Darah dan Air yang Keluar dari Rasulullah Saw

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِيْ الجَلَالِ وَالكَمَالِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِيْ الفَضْلِ وَالنَّوَالِ

Semoga selawat dan salam senantiasa Allah haturkan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad ﷺ sang pemilik kehormatan dan kesempurnaan, beserta keluarga dan sahabatnya pemilik keutamaan dan kasih sayang

Pada serial sebelumnya, kita disuguhkan dengan salah satu sudut yang menunjukkan keistimewaan Rasulullah ﷺ sebagai manusia yang tidak sama dengan manusia mana pun. Peluh yang keluar dari pori-pori kulitnya bukan hanya tidak berbau, bahkan dijadikan bahan wewangian oleh sahabatnya. Serial kali ini di tulis untuk mempertegas perbedaan itu. Bahwa Rasulullah ﷺ diciptakan sempurna dari berbagai sisi. Kesempurnaannya inilah yang membuat beliau berbeda dengan manusia lainnya. Setelah membahas keringatnya, pada kesempatan kali ini kita akan menyelam lebih dalam mengarungi kesucian darahnya dan air yang keluar dari tubuhnya. Dalam hal ini, penulis menjadikan kitab Subul al-Huda wa ar-Rasyad fii Sirat Khair al-Ibad karya Syekh Muhammad bin Yusuf ash-Shalihi asy-Syami (942 H) dan juga kitab Hayat ash-Shahabah karya Syekh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, seorang ulama asal India yang wafat pada tahun 1384 H sebagai rujukan utama.

Perlu kita ketahui lebih dulu dimana Islam meletakkan hukum darah manusia pada umumnya. Secara garis besar, ulama fikih menghukumi darah manusia berdasarkan dua klasifikasi berikut ini: darah banyak dan darah sedikit. Darah yang banyak kenajisannya disepakati oleh para ulama. Adapun dari yang sedikit, meskipun najis, namun dihukumi ma’fu ‘anhu, dimaklumi. Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan bahwa darah manusia adalah najis berdasarkan dalil-dalil yang jelas. Seperti yang dihukumi oleh empat madzhab fikih: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Berbeda halnya dengan darah Rasulullah ﷺ. Mari kita simak kisah para sahabat yang mendapatkan pengalaman berkesan dengan darah Rasulullah ﷺ dan juga air yang keluar dari tubuh Rasulullah ﷺ.

Darah Rasulullah ﷺ

Kisah pertama dialami oleh Abdullah bin Zubair ra. ketika beliau sedang membekam Rasulullah ﷺ.

وأخرج أبو يعلى والبيهقي في الدلائل عن عامر بن عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما أن أباه حدَّثه أنه أتى النبي صلى الله عليه وسلم وهو يحتجم، فلما فرغ قال: «يا عبد الله اذهب بهذا الدم فأهرقه حيث لا يراك أحد» فلما برز عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عمد إلى الدم فشربه. فلما رجعل قال: «يا عبد الله ما صنعت بالدم؟» قال: جعلته في أخفى مكان علمت أنه يخفى على أناس. قال: «لعلَّك شربته؟» قال: نعم، قال: «ولم شربت الدم؟ ويل للناس منك وويل لك من الناس» قال أبو موسى قال أبو عاصم: فكانوا يرون أن القوة التي به من ذلك الدم. كذا في الإصابة.

Abu Ya’la dan al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Dalail an-Nubuwwah dari Amir bin Abdullah bin Zubair ra. bahwa ayahnya, Abdullah bin Zubair dahulu pernah mendatangi Rasulullah ﷺ untuk membekamnya. Setelah tuntas, Rasulullah ﷺ berkata: ‘Wahai Abdullah, bawalah darahku ini dan buanglah di tempat yang tidak terlihat oleh manusia.’ Setelah menjauh dari Rasulullah ﷺ, ia dengan sengaja meminum darah itu. Ketika kembali ke hadapan Rasulullah ﷺ, Rasulullah ﷺ kembali bertanya, ‘Wahai Abdullah, apa yang kau lakukan dengan darah itu?’ Abdullah bin Zubair menjawab: ‘Aku membuangnya ke tempat yang tidak akan ditemukan oleh manusia.’ Rasulullah ﷺ mencoba menebak jawaban Abdullah dan bertanya: ‘Apakah kau meminumnya?’ Abdullah membenarkannya. Lantas Rasulullah ﷺ kembali bertanya: ‘Mengapa engkau meminumnya? Sungguh kekuatanmu akan menjadi ancaman untuk musuh-musuhmu dan musuh-musuhmu akan celaka dengan kekuatan itu.’

Abu Musa (252 H) dan Abu ‘Ashim (212 H) mengatakan bahwa kekuatan luar biasa yang didapatkan oleh Abdullah bin Zubair disebabkan oleh darah Rasulullah ﷺ yang diminumnya. Seperti yang dikutip dalam kitab al-Ishabah fii Tamyiz ash-Shahabah, karya al-Hafiz Ibnu Hajar. Begitu pula yang dikatakan oleh Abu Salamah (43 H) bahwa kekuatan yang terdapat pada Ibn Zubair adalah disebabkan oleh kekuatan darah Rasulullah ﷺ.

Dalam riwayat yang lain, Abdullah bin Zubair menjawab dan memberikan alasan ketika ditanya mengapa ia meminum darah Rasulullah ﷺ. Seperti ini jawabannya:

أحببت أن يكون دم رسول الله صلى الله عليه وسلم في جوفي

Aku ingin agar darah Rasulullah ﷺ mengalir dalam rongga tubuhku.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ bereaksi terhadap perbuatan Abdullah bin Zubair. Beliau malah mendoakannya seperti ini:

فقال بيده على رأس ابن الزبير وقال: ويل لك من الناس وويل للناس منك لا تمسُّك النار إلا قَسَم اليمين

Sembari meletakkan telapak tangannya di atas kepala Ibn Zubair, beliau bersabda: ‘Sungguh kekuatanmu akan menjadi ancaman untuk musuh-musuhmu dan musuh-musuhmu akan celaka dengan kekuatan itu. Engkau tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali dengan sumpah.’

Kisah serupa dialami oleh sahabat Safinah, budak Rasulullah ﷺ. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani.

احتجم النبي صلى الله عليه وسلم قال: «خذ هذا الدم فادفنه من الدواب والطير والناس» فتغيَّبت فشربته، ثم ذكرت ذلك له فضحك

Suatu waktu, Rasulullah ﷺ sedang dibekam. Setelah usai, beliau memerintahkanku untuk menguburnya agar terhindar dari binatang, burung mau pun manusia. Kemudian aku berlalu dan meminum darahnya. Sepulangnya aku ke hadapannya, aku menceritakan apa yang baru saja aku lakukan dan beliau pun tertawa.

Imam al-Haitsami mengomentari jalur periwayatan hadits di atas dan menerangkan bahwa perawinya memiliki kredibilitas yang baik. Sehingga atas dasar ini, keabsahan hadits dapat ditetapkan. Jika ditelaah lebih dalam, hadits di atas menguatkan keistimewaan darah Rasulullah ﷺ yang dikisahkan sebelumnya. Rasulullah ﷺ tidak mengingkari kedua peristiwa tersebut. Bahkan pada kisah Safinah, beliau tertawa menanggapi cerita yang mengabarkan bahwa budaknya telah meminum darah itu. Tertawa beliau merupakan tanda keridaan terhadap apa yang diperbuat oleh Safinah. Sebab mustahil Rasulullah ﷺ rida terhadap kemaksiatan. Jika hal itu adalah diantara perbuatan maksiat, tentulah beliau sudah marah melarangnya. Sebab meridai segala rupa kemaksiatan adalah bentuk kemaksiatan. Seperti dalam kaidah yang dirumuskan para ulama.

الرضا بالمعصية معصية

Sedangkan melakukan sebuah maksiat merupakan hal yang mustahil bagi para nabi dan rasul. Itulah mengapa diantara macam sunnah Rasulullah ﷺ ada yang dikelompokkan ke dalam bentuk sunnah taqririyah, kesunnahan yang ditetapkan bukan dari ucapan atau pun perbuatan Rasulullah ﷺ. Melainkan dari ketiadaan pengingkaran beliau terhadap suatu kejadian. Sikap diam beliau dianggap sebagai sebuah ketetapan atas kebolehan hal tersebut. Sebab Nabi Muhammad ﷺ tidak akan diam terhadap sebuah kemungkaran.

Menerangkan kaedah di atas, Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menafsirkan potongan ayat 140 pada surat an-Nisa sebagai berikut:

فكل من جلس في مجلس معصية ولم ينكر عليهم يكون معهم في الوزر سواء، فإن لم يقدر على النكير عليهم فينبغي أن يقوم عنهم حتى لا يكون من أهل هذه الآية

Barang siapa yang duduk pada perkumpulan kemaksiatan dan ia tidak mengingkari perbuatan mereka, maka ia sama-sama mendapatkan dosa seperti mereka. Jika tidak mampu mengingkarinya, paling tidak bangun dan pergilah dari tempat itu agar tidak termasuk ke dalam golongan yang disinggung dalam ayat tersebut.

Sementara itu, Malik bin Sinan sahabat Rasulullah ﷺ yang juga pernah menelan darah beliau, menuturkan kisahnya yang terjadi pada peristiwa perang Uhud. Imam ath-Thabrani meriwayatkan kisah tersebut dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Awsath.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن أباه مالك بن سنان رضي الله عنه لما أُصيب رسول الله صلى الله عليه وسلم في وجهه يوم أُحد مص دم رسول الله صلى الله عليه وسلم وازدرده، فقيل له: أتشرب الدم؟ فقال: نعم، أشرب دم رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم «خالط دمي دمه لا تمسه النار»

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa sungguh ayahnya, Malik bin Sinan ketika wajah Rasulullah ﷺ terluka pada peristiwa perang Uhud, dia mengisap darah Rasulullah ﷺ lalu menelannya. Kemudian Malik bin Sinan ditanya: ‘Apakah kau meminum darah itu?’ Beliau menjawab: ‘Benar. Aku meminum darah Rasulullah ﷺ’. Mengetahui hal ini, Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira kepadanya: ‘Sungguh darahku telah mencampuri darahmu. Api neraka takkan mampu menyentuhnya.’

Air yang Keluar dari Tubuh Rasulullah ﷺ

Sisa makanan yang keluar dari tubuh Rasulullah ﷺ baik berupa cairan atau pun yang lainnya, tidak sama seperti yang keluar dari sistem pencernaan manusia pada umumnya. Seorang muslim yang fitrahnya tidak terkontaminasi dengan kotoran-kotoran dunia akan takjub dan perlahan menyadari kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ setelah mengetahui keistimewaan beliau semacam ini. Sebab sungguh disayangkan jika ada golongan manusia yang mengaku umat nabi akhir zaman, namun ketika dinarasikan kesempurnaan Sang Panutan, hatinya bergeming bahkan cenderung mengingkari walau disuguhkan oleh referensi yang sahih. Beruntunglah kita yang apa bila sampai pada tulisan ini, hati semakin tergerak oleh daya tarik keagungan Rasulullah ﷺ yang dahsyat. Setelah mendengarkan penuturan para sahabat yang mengisahkan pengalamannya dengan darah Rasulullah ﷺ, mari kita telusuri kisah yang tidak kalah menarik tentang sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang pernah meminum air kemih Rasulullah ﷺ. Imam Al-Hakim (405 H) dalam al-Mustadrak dan Imam ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir meriwayatkan hadits dari Ummu Aiman ra. Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Ishabah fii at-Tamyiz ash-Shahabah mengenalkan siapa Ummu Aiman. Namanya Barakah binti Tsa’labah. Beliau adalah budak Rasulullah ﷺ sekaligus pengasuhnya. Dahulu ia adalah budak dari Ibunda Aminah. Lalu diwariskan untuk Rasulullah ﷺ. Apa yang beliau alami dengan air kemih Rasulullah ﷺ? Berikut kisahnya.

قام رسول الله صلى الله عليه وسلم مِنَ اللَّيْلِ إلى فَخَّارَةٍ في جَانِبِ الْبَيْتِ فَبَالَ فيها ، فَقُمْتُ مِنَ اللَّيْلِ وأنا عَطْشَانَةُ فَشَرِبْتُ ما فيها وأنا لا أَشْعُرُ فلما أَصْبَحَ النبي صلى الله عليه وسلم قال: يا أُمَّ أَيْمَنَ قُوْمِي فَأَهْرِيقِي ما في تِلْكَ الْفَخَّارَةِ قلت : قد وَالله شَرِبْتُ ما فيها ، قالت : فَضَحِكَ رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ ثُمَّ قال: أما إنك لا تَتَّجِعِينَ بَطْنَكِ أبدًا

Pada suatu malam, Rasulullah ﷺ terbangun dari tidurnya mencari sebuah bejana di samping rumahnya lalu beliau buang air kecil di dalamnya. Aku terbangun dari tidurku sedangkan aku dalam keadaan haus. Lantas aku meminum apa yang ada di dalam bejana itu dan aku tidak menyadarinya. Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ menyuruhku bangun dan membuang air yang ada di dalam bejana itu. Aku berkata kepadanya: ‘Demi Allah, aku telah meminumnya.’ Mendengar itu, beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: ‘Sesungguhnya perutmu tidak akan pernah sakit selamanya.’

Hal serupa dialami oleh Ummu Yusuf. Kisahnya dituturkan oleh Abdurrazaq (211 H) dan Ibn Juraij (150 H)

أخبرت أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبول في قدح من عيدان ثم يوضع تحت سريره، فجاء فإذا القدح ليس فيه شيء فقال لامرأة يقال لها بركة كانت تخدم أم حبيبة جاءت بهم من أرض الحبشة فقال «أين البول الذي كان في القدح؟» قالت شربته قال: «صحة يا أم يوسف» وكانت تكنى أم يوسف، فما مرضت قط حتى ماتت

Aku dikabarkan bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu malam buang air kecil di sebuah bejana yang terbuat dari kayu. Kemudian setelah digunakan, bejana itu diletakkan di bawah ranjangnya. Keesokan paginya, beliau menyadari bahwa wadah tersebut sudah tidak ada isinya. Kemudian beliau bertanya kepada seorang wanita yang kerap dipanggil Barakah, seorang budak dari Ummu Habibah yang berasal dari Habasyah: ‘Dimana air yang ada di dalam bejana?’ ia menjawab: ‘Aku meminumnya.’ Kemudian Rasulullah ﷺ menimpali: ‘Semoga engkau selalu sehat, Wahai Ummu Yusuf.’ Beliau juga dijuluki sebagai Ummu Yusuf dan setelah itu, ia tidak pernah merasakan sakit hingga ia wafat.

Kedua hadits di atas dishahihkan oleh Ibn Dihyah (633 H) dan beliau menyatakan bahwa kedua peristiwa di atas benar-benar terjadi pada Ummu Aiman dan Ummu Yusuf.

Dalam kitabnya, Syekh Ash-Shalihi menerangkan bagaimana hadits-hadits di atas menjadi bukti keistimewaan Rasulullah ﷺ secara zahir dan batin. Darah dan air yang keluar dari tubuhnya tidak sama seperti manusia lainnya, baik zat atau pun hukumnya dalam Islam. Beliau mengatakan bahwa pada hadits tentang Ibn Zubair yang meneguk darah Rasulullah ﷺ mau pun kisah Ummu Aiman yang menelan air kemih Rasulullah ﷺ, Nabi Muhammad ﷺ sedikit pun tidak mengingkari perbuatan mereka dan yang lainnya yang melakukan hal serupa, tidak pula menyuruh mereka untuk mencuci mulutnya, tidak juga melarang mereka untuk tidak melakukannya di lain waktu. Itulah mengapa Syekh Ash-Shalihi dalam kitab tersebut menjadikan salah satu pembahasannya bertajuk:

وبأن النجس منا طاهر منه

Sesungguhnya yang najis dari kita adalah suci darinya (Nabi Muhammad ﷺ)

Bahkan, Syekh Muhammad Amin Afandi (1252 H) dalam kitabnya, al-Uqud ad-Durriyyah menegaskan hal ini dan mengatakan bahwa sisa makanan yang keluar dari tubuh Nabi Muhammad ﷺ adalah suci sebagaimana yang dinukil dari Imam al-Baghawi dan ulama lainnya. Pendapat inilah yang kuat. Karena Ummu Aiman meminum air kemih Rasulullah ﷺ dan beliau bersabda kepadanya bahwa perutnya tidak akan dimasuki api neraka. Hal ini disahihkan oleh Imam ad-Daraqutni (385 H). Begitu pula darah Rasulullah ﷺ yang dihukumi suci oleh at-Tirmidzi. Karena ketika Ibn Zubair meminumnya, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya bahwa darah yang bercampur dengan darahnya tidak akan disentuh oleh api neraka. Kemudian Syekh Afandi mengatakan bahwa hadits-hadits semacam ini terdapat pada kitab-kitab hadits yang sahih, para ulama fikih juga menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka. Contohnya seperti Imam asy-Syirbini (977 H) dalam kitabnya al-Iqna’ syarah matan Abi Syuja’ (593 H) dari fikih madzhab asy-Syafi’i. Ulama fikih dari kalangan madzhab al-Maliki dan madzhab al-Hanbali juga berpandangan dengan pendapat yang serupa. Dengan demikian hal ini merupakan ijma’ ulama.

Paparan di atas diharapkan dapat memberikan kita sudut pandangan yang berbeda tentang siapa Muhammad bin Abdillah. Beliau bukan sekadar manusia yang diberikan wahyu ketuhanan dan mengemban amanah risalah kenabian. Allah swt tidak membiarkannya begitu saja tanpa kesempurnaan dan keagungan. Bagaimana tidak, padahal Allah swt telah memilihnya sebagai makhluk paling mulia secara mutlak seperti yang dinarasikan para ulama. Sebagai penutup, penulis menyuguhkan kalam hikmah muhammadiyyah yang tersaji dari lisan seorang ulama asal Aljazair, as-Sayyid Muhammad az-Zubair Hassani – semoga senantiasa dalam lindungan-Nya -.

Dalam satu kesempatan, beliau menjelaskan tentang air yang diminum oleh Rasulullah ﷺ tidak keluar sebagaimana keluar dari tubuh manusia biasa. Air yang keluar dari tubuhnya adalah suci bahkan menjadi penawar yang menyembuhkan penyakit. Ada pun yang keluar dari tubuh kita adalah air yang mengandung bakteri berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit. Akan tetapi air yang masuk ke dalam dan keluar dari tubuh Rasulullah ﷺ, pernah diminum oleh sahabat yang sedang mengalami sakit perut, sembuh dengan izin Allah swt. Sehingga air yang keluar dari tubuh Rasulullah ﷺ laksana obat yang menyembuhkan. Kemudian di penghujung penjelasannya, beliau memberikan perumpamaan sederhana.

أَيُخْرِجُ المَوْلَى سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى مِنْ بُطُوْنِ النَّحْلِ شِفَاءً وَلَا يُخْرِجُ مِنْ بَطْنِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ شِفَاءً؟

Apakah Allah swt mengeluarkan dari perut seekor lebah sebuah obat (madu) lalu tidak mengeluarkan dari perut Nabi Muhammad ﷺ  berupa obat?