikatakan al-Ghazali dalam Kîmiyâ-i Sa‘âdat, “Yang paling celaka di antara ulama ialah yang ilmunya tidak menuntun pada amal, dan amalnya tidak menuntun pada kebersihan hati” (al-Ghazali, 1910: 15-16).
Mungkin di sinilah letak paradoks terbesar pendidikan modern, semakin terukur hasilnya, semakin tak teraba jiwanya. Setiap kebijakan lahir dari niat baik untuk memperbaiki mutu, namun justru menambah jarak antara manusia dan makna. Kita membangun sistem yang canggih, tetapi melupakan percakapan yang sederhana—tentang kejujuran, kesabaran, dan kasih. Nilai-nilai itu tidak tercantum dalam laporan, tetapi justru di sanalah inti pendidikan bersemayam.
Angka-angka dan indikator memang memberi arah, tetapi tidak memberi jiwa. Ia seperti peta yang detail namun kehilangan koordinat spiritualnya. Maka yang berjalan di atasnya bisa saja tepat langkah secara administratif, tapi tersesat secara eksistensial. Di titik inilah pendidikan perlahan kehilangan daya magisnya, karena ia tidak lagi menyentuh sisi terdalam manusia, yakni rasa takjub, rasa syukur, dan rasa tunduk kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Sungguh, ketika pendidikan dipisahkan dari doa, maka yang tersisa hanyalah mekanisme. Ia bekerja, tapi tanpa denyut makna. Ia bergerak, tapi tanpa arah pulang. Dari keadaan inilah muncul kegelisahan yang lebih dalam, yang tak bisa dijelaskan dengan teori manajemen atau reformasi kurikulum, yaitu kegelisahan tentang hilangnya ruh. Sebuah kegelisahan yang menandakan bahwa krisis yang kita hadapi bukan lagi soal sistem, melainkan soal jiwa.
Sekolah modern telah kehilangan bahasa keheningan, bahasa yang dulu menjadi napas bagi setiap proses belajar. Para guru kini lebih banyak menulis laporan daripada doa, lebih banyak mengisi rubrik daripada mengisi hati. Ilmu menjadi proyek, bukan amanah.
Kita jarang menyadari bahwa yang hilang bukan sekadar metodologi, tapi kehadiran. Seorang guru sejati, kata Rumi, bukanlah yang banyak bicara, tetapi yang kehadirannya menyalakan hati murid-muridnya. Namun, kehadiran itu kini digantikan oleh layar. Murid belajar dari algoritma, bukan dari wajah manusia.
Dalam keadaan seperti ini, pendidikan berubah menjadi ruang sunyi yang riuh. Riuh oleh data, tapi sunyi dari makna. Kita memiliki sekolah yang megah, tapi kehilangan percakapan. Kita memiliki guru yang kompeten, tapi kehilangan penuntun ruhani. Kita memiliki murid yang cerdas, tapi kehilangan arah. Semua ini bukan karena kekurangan kurikulum, melainkan karena hilangnya “kesadaran akan tujuan keberadaan manusia” (maqṣad al-insân fî al-wujȗd), sebagaimana diingatkan Ibn ‘Arabi.
Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah, pernah memperingatkan bahwa ilmu yang diajarkan dengan paksaan hanya akan “mematikan jiwa” murid (Ibn Khaldun, 2000: 341). Ia tidak menumbuhkan, melainkan menekan. Pendidikan seperti itu hanya menghasilkan kepatuhan, bukan kebijaksanaan.
Krisis pendidikan kita lahir dari logika efisiensi yang membunuh kontemplasi. Anak-anak dipaksa berlari cepat tanpa sempat memahami arah. Guru dipacu mengejar target tanpa waktu untuk merenung. Di tengah kebisingan itu, jiwa manusia kehilangan kesempatan untuk diam dan mendengar suara Tuhan yang halus dalam dirinya.
Al-Hallaj pernah berujar, “Ilmu yang sejati adalah yang membuatmu kehilangan dirimu sendiri, lalu menemukan-Nya.” (Al-Hallaj, n.d.: 29). Tapi pendidikan hari ini justru memperkuat ego, menumbuhkan kesombongan intelektual. Anak-anak belajar untuk menonjol, bukan untuk memahami.
Para pemikir modern seperti Ivan Illich sudah lama mengingatkan bahwa sekolah telah menjadi institusi yang menindas kebebasan berpikir (Ivan Illich, 1970: 3-12). Namun kritik Illich seolah tidak cukup. Sebab persoalan kita bukan sekadar struktural, melainkan spiritual. Kita bukan hanya kehilangan arah kebijakan, tapi kehilangan arah batin.
Ketika ilmu kehilangan orientasi sakral, ia berubah menjadi alat kekuasaan. Inilah yang disebut oleh Seyyed Hossein Nasr sebagai “desakralisasi pengetahuan”, sebuah proses di mana ilmu tercerabut dari akar spiritualnya dan menjadi mekanisme kosong. Hasilnya, manusia menjadi makhluk yang tahu banyak hal, tetapi tak tahu mengapa ia hidup.
Dalam keadaan seperti ini, pendidikan kita sebenarnya sedang menuntun manusia menuju kehampaan. Lulusannya mungkin terampil, tapi hampa; cerdas, tapi cemas. Mereka tahu bagaimana mengendalikan mesin, tapi tidak tahu bagaimana menenangkan hati.
Rumi menggambarkan keadaan itu dengan indah, “Manusia yang terputus dari sumbernya adalah seruling yang kehilangan lagu.” (Mathnawî, Jilid I, bait 1). Selama pendidikan tidak menuntun kembali manusia pada sumber keberadaannya—pada Allah sebagai asal dan tujuan—maka lagu kehidupan itu akan tetap sumbang.
Di sinilah, kita perlu kembali mengingat makna ilmu sebagaimana diajarkan para arif. Dalam pandangan tasawuf, ilmu sejati bukan untuk menguasai, tapi untuk mengabdi, bukan untuk menjadi lebih tinggi dari yang lain, tapi lebih dekat dengan Yang Maha Tinggi. Dalam pandangan ini, belajar adalah laku ibadah, bukan strategi karier.
Jika pendidikan tidak lagi mengantar manusia kepada ketaatan, maka ia telah berubah menjadi industri. Dan industri pendidikan, betapapun megahnya, tetap tidak bisa menumbuhkan jiwa. Karena jiwa hanya tumbuh melalui cinta, keheningan, dan pengabdian—tiga hal yang kian langka di sekolah modern.
Kita butuh keberanian untuk berhenti sejenak. Untuk kembali merenungi pertanyaan yang paling sederhana tapi paling terlupakan, “Untuk apa kita belajar?”. Al-Ghazali menjawabnya dengan lembut, “Tujuan ilmu adalah mengenal Allah, bukan dunia.” Dan, barangkali seluruh reformasi pendidikan yang kita bicarakan hanyalah jalan memutar untuk menemukan kembali kalimat itu.
Sumber Bacaan
‘Arabi, Ibn. 1998. al-Futȗḥât al-Makkiyyah, Juz II. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyya.
Al-Farabi. 1985. Ârâ’ Ahl al-Madînah al-Fâḍilah. Beirut: Dâr Âfâq Jadîdah.
al-Ghazali. n.d. Mishkât al-Anwâr. Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
———. 1910. Kîmiyâ-i Sa‘âdat (The Alchemy of Eternal Bliss). Translated by Claud Field. London: John Murray.
———. 2011. Iḥyâ’ ‘Ulȗm al-Dîn [The Revival of the Religious Sciences] (Vol. 1). Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Hallaj. Al-Ṭawâsîn, n.d.
Heidegger, Martin. 1962. Being and Time. Translated by John Macquarrie and Edward Robinson. Oxford: Basil Blackwell.
Illich, Ivan. 1970. Deschooling Society. New York: Harper & Row.
Khaldun, Ibn. 1967. The Muqaddimah: An Introduction to History. Translated from the Arabic by Franz Rosenthal. Princeton: Princeton University Press.
Rumi, Jalaluddin. 1925. Mathnawî. Vol. I. Translated by Reynold A. Nicholson. London: Gibb Memorial.
Sina, Ibn. 1954. Risâlah al-Ṭayr (The Epistle of the Bird). Translated by Henry Corbin. Tehran: Institute Franco-Iranien.